
Semilir angin malam dengan perasaan gusar. Berdiri di balkon atap rumahnya. Di lantai dua ada ruang kamar dan ada pintu yang menghubungkan ke balkon.
Gaby mendapat panggilan telephone dan langsung pergi menjauh dari sang suami.
"Siapa yang telephone Gaby?" Al merasa curiga. Karena, semenjak Darren mengirim pesan pribadi kepada Gaby. Rasa cemburu mulai menghampiri dirinya.
Alvaro mendekat setelah Gaby selesai telephone. Teras balkon yang tampak minimalis dan Gaby merasa aneh ketika Alvaro memberikan selimut pada bahu yang menutupi punggungnya. Alvaro mendekapnya dari belakang, membuat Gaby semakin salah tingkah.
"Mas Al." Kedua tangan Gaby yang masih memegang ponselnya.
Gaby tadi sore meminta ijin untuk kembali ke rumah, dan Alvaro menyusul istrinya. Sekarang sudah jam 7 malam masih berada di rumah Gaby.
"Kamu masih sakit. Ayo kita masuk ke dalam." Suara itu begitu dekat, pipinya sampai menempel. Meski belum terbiasa, Al memberanikan diri untuk lebih dekat dengan istrinya.
"Emh... Sebaiknya kita pulang ke rumah Mas Al." Gaby yang berdesar-desir. Ada rasa gelisah karena belum terbiasa.
"Kenapa?" Al masih saja mendekatkan dirinya.
"Mas, aku masih tidak enak badan. Mama tadi bilang, mau masakin sop buat aku." Kilah Gaby, yang tidak ingin memberi peluang kepada suaminya.
"Ya sudah. Nanti saja kita pulang."
"Sekarang aja Mas."
Bibir imut itu memang pandai mencari celah. Padahal suaminya ingin membiasakan diri, agar lebih saling mengenal dekat sebagai suami istri.
"Boleh aku bertanya." Al yang masih memeluknya.
"Iya, tanyakan saja." Gaby sudah lebih rileks dan tampak tenang. Meski sang suami masih memeluknya.
"Soal Darren."
"Darren?" Gaby yang merasa aneh, dan ia mengingat pastinya sang suami juga mengenal Darren. Apalagi, Darren sudah menjadi suami Darra.
"Iya, tadi aku melihat di ponselmu. Dia mengajak bertemu. Ada masalah apa diantara kalian berdua?"
Gaby merasa tidak nyaman akan pertanyaan ini. Tapi, dirinya sudah bersuami dan suaminya meminta penjelasan.
Gaby tersenyum dan membalikan badan. Kedua wajah saling bertemu dengan manisnya. Al juga tersenyum dan mengelus rambut panjangnya.
"Darren asisten pribadiku."
"Asisten pribadi?"
"Iya, tapi itu dulu. Dari aku pindah ke Jakarta dan tinggal sama Daddy. Darren dulu masih sekolah. Daddy kasih biaya sekolah dia, dengan syarat dia harus menjaga aku. Setelah Darren pulang sekolah, jemput aku ke playgroup. Terus, dia yang jagain aku selama Daddy sibuk bekerja."
"Jadi, dia yang ngasuh kamu?"
"Emh, kurang lebihnya begitu. Tapi aku ada suster. Dia hanya mengawasiku. Kadang aku yang usil, saat dia belajar aku ingin ditemani mainan berbie. Ya layaknya anak-anak, yang ingin diperhatikan orang di sekitarnya. Setelah aku SMP dia ambil S2 di luar negeri, lalu balik lagi saat Daddy meninggal dan akhirnya aku pindah ke mansion sama dia."
"Iya, aku sudah mengenal dia dari Darra."
"Iya, pastinya Mas Al sering ke rumah Budhe Vava."
"Tidak juga. Aku jarang kesana. Aku hanya sesekali ikut pertemuan di Pondok Indah."
"Terus ketemu Darren dimana?"
"Waktu pesta ulang tahunnya Darra. Terus Darra bilang sama aku katanya mereka pacaran, tapi aku juga nggak ngobrol banyak sama Darren."
"Owh, itu. Aku malah tidak tahu. Soalnya aku nggak pernah tahu urusan pribadi Darren. Apalagi tentang Kak Darra, aku mana pernah bisa akur sama dia."
Al tersenyum mendengar hal itu. "
"Yang aku tahu, tugas Darren cuma jadi asisten pribadiku. Lalu setelah dia menikah, aku memutus kontrak kerja sama dia."
"Terus, kamu pindah kesini?"
"Ya sebenarnya, setelah pindah kesini." Gaby tersenyum dan merasa aneh kalau mengingat hal itu. Padahal Darra yang merebut dari sisinya, malah Gaby yang dituduh merebut suaminya.
Darren Wijaya, usianya sudah 29 tahun. Usia yang matang dan memiliki wajah yang tampan. Dia juga menawan dan sosok yang kalem.
Gaby melihat ada aura dingin dari wajah suaminya. Gaby memasukan ponsel ke saku celana jeans yang dipakainya. Lalu, kedua tangan itu memegang kedua pipi sang suami.
"Mas Al."
"Hemm,"
"Mas Al, kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Mas Al, cemburu?"
"Bukan begitu, aku cuma penasaran aja."
"Owh, baguslah kalau begitu. Aku takut kalau Mas Al, jadi seperti Kak Darra."
"Memangnya Darra kenapa?"
"Dia cemburuan. Padahal Darren masih terikat kontrak kerja sama aku. Tapi, dia suka nuduh aku yang tidak-tidak."
"Emh, sampai akhirnya kamu harus diasingkan kemari?!"
"Iih, Mas Al. Bukan diasingkan. Aku sendiri yang nggak betah. Disana aku nggak bisa sebebas di rumahku. Di rumah lama, aku masih bisa pergi main sama temenku. Di mansion aku nggak bebas, apalagi setelah aku di."
"Di?"
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu. Tahu-tahu aku bangun tidur sudah ada Pakde Lingga."
"Om Lingga baik sama kamu?"
"Pakde Lingga baik sama aku. Waktu masalah itu, Pakde juga ikut mengurusnya. Terus aku dipindahin ke sekolah lain. Aku jadi sering pindah sekolah. Padahal waktu SD SMP aku homeschooling."
Gaby memeluk Al, ia berkata "Mas Al, mau nggak jadi temanku?"
"Iya, aku mau jadi teman hidupmu."
Gaby tersenyum dan Al juga merasa lebih nyaman, setelah mengetahui tentang hubungan Darren dan Gaby.
"Mas Al, ayo kita pulang ke rumah Mas Al."
"Kenapa buru-buru?"
"Emh, aku takut."
"Takut?"
Gaby mencium pipi kiri Alvaro, lantas melarikan diri dari cengkraman sang suami tampannya.
"Gadis bandel."
Setidaknya dirinya sudah lega, dan tidak berprasangka buruk terhadap istrinya. Meski semua telah berlalu, dan satu persatu fakta itu dia temukan. Sekarang ini Al mulai memahami dan harus bisa menjaga istrinya.
"Gimana kalau Darra tahu, aku menikahi Gaby. Apa yang akan dia perbuat?"
Namun, Al tidak ingin berfikiran negatif terhadap adik sepupunya itu. Padahal, diantara sepupu atau keponakan yang lain, sosok Darra yang lebih dekat dengannya.
Di tempat lain. Viral selesai menghubungi Gaby. Dia kembali duduk di ruang makan. Memandangi satu persatu wajah keluarganya. Tepatnya, keluarga Mahatma.
"Ada yang mau aku sampaikan sama kalian semua!"
"Viral sayang, makan dulu. Kamu belum menyentuh makanan kamu."
Viral dengan gelisah. Rasanya ingin segera mengatakan kalau Gaby sudah menikah. Tapi, Gaby telah melarangnya. Cukup Viral saja yang tahu masalahnya.
"Ini tentang Gaby."
Mendengar ucapan Viral. Lingga dan Vava menatapnya. Limar tersenyum dan mengelus rambut putra. "Sudah, jangan membahas dia. Gaby sudah membuat keputusannya sendiri. Om kamu juga tidak mengusir dia."
Viral menoleh ke wajah sang Mama, ia berkata "Gaby sudah menikah."
Hening
Hening
Limar meletakan sendoknya dan Lingga hanya menatap Viral. Vava juga tampak terdiam dan membeku. Semua orang yang ada di ruang itu, hanya menatap Viral.
Viral berkata "Gaby sudah akad nikah. Kita sebagai keluarganya, harus segera mengadakan pesta resepsinya."
"Apa?? Gaby menikah?" Darra yang menganggap ini kabar aib keluarganya.
Acara makan malam di kediaman Limar. Makan malam di gelar, untuk menyambut putranya. Akhirnya sang putra semata wayangnya kembali ke rumah dan bahkan meminta posisinya. Tapi, Limar belum mengatakan kepada siapapun, tentang Viral yang mencalonkan diri sebagai Presdir Mahatma.
"Kak Viral jangan mengada-ada." Sahut Ayu dengan lembut.
Lingga dan Vava masih terdiam tanpa kata. Mereka berdua merasa bersalah karena kepindahan Gaby.
Darra yang tidak mengajak suaminya dan keluarga kecil Binar juga tidak bisa datang, karena mereka sudah ada acara sendiri.
"Sayang, kamu jangan buat kehebohan lagi. Kita makan saja ya." Limar yang tidak ingin membahas apapun.
Viral menghembuskan nafasnya, ia bertanya "Apa kalian tidak peduli dengan Gaby?"
Limar berkata "Gaby sudah dewasa. Kalau memang benar, ya sudah tidak apa-apa. Malahan bagus, ada yang menjaga dia."
"Mama, tapi ini tentang pernikahan. Gaby nggak ada siapa-siapa selain kita." Viral yang sebenarnya malas membicarakan ini, tapi dia juga masih kepikiran soal Gaby.
Limar menyudahi makannya, ia berkata "Kalau memang Gaby menikah baik-baik, pasti juga akan datang kemari dan minta restunya Mama."
"Kak Viral. Ini serius?" Tanya Ayu dan Darra langsung memberikan kabar hangat ini kepada Imel.
"Aku serius. Aku juga syok." Jawab Viral yang duduk bersandar.
Lingga menyeka mulutnya dan ia langsung bangkit dari kursinya.
"Daddy mau kemana?" Tanya Ayu.
"Mau ke toilet." Entah kenapa raut wajah Lingga tidak bersemangat setelah mendengar kabar itu.
Setelah usia Gaby 17 tahun dan terlepas dari asuhannya. Gaby memilih untuk memiliki kartu keluarga sendiri dan menganut keyakinannya tanpa paksaan dari siapapun. Pengacara Lingga juga menyetujui semua permintaan Gaby. Dari aset dan seluruh saham kepemilikan Papanya, Gaby sendiri yang mengelola. Bahkan, tidak boleh disentuh siapapun, termasuk Lingga dan Darren.
"Mommy juga mau ke toilet." Vava lantas pergi dari ruang makan itu.
Viral dengan wajah tidak senang, ia berkata dalam hati "Gaby, mereka tidak peduli lagi"
"Kak Viral sudah bertemu suami Gaby?" Tanya Ayu. Meski Ayu tidak begitu dekat dengan Gaby. Setidaknya, Ayu tidak iri hati atau jahat kepada Gaby.
Viral mengangguk dan Darra dengan senyumannya, ia berkata "Pasti suaminya boncil. Apa jangan-jangan hamidun, masih SMA udah nikah duluan."