
Suasana malam gelap karena mati lampu. Gaby bertemu dan mengenal keluarga guru tampannya. Ruang tamu ini, terasa asing bagi seorang Gaby Aurora Putri.
Al yang duduk di hadapan Gaby, dan ia menjawab "Papa, Al siap menikah. Tapi Gaby, dia masih sekolah."
Gaby menatap teduh wajah Al. Gaby terlihat begitu gugup. Rasanya makin berdebar dan kedua telapak tangannya semakin dingin. Menggigit bibir dan seolah ingin segera menangis. Namun, apa bisa dia menangis dihadapan keluarga calon imam.
"Nak Gaby, kamu kenapa?" Tanya Britney yang memperhatikan tingkah Gaby.
"Gaby,..."
Al menyela "Mama, mungkin Gaby ingin ke kamar mandi."
"Owh, kamu mau ke kamar mandi. Ayo Tante anterin."
Gaby yang pasrah akan keadaan saat ini, "Aaa... Pak Al memang keterlaluan. Kenapa jadi begini?"
Britney mengantarkan Gaby ke kamar mandi tamu, yang melewati ruang tengah. Kamar mandi tamu ada di sebelah dapur.
Gaby sepintas melihat beberapa foto yang terpajang di lemari penyekat antara ruang tamu dan ruang tengah.
"Pakde?,," Celotehnya.
Britney mendengar hal itu, lalu bertanya "Pakde?"
Gaby seperti melihat foto sosok Lingga Mahatma.
"Nak Gaby, kamu kenapa?"
"Bukan apa-apa Buk." Gaby lantas masuk ke kamar mandi.
Kamar mandi yang gelap, dan Gaby kembali menyalakan senter ponselnya.
Ruang tamu dan ruang tengah lumayan terang, terlihat tata ruang dengan berbagai perabot, yang ada di ruangan itu.
Gaby semakin gemetar dan ada rasa yang salah saat di rumah ini, dia berfikir "Bagaimana bisa, foto Pakde Lingga bersama keluarganya ada di rak lemari itu?"
"Pak Al, siapanya Pakde Lingga?" Debaran jantungnya semakin tak menentu. Rasanya sangat tidak nyaman, dan ingin segera pulang.
"Tapi, masih mati lampu."
Di ruang tamu, sang Papa kembali bertanya "Al, jawab pertanyaan Papa. Papa serius. Kamu mau menikahi dia?"
"Maksud Papa, Gaby?"
"Iya. Siapa lagi? Dia gadis yang kamu bawa pulang."
"Kenapa? Apa Papa tidak suka?"
"Bukan tidak suka, tapi ada hal..." Papa menghentikan perkataannya. Lebih baik mencari tahu dulu, dari pada dirinya akan mengecewakan perasaan istrinya.
"Al, sana temenin Gaby. Sepertinya, dia masih belum terbiasa sama Mama." Ucap Britney yang menyuruh anaknya agar menunggu Gaby, di dekat kamar mandi itu.
"Britney benar-benar sudah memakai perasaan, apa yang harus aku perbuat?" Batin sang Papa, saat melihat istrinya yang sangat memperhatikan gadis itu.
Al yang bersandar dinding, dia sangat tahu kalau Gaby tidak berniat ke kamar mandi.
[Buruan keluar, aku tahu kalau kamu tidak nyaman.]
"Huft, Pak Al sudah bikin aku gila."
[Pak Al, Gaby mau pulang.]
[Kamu disini saja. Kamu di rumah sendirian. Mati lampunya sampai besok.]
"Tadi bilangnya sampai tengah malam, kenapa jadi sampai besok?!"
[Pak Al, Gaby mau pulang saja.]
"Pak Al sepertinya sudah punya rencana soal ini. Beraninya dia memperdaya aku yang masih polos."
[Gaby, nurut sama aku.]
Gaby cemberut dan ia mencuci wajah imutnya itu. Rasanya begitu kesal dan ingin meluapkan perasaannya. Gaby hendak menangis, tapi dia juga malu kalau sampai menangis di rumah guru olah raga yang kejam itu.
Setelah beberapa saat, Gaby keluar dan Al memberikan handuk kecil untuknya.
"Malam ini saja, patuhlah sama aku." Bisik Al dan Gaby sepertinya menyerah.
Ada kedua orang tua yang tidak tahu, tentang masalah mereka berdua. Mana mungkin Gaby akan berbuat ulah dan bertingkah seperti di sekolahan.
Gaby mengusap wajahnya dengan handuk, kemudian memegangi lengan Al "Oke, kalau itu yang Bapak mau."
Al bertanya "Kenapa melamun?"
"Penasaran?" Gaby mengangguk dan masih mengalungkan tangan kanan ke lengannya Al.
"Mas Al, ayo kita kesana."
Al terlihat santai, saat melihat anak muridnya ini berlaku genit padanya.
Gaby kembali menoleh ke arah foto "Iya benar, itu foto Pakde Lingga sama Budhe Vava."
"Mas Al, foto itu..." Tunjuknya dan masih terus saja menatapnya.
"Owh, itu waktu aku masih SMP."
"Kak Binar dan Kak Viral juga ada di foto ini, siapa Pak Al sebenarnya? Kenapa mengenal mereka semua?"
"Terus yang berkumis itu siapa?" Gaby yang bertanya.
Kebetulan sang Papa tampan itu lewat dan melihat Gaby menunjuk foto Lingga, langsung menjawab "Dia Omnya Alvaro."
Gaby seketika terkaget. Pras bisa melihat wajah Gaby yang berubah tegang.
Al berkata "Dia Om aku, terus itu Tante aku. Yang kembar anak mereka, itu anak laki-lakinya, terus itu keponakannya."
"Jadi, Pak Al adalah keponakan Pakde."
Pras ingin memastikan soal di hotel, ia bertanya "Nak Gaby, kenapa? Apa kamu mengenal itu, Omnya Al?"
Gaby salah tingkah, dan ia tidak ingin mengungkap siapa dirinya sebenarnya.
"Tidak Pak. Gaby sepertinya pernah melihat di layar televisi."
"Owh, pasti soal Omku yang ada gosip sama model."
"Iya, benar. Soalnya, aku suka pakai produk kosmetiknya."
Pras bertanya "Nak Gaby, apa kamu sedang sakit?"
Pras merasa kalau ada hal yang telah disembunyikan Gaby. Tampak wajah muram dan lesu. Papa satu ini makin penasaran.
"Nggak Pak. Gaby cuma kecapean. Soalnya, Mas Al kalau di sekolah, suka tugasin Gaby yang berat-berat. Gaby jadi sering lelah." Lagi-lagi Gaby merasa canggung.
Ada rasa seperti tidak nyaman bila berhadapan dengan Papanya Al.
Gaby lalu berfikir "Sepertinya aku pernah bertemu dengan Bapak ini. Tapi dimana, apa beliau pernah melihatku di suatu tempat? Ah, mana mungkin. Aku baru mengenal kota ini, dan aku jarang keluar rumah."
Britney mendengar hal itu, lalu bertanya "Nak Gaby, apa yang ditugaskan Al, sampai kamu kecapekan?"
"Bukan begitu Ma. Gaby nggak suka olah raga. Tapi olah raga salah satu pelajaran wajib. Gaby dulunya suka menari, sekarang harus sepak bola, basket. Ya gitulah Ma. Mama nggak perlu cemas, Al selalu jagain Gaby."
"Ini guru resek bener, nggak ada celah buat aku." Batin Gaby sambil pasang senyuman manis.
"Ya sudah, nak Gaby duduk sini. Sambil makan kue. Tadi, Tante bawa kue bikinan Tante sama Kakaknya Al."
"Emh, iya Buk. Gaby jadi nggak enak. Malah ngrepotin Ibuk sama Bapak." Gaby ketika menatap Pras merasa canggung dan ada rasa takut padanya.
"Kenapa, tatapan Papanya Pak Al seperti itu? Apa aku pernah berbuat salah sama beliau? Apa aku pernah bertemu sebelumnya?" Gaby masih saja kepikiran.
Gaby melepaskan tangannya dari Al "Sepertinya, Papanya Pak Al, nggak suka cara aku bermanja. Emh, mungkin karena beliau sudah Haji, makanya nggak suka kalau anaknya pacaran. Apa karena itu, Pak Al mengatakan calon istri. Bukan pacar. Jadi rumit begini, semua ini gara-gara Pak Al."
Gaby diajak duduk sama Mamanya Al, "Nak Gaby, mari dimakan kuenya."
Lalu menatap ke Al dan berkata "Al, ini kamu juga makan kuenya."
Gaby merasa canggung akan situasi ini. Namun, Mamanya Al begitu perhatian.
"Kue bikinan ibuk, enak banget." Ucap Gaby, dan Britney bahagia melihat Gaby saat menikmati kue bikinannya bersama Abyaz.
Pras masih saja menatap Gaby dengan penuh tanda tanya. Al melihat ke layar ponselnya, sudah hampir jam 11 malam.
"Nak Gaby suka kuenya?" Tanya Britney.
"Iya Buk. Gaby suka. Gaby belum pernah makan kue bikinan Mommy. Kalau ingin makan kue, biasanya Gaby beli di toko kue." Ucap Gaby, dan ia merasakan rindu pada kedua orang tuanya.
"Nak Gaby, kalau Tante boleh bertanya. Dimana kedua orang tua kamu? Tadi Al bilang, kamu tinggal sendirian." Tanya Britney dan Gaby menatap sosok kedua orang tua itu.
Al berkata "Mama, ini sudah malam. Biarkan Gaby tidur."
Papa menyela obrolan, iapun berkata "Mama, benar kata Al. Ini sudah malam. Biarkan dia tidur." Pras melihat ada sisi sensitif, saat menggali kebenaran, siapa sosok Gaby ini.
Gaby yang masih duduk. Meski tampak tersenyum. Tetapi sorot mata itu, seolah ingin meluapkan perasaannya.
"Mommy sama Daddy, sudah tiada. Gaby sendirian." Ucapnya dan mereka semua terdiam.