
Suasana kantin sekolah yang tampak riuh akan berita panas seorang guru tampan dengan murid yang bernama Gaby.
"Sstt.. Itu dia."
Namun, setibanya Gaby disana. Mereka semua jadi terdiam. Tadinya, mereka membahas kejadian waktu di gedung olah raga, tempatnya di area kolam renang.
Gaby melihat ke seluruh murid yang telah menatapnya "Ada apa?"
Ternyata, tadi ada yang merekam momen itu, lantas menyebarkan pada forum media sekolah.
Secepat itukah, kabar berhembus tentang dirinya dan guru olah raga tampan itu.
Guru olah raga yang lain, sepertinya menyalahkan tindakan Pak Al. Bahkan membahasnya dengan kepala sekolah. Namun, kepala sekolah memilih untuk tidak membesarkan masalah ini.
Lantaran kepala sekolah ini, sudah mendapatkan surat khusus dari Viral. Yang menitipkan adiknya, agar sampai lulus sekolah dengan baik di SMA Pesona. Sekiranya nanti, ada hal yang tidak baik mengenai adiknya. Viral sendiri yang akan menanganinya, bahkan Viral memakai stempel Mahatma Corporation untuk menyakinkan kepala sekolah ini. Meskipun, dirinya belum menduduki kursi kebesaran itu.
Yang di kantin guru, juga tidak kalah hebohnya. Jantung Bu Betty sampai berdegup kencang, sambil menatap manis pasangan itu. Tanpa sadar, jarinya *******-***** ketopraknya Pak Ferdi.
Pak Ferdi seketika menghembukan nafas kasarnya dan menyingkarkan piringnya, setelah itu Bu Betty tersenyum gemas kepadanya.
Gaby duduk di sebuah kursi dan ia tampak membeli es lemon tea.
Mata cantiknya berbinar-binar, karena makanan bekal itu. Sudah lama ia tidak masuk sekolah, dan akhirnya kembali menikmati sajian tangan Mama mertua.
"Mama memang yang terbaik." Ucapnya dan segera menikmati bekalnya itu.
Cantika bersama genknya mendekat, ia tidak basa-basi, berkata "Ternyata kamu anak sultan."
Cantika yang langsung duduk di samping kanannya, dan dua sahabat Cantika duduk di hadapan Gaby.
Elsa berkata "Gaby, berarti kamu tidak keberatan untuk mentraktir kita semua."
Gaby merasa tidak senang akan perlakuan mereka, baru saja ingin menikmati bekal buatan Mama mertua, namun ada kupu-kupu menghampiri dengan tidak sopan.
Cantika berdiri dan memberikan tepukan hangat, berseru "Teman-teman semuanya. Sebagai tunangannya Pak Al. Gaby mau mentraktir kalian semua. Kalian bebas memilih makanan yang kalian mau. Gaby yang akan membayar tagihan kalian."
Sorak senang dan meraka berkata "Gaby, terima kasih."
Gaby perlahan hanya menampilkan senyuman manis kepada mereka semua.
"Sial, Cantika bener-bener buat aku jengkel."
Cantika tersenyum gemas dan Gaby tidak peduli.
Prruk!
Cantika mendorong kotak bekal itu sampai terjatuh ke lantai.
"Uups, sorry Gaby."
Gaby masih mencoba sabar dan ia bertanya "Apa maumu??"
Cantika menggeserkan kursinya mendekat, dan berbisik ke sisi Gaby "Emh, aku mau kamu menjauh dari Pak Alvaroku. Kalau perlu, kamu harus pergi sejauh mungkin."
Gaby tersenyum mendengar hal itu, lalu ia berkata "Soal itu."
"Secepatnya dan itu lebih baik. Aku juga tidak takut sama bodyguard kamu itu."
Gaby beranjak dari kursinya, dan mengambil kotak makan itu. Rasanya telah mubadzir. Pastinya, Mama mertua membuat makanan bekal itu dengan kasih sayang untuk menantunya.
"Mama, maafin Gaby." Gumamnya dan Cantika mendengar hal itu.
Kaki sialan itu, telah menginjak kasar makanan yang berserakan di atas lantai kantin.
"Cantika, singkirkan kakimu!"
"Sorry, aku tidak melihatnya." Kedua tanganya tampak bersedekap, dengan tatapan manis nan sinis.
Gaby masih membersihkannya dan Tata merekamnya dari kejauhan. Bahkan, sosok peneropong Pak Al. Malahan, beralih mengamati gadis belia ini.
"Cantika sudah hilang akal sehatnya." Gumam si peneropong.
Tata mengirimkan itu kepada Ghani dan Ghani ternyata sibuk menikmati traktiran guru tampannya.
Setelah selesai merapikan kotak bekal itu, lantas Gaby berdiri dan mendekati Cantika.
"Aku tahu, kamu memang sengaja menginjak makanan ini." Gaby dengan suara lantang.
Beberapa teman melihatnya, Cantika tidak peduli, ia berkata "Gaby, kamu yang mentraktir kita. Harusnya kamu juga makan menu kantin ini, bukan bekal anak-anak."
Gaby hanya terdiam dengan tatapan kesal dan Cantika menebar senyuman.
"Sangat kekanakan." Desisnya pelan, namun Gaby bisa mendengarnya.
"Iya, aku memang kekanakan. Sampai Mamanya Pak Al membuatkan ini cuma untuk aku."
Cantika mendengar jelas ucapan Gaby. Membuat perasaannya semakin tidak karuan.
Gaby dengan senyuman imutnya, ia berbisik "Cantika, nanti tagihan kantin. Tolong berikan saja kepada Pak Al. Dia yang bertanggung jawab atas diriku. Soalnya, aku nggak bawa uang saku."
Gaby mundur selangkah dan menebar senyuman centilnya. "Tidak tahu malu." Batin Gaby yang merasa menang.
Cantika yang tampak mengepalkan kedua tangannya dan ingin sekali meninju wajah Gaby.
Gaby yang hendak pergi, berucap lantang "Teman-teman, silakan menikmati makanan kalian. Nanti, tagihan kantin akan di urus sama Cantika."
"Mana berani Cantika menyodorkan tagihan itu?" Elsa yang bingung.
Vika berbisik "Cantik, ayo kita pergi."
Cantika semakin tidak senang, ia berlari dan langsung mendorong Gaby.
Druk
Druk
Druk
Brruugh!!
Gaby yang terjatuh dari anak tangga kantin itu.
Hampir saja, wajah Gaby terpentok pot tanaman yang berada di tempat itu.
"Gaby!!!" Teriak Tata dan ia berhenti merekam kejadian itu, langsung meraih kepala Gaby.
Anak tangga yang tidak terlalu tinggi, namun Gaby tetap terluka di bagian wajah, lutut dan kedua tangannya.
"Gaby, pelipis kamu berdarah." Ucap Tata.
Vika menarik tangan Cantika untuk membawanya pergi sejauh mungkin dan Elsa mengikutinya.
Suasana anak tangga kantin semakin ramai dan mereka menatap ke arah Gaby yang terduduk di tempat itu. Banyak saksi mata yang melihat kejadian itu.
"Nona Gaby." Zoe juga mengetahui hal itu, namun dia sudah terlambat. Berlari dari gedung yang ia tempati dan cukup jauh kantin yang Gaby singgahi untuk menikmati bekalnya itu.
"Gaby tidak apa-apa." Keluhnya dan meringis kesakitan, terasa perih dibagian wajah kanannya.
Zoe memapahnya untuk duduk di kantin dan meminta Tata mengambil kotak obat di UKS.
5 menit berlalu dan Ghani baru saja melihat pesan Tata untuknya.
"Pak Al."
"Iya. Kamu mau nambah lagi makannya?" Pak Al yang serius menatap layar komputer.
"Gaby."
Mendengar nama istrinya, Pak Al seketika menatap ke wajah Ghani, bertanya "Ada apa?"
Ghani yang berdebar, secepatnya ia mengambil minum. Tenggorokannya seperti tersedak makanan dan sangat sulit untuk menelannya.
"Cantika mengganggu Gaby di kantin."
Pak Al yang langsung bangkit dari kursinya dan ia segera keluar ruangan.
Berjalan cepat menuju kantin dan Ghani tampak mengikuti langkah kakinya.
"Pak Al, Cantika sudah keterlaluan. Biar saya adukan sama kepala sekolah."
Pak Al yang gelisah menjawab "Tidak perlu dilaporkan."
Ghani bingung, kekasihnya sudah terluka namun Pak Al tidak mau melaporkan Cantika.
Berpapasan dengan Pak Ferdi, lalu Pak Al berkata "Pak Ferdi, maaf saya ada urusan."
Pak Ferdi memegang bahunya dan berkata "Pak Al, anda harus ingat etika seorang guru. Disini kita sebagai pengajar dan kita juga panutan bagi para murid."
Pak Al mengingat itu dan ia ingat kalau dirinya sedang bekerja di ruang lingkup sekolah. Hal-hal pribadi yang menyangkut perasaannya, harus ia lepaskan sementara waktu.
"Saya tahu mengenai Gaby. Sekarang sudah ada yang mengawalnya. Saya harap Pak Al mengerti. Saya sebagai rekan, hanya bisa mengingatkan untuk kebaikan kita semua."
Ghani yang tersenyum, dan melihat sosok panutan dirinya. "Pak Ferdi, memang guru jempolan."
Pak Ferdi memang sosok guru teladan di mata muridnya. Cara mengajarnya sangat profesional, namun terkadang menjadi sosok humoris dengan canda tawanya. Pak Ferdi juga bisa memberi semangat, serta mampu memahami kondisi murid-muridnya, bahkan bila sang murid patah hati, Pak Ferdi pasti tahu hal itu.
Pak Al berkata, "Terima kasih sudah mengingatkan saya."
Pak Ferdi berkata "Orang jatuh cinta bisa lupa dengan keadaan sekitarnya."
Membalas dengan senyuman tipis, namun memiliki arti ketulusan.
Ghani juga melihat sorot mata Pak Al, yang tadinya begitu dingin, berubah lebih lembut dan menawan.