
Tiba saatnya, di suatu hari yang special.
Tampak dekorasi nuansa putih dengan bunga segar yang begitu cantik, dan terletak di ruang tamu, di rumah sang pengantin wanita.
Seorang Papa yang akan menyatukan putrinya dengan pria manis bernama Damar Setya Ardana.
Sebuah janji yang di ikrarkan. Sebuah do'a untuk sebuah harapan. Sebuah restu akan kebahagiaan masa depan.
Seorang laki-laki yang bersedia, untuk menjadi teman hidup. Bukan hanya untuk satu dua hari, sebulan atau dua bulan. Tapi, teman hidup untuk seumur hidup.
Mereka berdua akan menjalin hubungan, sebagai suami dan istri. Ikatan janji suci secara agama dan pemerintah.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, akan pernikahan secepat ini. Bahkan, mereka berdua baru saling mengenal.
Seorang gadis yang penuh luka akan masa lalu. Kembali meraih sebuah asa, untuk mengarungi rumah tangga.
Tidak mudah baginya untuk merima, tidak mudah baginya melupakan masa lalunya. Tidak mudah bagi dia, untuk memulai sebuah hubungan.
"Saudari Abyaz Ali Wardana, apakah anda menerima pernikahan ini secara lahir dan batin?"
"Iya, saya menerima pernikahan ini." Jawab Abyaz dengan jelas dan sangat penuh haru.
Terdengar suara yang sangat bergetar. Tampak raut wajah penuh dengan rasa tidak bisa dimengerti.
Dengan iringan do'a dan harapan dari dalam hati. Tepat jam 9.30 WIB akan segera di langsungkan ijab qobul.
"Bagaimana Pak Prasetya, anda siap menikahkan putri kandung anda?"
"Saya siap Pak Penghulu." Jawab Pras.
"Ananda Damar Setya Ardana, apakah anda sudah siap menikahi Ananda Abyaz Ali Wardana?
"Iya, saya sudah siap Pak Penghulu." Jawab Damar.
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Ananda Damar Setya Ardana Bin Eka Kusuma Ardana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Abyaz Ali Wardana dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan emas logam mulia seberat 100 gram dibayar, tunai." Pras dengan suara yang tegas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Abyaz Ali Wardana Binti Prasetya Wardana dengan maskawin seperangkat alat sholat dan emas logam mulia seberat 100 gram dibayar tunai."
Suara Damar yang begitu jelas dengan satu tarikan nafas. Jantungnya rasanya sangat berdebar.
"Bagaimana saksi?"
"SAH!"
"SAH!"
"Alhamdulillahirabbil'alamiin."
Diiringi dengan kalimat do'a.
Acara di gelar di rumah dan hanya disaksikan oleh keluarga.
Sehari setelah lamaran dan ini hari sabtu pagi. Abyaz Ali Wardana dan Damar Setya Ardana. Telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Abyaz yang tidak ingin memakai kebaya putih, dia lebih memilih untuk memakai gaun india, seperti saat dulu Mamanya menikah.
Tampak riasan wajah dan rasa itu telah membawa aura berbeda. Entah, bahagia atau tidak. Hanya Abyaz sendiri yang tahu. Tapi dia terlihat sangat manis.
Rasa haru dengan rasa manis telah menyelimuti kedua mempelai. Abyaz yang mencium tangan sang suami dan Damar memberikan ciuman pertama pada kening istrinya.
Kedua orang tua tampak meneteskan air mata bahagia. Hanya keluarga yang menyaksikan pernikahan mereka. Tidak ada tamu undangan.
Damar hanya membawa keluarga dari sang Ayah. Pras juga tidak ada tamu undangan, hanya mengundang Pak RT saja. Keluarga dari Semarang hanya Putri dan Candra, yang lain juga tidak bisa datang.
Pras juga tidak mengabari keluarganya yang ada di Jakarta. Tidak tahu kalau Britney, mungkin dia hanya mengabari keluarga Evan.
"Papa. Terima kasih untuk restu dan do'a yang Papa berikan untuk Abyaz."
"Mungkin selama ini, Abyaz selalu membuat Papa susah, selalu membuat Papa cemas, dan selalu membuat Papa sedih."
"Abyaz hanya seorang anak. Yang tidak luput dari kesalahan."
"Papa, maafin Abyaz. Maafin atas semua kesalahan Abyaz selama ini."
"Papa terima kasih, atas cinta dan kasih sayang Papa. Terima kasih untuk semua yang Papa korbankankan untuk Abyaz. Terima kasih telah merawat dan mendidik Abyaz dengan baik."
"Abyaz sayang Papa."
Suara Abyaz dengan deraian air mata. Membuat suasana menjadi syahdu. Pras memeluk putrinya dengan penuh rasa cinta. Pras sangat bersyukur untuk hari ini, seorang Papa yang ingin melihat putrinya bahagia.
Gadis kecil yang begitu cengeng, tumbuh menjadi gadis remaja yang tengil, disaat mengenal dan jatuh cinta, ada duka mendalam pada cinta pertamanya itu.
Ini sebagian kisah, yang tidak tahu akan seperti apa nantinya.
Yang jelas, keluarga Pras sangat bersyukur atas pernikahan Abyaz.
"Mama,... Maafin semua atas kesalahan Abyaz selama ini. Maafin Abyaz kalau terkadang melawan perkataan Mama. Maafin Abyaz yang terkadang tidak patuh sama nasehat Mama."
"Mama sayang Abyaz." Ucap Britney yang tidak bisa berkata-kata dan memeluk putrinya dengan air mata yang mengalir lembut.
Alishba dan Alvaro juga tidak kuat menahan rasa haru. Mengingat akan perjuangan kedua orang tuanya, untuk membangkitkan semangat Abyaz di kala itu.
"Kakak, terima kasih. Kakak juga selalu memberi semangat untuk Abyaz."
"Kakak terima kasih udah datang. Abyaz banyak salah sama Kakak. Dari kecil, Abyaz selalu jahil dan tidak mau kalah kalau berebut Papa. Maafin Abyaz, Kak." Ucapnya yang seperti anak kecil.
Alishba bersama deraian air matanya. Tampak memeluk Adiknya, lalu berkata "Kakak bahagia, kakak senang kamu sudah menikah. Kakak sangat menyayangi kamu."
"Kak Abyaz, selamat. Semoga Kakak bahagia." Ucap Alvaro yang memeluk sang Kakak.
"Terima kasih sayang. Kakak sayang kamu. Terima kasih sudah menemani hari-hari Kakak."
Damar sangat bahagia melihat sang istri begitu menyayangi keluarganya. Begitu juga keluarganya, yang menyayangi Abyaz dengan penuh cinta.
Setelah acara ijab qobul yang sangat membuat rasa bergetar. Lalu acara sungkeman yang berlangsung penuh haru dan sangat syahdu.
Abyaz sudah ada di kamarnya.
"Sayang, kamu sangat cantik. Ayo senyum." Ucap Alishba yang ingin melihat adiknya tersenyum manis.
"Emh, Kakak."
"Belum acara foto. Make up kamu luntur."
"Ini airnya dari tadi nggak mau ngumpet. Jadinya keluar terus." Ucap Abyaz.
Terlalu banyak menangis, jadinya sang Kakak harus merapikan make-up sang pengantin. Setelah selesai merias wajah penganti dan keluarga. Para MUA, tadi pagi langsung pulang. Jadi, mereka tidak menunggu acara sampai selesai.
Putri mendekati Abyaz "Ponakan budhe yang satu ini. Memang artis india."
"Budhe putri, jangan bercandain aku."
"Budhe nggak bercanda. Memang kamu sangat mirip sama itu yang main film di televisi. Budhe suka nonton."
"Ahh... Udah dong. Aku jadi malu."
"Emh, Abyaz nanti kamu dibawa ke rumah suami kamu."
"Iya, nanti Abyaz udah ke rumah Damar."
"Hems, panggilnya harus yang mesra. Masak panggil namanya saja."
"Abyaz masih bingung budhe. Terus Abyaz harus panggil dia apa?"
"Kaya Rangga itu kalau panggil istrinya baby.. baby gitu. Terus istrinya kalau panggil Rangga, darling."
"Budhe Putri, kalau Mas Rangga sama Mbak Saskia udah pacaran duluan. Jadi mereka bisa gitu. Kalau Abyaz ketemu baru dua hari."
"Ya udah panggil bojoku atau sayang. Gitu kan enak. Kayak Mamamu panggilnya Mas."
"Budhe dulu panggil Pakde Candra gimana?"
"Ya Mas Candra, kadang juga sayang. Tapi setelah punya Rangga, Ayah, Ayah. Biar anaknya ngikutin. Kayak kamu panggil Papamu pernah Mas Pras. Gara-gara ikutin Mama kamu."
"Iya, Budhe ingat aja. Abyaz jadi malu."
Alishba yang selesai merapikan make-up. Dia tampak tersenyum memandangi Abyaz.
"Budhe, ayo kita foto dulu." Ajak Alishba.
Lalu Putri memegang selendang Abyaz yang panjang, dan Alishba memegang tangan Abyaz.
Abyaz keluar dari kamar dan kembali ke tengah-tengah keluarganya.
Acara foto bersama keluarga, di tempat garasi mobil, sudah di dekorasi untuk spot foto pengantin bersama keluarga.
"Abyaz kamu sangat manis." Ucap Erma
"Iya Tante, terima kasih." Balas Abyaz.
Anak Erma dan Yogi hanya dua, yang pertama anak laki-laki baru lulus SMA dan satunya perempuan masih SMP.
Hanya mereka saja keluarga dari sang mempelai laki-laki. Tidak ada lagi, kecuali yang ada di Jakarta.
Selamat untuk Abyaz - Damar. 😍
Maafkan bila ada salah kata dalam penulisan ini.
Semoga kalian suka 🤗😘