ABYAZ

ABYAZ
Pesta Yang Sangat Menakjubkan



Sabtu malam akhirnya tiba, dimana sebuah pesta di gelar dengan sangat megah.


Malam yang istimewa untuk sang pengantin. Melinda Yoon dan Andri Wijaya.


Usianya terbilang sudah kepala 5, tapi pesonanya memang terlihat seperti wanita muda. Itulah Melinda sang Mama dari Damar Setya Ardana.


"Aku juga pengantin baru. Aku tidak ada pesta apapun. Tapi, ibuku menggelar pesta yang sangat mewah." Batin Damar saat menatap dirinya dalam cermin.



"Aku gendut." Abyaz yang tidak henti menggerutu, setelah selesai berhias dan masih menatap cermin besar.



"Gadis garang, kamu sangat cantik."


"Kamu tadi yang nyuruh MUA biar aku terlihat garang. Tapi kenapa aku terlihat judes."


"Siapa bilang judes?? Kamu cantik begini. Bahkan aku jadi terpesona." Damar dengan gemas ingin sekali menciumnya, tapi tidak bisa.


"Terpesona apaan, kamu dari tadi asyik di depan kaca."


Setelah beradu ucapan dan Damar dengan gombolan manisnya. Mereka sudah siap untuk berangkat ke pesta.


"Dam, aku gelisah."


"Santai."


"Aku deg-degan."


"Bukan kita pengantinnya."


"Iiih.. Malah bercanda."


"Aku serius, kamu cantik. Sangat cantik. Ayo kita berangkat."


"Kamu semangat banget. Padahal, tadi pagi dari rumah kamu diem aja."


"Aku tidak sabar melihat ekspresi ibuku. Gimana nanti, saat melihat aku datang. Apalagi bersama wanita cantik."


"Apa Mama kamu tidak tahu?"


"Entahlah, dia sudah lama tidak bertemu wajah tampanku."


Sekitar satu jam perjalanan, dengan tangan yang saling menggenggam erat.


Damar juga gelisah, tadi bilangnya sudah tidak sabar. Malah sekarang terlihat sangat tegang.


"Dam...."


"Aku baik-baik saja."


"Aku bukan tanya keadaan kamu."


"Terus? Apa ada masalah?"


"Mobilnya udah berhenti. Kita sudah sampai di Hotel."


Barisan mobil sedan hitam berplat B, sudah berhenti di depan lobby hotel mewah. Hotel yang sangat terkenal dengan nuansa modern.


Pelayan hotel telah membuka pintu mobilnya, dan para pengawal juga sudah siap mengawal mereka berdua.


"Teman cantikku,... Ayo kita buat pertunjukan."


Damar yang memberikan tangan kanannya, dan Abyaz mulai menyentuh telapak tangan Damar dengan perasaan manis.


Abyaz begitu cantik dengan gaun putih silver bermotif bunga dan Damar begitu tampan dengan jas warna putih tulang. Pasangan yang unik, mereka bahkan memasang senyuman manis.


"Aku akan menemani kamu."


"Abyaz, terima kasih."


Abyaz yang telah memegang lengan kiri Damar, dan mereka berdua berjalan ke arah aula hotel yang menjadi tempat pesta pernikahan Melinda dan Andri.


Pesta sudah dimulai sekitar satu jam yang lalu. Damar memang sengaja datang terlambat, karena dia ingin memberikan kejutan special untuk ibunya tersayang.


"Kenapa mati lampu?"


"Ada apa ini?"


"Apa yang terjadi."


"Apa ada pertunjukan?"


"Kenapa gelap begini?"


Semua orang sudah sangat riuh. Stella tersenyum manis, semua sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Alunan musik terdengar romantis, perlahan pintu aula terbuka, dan satu persatu lampu hias yang ada disisi kanan dan kiri jalan menuju pelaminan tampak menyala.


Berjalan di atas marmer dan setiap langkah mereka berdua, lampu yang berwarna-warni mulai menyala, dan lampu sorot dari atas hanya tertuju pada Damar dan Abyaz.


"Dam,..."


"Santai saja."


"Tapi semua orang lihat ke arah kita."


"Biarkan saja."


"Aku dingin."


"Senyumlah."


Akhirnya mereka tiba di depan pelaminan.


Sang ibu mertua menatap Abyaz dengan dingin.


Sepasang pengantin tua itu, yang berdiri di depan mereka sangat tidak senang.


"Eun Ho??"


"Bagaimana kabar Mama?! Pasti Mama sangat senang."


"Anak tidak tahu diri."


"Anak tidak tahu diri. Heem... Tapi Mama yang sudah melahirkan aku."


Melinda mengepalkan kedua tangannya "Aku tidak mengundang dia. Apa yang Ayah perbuat?? Apa mungkin Stella??"


Melinda memang tidak ingin bertemu Damar, tapi Stella yang sudah dari awal merencanakan semua ini.


"Selamat atas pernikahan Mama."


Tampak senyuman manis dan Melinda sangat kesal melihatnya.


"Walaupun aku bukan anak kecil lagi, tapi aku masih tidak suka dengan ini semua." Yang dimaksud Damar, pernikahan Mamanya.


"Apa maksud kamu??" Melinda lebih geram dan rasanya sangat memalukan. "Kita bicara di luar."


"Apa mau kamu??? Kamu ingin jadi anak durhaka?!!"


"Emms, sepertinya begitu." Damar yang tampak berkaca-kaca dan tidak tahu harus bagaimana.


"Ayo kita keluar." Melinda menarik tangan Damar dan mengajaknya ke belakang aula itu.


Damar yang seperti anak kecil dan Abyaz dari tadi sudah melepaskan tangan suaminya.


Stella dengan cepat mendekati Abyaz, dan mengajaknya untuk duduk bersamanya.


Andri yang berdiri di depan para tamu sudah tampak memasang senyuman manis.


Tangan kirinya masih memegang gelas wine. Andri mulai mengangkat gelas itu, dan mengisyaratkan agar para tamu undangan, menikmati pesta malam ini.



Melinda yang selalu menanggap cinta itu hanya sebatas kata. Mungkin karena itu, dia suka menikah.


Yang tercatat di catatan sipil hanya 3 orang. Dengan Papanya Stella, dia tidak menikah. Stella juga tahu hal itu. Lalu menikah dengan pria asing, tapi tidak memiki anak. Akhirnya menikah dengan Ayahnya Damar.


Itu yang dianggap pernikahan pertama. Dari situ Eun Ho sebagai cucu pertama dalam catatan keluarga Lee Sung Hoon.


Kemudian menikah lagi, dan memiliki putra.


Setelah itu menikah secara resmi, tapi tidak bertahan lama, dan saat ini menikah dengan orang kepercayaan Ayahnya sendiri.


Entah, berapa kali dia menikah. Yang jelas, untuk secara tertulis dan menggelar pesta. Ini yang ke-4 kalinya.


"Kamu sudah mengacaukan pesta Mama."


"Bukan aku."


"Pasti Stella yang membawa kamu kesini."


Damar sebenarnya juga sangat rindu Mamanya, tapi luka hatinya lebih besar.


"Siapa gadis yang bersamamu??"


"Untuk apa apa Nyonya besar bertanya tentang putra yang diterlantarkan."


"Kamu diterlantarkan???" Melinda sangat menatap tajam.


Damar tidak berani menatap mata sang Mama.


"Kamu sendiri yang memilih mencari Ayah kamu. Kamu yang harusnya menikmati kemewahan Kakek kamu. Tapi kamu memilih untuk pergi."


"Kemewahan?? Apa artinya kemewahan kalau tidak ada cinta dari kalian semua."


"Apa kamu mendapat cinta dari Ayah kamu??" Tatapan Melinda sangat tajam.


"Ayah. Sampai detik terakhirnya, dia sangat mencintai aku."


"Bahkan, dia tidak bisa melupakan mantan istrinya. Dia, dia_." Damar tidak bisa melanjutkan perkataannya. Rasa yang sangat menyakitkan hatinya. Damar merasakan bagaimana perasaan Ayahnya.


Damar mulai menatap lagi Mamanya.


"Kamu sudah pandai berbicara."


"Aku anakmu."


"Terserah! Pergilah. Aku tidak sudi melihat kamu disini."


"Tidak sudi??"


"Iya, aku juga tidak akan berlama-lama. Aku bahkan sangat malu. Dari kecil, aku sangat malu, punya ibu seperti Mama." Teriak Damar yang tidak tertahan.


Hening!


"Mama nampar aku? Seperti dulu. Sama seperti ini kan Ma??"


"Mama yang tidak pernah ingin aku ada."


Melinda terasa sesak, tangannya masih membeku. Damar yang merasakan sakit pada pipi kirinya, tidak seberapa sakit, di banding luka hatinya.


"Aku bukan lagi anakmu." Damar pergi meningalkan ruangan itu.


Melinda tampak berkaca-kaca, dan tampak tertunduk di sebuah sofa.


Tidak ada yang melihat pertengkaran mereka berdua.


Damar yang masih membawa luka dalam hatinya dan berjalan ke aula itu. Tatapan yang sendu, melewati Andri dan Abyaz juga melihat suaminya.


"Kak Stella, ada apa dengan Damar?"


"Kamu tidak perlu cemas."


Stella menghubungi para pengawalnya, tapi Abyaz tidak sabar dan dia berlari mengejar Damar.


Semua orang bisa melihat ekspresi Damar yang kalut. Bahkan tatapannya sangat kosong, hanya ada air mata yang perlahan jauh membasahi pipinya.


Damar dengan cepat pergi meninggalkan aula itu.


"Aaahh..." Suara Abyaz yang terjatuh, karena Cecilia menendang high heels Abyaz.


"Sakit?? Aku tidak sengaja.... Kamu memalukan."


Stella berjalan mendekati Abyaz "Abyaz ada yang sakit?"


Abyaz dengan cepat melepas sepatu itu. Dengan suara pelan tapi sangat menekan Cecilia "Lihat saja nanti, kamu yang akan lebih memalukan."


Abyaz lalu berlari keluar aula. Abyaz masih mencari Damar, pengawal juga mengikuti Abyaz.


"Dimana Damar?"


"Jalan ke lobby." Ucap salah satu pengawal.


Stella yang masih di dalam gedung, berkata "Cecilia, kamu tidak tahu apa-apa. Lebih baik, kamu menyingkir."


Stella belum melihat sang Mama, hanya Andri yang masih berada di depan para tamu undangan. Stella pergi mencari Mamanya.


"Damar!!" Teriak Abyaz.


Tapi Damar tidak mendengarnya, Damar yang sudah mengendarai mobil. Bahkan Damar juga menonjok pengawalnya sendiri, agar bisa memakai mobil.


"Abyaz!!" Suara memanggil, yang terdengar tidak asing.


Abyaz menoleh ke arah suara itu, tapi dia juga ingin segera menyusul Damar. Para pengawal baru saja mengambil mobil.


"Abyaz, jadi tadi yang aku lihat. Beneran kamu." Ucapnya dan memeluk Abyaz dengan erat.


Rasanya begitu rindu.


"Aku senang bertemu kamu."


Abyaz meneteskan air mata.