
Masih pada hari yang sama. Setelah pulang dari sekolah. Gaby duduk di kursi meja belajarnya. Gaby membuka amplop surat peringatan dari sekolahnya.
"Percuma juga diberi SP. Nggak bakal ada yang baca."
Dua amplop dia dapatkan, padahal hanya mempertahankan dirinya. "Membela diri salah. Kalau diem aja juga ditindas terus."
Gaby merasakan hal yang sama sewaktu masih tinggal di Golden Mansion.
Flashback On.
Semalam, ada acara makan malam di hotel berbintang. Dia merasa senang, ketika sang Pakde memberikan sebuah undangan makan malam. Ia secepatnya pergi dan bertemu sang Pakde di hotel.
Setibanya di hotel sore itu, senyuman manis dia sematkan dan memegang erat lengan tangan Pakdenya.
"Gaby, sekarang kamu sudah dewasa."
"Pakde bisa saja." Balasnya dan masih memegang lengan tangan sang Pakde.
Banyak obrolan mereka berdua, dan Gaby bercerita tentang lingkungan barunya.
Sore itu, Gaby masih terasa bahagia. Kemudian, datanglah kakak sepupu bersama keluarga kecilnya.
"Gaby, gimana kabar kamu?"
Gaby menjawab "Kabar baik Kak." Ia juga merasa tidak nyaman, saat istri Kakak sepupunya itu, menatapnya dengan sinis.
Kakak sepupu tampannya itu, adalah Binar Jati Lingga.
Sang Pakde yang duduk di sofa, dan sibuk dengan buku menunya ialah Lingga Mahatma.
"Gaby, kamu mau makan apa?" Tanya sang Pakde.
"Emh, nasi goreng aja Pakde."
"Tumben, biasanya kamu suka makan steak."
"Sekarang, Gaby sudah terbiasa makan nasi." Jawabnya.
Istrinya Binar berkata "Baguslah, kamu harus terbiasa makan nasi. Jangan daging terus menerus-nerus."
Binar memegang tangan istrinya dan menggeleng. Lalu Binar bertanya kepada Gaby, "Gimana, kamu suka sepatunya?"
"Iya Kak. Gaby suka."
Istrinya Binar semakin terlihat judes. Gaby tidak peduli, selama dirinya tidak bersalah.
Waktu terus berjalan dan akhirnya tiba acara makan malam keluarga Lingga.
"Gaby sayang. Budhe bawakan cake kesukaan kamu. Nanti, kamu makan di rumah ya." Ucap Vava dengan logat dan gayanya yang begitulah. Kalem saat ada masalah dulu waktu di Jerman, sudah jadi nyonya lupa waktu susahnya.
Gaby berkata "Iya Budhe, terima kasih. Pasti nanti Gaby bawa pulang."
Darra menyahut "Emh, setelah pindah rumah. Kayaknya, kamu makin gemuk. Berarti nyaman ya disana."
Mendengar hal itu, Darren juga tidak senang. Namun, dia memilih diam.
Gaby melihat ke arah Darren yang tampak berubah, seperti kerbau yang di cocok hidungnya.
"Iya Kak Darra, disana Gaby senang. Gaby juga banyak teman." Balasnya.
Lingga berkata "Sudah, ayo makan dulu. Jangan bahas hal lainnya."
Hanya Betari Ayu Lingga yang terdiam tanpa banyak kata. Karena, Ayu sering sakit-sakitan, dan dia belum menikah. Makanya, begitu Darra punya pilihan. Mamanya gercep untuk menikahkannya. Meski Binar anak kesayangan, namun Binar bukan lahir dari rahimnya. Dia juga ingin cucu dari keturunannya sendiri.
"Kak Imel, tumben makan nasi?" Tanya Darra yang hendak menyindir Gaby.
"Biar kenyang, sampai rumah langsung tidur."
"Emangnya Kak Binar nggak booking kamar? Kenapa kalian pulang?"
Lingga yang malas mendengar itu, berkata "Darra, makan."
Vava menyela "Darra sayang, nanti kita semua pulang ke Pondok Indah. Besok kita ada acara doa bersama buat Kakek Buyut."
"Iya Bener Mom. Darra lupa."
Darra merangkul lengan Darren, berkata "Sayang, nanti kamu anterin Gaby aja. Aku nggak apa-apa kok. Kasian dia. Jauh-jauh harus naik taxi."
Gaby meletakan sendok dan garpu, ia berkata "Maaf semuanya, Gaby mau ke toilet dulu."
Darra berkata "Tunggu, aku temenin."
Binar mengerti akan situasi ini, ia tampak menggeleng. Binar juga tidak ingin terjadi masalah lagi antara Gaby dan Darra.
Darra merangkul lengan tangan Gaby, berkata "Kamu memang cocok tinggal disana."
"Tidak perlu bersandiwara." Ucap Gaby dan dia mau terpancing.
"Kamu jangan menghubungi Darren lagi, atau aku akan..."
Gaby, "Akan apa?"
"Kamu sudah dewasa, pastinya paham. Aku dan Darren sudah menikah. Darren bukan lagi asistenmu. Dia suamiku dan sekarang bekerja di perusahaan Daddy."
Darra semakin menatapnya sinis "Pergilah, jangan ganggu keluargaku, apalagi suamiku."
Gaby terdiam dan dia masuk ke toilet. Darra hanya mencuci tangan di wastafel, lalu kembali ke ruang makan.
Binar yang mendengar di balik pintu toilet perempuan, dan Darra tidak melihat ada Binar di tempat itu.
Gaby keluar dari toilet dan Binar berkata "Tidak usah pedulikan ucapan Darra."
"He'em."
Gaby tersenyum, hanya Binar yang bisa mengerti dirinya saat ini. Mungkin saja karena Binar merasakan, tidak ada orang tua kandungnya. Meski Lingga dan Vava memanjakannya, namun ia bisa merasakan kalau dirinya anak pungut.
"Kak Binar, juga tidak perlu lagi kasih aku hadiah. Kak Imel sepertinya tidak suka."
"Kamu tidak usah memikirkannya."
Gaby dan Binar kembali ke ruangan itu, namun Darra sudah tampak menangis. Entah, apa yang sedang dia rencanakan.
"Mom,... Apa Darra bersalah?" Darra yang menangis dalam dekapan Vava.
Lingga berkata "Gaby, pulanglah."
"Pakde, Kak Darra kenapa?"
"Ini semua gara-gara kamu." Ucap Dara.
Darren, tertunduk di sofa dan hanya diam. Gaby melihat ke arah Darren, sepertinya dirinya harus pergi.
"Baik Pakde. Gaby akan pergi."
Gaby mengambil tasnya dan Lingga mengantarnya "Maafin Pakde. Kamu pulang dulu ya. Nanti Pakde hubungi kamu."
"Iya."
Gaby pergi dan dia merasa kalau lebih baik tidak bertemu dari pada hatinya menjadi semakin rapuh. Dulu sang Pakde begitu perhatian padanya. Setelah tinggal di Golden Mansion, malah jadi seperti ini. Semakin hari rasanya tampak asing. Bukan lagi seperti keluarga yang dia rasakan, melainkan seperti orang lain.
"Sendiri." Batin Gaby, saat berjalan menuju ke arah pintu lift.
Gaby yang tampak menangis dan beberapa orang telah menatapnya, termasuk sosok Kakek yang tadi satu lift dengannya.
Flashback Off
Alvaro setibanya di rumah, ia menunggu telephone dari Gaby. Papa dan Mamanya juga baru tiba di rumah.
"Sayang, kamu sudah makan?" Tanya sang Mama.
"Sudah Ma." Jawabnya singkat.
Tiduran di sofa ruang tv, sibuk melihat layar pintarnya. Sudah setengah jam dia menunggu, tapi tidak kunjung telephone.
Sang Papa mendekati putra tampannya dan, mengambil ponsel itu "Tumben lihat HP terus?"
"Papa, mana ponselnya."
"Coba Papa lihat, ada apa di ponsel kamu ini?"
"Nggak ada apa-apa." Jawabnya dan ia meraih ponselnya kembali.
"Papa iseng amat, biarkan Al istirahat." Ucap sang Mama dan membawakan buah potong untuk suami serta putra tampannya.
Sang Mama menyuapi putra tampannya "Gimana? Tadi pagi telat bangun nggak?"
"Nggaklah Ma. Al juga terbiasa bangun pagi."
Al yang tadi duduk dan disuapi nanas, lalu kembali ke pangkuan sang Mama "Mama.."
"Iya, ada apa?" Sang Mama sambil mengelus rambut putranya.
"Mama dulu yatim piatu, terus tinggal sama Kakek buyut. Gimana perasaan Mama?"
"Kenapa kamu tanya begitu?" Britney merasa ada hal aneh, namun dia menjawabnya. "Ya perasaan Mama sedih, kadang kesepian. Meski Kakek dulu sayang sama Mama, tapi Mama juga ingin kayak temannya Mama, di jemput Papa Mamanya kalau ke sekolah. Ke mall bareng Mamanya, terus ke taman bermain sama Papa Mamanya, begitu. Mama remaja cuma bisa curhat sama Ghea. Budhe kamu Ghea sering perhatiin keadaan Mama. Sama Pakde Evan, dia sayang banget sama Mama. Keluarga besar Kakek, semua sayang sama Mama."
"Mama pernah nggak, ada masalah sama kerabat atau sama saudara?"
"Emh, apa ya. Mama lupa."
Sang Papa menyela, "Pernah, waktu sama Maeva berebut cowok di kampus."
"Emang iya Ma??" Alvaro penasaran.
"Iya, bahkan Mama juga dimarahin sama Vava, kalau Mama merebut incerannya." Jawab sang Mama
Alvaro terbangun dari pangkuan sang Mama "Tante Vava? Incerannya? Siapa Ma? Kok Al nggak tahu."
Sang Papa berdiri, berkata "Papa pergi dulu."
"Papa, jangan pergi dulu. Jelaskan ini sama anak kamu."
Melihat gerak-geriknya, Al berkata "Wah, Al ngerti. Jangan-jangan rebutan Papa."
Sang Papa kabur dan Mamanya tersenyum, lalu Britney berkata "Iya, Mama seperti pencuri dimata Tante Vava. Padahal, Mama nggak tahu kalau cowok yang sering dia ceritain ke Mama itu, Prasetya Wardana."
Alvaro gencar bertanya, "Terus, caranya kalian baikan?"
"Ya kita akhirnya baikan. Pakde Evan itu, yang bisa nenangin Tantemu. Mama juga sering berantem sama Mammi Maeva. Pakde kamu itu juga, yang membela Mama. Malahan, adiknya sendiri nggak pernah dibelain."
"Al kasian sama dia." Gumam Alvaro.
Britney mendengar itu, bertanya "Kasian?"
Hallo para pembaca tersayang,
Tulisan othor membingungkan ya?🤭
Maafkan bila tidak sesuai ekspektasi kalian. 🤗
Semoga tulisan othor bisa menghibur kalian.
Update setiap hari, dan tulisan ini sudah ditandai waktu updatenya. Harap maklum bila tidak sesuai keinginan dan harapan kalian semua. 🙏