ABYAZ

ABYAZ
Guru Tampan



Pagi yang cerah namun tidak secerah suasana hatinya. Tampak mentari menyinari sepanjang perjalanannya. Motor gagah berwarna hitam. Melaju dengan cepatnya.


Wuuuss!


Pria tampan yang berkharisma, berjaket kulit hitam, memakai helm full face warna hitam dan dia menuju tempat bekerjanya.


Setibanya di Sekolah. Sosok tampan nan rupawan, tiba di parkiran sekolah. Memang aneh, tapi Al telah meletakan motor gagahnya di area parkiran siswa. Al memarkirkan motornya di deretan motor gagah lainnya. Orang lain sudah menatapnya, namun dia masih sibuk melepas helm dan jaketnya.


Aura guanteng!!!


(bayangin aja gimana pesonanya waktu Alvaro melepas helmnya yak. Terus gimana damagenya, saat melepas jaket kulitnya. Othor susah ngejelasinnya.)


😍😍😍 Terpesona.


"Selamat pagi Pak Al..." Sapa seorang murid, yang melewatinya saat berada di area parkir.


Ia hanya mengangguk, saat membalas sapaan salah satu muridnya.


SMA swasta yang berbasis internasional, sebut saja SMA Pesona Internasional. SMA teladan dengan prestasi terbaik, dan menjadi pilihan wali murid saat mendaftarkan putra putrinya. Maka dari itu, SMA ini juga sangat terkenal di kota tempat tinggal keluarga Prasetya Wardana.


"Selamat pagi Pak Al." Ucapan dari beberapa murid, saat bertemu guru tertampan di sekolahan itu.


"Pagi Pak Alvaroku yang tampan." Begitu manis, tanpa basa-basi. Sapaan dari ketua geng kupu-kupu, yang terkenal di sekolah itu.


"Iih, gemes deh kalau pagi-pagi kita sarapan es krim."


"Hemm, mr. kulkas makin hari makin bikin gereget aja ya." seru sahabatnya Elsa dan Vika.


"Ya, begitulah kalau punya wajah tampan." Balasnya dan sorot mata itu masih tertuju pada sosok tampan yang terlihat berjalan dengan gagahnya, "Aku cantik, aku yang cocok sama Pak Alvaroku."


Kedua temannya hanya mengangguk saja, dan mereka juga berkhayal bila bisa dekat dengan Pak guru tampan itu.


Alvaro Putra Prasetya, terkenal sebagai guru yang terkenal dingin dan tidak ramah kepada semua murid. Bahkan, kepada sesama pengajar di sekolahan tersebut. Sangat berbanding terbalik dengan sang Papa tampannya, yang selalu ramah kepada orang lain dan sangat murah senyum.


Pak Alvaro yang sering dipanggil dengan Pak Al, telah tiba di ruangannya. Ia langsung membuka sebuah loker yang ada di ruangan itu, ia telah mengambil sebuah kaos olahraga putih berkerah. Terdapat logo nama SMA itu di sisi kanan dada kaos tersebut.


Pak Al adalah guru olah raga. Alvaro dari kecil memang gemar berolah raga. Dari sepak bola, basket, bela diri dan lari. Semua ia tekuni dari usia dasar. Karena, memang dia lebih hobby berolah raga, ketimbang bermain game online diponsel pintarnya.


Suara ketukan meja, dan Al menoleh ke arah itu. "Ada apa Pak Ferdi?"


"Pagi-pagi, sudah mau berganti kaos."


"Ada jadwal pagi di kelas XII IS-4."


"Kita ada rapat pagi, dengan kepala yayasan."


"Saya tidak menerima pesan." Lugasnya dan masih memegang kaos putihnya.


"Memang tidak ada pesan, ini rapat dadakan Pak Al." Ucapnya dengan bahasa formal, ketika selama berada di lingkungan sekolah.


Al hanya mengangguk, lalu meletakan kembali kaosnya. Kemudian ia bersama rekannya bergegas ke ruang rapat yayasan.


Ferdinan Rahmanto, biasa di panggil Pak Ferdi. Usianya sama seperti Pak Al. Bahkan, dulunya teman satu SMA. Hanya saja berbeda kelas, lalu mengenal dekat setelah sama-sama menjadi pengajar di sekolahan itu.


Pak Al dan Pak Ferdi, duduk bersebelahan di ruang rapat tersebut. Beberapa guru perempuan, tidak henti menatap ke arah guru tampan tersebut. Maklum saja, bukan hanya idola para siswi, namun para pengajar single itu, juga mencari celah, agar bisa mendekati Alvaro Putra Prasetya.


Selang beberapa waktu, di sebuah kelas yang berada di lantai 2. Ada seorang siswi yang terlambat datang ke kelasnya. Yang tadinya begitu riuh, mereka hanya diberi tugas saat guru yang mengajar sedang mengikuti rapat. Setibanya siswi itu ke ruangan, semua tampak terdiam dan menatap ke arah siswi itu.


Siswi yang menggendong ransel putih dengan memakai seragam lengkap almamater sekolah itu. Tampak berdiri saja di hadapan murid lainnya.


"Hai,..." Sapanya dengan senyuman manis dan begitu centil.


Semua masih menatapnya, suasana berubah hening. Ada beberapa cowok yang terpana dan sampai ternganga saat melihatnya.


"Hai, semuanya..." Sapanya dengan melambaikan tangan kanannya. Senyuman manis dan kecentilan dirinya begitu terpancar.


"Hai,.." Balas seorang siswa yang ada di bangku paling depan dan ia tampak berkacamata.


Sampai sini dulu ya, nanti sambung lagi. 🤗


Jangan lupa komentari tulisan othor ya. Kalau ada salah kata, mohon maafkan othor. 🙏