ABYAZ

ABYAZ
Bab. 70. Tutup Cerita Dari Nada



"Nada. Kamu pakai lipstiknya Mama?"


Bibir imutnya sudah tampak kemerahan, dengan unyu memperagakan bibir imut itu, kepada sang Mama.



"Maaf, Mama."


Beby menatap putrinya dengan gemas, ia lanjut memeluknya. Sang Mama ini tidak pernah memarahi putrinya dan ia sangat memanjakan putrinya.


"Kamu boleh pakai ini, tapi kalau di rumah saja. Kalau mau jalan-jalan, kamu jangan pakai ini sayang."


"Mama pakai itu, kenapa aku tidak boleh?"


"Kalau Mama sudah dewasa. Nanti, kalau Nada sudah dewasa boleh memakai ini di bibir."


Sang Papa yang masuk ke kamar dan melihat putri kecilnya yang tampak menggemaskan.


"Nada."


"Papa. Aku cuma mamakai ini, tapi Mama jadi melarangku."


"Sayang."


Sang Papa menggedongnya dan Mama tampak cemburu, begitu dan selalu saja putri kecil ini mengadu kepada sang Papa. Seolah Mamanya sudah marah dan melarang dia agar tidak memakai lipstik yang ada di meja rias sang Mama.


"Papa boleh?"


"Boleh, tapi nanti. Kalau sudah lulus sekolahnya."


"Lulus sekolah? Aku sudah lulus TK."


"Benar, kamu sudah lulus TK."


"Apa boleh memakainya?"


"Masih belum."


"Kenapa?"


"Kamu harus menjadi tinggi dan besar. Kalau sudah sebesar Mama. Kamu bisa memakai lipstik itu di bibir imut kamu ini."


"Tentu Papa. Kalau begitu, aku harus jadi besar dulu. Aku harus makan yang banyak dan Papa harus beliin aku es krim."


"Oke. Papa akan beliin Nada es krim yang banyak."


"Tidak, satu saja. Tapi yang besar sekali."


"Besar sekali?"


Kecupan menggemaskan ke pipi kanan sang Papa dan tersenyum, seolah telah mengejek sang Mama.


"Pergilah. Mama tidak akan melarang."


"Papa, ayo kita pergi. Mama sudah kasih ijin untuk kita jalan berdua."


"Terus, Mama sama siapa?"


"Sama Bonny, Catty, Moddy, dan Ruz." Dia malah mengatakan hal itu dan berkedip cantik ke arah sang Papa.


Arjuna sudah kalah bicara dengan putri kecilnya ini. "Baik, Papa akan siapkan dulu kereta kudanya."


"Tidak."


Arjuna yang semakin menggoda, berkata "Papa akan siapkan delman."


"Tidak."


"Terus, Papa harus siapkan apa sayang?"


"Papa, kita perginya jauuuh banget."


"Berarti, Mama harus ikut kita."


Sang putri kecil menoleh ke arah sang Mama, yang tampak menyisir rambut dan menatap cermin.


"Mama, tidak boleh ikut kita."


"Nada."


"Ayolah Papa."


"Baiklah. Papa menyerah. Kiss dulu sama Mama."


Sang putri kecil ini, menuruti perintah sang Papa dan mengecup manis pipi kanan kiri sang Mama.


"Mama, Nada pamit dulu."


"Iya sayang. Hati-hati, cepat pulang."


"Oke Mama."


Masih berada di gendongan sang Papa dan suami tampan ini tidak lupa mengecup kening istrinya dengan perasaan sayang.


"Aku pergi dulu."


"Cepatlah kembali."


"Iya, sayang."


Sang putri kecil yang tidak sabaran dan akhirnya pergi bersama sang Papa tampannya.



Cuma mau beli es krim aja, ribetnya udah kayak mau pergi ke luar kota.


Memang sepertinya begitu, ada pusat belanja yang sering dikunjungi Nona kecil bersama sang Papa tercinta.


Bukan naik motor, mobil, atau kereta kuda. Tapi harus menaiki helikopter, yang akan mengantarnya ke pusat perbelanjaan itu. Setibanya disana, bukannya hanya membeli es krim, melainkan bertemu Oma, Opa dan keluarga lainnya.


"Oma." Teriaknya begitu nyaring dan langsung berlari ke hadapan Bunda Gaby.


"Nada. Cantiknya Oma." Sang Oma juga langsung memeluknya gemas.


Beli es krimnya di Malnya miliknya. Tapi tetap saja, para penjual di Mal itu, juga tidak akan mengira, kalau Nona kecil itu adalah tuan putri dari pemilik Mal termewah dan ternama di kota itu.


"Opa."


"Nada ingin es krim?"


"Iya Opa."


"Opa sudah siapkan es krim besar buat Nada."


"Benarkah?"


Sang Opa tampan membawanya berjalan pergi ke tempat es krim favorite Nada.


Bunda mendekati sang putra tampannya, lalu berkata "Bunda jadi ingin cucu lagi."


"Bunda."


"Nada selalu memilih Opanya, dibanding Omanya."


"Beby juga bilang begitu."


"Terus, apa masalah kamu?"


"Bunda, gimana aku bisa tidur dengan istriku. Nada selalu mengajakku pergi ke kamarnya, tidurku bersama para boneka kesayangan Nada."


"Hemm, memang susah kalau anak seusia Nada. Harusnya, Nada umur 3 tahun, kamu harus membuatnya."


"Bunda, tidak semudah itu. Beby, dulunya yang selalu fokus sama Nada. Mana berani aku menganggu menantu Bunda."


"Arjuna, bayi kembar sepertinya sangat menggemaskan. Apa, perlu Bunda bawa Nada pulang ke rumah?"


"Aku akan tanyakan dulu sama Mamanya Nada."


"Kalau bisa begitu. Aku akan mengundang semua keluarga besar kita. Pasti Kak Abyaz akan senang mengasuh Nada."


"Nanti aku coba tanya dulu sama Beby."


"Oma." Panggil Nada dan sangat gemas.


"Kenapa balik lagi?"


"Opa bilang, lupa mengajak Oma."


"Owh, begitu ya. Baik, Oma akan ikut Nada beli es krim."


Sang Oma dengan hebohnya dan Arjuna dengan senang menatap mereka bertiga.


Rasanya, ingin segera kembali ke rumah dan memeluk istrinya tercinta.


"Beby, sedang apa?"


Di rumah mewah dan berada ada di pinggiran kota. Para, pelayan juga berbelanja dan sudah menyusun belanjaannya di dalam gudang.


"Nyonya."


"Apa kalian masih sibuk?"


"Tidak Nyonya."


Selekasnya berdiri mendekati sang Nyonya. "Nyonya ada perlu apa, sampai datang kemari?"


"Aku akan mengajak kalian pergi. Kalian, pakai baju biasa saja. Jangan memakai itu." Para pelayan yang masih memakai pakaian seragam.


Semua hal itu, karena aturan dan kekuasaan si Nyonya tua.


Setelah kematian putra semata wayang, sang Nenek mengajak Beby dan Arjuna kembali, tapi ke tempat yang sangat jauh dari hiruk-pikuk Ibukota.


Di rumah itu, ada Nenek, Paman Shin, Beby, Arjuna, Nada dan Madam Stella. Lalu, ada pula para pelayan serta pengawal pilihan.


Apa kata Nenek sewaktu menjemput mereka "Pulanglah ke rumahku. Aku ingin kalian menghabiskan uangku. Agar aku bisa mati dengan tenang."


Sang Nenek yang semakin keriput, dan menikmati hari tuanya di kursi goyang. Tidak ada lagi, kucing hitam yang mengeong memanggilnya.


Semua aset yang di ibukota sudah di alihkan kepada sang pewaris, setelah acara 100 harian alm. Binar.


Tidak ada lagi, hal yang berhubungan dengan sang putra. Dengan begitu, imeg baru telah merubah keadaannya. Bahkan, sang Nenek ini juga telah membebaskan Stella dan mengajak tinggal bersama.


"Aku ibu mertuamu. Kamu harus menjaga aku di hari tua ini."


Seperti itulah, meski menantunya ini sudah durhaka kepada putranya.


Sebuah bukti terkuat bahwa alm. Binar meninggal karena gagal jantung.


Meski kecelakaan itu terjadi, tapi Stella menghantamkan mobilnya sendiri, dan sampai terpental mengenai mobil sang suami. Stella juga terluka, hatinya yang sangat terluka parah.


"Sayang, kamu sudah bersiap, mau kemana?" Tanya sang Mami dan menatap Beby yang tampil syantik.


"Mami, aku bosan. Aku mau jalan-jalan."


"Mami sepertinya harus ikut kamu."


"Nenek juga bosan di rumah."


"Emmh Nenekku, yang selalu sibuk mengatur hidupku."


Sang Nenek tidak mau kalah, gaya apa yang dipakainya saat ini, merah merona. Beby menggeleng dibuatnya.


Sang Mami juga tidak mau ketinggalan, dengan pakaian hitam menawan. Beby sendiri, sudah mengenakan dress bunga-bunga.


Mereka bertiga siap pergi, dengan para pelayan muda yang sudah tampil manis.


"Paman Shin. Kenapa bisa duduk di sini?"


"Paman juga suntuk di rumah. Paman yang akan memandu jalan."


"Huuh, kalian ini. Setiap aku pergi, kenapa selalu heboh begini."


"Beby!" Seloroh mereka semua.


Sebuah permintaan dari alm. sang Papi, sebelum kepergiannya. Keluarganya ini, harus bisa menjaga Beby dengan sebaik mungkin.


"Nyonya. Kita mau kemana?"


Semua terdiam dan mobil masih tak bergerak. Sang sopir juga terdiam tanpa arahan.


"Ke Mal."


"Mal?"


"Shopping."


"Baik. Kita shopping ke negeri singa." Ucap Paman Shin dengan senangnya dan hari ini terbebas dari dapur mewahnya.


Mumpung Nona kecilnya juga pergi, sang Mama muda ini, tidak mau kalah dengan putri kecilnya.


Menuju ke landasan pesawat pribadi, dan hal itu sudah biasa bagi Beby.


Di tempat lain, Bulan dengan riweh merawat bayi kembar nan tampan bersama suaminya tercinta.


Semenjak kehamilannya, Bulan memilih tinggal di rumah kedua orang tuanya. Sedangkan orang tuanya, tinggal di Pondok Indah setelah kepergian alm. Binar. Apalagi, Stella dan keluarga kecil Mirza juga tidak lagi tinggal di rumah itu.


Papa Damar juga memilih pensiun dan Bintang resmi menjabat sebagai Presdir di JS.


Sedangkan, Mirza tetap pada jabatan sebagai CEO di kantor Arman. Karena dulu, memang dia bekerja di situ. Mirza juga mewarisi bisnis kosmetik milik alm. Binar.


Lalu, Starla tetap membesarkan usaha mereka, meski sang sahabatnya hanya sesekali melihat bisnisnya, yang mereka rintis bersama.


Cinta sendiri juga sudah menjadi Ibu, tapi dia tetap fokus akan pekerjaannya. Dia memilih untuk seperti Starla, bekerja sambil mengurus putra tampannya.


Kembali pada Arjuna, yang mengadakan pertemuan dengan para Pimpinan bisnis yang ia jalankan.


"Siang Bos. Ini, tanda tangan disini." Ucap Jimmy."


"Apa lagi yang harus aku tanda tangani?"


"Sudah cukup Bos. Transferan juga sudah saya terima dengan senang hati."


Daniel berlari mendekat "Bos Arjuna, saya terlambat."


"Bagaimana pekerjaan kamu?"


"Santai Bos. Semua sudah saya tangani dengan sebaik mungkin, proyek berhasil."


Daniel tetap setia pada Arjuna dan ia sampai keluar dari kantornya Beby.


Si mata empat ini, dia yang membawa Arjuna dan Beby yang pergi, kala berita itu menerjang mereka. Daniel pula yang menyiapkan segala keperluan mereka dan sampai tidak terlihat, oleh para pengawal Mahatma dan Jisung.



Bisnis yang sekarang bernilai triliunan, atas dana awal dari tabungan Arjuna selama menjadi aktor dan dikelola Daniel dengan sebaik mungkin. Meski sempat mengawasi Beby, Daniel tetap menjalankan bisnisnya Arjuna.


"Bos, saya buru-buru pamit."


"Daniel. Jangan terlalu memforsir diri."


"Siap Bos."


Jimmy menatap Arjuna, ia bertanya "Apa Bos tidak ingin muncul kesana?"


"Biarkan Daniel yang memimpinnya."


"Aku juga akan memperkaya Bos Arjuna" Seraya bernyanyi.


Arjuna merangkul bahunya, lalu berkata "Aku lakukan, demi kalian semua."


Nada yang sudah mendekat "Papa."


"Iya sayang. Kamu sudah puas makan es krimnya?"


"Tidak."


"Ada apa?" Melihat wajah itu, sudah manyun imut dan sangat menggemaskan.


"Aku kangen Mama." Jawabnya.


"Baik. Kita akan segera pulang."


Baru hendak berjalan, mendapatkan pesan.


[Sayang, aku pergi sebentar. Kamu harus jagain putri kecilnya kita. Kamu mengerti sayang.]



Kebiasaan.


Sang suami harus bisa mengalihkan perasaan Nada. Terlihat menggendong putri kecilnya dengan gemas.


"Sayang, gimana kalau kita ke rumah Eyang Abyaz, Mbah Viral, terus sama Oma Darra. Kamu mau?"


"Emmmh."


Sang Papa, mengerti jawaban putrinya.


Nada Gista Madaharsa, nama yang cantik dari sang Papa. Lahir di rumah dan semua keluarga besarnya menantikannya.


"Nada."


"Eyang Damar."


Rasa lega dari sang Papa. Setidaknya, bisa mengulur waktu pulangnya.


Nada dengan senangnya, bisa kembali bertemu sang Eyang tampannya. Nada yang sudah dalam gendongan sang Eyang, membuat Arjuna bahagia.


"Nada." Suara Mbah Viral yang memanggil.


Arjuna bisa melihat kebahagian para Kakek Nenek itu, dari sebelahnya ada Eyang Abyaz yang baru hadir dengan bando motif kartun.


"Nada, sama Mbah Viral saja."


"Tidak mau."


"Sama Eyang Abyaz?"


"Tidak mau."


Eyang Damar berkata "Aku, tetaplah Eyang pilihan Nada."


Nona kecil ini, tahu saja kalau Eyang satu ini semakin usia, semakin terlihat aura tampannya.


Oma Gaby juga merasa kalah, ia berkata "Kak Abyaz, aku saja sering ditolak Nada."


"Nada, seperti Beby. Dia punya kecocokan sendiri."


"Anak-anak memang seperti itu." Ucap Ayah Alvaro, lalu merangkul kedua perempuan ini.


"Adikku, aku semakin tua dan akan jadi renta."


"Aku juga sama."


"Aku hanya ingin bersama cucu-cucuku."


Bunda Gaby berkata "Kalau aku, hanya ingin berduaan dengan suamiku."


"Bunda."


"Iya, Ayah."


"Kita harus menyenangkan perasaan kita, demi mereka semua."


"Benar, demi cucu kita. Kita harus awet muda."


Di negeri singa, para orang tua itu juga tidak kalah bahagia. Mereka seperti anak muda yang menyenangkan, para orang tua yang tidak lagi terikat jalinan asmara, menghabiskan sisa hidupnya dengan menghamburkan uangnya saja.


Melihat belanjaan Paman Shin, Beby jadi terdiam sejenak dan merasa heran.



"Paman sedang bermasalah?"


"Beby, kamu tidak perlu mencemaskan paman."


Mami Stella berbisik "Sayang, disini Pamanmu punya banyak anak."


"Pantas saja kalau aku ingin kemari. Paman sangat antusias sekali." Batinnya.


"Mami tahu dari mana?"


"Mami lihat sendiri. Pasti mereka sudah menuju kemari."


Beby yang jarang memperhatikan sang Paman, ternyata Paman ini punya banyak anak asuh dan rata-rata mereka belajar di negeri ini. Ada 7 gadis dan 5 pemuda, mereka yang menimba ilmu di negeri singa.


"Aku jadi mengerti."


Sang Nenek sudah terlihat lelah dan duduk di kursi roda. Kedua pelayan menemani di sebuah restoran.


"Mami, bagaimana kalau kita dirikan lembaga yayasan gratis?"


"Mami setuju."


Tidak butuh waktu, Beby langsung mengirim pesan kepada seluruh keluarga besarnya.


"Siap!"


Semua keluarga besarnya, akan turut membantu dirinya.


"Ayo kita pulang." Ucap sang Mami kepada Beby.


Saat malam tiba, bersamaan dengan putrinya tercinta pulang. Beby sudah lebih dulu di kamar putri kecilnya.


"Mama."


"Nada sayang."


Mama duduk di sebuah sofa dan memainkan beberapa boneka Nada.


"Mama, aku suka hari ini."


"Coba, Nada ceritain sama Mama."


"Nada beli es krim sama Opa. Terus, Nada main ice skating sama Eyang Damar. Terus, main trampolin sama Mbah Viral. Terus, berbelanja ini sama Oma Darra." Begitu ceria.


"Sayang, apa ini?"


"Mainan anak perempuan."


Satu set kosmetik ala anak perempuan.


"Papa. Mama melarang aku lagi."


...TAMAT...



Bisnis Arjuna yang ditangani oleh Jimmy, masih berhubungan dengan Film.


Jadinya, yang di Mahatma siapa?? Noah, Ziel, atau Ryan? 🤭


Biarkan mereka saja yang mengurus masa depan Mahatma. Yang jelas, Arjuna sudah bahagia bersama keluarga kecilnya.


Nada buyut perempuan satu-satunya, dari silsilah keluarga Mbah Pras. Sampai saat ini, masih begitu.


Meski mereka itu terlihat di satu rumah. Mereka tetap memiliki ruangan pribadi mereka sendiri-sendiri, apalagi keluarga itu ada perbedaan keyakinan.


Hati sang Nenek tetap teguh pada keyakinannya, dan begitu pula dengan Paman Shin dia juga memiliki kepercayaannya sendiri.


Lalu bagaimana dengan Stella, dia yang dulunya hidup bebas, sebelum menikah dia menjadi mualaf dan sekarang bagai ibu kandung yang mencintai Beby.


Seandainya saja, dulu masa muda Binar berkeyakinan sama dengan Abyaz. Pastinya, tidak akan ada cerita ngalor ngidul seperti ini.


Para pembaca yang budiman, ini hanya sebuah cerita biasa, othor harap kalian tidak kecewa.


Teman setia Mas Pras, mohon maaf bila ada salah kata dari othor. Cukup sekian cerita Mas Pras dan sampai anak turunnya. Sampai jumpa dilain kesempatan.


Terima kasih.