ABYAZ

ABYAZ
Tidak Sesuai Harapan Stella



Tim penyidik dari hukum dan beberapa anggota audit memeriksa ulang Ji-sung Grup.


Senin pagi di kantor utama sangat riuh, semua data perusahaan yang ada, sementara akan dijadikan barang bukti dan pemeriksaan akan masih berlanjut.


Lee Sung Hoon yang di ruangannya hanya diam, bahkan dari kemarin dia tidak pulang ke rumah. Hanya duduk di kursi keagungannya.


Melinda yang datang ke rumah Bukit Sentul, dengan wajah yang sangat geram dan saat itu semua sedang menikmati makan paginya.


Begitu juga dengan Pras yang masih ada di ruang makan.


"Stella!!!"


"Mama."


Plaak!!


Sebuah tamparan mengenai pipi kanannya.


Damar dan Abyaz yang berdiri, tampak sangat kaget dengan kejadian ini. Tidak ada sesuatu yang aneh dari pagi, kalau kemarin memang suasana begitu tegang.


"Mama, kenapa tampar Stella?" Dengan suara yang tinggi.


"Stella, Mama kira kamu hanya ingin membuka identitas Eun Ho. Tapi kamu sudah merusak semuanya."


"Apa maksud Mama?"


"Kamu baca ini."


Stella masih dalam keadaan tegar, dia tidak peduli pada rasa sakit dan malunya.


Dia masih tetap pada dirinya, yang selalu diperlakukan keras seperti itu oleh Mamanya.


"Damar?"


"Iya, kamu yang sudah menghancurkan adik kamu sendiri."


"Tapi ini??"


Pras melihat ada sesuatu yang aneh, dan dia tidak ingin ikut campur dalam masalah keluarga Damar.


"Tapi apa? Mama pikir kamu sudah menyelidiki semuanya, malah kamu yang menggiring adik kamu dalam tahanan."


Abyaz melihat ke wajah Damar dan rasanya sangat takut.


"Nggak mungkin Ma. Ini pasti kesalahan."


"Kamu pikir, nama Ji-sung akan runtuh?Tidak, Stella, tidak. Tapi sang pemilik Ji-sung yang akan dipenjara."


Melinda dengan tatapan yang tajam. Suaranya pelan, tapi sangat mematikan.


"Ini semua karena kecerobohan kamu."


"Tapi Stella lihat sendiri Ma. Stella dengar sendiri, kalau akta perusahaan masih atas nama Kakek dan kakeknya Cecil."


"Bodoh!"


"Apa kamu pikir, ini semua rekayasa?"


Stella mulai berfikir, "Apa karena ini, kemarin Kakek tidak marah. Hanya rasa kecewa terhadap dirinya."


"Kalau sampai Eun Ho yang harus bertanggung jawab. Kamu pasti menyesal."


"Mama, tapi Stella_" Stella tidak bisa lagi membalas perkataan Mamanya.


"Kamu tahu, apa alasan Mama menikah dengan Andri? Tapi kamu ternyata sangat tidak berguna."


Melinda hanya menatap orang-orang yang menatap dirinya, termasuk Damar.


"Kamu!! Mama tidak tahu harus bagaimana lagi. Kalian berdua sama saja."


Melinda pergi dan Damar mulai membaca dokumen yang dibawa Mamanya.


"Kakak, tapi aku tidak tanda tangan. Aku bahkan tidak tahu kalau ada ini."


"Damar, percaya sama Kakak."


"Om Pras, maaf. Stella harus pergi dulu."


Damar menjadi gelisah dan kenapa akta perusahaan Ji-sung sudah atas nama dirinya. Bahkan, surat itu ada tanda tangan dirinya.


"Damar, apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu."


Pras mendekat dan berkata "Coba Papa lihat isi suratnya."


Pras mulai membaca surat pemindahan nama pemilik saham dan akta pemilik Ji-sung Grup.


Memang benar, nama sang pemilik adalah Damar Setya Ardana, bahkan nomor indentitas dan semuanya sama. Tanda tangannya juga asli, walaupun Melinda hanya membawa copyannya saja. Tapi itu memang tanda tangan Damar.


"Sayang, apa yang akan terjadi?"


Abyaz memegang lengan Damar, dan dia sudah berdebar, bagaimana kalau suaminya yang akan masuk penjara, seperti kata ibu mertuanya.


Damar hanya diam tanpa kata, dia tidak tahu apapun. Kalau sampai bukti itu memberatkannya, dia juga akan masuk dalam tahanan bersama para petinggi perusahaan lainnya.


Abyaz dengan rasa gelisah dan menoleh ke arah sang Papa, dia bertanya "Papa, apa Damar bisa masuk penjara karena surat ini?"


"Kalau soal itu, Papa tidak tahu. Papa hanya mendengar dari Giel, kalian kemarin mencari data gelap perusahaan Ji-sung dan melaporkannya."


Abyaz hanya mengangguk.


Memeluk Damar.


"Gimana kalau kamu sampai di penjara?"


"Damar, kamu jangan diem aja."


Damar mengelus rambut istrinya dan berkata. "Kamu tidak perlu cemas tentang aku."


"Gimana nanti kalau kamu di tahan? Aku harus gimana?"


"Sayang, jangan pikirkan hal yang belum terjadi."


"Kamu udah janji nggak akan jauh-jauh lagi."


"Emh, aku akan cari tahu. Aku harus pergi dulu."


"Aku ikut."


"Lebih baik, kamu di rumah sama Papa. Kamu istirahat dulu."


"Emmhh" Abyaz mulai menangis seperti waktu dia kecil saat ditinggal pergi sang Papa.


Pras hanya diam melihat keadaan mereka berdua, pengantin baru harusnya senang-senang, bisa memadu kasih, tapi masalah selalu datang menghampiri mereka berdua.


Damar berdiri dari kursinya dan mendekati Pras.


"Papa... Damar harus pergi dulu."


"Iya, Papa tahu. Semoga ini bukan masalah besar."


"Emh, jangan pergi."


Abyaz memegang tangan teman hidupnya.


Damar bertanya "Apa kita teman?"


"Iya, kita teman." Jawabnya dan masih menangis.


"Terkadang seorang teman juga harus pergi sebentar, dan pasti akan kembali lagi."


"Tapi aku takut, aku takut kamu masuk penjara."


"Jangan cemas, aku tidak takut. Aku lebih takut kalau kamu yang pergi ninggalin aku."


"Damar."


"Tunggulah aku sampai kembali."


"Damar!!"


"Berjanjilah, untuk menunggu aku."


Abyaz yang semakin menangis kencang dan memeluknya.


Abyaz harus mengerti keadaan ini. Dia mulai ingat, apa yang Guru Liu ajarkan, wanita berkelas tidak akan menangis hanya karena perpisahan sesaat.


Wanita berkelas, harus bisa menunjukan dirinya yang ada di atas, tidak memasang wajah sederhana dan penuh derita.


"Pergilah, aku Nyonya Damar. Aku harus tahu posisi kita."


Damar semakin gemas dan mereka beranjak ke kamar.


Pras hanya melihat pasangan yang memang sudah mulai mencintai.


Pras tidak menyesal, telah menikahkan putrinya dengan Damar, Pras sudah ikhlas dari Abyaz sembuh dari sakitnya, siapapun yang di terima Abyaz untuk menjadi suaminya, Pras akan merestui putrinya.


"Semoga kalian bisa menghadapi ujian ini. Papa hanya bisa mendo'akan kalian berdua."


Mengingat akan luka yang Abyaz alami, dan ini belum seberapa dari hal itu. Dan ini akan membuat hati serta perasaan Abyaz, akan semakin kuat.


"Sayang, kamu kalau butuh apa-apa tinggal minta pelayan."


"Kalau kamu mau pergi sama Papa. Kunci mobil juga ada di ruang kerja Kak Stella. Atau minta diantar pelayan."


"Kamu katanya sebentar, kenapa banyak pesan."


Damar dengan gemas, memegang wajah istrinya dan mengecup bibir menggemaskan itu.


"Aku harus pergi. Jaga diri kamu."


"Nanti aku akan segera pulang."


Abyaz menggaguk, dan Damar melepas pelukannya.


Damar berjalan keluar kamar dan berpamitan dengan Papa mertua.


Damar yang berjalan ke garasi mobil, dan Abyaz memeluknya dari belakang.


"Cepatlah pulang, aku akan menunggu."


"Iya, aku akan segera pulang."


Abyaz melonggarkan tangannya dan Damar membalikan badannya, sebuah ciuman manis dari keduanya.


Kedua bibir yang saling menerima dengan rasa semanis cherry, sangat mendebarkan untuk keduanya. Sebuah ciuman perpisahan untuk keduanya.


"I Love You, Baby."


"I Love You, too..." Abyaz melepaskannya.