
Diam-diam memang menghanyutkan, seperti itulah sosok suami manis Abyaz. Ali Wardana.
Pagi dengan suasana manja dan tidak melepaskan tangannya.
Sungguh luar biasa, sudah pagi dan setelah subuh masih saja berpelukan dengan manisnya.
"Sayang, bangun."
"Eemh..."
"Bangun sayang."
Abyaz yang mengenakan gaun tidur warna biru muda dan Damar memakai kaos tipis serta celana boxer masih berada diatas ranjang.
"Aku ngantuk."
"Sudah jam 6 lebih, aku mau mandi."
"Ya udah sana mandi."
Damar akhirnya bergegas ke kamar mandi.
Sudah 2 bulan pernikahan berlalu dan semakin mesra dengan rasa yang ada.
Abyaz masih nyaman dengan gulingnya, dan rasanya tidak ingin beranjak dari kasurnya.
Setengah jam kemudian.
"Sayang, aku mau ke kantor."
"Emh." Hanya sedikit membuka matanya.
Damar mendekat dan mengecup rambutnya.
"Kamu nggak mau antar aku ke depan?"
"Emh, Damdam aku malas."
Rasanya memang sangat enggan untuk beranjak dari tempat tidur.
Tidak biasanya Abyaz bersikap seperti itu. Biasanya dia sangat rajin mengantar sang suami ke depan rumah dan sampai mobil yang mengantarnya berlalu dari pandangannya.
Tapi, kali ini sepertinya Abyaz memang tidak ingin menamani sang suami manisnya.
"Kamu kenapa?"
"Aku cuma males."
Akhirnya Damar hanya mengecup keningnya dan keluar dari kamarnya.
Damar akhir-akhir ini juga banyak kesibukan di luar kantor. Belum lagi, kemarin sidang kasus Kakeknya.
Sekitar satu jam perjalanan.
Damar ada janji dengan Melinda Yoon, alias sang Mama. Tapi tentang masalah pekerjaan.
Mereka cukup damai ketika membahas pekerjaan. Damar harus profesional, begitu juga dengan Melinda Yoon. Sang Mama di atas kertas.
"Pagi Ma."
"Pagi."
Sebuah hotel berbintang dan hanya untuk sarapan pagi. Baru sekitar jam 8 pagi. Damar yang duduk di depannya dan mulai menikmati sarapan paginya.
"Bagaimana kabar istri kamu?"
Tidak jarang Melinda juga menanyakan Abyaz. Walaupun hanya sekedar basa basi, sebelum membahas masalah pekerjaan.
"Kabar Abyaz, baik."
"Baguslah, dia harus segera memberi Mama pewaris perusahaan."
Damar meletakan garpu dan pisau makan, lalu menyeka mulutnya. Terlihat guratan wajah yang tidak senang, lalu dia berkata "Kita belum lama menikah, kenapa harus mengatakan itu."
Melinda menatapnya dengan tajam dan berkata "Memangnya apalagi gunanya menikah, kalau hanya menjadi istri. Dia harus segera melahirkan pewaris."
"Mama, kita baru dekat. Baru menikah dua bulan ini. Aku juga tidak memaksa untuk segera mempunyai anak. Lagian hamil atau nggak, aku juga nggak masalah."
"Kamu ini, memang sangat keras kepala."
"Terus, Mama sendiri gimana? Anak ada dimana-mana. Apa Mama merawat mereka??"
"Kamu berani melawan Mama."
Damar melirik ke sekitar restoran itu, dan menghembuskan nafasnya dengan pelan dan tampak duduk bersandar.
"Kak Stella, aku, Damar, David, Pedro dan Nadine. Siapa yang Mama rawat? Mama cuma melahirkan. Owh... Aku lupa. Aku tidak dilahirkan sama Mama."
"Kamu sudah pandai bicara."
"Siapa yang mengajari aku berbicara kalau bukan Mama. Apa Mama sudah lupa. Umur berapa aku bisa bicara."
Melinda kembali menikmati makan paginya, dan Damar sudah tidak berselera untuk melanjutkan makannya.
Memang hanya Lee Eun Ho yang dirawat Melinda dari bayi sampai berumur 5 tahun dan setelah itu tidak lagi.
Hanya kenangan pahit dalam pikiran Damar dan Melinda memang begitu adanya.
Setelah obrolan pribadi yang cukup sengit antara ibu dan anak. Mereka kembali fokus tentang masalah pekerjaan.
"Andri berusaha melepaskan Cecil dari penjara. Apa kalian tidak ingin menuntut Cecil?"
"Abyaz tidak mau terlibat urusan hukum. Abyaz sudah berusaha untuk Ikhlas. Lagian, keluarga Mahatma juga sudah menuntut dia."
"Emh, ikhlas."
"Sudahlah Ma. Jangan dibahas lagi. Istriku juga sudah banyak menderita."
"Ya sudah, aku tunggu kabar soal anak kalian."
Melinda akhirnya pergi dari tempat itu dengan gayanya yang selalu glamour.
"Anak? Haruskah secepatnya aku memiliki anak?"
Damar mulai beranjak pergi dan Guru Mao yang tadi ada di meja lain, lalu mendekat.
"Tuan Damar, apa ada masalah?"
"Anak."
"Anak?"
"Apa memiliki anak itu sangat penting?"
Guru Mao tersenyum dan berkata "Buah hati sangat penting untuk menyatukan perasaan kedua orang tua."
"Lalu, kenapa Mama bisa begitu? Kalau anak bisa menyatukan perasaan orang tua."
Damar mulai berjalan, sepertinya perkataan Guru Mao tidak mempan.
Damar yang tidak memiliki kasih sayang orang tua. Apalagi dari sang Mama. Dan saat ini, dia hanya tahu tentang cinta dari istrinya.
Damar yang bergegas pergi ke kantor. Damar mulai memikirkan perkataan Melinda dan Guru Mao.
"Anak? Aku sudah membuatnya. Entah kapan aku bisa memiliki seorang anak."
Damar berjalan dengan menawan dan di dampingi beberapa asistennya.
Di ruang rapat dan bersama relasi bisnis.
Tampak 7 orang di dalam ruangan itu. Damar cukup senang atas kerjasama dengan perusahaan Abadi Corporation. Untuk sebuah proyek besar di daerah Cikarang.
Setelah rapat selesai, Damar masih saja duduk sendirian. Tidak ada orang yang menghiraukannya. Hanya melamun dan tampak diam saja.
Damar mengetuk-ngetuk meja di hadapannya, dan memutar kursinya. Perlahan mengambil ponselnya dari saku dalam jasnya, dan memilih sebuah aplikasi.
"Bayi, balita, anak."
Banyak sekali Blog tentang tulisan yang menjelaskan tentang semua itu. Damar mulai membacanya dan tidak terasa waktu sudah pukul 11.25 WIB.
"Anak." Gumamnya.
Damar mulai tampak tersenyum saat melihat dalam video yang ada di youtube.
Tentang, aksi balita yang asyik bermain bola dengan ayahnya, serta anak perempuan yang sedang menyanyi bersama ibunya.
"Aku pernah seperti itu. Tapi aku sudah lupa."
Perlahan dia memasukan ponselnya ke saku dan pergi dari ruangan itu.
Damar pergi ruang kerjanya dan Guru Mao tampak merapikan dokumen bersama dua asistennya.
"Kalian berdua, punya anak?"
Mereka yang tadinya fokus dengan dokumen, akhirnya menoleh ke arah Damar.
"Punya Bos."
"Saya belum menikah Bos. Jadi belum punya anak."
Dua asisten yang tampan.
"Kamu, anak kamu cowok apa cewek?"
"Cowok Bos."
"Owh. Gimana rasanya punya anak?"
"Punya anak pastinya senang Bos. Pulang kerja ada yang memanggil Ayah. Itu membuat saya lebih semangat bekerja."
"Umurnya berapa??"
"Sudah 5 tahun Bos."
"Kapan dia ulang tahun?"
"Nanti aku kasih bonus buat kamu. Belikan dia hadiah."
"Wah, terima kasih Bos. Anaknya pasti senang. Dia suka mobil-mobilan."
"Iya. Nomor rekening kamu. Kasih ke Guru Mao."
"Baik Bos. Sekali lagi terima kasih."
Guru Mao dan asisten satunya cukup diam. Damar Setya Ardana, seorang Presdir baru yang dikenal dingin, dan kaku saat berada di kantor. Tiba-tiba menjadi perhatian dengan asistennya.
"Kalian, kita makan di luar saja. Aku yang traktir."
Mereka kompak mengatakan "Siap Bos."
Guru Mao hanya tampak tersenyum dan Damar keluar dari ruangan itu.
Sudah terdengar adzan dzuhur. Dia berjalan ke arah mushola dengan menawan dan sangat berkharisma.
Damar yang melepas sepatu dan meletakan di rak sepatu yang ada di dekat pintu masuk mushola itu.
"Ya Allah, kenapa aku kepikiran terus soal anak."
Damar yang telah menunaikan sholat dzuhur berjama'ah, dengan beberapa para staffnya dan setelah selesai sholat, dia tampak berdo'a dan ada sebuah harapan agar segera memiliki anak.
Setelah itu, dia keluar dari mushola dan tampak wajah datar, saat ada yang menyapa dirinya.
Satu jam kemudian.
Abyaz yang sudah ada di kantor sang suami. Tampak duduk di sofa dan membaca sebuah majalah bisnis.
Sudah setengah jam, menunggu sang suami dan akhirnya datang juga.
"Sayang,..." Ucap Damar saat masuk ke dalam ruangan.
Guru Mao yang melihat ada Abyaz lalu dia langsung keluar.
Jarang sekali Abyaz berkunjung ke kantor suaminya, kecuali sedang membutuhkan sesuatu.
Biasanya hanya ingin ditemani untuk pergi atau memang ada hal penting.
Walaupun sudah dua bulan menikah, tapi baru sebulan yang lalu mereka berdua memiliki hubungan khusus sebagai suami istri.
Abyaz yang masih enggan berdiri hanya menatap "Emh, aku kangen."
Damar langsung mengecup rambutnya, dan Abyaz masih tampak menunduk saja.
Damar tersenyum dan bertanya "Kamu sudah lama disini?"
"Setengah jam."
"Maaf, tadi aku makan siang di luar. Kamu sudah makan?"
Abyaz masih menatap majalahnya dan berkata "Belum makan. Aku maunya disuapin kamu."
"Sayang,... Iya aku pesan makanan dulu. Kamu mau apa?"
Abyaz menatap suaminya dan bertanya "Tadi kamu makan dimana??"
"Di restoran Jepang, dekat sini."
"Ya udah, aku mau kita kesana."
"Tapi aku baru dari sana."
"Terus apa masalahnya?"
Damar menggeleng dan tidak melawan pertanyaan istrinya.
"Ya sudah, ayo kita kesana."
Abyaz masih kesal dan tampak cemberut.
Damar mendekatinya "Sudah, ayo kita kesana."
Abyaz mulai berkaca-kaca, dengan perlahan air mata bening itu tampak mengalir lembut.
Damar melihat itu dan semakin gelisah.
"Kenapa nangis?? Sayang, ada apa?" Tanyanya dan mengelus rambut istrinya.
Abyaz beranjak ke atas pangkuannya dan mengalungkan kedua tangannya. Menangis dengan tersedu-sedu.
Damar yang bingung dengan keadaan saat ini. Tidak ada apapun dari pagi, tapi suasana hati istrinya tiba-tiba melow.
"Sayang, kamu kenapa? Cerita sama aku."
Walaupun sesenggukan, Abyaz tidak bersuara kencang. Karena dia sadar, ini sedang di kantor, bukan di rumah. Kalau di rumah, mungkin sudah histeris.
"Apa begini, sikap kamu sama ibu dari anak kamu?"
Damar bingung dengan pertanyaan istrinya dan mengapa begitu rancu.
"Apa maksud kamu?"
"Kamu nggak sayang sama aku."
"Siapa bilang nggak sayang, aku sayang banget sama kamu."
"Aku hamil. Kamu ngga peduli, nggak mau tanggung jawab."
"Hamil???" Tanya dengan terkaget.
"Em, Ayah macam apa yang tega sama anaknya. Makan siang nggak ajak-ajak. Kenapa nggak kabarin aku?? Jahat!!".
"Sayang, kamu hamil?"
"Iya, aku hamil 6 minggu."
"Sayang, seriusan kamu kamu hamil??!"
"Kamu malah tanya gitu. Kamu nggak suka??"
Damar tersenyum manis dan memeluk istrinya yang masih berada diatas pangkuannya. Damar menciumi wajah istrinya dengan rasa senang.
"Aku senang, aku bahagia."
"Emh,..."
"Sayang, kenapa nggak bilang dari tadi?"
"Aku juga baru tahu."
"Ya udah, ayo kita ke dokter."
"Aku udah baru dari dokter. Makanya langsung kesini."
"Terus, apa kata dokternya?"
Abyaz mengusap air matanya dan perlahan mengambil hasil usg dari dokter kandungan.
"Ini, bayi kita kembar. Udah jalan 6 minggu."
"Kembar??"
"Iya. Dari keluarga Papa, ada gen kembar. Apa kamu nggak suka?"
"Sayang, aku suka banget. Sayang terima kasih." Ucapnya dengan gemas dan memeluk istrinya.
Tidak henti mengecup wajah istrinya, dan mulai memegang perut istrinya.
"Sayang, mereka ada di dalam sini?"
Abyaz yang tersenyum dengan penuh haru untuk mereka berdua "Iya, masih kecil."
"Kata dokter, baik-baik saja. Hanya saja, aku suka mengantuk. Sudah beberapa hari, aku sering tidur pagi. Kamu aja yang sibuk kerja. Jadi nggak peduli sama aku."
"Sayang, maafin aku."
"Emh, kali ini aku maafin."
"Ya udah, ayo ke restoran Jepang."
"Emh,..."
Abyaz dengan manis dan Damar yang bahagia merangkul pinggang istrinya. Mereka keluar ruangan dengan wajah yang tersenyum. Bahkan sangat terlihat jelas aura bahagia kedua orang itu.
Para sttaf juga ada yang melihat senyuman manis Damar.
Para pembaca setia, dimanapun anda berada. Terima kasih atas dukungan dan semangat dari kalian semua.
Terima kasih yang sudah kasih Like, Komentar manis dan Votenya.
Maafkan othor, mungkin bab-bab berikutnya akan jarang update.
Tapi, akan othor usahakan untuk tetap update sampai END.
Othor mau buat yang manis-manis aja, untuk bab berikutnya difokuskan sama Abyaz dan Damar.
Tapi pastinya, sudah mendekati END.
Semoga kalian tidak masalah ya.
Rencana othor ada tulisan hiatus dan ini dipersembahkan untuk MPF (Mas Pras Family)
Kenapa hiatus? Ya hanya untuk hiburan saja dan buat seru-seruan.
Soalnya, kemarin mendadak garis dua. Jadi, Othor harus fokus sama si Kakak yang mendadak uring-uringan. Mungkin kebawa sensi, mau punya adik. 🤭
ABYAZ akan terus update, tapi tidak akan sebanyak kemarin-kemarin. Akan ditulis sampai END. 😍
Terima kasih 🙏🤗