ABYAZ

ABYAZ
Abyaz Pergi Meninggalkan Damar



Luka hati yang pernah ada, membuat Abyaz menjadi sosok yang kuat.


Abyaz mulai menyayangi Damar, tapi keadaan membuat dirinya harus pergi.


Abyaz dengan tersenyum melepaskan tangan Damar.


Menatap dengan perasaan dan tidak akan menyimpan luka dalam hatinya.


Abyaz cukup bahagia, saat mengenal Damar Setya Ardana, dan mereka juga sudah menikah. Walaupun, tidak ada cinta dari keduanya, mereka saling memahami, dan peduli satu sama lain.


"Damar, aku pergi dulu."


Abyaz dengan membawa rasa bahagia, dia mulai meninggalkan Damar yang masih berbaring.


Stella yang bersekedap di ruang depan, hanya mengangguk dan Abyaz tidak berkata apapun, hanya ada senyuman manis yang dia tampilkan.


"Nona sudah siap pergi?" Tanya pengawal yang duduk di sebelah sopir.


"Bisakah kalian mengantar aku ke Makam Vallencia?? Setelahnya, kita pergi ke Bandara." Ucap Abyaz.


"Baik Nona." Balasnya.


Ada tiga mobil yang mangawal Abyaz.


Abyaz menatap cicin pernikahannya dan tampak tersenyum manis.


"Kamu harus segera bangun."


Abyaz tersenyum dan mengingat hal-hal manis yang dilakukan Damar untuknya.


Mobil sedan hitam plat B itu, sudah meninggalkan halaman kediaman Lee Sung Hoon.


"Tolong pesankan aku tiket pesawat. Ini kartu identitasku."


"Baik Nona."


Abyaz mulai mematikan ponselnya dan menatap jalanan ibukota. Sudah hampir sore, tadi mereka ke hotel sekitar jam setengah 1 siang dan kejadian Damar sekitar jam 14.15 WIB. Sampai di rumah Kakek tadi, Abyaz hanya menemani Damar sebentar. Bahkan saat dia pergi, sama sekali tidak menoleh ke belakang.


Setelah 1 jam perjalanan, Abyaz tiba di pemakaman Damar Putra Mahatma.


"Mas Damar, aku datang." Ucapnya dengan wajah tersenyum, dan perlahan duduk di sebelah makam itu.


Menatapnya dengan cinta.


"Ini bunga buat kamu." Meletakan karangan bunga mawar putih yang segar diatas makam sang kekasih.


"Kamu sangat menyukai bunga mawar putih." Ucap Abyaz dan dia tidak melupakan kenangannya.


"Mas Damar, maafkan aku. Waktu itu aku pergi tanpa pamitan."


"Sekarang aku datang, untuk berpamitan sama kamu."


"Aku cukup bahagia."


"Aku tidak sakit lagi."


"Aku juga punya teman hidup."


"Bahkan nama kalian sama."


Abyaz yang menahan perasaannya, dia tetap tersenyum dihadapan makam kekasihnya.


"Mas Damar, terima kasih telah mengisi hatiku. Sampai nanti, aku akan tetap mencintaimu."


"Mas Damar, aku harus pergi."


"Aku cinta kamu, Mas Damar."


Abyaz yang mulai berdiri, dan pergi meninggalkan makam itu.


Abyaz merasa lega, sudah lama sekali dia ingin mengunjungi makam sang kekasih hati. Tapi keadaannya tidak memungkinkan untuk dia datang. Kemarin sudah ada rencana, akan mengajak Damar sebelum mereka kembali ke Solo. Ternyata keadaannya sudah berubah. Ada kejadian yang tidak diinginkan.


"Nona, apa ada hal lain?"


"Mampir ke Masjid dulu Pak. Saya belum sholat ashar."


Sudah jam 4 sore dan penerbangan juga dapatnya yang setelah maghrib. Nanti sampai bandara, juga pasti sudah adzan maghrib. Mengingat kota Jakarta yang terkadang sangat macet.


Di kediaman Lee Sung Hoon, Damar sudah mulai siuman. Ada Stella yang menemani Damar.


Damar yang masih merasa pusing, dan dia tampak memegang dahi. Matanya yang terbuka dan sangat buram, belum bisa melihat jelas.


"Damar, kamu sudah sadar?" Stella tersenyum.


Lalu memanggil dokter dan kembali memeriksa kondisi Damar saat ini.


Damar yang masih belum sadar sepenuhnya, dan perlahan melihat dokter yang memeriksanya.


"Dok,... Saya kenapa??" Lirihnya dan masih sangat pusing.


"Anda tidak apa-apa." Jawab sang dokter.


Dokter pribadi keluarga, dan sudah sangat mengenalnya.


"Kak Stella, apa yang terjadi?" Tanya Damar yang dia rasakan saat ini masih pusing. Bahkan tadi, seperti melayang-layang.


"Kamu tadi pingsan."


"Aku??" Damar yang mengingat, kalau tadi dirinya ada di perjamuan makan siang, lalu pergi ke toilet dan setelah itu tidak ingat apapun.


Stella mengambilkan minum untuk Damar.


Damar yang masih pucat, lalu bersandar dan rasanya sangat aneh.


"Minumlah." Ucap Stella.


"Emm."


Damar lalu meminumnya dan dia mulai ingat sesuatu. Kenapa dia tidak melihat Abyaz dan tidak ada suaranya sama sekali.


Damar yang merasa ada yang terjadi pada dirinya. Lalu menatap Stella dengan tajam.


"Dimana Abyaz??"


"Dia pergi."


"Pergi?"


"Iya, dia pergi."


Damar dengan perasaan tidak senang, pasti ada hal yang terjadi dan dia tidak tahu apa yang dialami teman hidupnya.


Damar yang duduk di tempat tidur dan menatap Stella, kedua tangan Damar memegang erat kedua lengan Stella dan bertanya "Dia pergi kemana?? Abyaz pergi kemana?? Jawab aku."


"Pulang,..."


"Pulang??"


Damar yang tidak peduli dengan rasa sakit dikepalanya dan mulai berdiri. Menyambar jas yang ada di sebelahnya, dengan cepat memakainya.


"Dasar anak bodoh." Ucap Stella dan beranjak untuk mengikuti dia.


Di tempat lain, Abyaz yang selesai sholat saat meninggalkan masjid, dia tampak tersenyum manis.


"Apa Damar sudah bangun?"


"Semoga dia baik-baik saja."


Abyaz dengan cepat pergi, karena dia juga mengejar waktu untuk ke Bandara.


"Nona, ada lagi yang anda inginkan?!"


"Tidak ada. Kita langsung saja ke Bandara."


Mobil sedan hitam dengan cepat melaju ke arah Bandara.


"Oppa, dia wanita yang kejam."


"Mana mungkin Abyaz begitu."


Cecilia dengan kedua tangannya merentang dan masih menangis.


"Oppa jangan pergi."


"Minggir kamu."


"Kalau Oppa pergi, Cecil akan bunuh diri dihadapan Oppa."


Ternyata Cecilia sudah membawa rancun dalam saku bajunya.


"Oppa masih akan pergi??"


"Aku tidak peduli."


"Aku mencintai kamu."


Damar dengan geram dan Stella hanya tersenyum melihat drama sore ini. Dia yang sangat senang dengan suasana ini.


"Adegan yang sangat kuno." Batin Stella yang tampak menggeleng.


"Satu langkah Oppa pergi. Cecil akan meminum ini."


"Silakan saja."


Damar yang lewat dan marampas itu, lalu meleparkan dihadapan Cecilia.


"Sudah selesai." Ucap Damar dan pergi begitu saja.


Stella tampak bertepuk tangan, dan Cecilia tertunduk di atas lantai dengan histeris. Semua pelayan juga sudah melihatnya.


"Cecil, selamat atas tindakan kamu. Kalau Oppamu itu tahu kejadian di hotel. Dia bisa membunuh kamu." Ucap Stella yang melewati Cecilia begitu saja.


Lee Sung Hoon tampak datang ketika Damar hendak pergi.


"Tadi kamu sakit, sekarang mau pergi?!"


"Bukannya ini semua juga karena Kakek??"


"Apa maksud kamu??!"


"Tidak perlu berpura-pura."


"Aku tahu semua ini juga karena Kakek. Lihat saja di dalam, apa yang Cecil lalukan, sampai istriku harus pergi. Kalau sampai istriku terluka, aku tidak akan kembali kesini lagi."


Damar lalu pergi dan Stella tersenyum manis.


"Kakek pulang?" Stella yang memasang senyuman manis, tapi begitu racun.


"Berandal tengik, apa yang dia katakan."


"Dia berkata sesuai fakta."


"Apa maksud kamu?"


"Kakek yang membawa masalah."


"Itu cucu kesayangan Kakek."


"Cecil tidak henti menangis. Apapun tentang Cecil, pasti kakek akan tetap membela Cecil."


"Stella kamu? Kamu juga berani melawan aku?"


"Mana berani Stella melawan Kakek??" Suara Stella begitu tinggi.


"Kamu meneriaki Kakekmu??"


"Iya, Stella juga sudah muak."


Stella lalu pergi bersama para pengawalnya.


"Anak-anak Melinda tidak ada yang mau menurut sama aku!"


"Lihat saja nanti, apa yang akan aku lalukan." Ucapnya dengan kejam.


Damar yang di kursi belakang, sangat tidak sabar. Ingin sekali dia menyetir mobilnya dengan kencang, tapi dirinya masih pusing.


Stella dengan mobil sportnya menghadang.


"Ikutlah aku."


"Tapi??"


"Percayalah, kita bisa mengejar Abyaz."


Damar akhirnya pindah ke mobil Stella dan memasang sabuk pengaman.


Wuss!!


Dengan kecepatan tinggi Stella sudah melaju.


"Bikin aku jantungan."


"Kenapa?".


"Aku baru pakai seatbelt."


"Sungguh tidak berguna." Desisnya dan Damar juga bisa mendengarnya.


"Lihatlah, apa yang dilakukan Abyaz untukmu."


"Apa ini?"


"Kejadian di hotel."


Damar mulai melihat video yang berdurasi panjang. Damar jadi tersenyum manis.


"Istriku sangat kejam."


"Benar, makanya aku meminta dia pergi."


"Kakak mengusir dia?"


"Aku tidak bodoh. Seberapa salahnya Cecil. Tetap Cecil akan bertahan di rumah."


"Aku cemas kalau Abyaz sampai ditahan."


"Mana berani Cecil lapor polisi?"


"Bukan hanya dia, pihak hotel tahu. Bahkan ini rencana Kakek."


"Hemms, apa Kakak yakin??"


"Makanya aku suruh Abyaz pergi dulu."


"Tetap saja istriku tidak bersalah. Dia wonder women."


"Apa yang dia makan, sampai bisa berbuat itu??"


"Aku juga tidak tahu." Damar tampak senang dan sangat senang. Baru kali ini ada seseorang yang peduli dengannya, dan bahkan pasang badan untuk dirinya.


"Kak, macet itu."


"Lari sana."


Damar tidak sabar, ingin rasanya berlari. Tapi dia tidak tahu dimana Abyaz saat ini.


"Abyaz, tunggu aku."