
Setelah menjadi orang tua, Abyaz sudah tampak lebih dewasa.
Sebagai Mama Abyaz lebih ternyata juga sangat protektif. Terkadang dia juga sangat kesal, dengan pola tingkah putra tampannya.
"Mama." Panggil Bulan, dengan suara merdu dan sangat menggemaskan.
Tampak berdiri dengan sendu dan berada di ruang santai keluarga.
Umurnya baru 5 tahun, tapi begitu menggemaskan.
"Iya sayang. Kenapa?"
"Bulan kangen sama Papa."
Abyaz duduk berlutut dan menatap Bulan, kedua tangannya memegang pipi cimolnya Bulan dengan gemas.
"Papa baru berangkat semalam. Minggu depan, Papa baru pulang."
Bulan tampak menggeleng, sudut mata bulatnya sudah tampak berair. Wajah mungil itu, seketika sudah berubah sendu.
"Bulan mau sama Papa."
Bulan memang cenderung lebih dekat dengan sang Papa, dibanding Bintang cenderung lebih menempel dengan sang Mama.
"Papa." Ucapnya, yang sudah menangis dengan tersedu-sedu.
Abyaz memeluknya dengan gemas, baru kali ini Damar pergi ke luar negeri tanpa keluarganya.
Karena ini urusan mendesak, tidak bisa digantikan oleh Stella ataupun Melinda. Jadi, Damar sendiri yang harus mengurusnya.
"Mama, Mama." Bintang yang datang langsung naik ke punggung Abyaz.
Padahal sang Mama memeluk adiknya yang masih menangis, tapi bocah 5 tahun itu memang begitu aktif.
"Bintang, turun dulu sayang."
"Bintang mau naik kuda. Ayo Mama, kita berangkat."
"Iya, nanti dulu. Ini masih pagi."
"Ayo buruan, Bintang mau ke pacuan kuda sama Mama."
Bintang lebih pandai dan lebih aktif dibandingkan dengan Bulan. Bulan tampak begitu sensitif dan selalu bersedih, bila sang Papa jauh dengannya.
"Iya, iya. Bintang mandi dulu sama Mbak. Terus, nanti kita pergi ke pacuan kuda."
"Ye ye ye."
Suara yang menggemaskan dan merasa senang. Langsung turun dari punggung sang Mama dan berlari ke kamarnya.
Bulan yang masih sendu, dan masih memeluk Mamanya.
"Papa." Lirihnya dan Abyaz mulai menyeka air mata putrinya.
"Papa, minggu depan akan pulang. Nanti kita pergi ke pacuan kuda."
Bulan menggeleng, dia tidak suka pergi ke pacuan kuda.
"Bulan mau berenang, Bulan nggak suka naik kuda." Ucapnya dengan gemas dan air matanya masih saja mengalir.
Seolah, tidak ada pembelaan untuk dirinya. Abyaz menciumi wajahnya dengan gemas, dan masih sabar untuk menghadapi putri kecilnya.
Tidak lama ada simbahnya yang dari Solo datang, dan senyuman Mbah Pras begitu menawan.
"Bulan...." Panggilnya dan Abyaz mulai menoleh.
"Nah, itu. Mbah udah datang."
Britney langsung mendekat dan mulai menggendongnya.
"Sayangnya Uti kenapa nangis?"
"Papa." Jawabnya dengan sendu.
Abyaz hanya tersenyum dan Mbah Pras juga mendekati Bulan.
"Mbah udah bawain mainan baru. Bulan pasti suka."
"Iya, Bulan mainan sama Uti aja, sama Mbah Akung juga."
"Papa." Ucapnya dan masih begitu.
Mbah Pras dengan gemas, langsung menggendongnya dan mengajaknya keluar dari rumah.
Britney mendekati Abyaz dan bertanya "Bintang dimana?"
"Lagi mandi sama Mbak. Dari semalam juga udah merengek minta ke pacuan kuda. Gara-gara Papanya pas pamit bilang pacuan kuda. Bintangnya udah nggak sabar, habis anterin Papanya dari Bandara, yang dia omongin pacuan kuda terus."
Britney dan Abyaz langsung bergegas ke kamarnya bintang. Sementara Mbah Pras yang tampannya nggak ilang-ilang, masih menggendong Bulan, mengajak berjalan jauh dari rumahnya.
"Bulan, itu ada kupu-kupu."
"Bulan suka?"
Bulan hanya menggeleng, dan air mata beningnya tidak henti mengalir.
"Bulan mau sama Papa?"
Hanya anggukan dan wajahnya begitu menggemaskan.
"Iya, Papa kerja dulu. Nanti kalau sudah selesai kerja, Papa pasti pulang."
Perlahan gadis kecil itu tampak bersandar dalam gendongan Mbah Pras.
"Bulan mau berenang. Bulan nggak suka ke pacuan kuda."
"Emh, Bulan mau ke kolam renang. Nanti Akung sama Uti temenin Bulan."
Bulan perlahan mulai mengangguk dan tangannya mengalung di leher Mbah Pras.
Wajah mungil itu begitu menggemaskan.
"Water boom."
"Iya, kita main ke water boom."
Yang di kamar, Abyaz sangat gemas dengan Bintang. Tidak henti Bintang menjailin Mbak yang memandikannya, sebotol sabun dia tuang dan sampai busanya meluber kemana-mana.
"Bintang, Mama sudah bilang berulang kali sayang."
Bintang tampak tidak peduli dan Britney memegang pundak Abyaz.
"Tenanglah, dia memang waktunya untuk bersenang-senang."
"Mama, itu karena Papanya terlalu memanjakannya. Nanti jadi kebiasaan." Keluh Abyaz dan mulai mengambil anak tampan itu dari bath-up dengan gemas.
Britney lalu dengan wajah tersenyum menyapa sang cucu, "Bintang sayang."
"Uti, uti, uti cantik." Ucapnya dengan nyaring.
Bintang sudah berada dalam gendongan Abyaz. Tapi bocah tampan itu sudah bergerak-gerak dengan aktifnya. Apalagi saat melihat kedatangan Mbah Uti cantiknya.
"Akung tampan mana?"
"Akung ada di luar sama adik kamu."
Bintang memang lebih pandai bicara, bahkan dia sangat ceriwis.
"Pakai baju dulu." Abyaz menarik Bintang yang hendak berlari keluar.
"Sabar sayang." Ucap Britney dengan wajah tersenyum.
"Mama sama aja kayak Damar."
"Memang harus sabar. Anak usia itu memang sedang aktif. Biarkan saja dia mengekplorasi dirinya."
"Ini namanya bandel, bukan mengeksplorasi."
"Kamu harus percaya sama anak kamu. Siapa lagi yang percaya anaknya sendiri kecuali orang tuanya. Mama yakin, ini hanya sementara."
Abyaz yang begitu cekatan memakaikan baju untuk anak tampannya.
Bintang dengan gemas menarik wajah sang Mama dan mencium Mamanya dengan rasa sayang.
"Mama marah-marah terus."
"Emh, kamu merayu."
Bintang mulai mencium lagi dan Abyaz masih menggeleng.
"Sudah?"
"Emh, belum cukup. Mama masih harus membersihkan kamar mandi."
"Itu udah dibersihin sama Mbak."
"Besok mau diulangi lagi?"
Bintang menggeleng, lalu berkata. "Tidak."
"Oke, bagus."
"Mama marah?"
"Iya, Mama marah."
Bintang mulai mencium sang Mama lagi dan mengalungkan kedua tangannya, lalu berkata "Bintang sayang Mama."
Abyaz mulai tersenyum dan menatapnya dengan gemas.
"Ya udah, kamu masa Uti dulu. Mama mau mandi."
"Mama tidak marah?"
"Mama sudah tidak marah."
"Yes."
Bintang langsung turun dari tempat tidur dan meraih tangan kanan Utinya, lalu dia mengajak Utinya pergi keluar mencari adiknya.
"Bintang, Bintang." Gumam Abyaz dan beranjak pergi ke kamarnya.
Walaupun kembar, keduanya memiliki sifat dan karakter yang jauh berbeda.
Bintang yang begitu aktif dan Bulan yang cenderung sensitif.
Seperti apa kelanjutan Abyaz dan Damar nanti? Othor juga tidak tahu.
Mbah Pras dan Mbah Britney yang menyayangi para cucunya.
Mau dilanjut nggak? 🤭
Tapi tidak setiap hari, jadi sebisanya othor gabut ini saja.
Novel pilihan dari grup MPF (Mas Pras Family)
Yang sudah bergabung dan curcol manja dengan othor di grup MPF. Terima kasih.
Buat pembaca setia, terima kasih atas do'a kalian semua 🙏
Ini, juga hanya hiburan. Bila berkenan, tolong angkat jempol dan berikan komentarnya.
Salam manis dari othor 🤗😘
Yang mau baca novel barunya, itu juga visualnya Mas Pras dan juga Britney.
Matur nuwun 🙏