
Malam dingin dalam dekapan, Beby yang tidak menyadari kalau dikala tidur nyenyaknya malam ini. Arjuna, sang suami tercinta sudah tertidur di sampingnya.
"Arjuna."
Merasakan pelukan hangat itu, ia kembali merapatkan mata cantiknya. Senyuman manis dan merasa nyaman dalam dekapan itu.
"Katanya nggak pulang. Kenapa dia bisa ada disini?" Batin Beby.
Meski mata merem dia masih bingung, tapi rasanya begitu senang ketika ada Arjuna di sisinya.
"Tidurlah. Kalau nggak tidur. Aku makan kamu."
"Kamu katanya nggak pulang. Kenapa bisa sampai disini?"
"Sudah selesai."
"Sudah selesai?"
"Iya. Dating show udah dibungkus."
"Kok bisa?" Mata cantik itu jadi terbuka lagi dan dia jadi sangat penasaran.
Arjuna yang masih memejamkan kedua mata dan memeluk Beby dengan rasa ingin bersama kekasihnya.
"Arjuna, kenapa acaranya bisa bungkus? Bukannya masih ada 12 episode lagi."
"Aku diblacklist dari semua stasiun TV."
"Apa??"
"Iya, aku akan jadi pengangguran."
Beby yang berdebar dan sudah tampak duduk bersandar. Arjuna yang berbaring dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Arjuna, kenapa bisa begini?"
"Beby. Aku tidak apa-apa."
"Nggak bisa begini dong. Apa masalah kamu sampai kamu di depak dari semua stasiun TV?"
"Beby. Kita bahas besok aja ya. Aku udah ngantuk sayang."
Beby memegang wajah Arjuna dengan tatapan sendu, ia berkata "Arjuna, pasti ada salah paham. Nggak mungkin kamu buat kesalahan fatal."
"Sayang, aku memang nggak berbuat kesalahan."
"Terus kenapa, sampai kamu masuk daftar hitam dan dilarang masuk acara di televisi? Ini pasti ada alasannya. Arjuna, kamu ada masalah apa?"
"Sayang, aku beneran nggak ngelakuin kesalahan apapun."
"Apa mungkin keluarga kita? Bunda, Mama, atau Papi berbuat ini sama kamu."
"Sayang. Aku memang masuk daftar hitam di dunia hiburan. Tapi, mereka juga tidak menyebutkan kesalahan aku. Kalau kita menuduh keluarga kita sendiri, sepertinya tidak begitu."
Beby memeluk Arjuna dengan sendu, ia sudah tampak menangis lagi. Arjuna yang hanya diam tanpa kata.
"Arjuna, kamu baik-baik saja?"
"Hei, kamu malah nangis. Aku yang kena masalah, bukan kamu sayang."
"Aku istri kamu. Aku jadi sedih."
Arjuna yang menatap istrinya yang sedang menangis. Wajah itu tampak menggemaskan dan Arjuna sudah mengelus rambutnya dengan manis.
"Aku baik-baik saja. Aku tidak jadi aktor. Tapi aku jadi suami kamu."
"Arjuna. Aku ini nangis beneran. Kamu malah bercanda."
"Beby, aku juga serius sayang. Aku memang sudah jadi suami kamu. Aku nggak masalah nggak bisa shuting lagi."
"Aktor itu tujuan dan impian kamu Arjuna. Aku sangat tahu itu."
"Beby, meski itu tujuan pertamaku. Aku bisa memulai lagi karierku yang lain. Aku juga sarjana, aku bisa kuliah lagi dan meneruskan bisnis Ayah."
Beby yang semakin menangis dan memeluk Arjuna dengan erat. Beby sangat tahu, Arjuna sudah berjuang dengan kerasnya. Pagi, siang, sore, malam dan tidak tentu waktu selama bekerja. Di kala dingin, panas dan hujan sekalipun, Arjuna tetap bekerja dan dia tetap profesional. Meski kadang rasa sabarnya sudah diuji dan harus menerima dengan hati lapang. Arjuna tetap profesional ketika berada di tempat kerjanya. Semua peran yang dia lakoni dalam film, serial dan acara show, sangat menghibur para penontonnya.
"Beby."
"Aku nggak terima. Aku nggak bisa terima kalau kamu di tendang gitu aja."
"Sayang. Mungkin ini, salah satu ujian kita. Aku bisa memulainya dari awal."
"Arjuna."
"Selama kamu dukung aku. Aku pasti baik-baik saja."
"Arjuna. Aku akan cari tahu siapa orang yang tega, bikin kamu begini."
"Biarkan saja. Yang penting. Ada kamu disini." Arjuna mengecup keningnya dan air mata Beby masih mengalir lembut.
"Terus, Jimmy gimana?"
"Dia baik-baik saja. Dia juga bisa cari aktor yang lebih oke."
"Nggak bisa gitu dong."
"Sayang. Sudah ya. Jangan nangis lagi. Aku beneran nggak apa-apa."
Beby perlahan mulai tenang dan ia mengecup-ngecup wajah tampan suaminya.
"Aku tidak akan tinggal diam." Batin Beby yang ingin segera mencari orang itu.
"Ayo tidur lagi. Baru jam 1, nanti subuh aku bangunin ya."
"Aku belum sholat."
"Lama banget?"
"Ya nggak apa-apa."
"Nggak apa-apa, kok senyumnya begitu."
"Aku memang begini sayang, apa aku harus cemberut?"
"Emh, nakal."
Arjuna yang menatapnya dengan penuh perasaannya, ia berkata "Beby, aku cinta kamu. Apapun keadaan kita nantinya. Aku harap, kita bisa saling mendukung."
"Iya, aku akan selalu dukung kamu."
"Meskipun, aku mulai dari nol lagi."
"Aku tidak masalah. Yang penting, kamu jangan lupa sama aku."
"Iya sayang." Arjuna yang merangkul Beby dalam pelukannya dan tampak memejamkan mata.
Beby masih memandangi wajah Arjuna. Berharap, hari esok Arjuna bisa kembali shuting dan mendapatkan tawaran film.
Perasaan itu, seketika berubah. Ada rasa yang tidak dimengerti. Arjuna yang mendapatkan masalah, tetapi dirinya yang merasa kecewa dan sakit hati.
Beby yang menyeka air mata dan ia kembali tidur dalam dekapan sang suami tampannya.
Setelah esok pagi, kedua orang tua menunggu di meja makan.
Keduanya hanya diam dan sang Bunda lebih dulu menyodorkan sebuah koran pagi.
Tajuk utama dan disitu ada tulisan, sang pencinta wanita ditangan Madam 100 M.
Arjuna yang gemetar saat melihatnya dan secepat itu, berita menyebar bagaikan kilat. Beby meraih itu dan Arjuna hanya diam.
Sang Ayah, jadi diam tak ada suara dan sang Bunda dengan tatapan sendu, lalu Beby masih membaca berita pagi ini. Mungkin, seluruh keluarga besarnya juga sudah mulai membaca berita ini.
"Arjuna, apa ini?" Beby yang bertanya dan masih memegang koran pagi ini.
"Sayang, aku dijebak."
"Maksud kamu?"
"Iya. Semalam aku menghadiri pesta, atas undangan seseorang. Aku tidak tahu kalau di tempat itu, diadakan sebuah lelang."
"Lelang??" Beby yang merasa ada hal aneh dan ia tidak mengerti ini.
Sang Bunda sudah menangis dan Ayah kali ini juga tidak bisa membela sang putra semata wayangnya.
Beby yang mengerti dari semburat wajah Arjuna. Perlahan dia memegang tangan Arjuna.
"Aku percaya sama kamu." Ucapnya dan Arjuna yang sudah tampak berkaca-kaca.
"Aku salah." Arjuna yang sudah menangis dan Beby melihat kesedihan itu.
Beby berkata "Aku yakin, kamu tidak bersalah."
"Aku..."
Beby yang tidak kuat menahan dirinya, dia mendekap Arjuna dan memeluknya.
"Arjuna, kamu tidak perlu menjelaskan. Hatiku berkata. Aku percaya kamu."
Kedua orang tuanya hanya diam dan merasa tidak bisa berfikir tenang.
Flashback On
Sebuah acara pesta dan disana banyak kaum wanita. Apalagi, mereka-mereka dari golongan A.
Arjuna juga tidak tahu menahu akan pesta ini, sebuah undangan pesta atas nama dirinya. Dirinya semalam datang, setelah dari tempat shuting. Mengisi acara pesta itu dengan suara merdunya. Dia sempat bernyanyi, lalu acara lelang dilakukan. Banyak wanita yang ingin memiliki Arjuna.
"500 juta." Seorang wanita yang usianya 30an dan dia bos dari sebuah produk kosmetik.
Lalu sang Madam yang membuat pesta "1 M. "
Kemudian, ada lagi yang berkata "5M."
Arjuna yang masih bingung, dia pikir itu hanya candaan dari mereka yang duduk dan memperhatikannya.
Ternyata, itu benar terjadi dan perlahan setelah pikirannya kembali, tangan yang memegang mic sudah gemetar. Pandangan matanya semakin tidak tertuju dan keringat mengalir lembut dari wajahnya. Mereka yang melihat, semakin tergoda dan ingin memilikinya.
"7 M." Wanita itu lagi, dan ia mencoba untuk berdiri. Bos kosmetik ini sangat cantik dengan paras aduhai.
Madam Yuzra, ternyata juga ada di situ. Dia berkata "10 M."
Wah, benar-benar gila ini para Nyonya dan single women. Mereka yang memiliki uang dan ingin menghabiskannya hanya untuk semalam saja.
Arjuna yang semakin diam, bahkan sang Manager tidak bisa membantunya. Jimmy yang hanya menunggu di lobby hotel dan tidak tahu akan masalah ini.
"12 M." Dia lagi berambisi dan Madam itu pemilik acara, tidak mengenal kiblat.
Bukan hanya Arjuna, ada lagi pria manis dengan segala bakat dan kemampuannya di tarik mereka, agar bergabung dengan mereka.
Arjuna yang hendak melangkah dan nantinya malah akan jadi ajang rebutan tangan. Dia masih terdiam dan tak bergerak sedikitpun.
"15 M." Dengan tawa dan Madam yang ini pemilik hotel berbintang di sebuah kota.
"Wow." Selorohnya yang lain.
"17 M." Wanita usia 40 tahun dan dia janda, pemilik toko berlian.
"20 M." Ada lagi yang duduk di ujung dan ia mengangkat tinggi-tinggi papan angka itu.
"Aku juga mau. 30 M."
"Bagaimana? Ada lagi?" MC sialan, yang menawarkan beberapa pria muda dan kali ini Arjuna Madaharsa.
"100 M." Dialah orangnya.