ABYAZ

ABYAZ
Pergi Arisan



Langit cerah berhiaskan senyuman sang mentari pagi. Pria tampan yang terlihat sedang bersiap untuk mengajar.


Mamanya dari tadi tampak menatap putranya, seolah ada hal yang berbeda.


"Al, ajak pacar kamu kemari ya. Mama ingin kenalan." Pinta Mama.


Semalam, sang Mama malah dibuat penasaran.


"Ma.." Papa Pras yang mengedipkan sebelah mata, agar sang istri tidak mengganggu suasana hati putranya.


Al mencium tangan sang Mama, lanjut berkata "Mama, Al nggak punya pacar."


Mama berkata "Kalau kamu pacaran, Mama nggak keberatan sayang. Nggak ada salahnya saling mengenal dekat. Mama cuma ingin kenalan saja."


Guru tampan ini sudah memakai jaket bomber warna hitam. Helm yang sudah selesai dilap tampak mengkilap. Sang Papa, masih saja memanjakan putra tampannya ini. Meski sudah sepuh, Papa tampan ini masih gerak gesit, apapun dikerjakan biar badan tetap bugar.


"Makasih Pa." Ucap Al, saat sang Papa memakaikan helm warna hitamnya. Ada dua helm kebanggaan Al dan itupun pilihan sang Papa.


"Alvaronya Papa memang guanteng." Ujar sang Papa dengan senyuman.


"Siapa dulu bapaknya, Papanya Al paling tampan sedunia." Balasnya dengan bangga.


Mamanya seolah dicuekin. Papa Pras ini selalu menikung obrolan istrinya yang sekiranya sensitif. Nanti kalau dilanjutkan akan panjang ceritanya. Maklum saja, seorang ibu memang sering menggunakan perasaannya, ketimbang apa yang jadi point pembicaraannya. Nanti, ujung-ujungnya akan bicara soal pernikahan.


"Sudah, sana berangkat."


Britney tidak berdiam saja, meski suaminya membela anak tampannya itu. "Al sayang, inget Mama ya nak. Jangan lupa, ajak pacar kamu ke rumah."


Al yang sudah berpamitan kepada orang tuanya, ia langsung menaiki motor gagahnya, terlihat macho dan menawan.


Breeem... Breemmm...


Suara motor itu terdengar garang.


Perlahan ia melajukan motor itu dan Al berangkat menuju SMA Pesona. Sang Papa melihat wajah muram istrinya.


Memegang tangan istrinya, "Ayo kita siap-siap."


"Memangnya, kita mau kemana?"


"Ke rumah Abyaz."


"Abyaz siang nanti ada arisan, pasti dia sibuk."


"Ya, kamu bisa ikut Abyaz ke arisan. Sesekali nggak apa-apa, biar kenal sama ibu-ibu sosialita."


Raut wajah sang istri semakin masam "Iya. Mama paham."


Britney yang saat ini berjalan masuk ke ruang tengah. Menyalakan televisi, duduk di sofa dan memeluk bantal sofa.


"Mama, jangan seperti anak kecil. Yang minta mainan harus segera dibelikan." Omongan suaminya itu, terkadang juga seperti anak kecil.


"Ya Mama kepingin Pa. Lihat Al menikah, terus menimang cucu dari Al. Mama harus menunggu sampai kapan?" Keluhnya dan semburat wajah itu terlihat lesu.


Sang suami duduk di sebelahnya dan merangkul bahunya. Perasaan mereka berdua memang tidak bisa dimengerti anak-anaknya. Terkadang mereka juga merasa kesepian. Namun, mereka ingin Al segera menikah dan membina rumah tangga.


"Ayo kita ke rumah Abyaz. Tadi Papa sudah telephone Abyaz, sopirnya pasti sudah jalan."


"Tapi Mama."


"Nggak usah tapi-tapi, kita harus bisa menghibur diri kita, biar awet sampai anaknya Al lahir ke dunia ini." Ucap Papa Pras dan beranjak ke kamarnya, untuk segera bersiap.


Britney yang masih duduk di sofa, "Apa yang dikatakan Papa memang benar. Kalau aku seperti ini terus. Aku bisa jatuh sakit." lanjut mengambil remot untuk mematikan TVnya.


Semakin usia, pikiran dan perasaan Britney memang telah berubah, lebih sensitif. Apa yang dibicarakan oleh kerabatnya, selalu dipikirkan. Berbeda dengannya yang dulu, lebih cuek dan hanya sibuk bekerja, tanpa mendengar omongan orang lain.


Setelah pindah ke kota ini, dan sudah hampir 8 tahun di kota ini, Britney dan Pras hanya menikmati masa tua mereka.


Hanya ada Al yang masih menemani mereka. Alishba dan Abyaz kalau ada waktu luang saja. Di hari sabtu-minggu biasanya yang sering berkunjung, si cucu kembarnya, Bulan dan Bintang.


3 jam kemudian


Hotel berbintang yang sangat mewah di pusat ibukota. Britney dan Pras berjalan menuju ruang kamar yang dipesan oleh Abyaz untuk kedua orang tuanya.


"Pa, Mama nanti harus gimana?"


"Mama tenang, itu cuma acara arisan."


"Papa nanti ikut ya. Mama nggak enak sama teman-temannya Abyaz."


"Mana bisa Ma. Itu acara perempuan, pasti yang dibahas juga masalah perempuan. Terus kalau Papa duduk diantara mereka, nanti mereka malah fokus ke Papa."


Britney yang terus berjalan di sepanjang koridor kamar hotel, sudah mulai membayangkan bagaimana acara nanti. Suaminya ada-ada saja, meminta anak perempuannya, agar mengajak istrinya ke acara arisan.


📞"Sayang, istri Papa lagi-lagi darting. Apa kamu bisa bantuin Papa?"


📞"Iya Pa. Tapi nanti siang, Abyaz ada arisan."


📞"Ya sudah, kamu ajak Mama kamu. Biar lupa masalah Al."


📞"Apa Mama mau?"


📞"Pokoknya harus mau. Kalau Mama kamu darting terus. Papa juga pusing."


Suara tawa Abyaz, Papanya kalau mengadu juga seperti anak kecil.


Kembali ke cerita.


"Pa, nanti Mama di kamar aja ya. Nggak usah ikut ke acara Abyaz."


"Nggak apa-apa Ma, hari ini Abyaz tuan rumahnya. Biar mereka tahu, biar kenal, siapa orang yang melahirkan Abyaz." Suaminya kalau ngomong juga ceplas-ceplos.


"Ya dulu Mama sering ikut pertemuan orang-orang penting. Tapi sekarang, jamannya sudah berbeda. Mana bisa Mama bertemu mereka semua, pasti mereka nantinya tidak nyaman kalau bertemu Mama."


Setibanya di kamar mewah. Sudah ada asisten Abyaz bersama seorang penata rias dan membawakan beberapa busana untuk dikenakan Britney.


"Bu Britney, saya sudah menyiapkan semuanya. Mari silakan duduk." Ucap Vivi, asisten pribadi Abyaz.


"Vivi, apa saya harus di make-up juga?"


"Saya hanya ditugaskan oleh Madam Abyaz." Ucap Vivi dengan senyuman.


Abyaz bukan lagi gadis biasa yang membuat desain interior dan menawarkan jasanya di media sosial. Abyaz yang sekarang adalah Nyonya, istri dari Presdir Damar Setya Ardana, pemilik JS. Setelah imeg lama Ji-sung terkubur, akhirnya JS memiliki Presdir yang bijaksana, tegas, tanggung jawab dan tentunya patuh aturan hukum.


"Vivi, tolong kamu bilang sama Abyaz. Saya tidak perlu semua ini." Ujarnya.


Vivi hanya tersenyum dan tetap menarik kursi di meja rias, agar Britney segera duduk dan siap di rias.


"Silakan Bu Britney. Tolong percayakan sama saya." Ucapnya dengan sopan.


Vivi gadis berusia 24 tahun, dia begitu cantik dan parasnya sangat ideal. Gaya pakaian kantoran dengan kemeja terbalut blazer abu-abu. Serta celana bahan panjang tampak warna senada blazernya, terlihat simple dan modis.


Britney melihat kepercayaan diri Vivi, mengingatkan masa mudanya dulu. Sama persisnya, attitude Vivi dengan dirinya semasa bekerja di kantor RM, selalu tegas dan menawan.


Britney akhirnya duduk, dan berkata "Mbak, tolong di make-up tipis saja."


"Baik Nyonya." Jawab sang perias wajah, yang telah siap dengan alat riasnya.


Vivi lalu berjalan ke arah Pras. "Pak Pras, kalau butuh sesuatu bisa panggil saya, atau panggil saja pengawal di depan."


"Vivi, tolong kamu bilang sama pengawal. Saya mau ke ruang spa."


"Baik Pak Pras. Nanti saya akan sampaikan pada pengawal."


Mau muda apa tua, Mbah yang satu ini tetap pada dirinya. Hari ini, waktunya bersenang-senang. Menikmati semua fasilitas yang Abyaz berikan padanya.


Vivi kembali ke ruangan Abyaz. Abyaz juga masih dirias. Terlihat dua pengawal yang siap mengawal Mbah Pras mengelilingi hotel ini.


"Bagusnya hotel ini. Seandainya aku yang punya. Keluarga besar trah Suwito bisa arisan disini." Mbah Pras yang bergeming sendiri.


Diantara ketiga anaknya, Abyaz lebih memahami Papanya. Pras sendiri ketika ada masalah di rumah, hanya mengadu pada Abyaz. Karena dia tahu, hanya Abyaz yang mau mendengar keluh kesahnya. Meski dirinya bisa sabar dan memahami istri serta anak-anaknya. Pras juga ingin, diperhatikan anak perempuannya.


Semakin hari, semakin ada saja hal yang dilupakan. Hp sudah di kantongin, Pras mencari ke seluruh sudut ruang rumahnya. Bisa dibilang, semakin sepuh, semakin pikun.


15 menit kemudian.


Ruangan khusus VIP di dekorasi dengan nuansa lilac sesuai keinginan Abyaz. Bunga-bunga segar berwarna ungu muda dan putih, telah menghiasi meja-meja.


Sudah terlihat anggota arisan yang berdatangan. Aroma wangi itu bisa tercium sampai ujung ruangan.


Terlihat koridor ruangan yang terjaga ketat oleh beberapa pengawal. Para pengawal yang berseragam batik abu-abu, di padukan celana bahan warna hitam. Sudah seperti acara sakral.


Acara arisan ini akan segera dimulai, para nyonya sosialita itu sudah hadir dan duduk di sofa yang telah disiapkan. Suasana akrab dan saling bersenda gurau. Dresscode warna putih yang mengkilau. Ada yang mengenakan dress, gaun pesta, ada pula yang berpakaian formal ditambah aksesoris mewah yang melekat para diri mereka.


"Madam silakan masuk." Ucap Vivi kepada Abyaz.


Abyaz berjalan memasuki ruangan VIP itu, tampak menggandeng sang Mama tercinta.


Abyaz mengerti, sang Mama tidak terbiasa di acara seperti ini, lalu ia berkata "Mama, teman Abyaz biasa saja, sama seperti Abyaz, mereka menyenangkan. Mama pasti suka."


Ada sosok perempuan duduk di pinggir dan memegang tas jinjing milik bosnya.


"Mamanya Al." Raut wajah terkejut.


Semoga kalian suka haluan othor. 🤗