
Damar yang selesai belajar tentang management terlihat santai.
"Mudah."
Damar sebenarnya cerdas. Tapi dia selalu mangandalkan orang lain, untuk mengerjakan tugasnya. Dari sinilah dirinya mendapat nilai buruk, selama tinggal bersama Ayahnya.
"Selesai."
"Kamu bisa bertanya sama aku."
Akhirnya, beberapa pertanyaan tentang management bisnis telah diajukan oleh guru Mao. Dialah guru sekaligus sang asisten yang akan mengawasi Damar nantinya.
"Guru Mao, apa mereka tidak akan mengenali aku?"
"Saya rasa tidak."
Damar cukup tersenyum manis, soal akutansi dan perpajakan dia kerjakan dengan sangat cepat. Sebenarnya dia pandai dalam perhitungan cepat.
Tapi, rasa malasnya sudah lebih dulu menghampiri, mengingat masa kecilnya yang sangat diatur.
"Silahkan Tuan istirahat dulu. Nanti kita belajar bahasa asing."
"Tim audit pakai bahasa asing?!"
"Setidaknya, harus fasih bahasa Inggris."
"Iya, saya tahu."
Guru Mao cukup senang dengan hasil belajar Damar. Ternyata cukup mudah selama mengajari Damar tentang keungan.
Guru Mao, membuka pintu ruangan itu "Silakan Tuan Damar."
"Terima kasih."
Damar tersenyum senang, waktunya dia mencari sang teman hidupnya. Ini baru jam 10 pagi, dan pastinya bisa berduaan.
Abyaz masih berada di ruang latihan dan tampak mengenakan high heels.
"Tatapan fokus." Tegur guru Liu.
Abyaz yang berjalan bak model yang akan fashion show di atas catwalk.
"Angkat dagunya." Tegur guru Liu.
Abyaz hanya mematuhi ajarannya. Dengan berulang-ulang, akhirnya dia selesai tahap awal berjalan, ala wanita yang berkelas dan menawan.
"Silakan istirahat. Nati jam 4 sore saya tunggu di ruang fitness."
"Iya Guru Liu. Terima kasih."
"Ingat, jaga berat badan."
"Baik."
Damar tidak berani ke lantai atas, dan hanya menunggu sang teman hidupnya di sisi tangga. Sudah hampir jam 11 siang.
Damar yang mondar mandir, tampak gemas dan segera ingin bertemu Abyaz.
"Akhirnya dia turun juga." Batin Damar dengan senang.
"Sayang, aku merindukanmu." Ucap Damar dengan senyuman manis.
Abyaz yang masih tampak diam, dan berjalan ke luar rumah. Rasanya ingin mengirup udara segar.
Baru jam 11 siang, tapi dia sudah cukup jenuh dengan karantina ini. Demi pulang ke rumah orang tua, Abyaz rela untuk di karantina.
Abyaz sudah menyetujui misi itu. Bahkan dalam pernikahannya, dia juga sudah berjanji akan menemani teman hidupnya, dalam suka maupun duka.
"Sayang, kamu kenapa?"
Abyaz yang duduk disebuah ayunan, hanya tampak diam dan perlahan menoleh ke arah Damar.
"Aku kangen Papa sama Mama."
"Kamu bisa telfon."
"Tapi aku bingung harus cerita gimana. Kalau Papa tanya itu, aku nggak pernah bisa bohong."
"Sayang, kita berdua. Kalau nanti Papa tanya soal keluarga aku. Nanti aku aja yang jawab. Tapi kamu jangan sedih gitu, aku jadi tak berselera."
"Berselera, memangnya mau makan aku?"
"Tarrraaa. Coklat kesukaan kamu."
Abyaz hanya bisa menaikan sedikit alis matanya dan berkedip-kedip. Lalu berkata. "Damar, aku tidak bisa makan itu."
"Sayang, aku beliin buat kamu. Tadi aku nyuruh pelayan buat beli ini. Bahkan, jauh banget belinya."
Abyaz yang manyun unyu manis, dia berkata "Tapi aku harus diet. Kalau aku makan ini. Nanti aku harus olah raga ekstra."
"Diet??!"
Abyaz mengangguk manis dan tangannya mulai memegang lengan kanan Damar "Iya, demi ke pesta. Aku harus tampil menawan, cantik, dan harus menampilkan pesona bak ratu istana."
"Mak lampir memang keterlaluan. Istriku jadi tidak bisa makan coklat ini."
"Ya udah, kamu saja yang makan." Suara Abyaz begitu manis dan sangat pintar dalam merayu. Ini salah satu trik, harus bermulut manis dan menjaga imeg bermuka dua. Karena ini, ajaran Guru Liu.
"Y udah, aku akan membuangnya."
"Jangan... Nanti aku bisa berikan untuk yang lainnya."
"Tapi ini khusus buat kamu."
"Emss, sini coklatnya. Aku akan simpan." Tapi Abyaz meletakan di ayunan.
Damar merangkul Abyaz dan ingin sekali mencium bibir unyu istrinya.
Jari Abyaz lebih dulu menempel di bibirnya dan menatap manis.
"Sabar, tunggu 10 hari. Biar semakin gereget." Ucap Abyaz yang sudah berani menggoda sesuai ajaran Guru Liu.
Bagaimana mencari muka, di hadapan kalangan sosialita. Dihadapan lawan harus terlihat manis, dan dibelakang tidak ada yang tahu apa rencana muslihatnya.
Damar memegang jari Abyaz dan menatap Abyaz dengan serius, lalu berkata "Aku cinta kamu."
"Kenapa tidak ada reaksi. Dia malah pergi."
"Susah juga ngadepin perempuan."
Damar mengejarnya dan Abyaz berlari ke ruang santai. Tampak dinding kaca, tapi pintunya dikunci oleh Abyaz.
"Sayang bukain." Damar yang ada di depan pintu dan Abyaz malah melambaikan tangannya.
"Sayang, buka pintunya." Ucapnya dengan gemas.
Abyaz yang tersenyum manis, lalu mendekati dinding kaca dan tangan kanannya seraya memanggil Damar, agar mendekat ke dinding kaca itu.
"Apa?" Damar yang tersenyum dan sudah ada di depan Abyaz.
Abyaz membuat uap ke kaca itu dan membentuk gambar hati.
Damar semakin gemas dibuatnya.
"Bukain." Ucap Damar dan menunjuk ke arah pintu.
Abyaz menghapus gambar hatinya dan membentuk hati dengan jari-jarinya.
"I Love You." Ucapnya dan Damar jadi semakin baper dibuatnya.
"Awas nanti. Aku makan kamu."
Abyaz yang memejamkan matanya dan telapak tangan kirinya menempel di dinding kaca itu. Soalnya telapak tangan Damar sebelah kanan juga sudah menempel pada dinding kaca itu.
Abyaz semakin mendekat ke dinding kaca itu, dan tepat di bibir Damar, perlahan menciumnya.
Bibir unyu itu sangat menggemaskan.
Damar semakin tidak karuan, rasanya ingin segera masuk ke ruangan itu dan menciumnya.
Damar mengedipnya matanya, saat Abyaz sudah membuka mata.
"Ayo, buka pintunya."
Abyaz mengangguk dan akhirnya dia membuka pintu itu.
Damar dengan cepat berlari ke arah Abyaz. Tapi, Abyaz dari tadi sudah menghindar.
Akhirnya Damar bisa memeluk Abyaz dan berkata "I Love You too."
"Tapi kita masih punya misi."
"Iya, sayang." Tatapan Damar sangat menghanyutkan Abyaz.
Damar yang memegangi pingang Abyaz dengan kedua tangannya. Tangan kanan Abyaz memegang pipi kiri Damar.
"Aku sayang kamu." Ucap Abyaz dengan senyuman. Kalau ini, rasa tulus perasaan seorang istri.
"Aku juga sangat menyayangimu." Balas Damar.
Damar dengan rasa yang ada dalam hati dan pikirannya, lalu mencium kening teman hidupnya.
"Ayo kita video call Papa sama Mama." Ucap Damar dengan rasa senang.
Abyaz mengangguk dengan manisnya.
Di tempat lain dan cukup jauh dari mereka berdua.
"Siapa tadi, Prasetya dan Britney? Mantan Direktur RM?"
"Jadi, istrinya Eun Ho. Anak kedua mereka?!"
"Aku pernah bertemu dengan mereka. Sudah sangat lama, itupun acara di Mahatma."
"Kamu bisa cari lebih tahu tentang dia?"
"Oke, berapapun aku akan bayar, asalkan kamu bisa kasih info lengkapnya."
Melinda Yoon, yang duduk di kursi keagungan dirinya.
Tampak menatap tajam ke layar ponselnya dan tatapan dia sangat mengerikan.
"Abyaz Ali Wardana."
"Hanya gadis biasa."
"Tidak ada yang istimewa."
"Eun Ho memang buta."
"Dia tidak pandai memilih gadis."
"Apa yang Eka ajarkan kepadanya?!"
"Sungguh tidak ada nilainya."
Melinda lalu membalikan ponselnya, dan rasanya ingin mencari tahu lebih, tentang masa lalu Abyaz.
Stella yang berada dalam mobil, tadi juga mendengarkan obrolan sang Mama.
"Untuk apa Mama mencari tahu tentang Abyaz?"
"Kalau Mama tahu, siapa mantan kekasih Abyaz. Apa yang akan Mama lakukan nantinya?"
Stella dengan apa yang ada pada dirinya, menatap ke arah jauh dan melihat pria tampan bersama Cecilia.
"Dia?"
"Oh My God."
"Aku tidak salah melihat. Bagaimana bisa, dia begitu dekat dengan Cecilia? Apa hubungan mereka?"
Stella masih penasaran.
Pria itu mengantarkan Cecilia ke Bandara.