
Satu bulan telah berlalu, di halaman SMA Pesona. Sedang ada acara pentas seni dan drama untuk memperingati hari ulang tahun SMA Pesona.
Berbagai tarian tradisional dan k-pop dance, telah ditampilkan dari beberapa perwakilan kelas. Lalu, sebuah drama tentang persahabatan dan cinta. Akan segera dimulai.
Para guru yang duduk di kursi bagian depan, serta para murid yang duduk di belakang para guru.
Gaby yang menonton, berkata "Hems, apa yang akan ditampilkan Cantika and the genk nanti?"
Gaby yang tidak ikut andil dalam acara, namun dia ingin melihat Cantika yang tampil bersama teamnya. Cantika yang populer di sekolah dan dijuluki ratunya SMA Pesona saat ini. Tapi, Gaby tidak bisa melihat. Apa istimewanya Cantika dan kawannya itu.
"Semoga aja nggak hambar." Gumam Gaby, yang berdiri dan tampak bersedekap.
Seragam putih abu-abu dan ia memakai sweater rajut warna biru muda.
Al menatap ke arah Gaby "Tumben dari tadi pakai sweater. Apa Gaby lagi sakit?"
"Pak Al, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Saya mau ke toilet." Ucap Al kepada Pak Ferdi.
Namun, Pak Ferdi sangat peka, ia bisa melihat gerak gerik orang yang lagi kasmaran.
Al yang berjalan dan melewati beberapa murid. Gaby mendapat pesan dari Pak guru tampannya.
"Nyebelin. Lagi santai juga, main di suruh-suruh aja." Gaby berbalik badan dan pergi ke tempat yang di tuju.
Gaby menuju ke ruangan Pak Al. Tapi, ada seorang murid yang mengikutinya.
Pak Al berdiri di balik pintu dan Gaby yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Al bertanya "Kenapa pakai sweater?"
"Em, lagi ingin aja." Jawabnya.
Al memegang dahi Gaby dan ia memastikan kondisi suhu badan Gaby saat ini.
"Emh, biasa saja. Nggak demam."
Gaby cemberut, berkata "Memang biasa saja. Siapa bilang aku demam."
"Aku cuma mastiin aja. Kalau kamu baik-baik saja."
"Pak, kita di sekolah. Bukan di rumah."
"Kenapa? Apa salahnya?"
Gaby menggeleng dan berkata "Gaby mau lihat pentas."
Al memeluknya dan berkata "Sebentar saja."
"Pak Al, kita di sekolah."
"Aku cuma mastiin aja, kalau jantung kamu masih normal."
"Emangnya aku kenapa??" Gaby seketika kesal dan mendorong guru tampannya. Gaby menggeleng dan cemberut.
"Sudah, sana ke halaman."
"Udah, jangan panggil aku lagi."
"Nanti pulang bareng."
"Emoh!!" Gaby langsung pergi, ada temannya yang bersembunyi. Ia yang menguping dan rasanya berdebar.
"Aku nggak salah dengar?" Batin si penguping.
Semenjak dari acara pesta malam itu, semakin hari mereka makin akrab dan sering bertemu. Baik di rumah, atau di lingkungan sekolah. Meski belum pernah berangkat dan pulang bareng, namun mereka membuat janji bertemu.
Al yang ingin menjaga Gaby dan Gaby juga sangat nyaman bila berada dekat dengan Al.
Meski tidak ada kata pacaran, atau saling mengatakan aku cinta kamu. Mereka hanya semakin dekat dan rasanya sama-sama nyaman.
Mereka tidak mengungkapkan, namun dengan tindakan. Al lebih perhatian dan Gaby menerima perhatian itu dengan senang hati. Meski terkadang, mereka ribut dan berantem. Malahan, sudah seperti adik dan Kakak bila di rumah Papa Pras.
"Gaby,..." Panggilan dari seorang guru.
"Bu Diana."
"Gaby, kamu bisa bantu ibu."
"Memangnya, apa yang perlu saya bantu?"
"Itu, si Intan sakit perut. Kamu bantu ibu ya. Gantiin perannya Intan."
Tuing!!
"Gaby mau ya. Waktunya tinggal sebentar lagi."
Mengingat akan cerita yang dia tulis, tidak ada salahnya. Kalau dirinya ikut tampil di acara pentas seni hari ini.
"Baik Bu Diana."
Gaby yang memenangkan lomba novel murid dan di angkat sebagai cerita drama dalam pentas seni hari ini. Dengan judul, Murid Kece VS Guru Tengil.
Bu Diana selaku guru seni dan budaya, beliau yang mengubah cerita novel menjadi skenario, dan mengajari anak didik yang dipilihnya.
Sekitar 13 murid yang terpilih dan Gaby sebagai peran pengganti. Meski, hanya beberapa kalimat yang harus diucapkan. Namun, Gaby harus berperan dengan baik.
"Gaby." Ucap Pak guru tampan saat melihat gadis bandelnya tampil di atas panggung.
Gaby yang memakai seragam atasan putih dan bawahan rok kotak-kotak hitam. Serta dibalut almamater warna hitam.
Action!
Adegan pertama yang membuat riuh, dan para guru tertawa dibuatnya.
Al mengingat akan kejadiannya, kali pertama bertemu Gaby. Bukanlah di sekolah, melainkan di sebuah hotel.
"Dasar, gadis bandel. Awas saja nanti kalau di rumah."
Gaby yang berperan lebih kece dari biasanya, berbeda dengan gaya centilnya. Yang jelas, lucu, gemas dan memang kece.
Di pertengahan drama, Gaby kembali muncul, ada adegan yang membuat mata guru tampannya itu sampai melotot.
Dag Dig Dug, Dduueerr!
Sorakan dan teriakan begitu riuh. Para guru juga ada yang sampai berdiri, memberikan tepukannya. Ia adalah Pak Ferdi.
"Gaby, kamu keren!!"
"Kenapa ada adegan pelukan segala?" Al yang tidak terima.
"Pak Al, calon istri kamu memang hebat." Pak Ferdi yang menggali masalah baru.
Al yang tidak tahan melihatnya, ia berdiri dan pergi ke belakang panggung.
"Sepertinya, Pak Al sudah kepanasan." Ucap Pak Ferdi dan ia kembali duduk.
"Bilangnya nggak akan tampil di panggung."
"Mas Al, aku cuma nulis aja. Jadi, males aja gitu kalau akting-akting." Gaya bicara yang menirukan Gaby.
Pak Al, yang selalu dijuluki Mr. Kulkas sepertinya akan berakhir detik ini juga. Es krimnya tampak sudah mencair. Apa kulkasnya ini, sudah rusak ya. Jadinya, tidak bisa beku lagi.
Al yang menatap Gaby dengan sorot mata tajam. Tidak ada yang menghiraukan dirinya, kecuali Cantika dan genknya.
"Pak Al.." Panggilnya.
Mendengar suara panggilan itu, Gaby menoleh dan mencari sosok guru tampan itu.
"Duh, bisa gawat." Batin Gaby.
"Pak Al, ada perlu apa ya?" Tanya Cantika.
"Saya cari Bu Diana." Jawab Al.
Cantika dengan wajah tersenyum, ia berkata "Bu Diana, ada di ruang make-up Pak Al. Sebelah ruang IA 3."
"Iya, terima kasih." Al kembali berjalan.
Belakang panggung ini, adalah lorong kelas IPA. Pak Al masih berjalan dan mencari guru tersebut. Dia meminta penjelasan.
"Permisi Bu Diana."
"Iya Pak Al, ada yang bisa saya bantu."
"Mati aku." Batin Gaby dan ia sembunyi di balik meja.
"Bu Diana, tolong jelaskan soal tadi."
"Soal apa ya Pak?"
"Tentang drama barusan. Kenapa Gaby bisa tampil di atas panggung?"
Tentang gosip dirinya dan Gaby, sudah tidak panas lagi. Berita tentang calon istri Pak Al yang masih murid itu, telah lama mencuat dan terdengar sampai ke telinga para murid. Hanya saja, mereka masih menebak-nebak. Ada yang bilang itu Cantika, ada yang menebak Gaby dan apapula murid cantik lainnya.
Kepala sekolah, kepala yayasan dan Pak Ferdi saja yang tahu tentang masalah Pak Al dan Gaby. Yang lain, hanya bisa menjelaskan, bahwa itu hanya rumor biasa.
"Mohon maaf Pak Al. Untuk itu, saya hanya bisa mengatakan. Kalau itu tadi Gaby hanya menggantikan perannya Intan."
"Lalu, soal adegan?"
"Kalau itu, memang kebanyakan saya yang mengajari mereka. Tapi, sebagian dari improvisasi para pemain peran itu sendiri. Seperti Gaby barusan, karena dia tidak mengikuti latihan, dia banyak improvisasi dan perannya juga sangat alami. Bisa jadi, Gaby menggunakan perasaannya."
Belum selesai Bu Diana menjelaskan, Pak Al berkata "Baik Bu Diana. Terima kasih atas penjelasannya. Saya permisi dulu.
"Baik Pak Al. Silakan." Bu Diana juga kembali fokus pada acara selanjutnya.
Gaby yang keluar dari tempat persembunyiannya.
"Hikss, gimana nasibku nanti??"
Cantika menghadang dan mendekat "Pak Al, boleh saya berfoto sama Bapak?"
"Silakan."
Vika dan Elsa yang sudah memakai pakaian cheers, tampak memotret Pak guru tampannya bersama Cantika.
"Idih, aku juga nggak terima kalau kalian foto berduaan."
"Terima kasih Pak Al."
Cantika yang tampak senang sekali dan memandangi foto itu.
"Kalian, jaga ini baik-baik. Oke."
"Siap!"