
Berpenampilan feminine, dengan manis dia menatapnya. Tidak berani mengelus maupun medekat, rasanya jadi gemas, semakin berdebar. Begitu menatap dari kejauhan. Dia merasakan getaran sesasi yang berbeda.
Tanpa banyak kata dan dia hanya menunjuk saja. Dengan senyuman manisnya ia mengatakan.
"Aku mau itu."
"Itu."
"Itu juga." Sambil berkedip cantik.
Lalu menoleh ke arah kanan, ada sosok yang berdiri tampan. Tampak membawa syal yang mewah.
"Dan itu."
Tinggal tunjuk, tinggal membayar dan siap membawa pulang. Itulah, pekerjaan seorang gadis yang bernama Cinta.
Cinta Damayaz, putri ketiga dari Damar Setya Ardana dan Abyaz Ali Wardana.
Lulusan luar negeri, mempunyai jabatan tinggi di perusahaan Cinta Interior.
Gadis yang selalu tampak sempurna, bak putri istana. Kulitnya yang putih bersih dan berkilau lembut. Pancaran mata indah begitu tenang dan bibir tipis nan imut itu, ketika berbicara sangat menggemaskan.
Gadis dengan paras langsing, begitu tinggi sempai diantara para saudara perempuaannya.
Dia, Cinta. Memiliki segepok cinta. Ops, bukan gepokan cinta. Tapi, duit, duit dan duit. Itu harus ada dalam isi tasnya.
Kartu atm, kartu kredit. Itu, sudah lama ia buang. Karena, setiap dia berbelanja. Selalu ada panggilan darurat, yang telah memanggilnya agar segera pulang.
"Emh, ini lucu banget."
Ia melihat isian tasnya. "Duitku cukup tidak?" Akan memalukan kalau duitnya sampai tidak cukup.
Gepokan, bukan hanya lembaran. Uang merahnya telah terkuras hanya dari satu toko, yang ada di mal mewah.
"Tapi jepitnya lucu banget. Aku mau ini." Menatap dekat ke etalasi. Sebuah jepit kupu-kupu yang terbuat dari emas. Harga yang tertera tidak main-main. Itu baru satu jepit dengan harga dua dijit. Dia lalu menghitung kotak yang lain, ada yang warna ping dengan hiasan batu, ada yang warna silver dan tampak berkerlip cantik, lalu ada yang warna hijau dan ungu.
"Aku mau."
"Aku mau ini."
Seperti anak kecil yang sedang bermain dan ia melihat sesuatu. Dia sudah bawa empat tas yang berisi box mewah, di dalam kotak-kotak itu, semua barang mewah dan bermerk terkenal.
"Papa?"
"Mama?"
"Duh, aku pusing."
"Arjuna. Pasti Arjuna mau kasih duit sama aku." Begitu menggemaskan. Secepat mungkin, ia menghubungi Arjuna.
Panggilan dialihkan. Seketika, ia jadi terdiam. "Dia masih sibuk shuting."
"Baiklah, aku akan menunggu. See you kupu-kupu cantik. Aku akan datang lagi."
Memberikan kecupan manis dengan tangannya yang sangat menggemaskan.
Cinta dengan senang dan ia melihat lagi ke semua tas belanjaannya. Tawa dari bibir tipisnya terdengar keriangan penuh cinta. Cinta, cinta dan cinta. Tapi, butuh duit, duit dan duit. Selalu saja yang ada dalam pikirannya adalah berbelanja.
Waktu sekolah, ditanya hobby dia apa? Belanja. Emangnya kamu ibu-ibu yang belanja ke pasar? Aku berbelanja baju, tas, sepatu, bando, jepit, dan semua yang terlihat mewah di mataku. Aku akan membelinya dengan duitku.
Itulah, saat gadis itu duduk di bangku sekolah dasar. Semua teman sekelas telah menertawakan dirinya.
Tapi, ia tidak berkecil hati. Dia telah membuktikan dengan penampilannya yang selalu mewah. Dari ujung kaki sampai ke rambutnya. Itu, memerlukan biaya yang sangat mahal.
"Aku cinta. Aku, cintanya Papa dan Mama."
Wajah ceria dan berjalan dengan riang gembira. Masih dengan senyuman tipis tapi sangat manis begitu menggemaskan.
Setibanya di rumah, ia masih dalam senangnya. Seorang gadis telah duduk di ruang tamu rumahnya. Tampak diam dan tanpa berucap sapa dengannya. Cinta hanya menatapnya saja.
Berjalan ke arah tangga, dan masih saja menatap ke arah gadis itu.
"Dia siapa?" Batin Cinta.
Cinta yang berada di kamar, ia dengan manis meletakan tas belanjaannya.
"Sayang, baik-baik disini. Nanti aku akan pakai kamu. Setelah Arjuna datang. Biar dia terkejut saat melihat aku."
Cinta yang mengelus tas belanjaannya, dan ia meletakan tas selempang yang tadi dibawanya.
"Papa di rumah?" Cinta yang mendengar suara sang Papa. Tidak jauh dari kamar yang ia tempati saat ini. Ruang khusus sang Papa bekerja, tampak pintu rapat. Tapi, barusan Cinta telah mendengar suara itu dan sangat jelas terdengar.
Cinta yang mencoba ingin melihatnya. Cinta berdiam dan hendak mendengar obrolan dari kedua orang tuanya.
"Ada masalah apa? Sampai Mama menangis begitu?"
Cinta sebenarnya tidak ingin menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Tapi, dirinya semakin penasaran, ketika sang Mama masih terus menangis. Ia lantas berdiri di balik pintu itu.
"Mama kenapa?" Cinta yang berdiri, ia biasanya tidak mendengar suara tangis sang Mama yang seperti ini. Baru kali ini, dirinya mendengar suara tangisan sang Mama.
"Apa Opa sama Oma sakit?" Batinnya yang bertanya-tanya dan hanya bisa menerka.
"Mas, kalau kamu Papa yang baik. Nggak akan begini jadinya?"
"Sayang, aku kurang baik apa? Kalau memang dia terbukti putri kandung kita. Apa yang harus kita perbuat? Cinta juga putriku, aku sendiri juga bingung." Suara yang Papa semakin rapuh. Kabar ini, sudah bagaikan petir yang menyabar pasangan ini.
"Apa maksud Papa?" Batin Cinta, tapi dia tidak bisa mendekat ke arah mereka. Hanya berdiri di balik pintu, dengan penuh tanda tanya.
"Mas, kamu mau menyetujui gugatan kasus ini?"
"Sayang, dengan begini kita akan tahu hasil yang sebenarnya? Akan ada bukti, hasil DNA dan semuanya akan jelas di mata hukum."
"Mas, kamu tega sama aku. Kalau kamu masih melakukan itu sama putriku, aku tidak aka memaafkan kamu." Mama yang berjalan dan telah membuka pintu ruangan itu. Mama yang hendak pergi dari ruangan itu, karena berkas yang ada di meja ruangan itu membuatnya semakin sesak untuk bernafas.
Duueer!! Kilatan yang tak bersuara, tapi sudah memporak-porandakan kedua hati mereka berdua.
"Cinta?"
"Mam-ma." Raut wajah itu dan ia sudah gemetar. Akan apa yang tadi dia dengar. Meskipun tidak terdengar jelas ucapan itu, tapi Cinta mendengar tentang dirinya.
"Sayang, kamu sudah pulang."
Sang Papa semakin rapuh dan terduduk di kursinya, menatap ke arah pintu.
"Cinta, maafin Papa."
Cinta yang membesarkan hatinya, ia berkata "Mama, Cinta tadi membeli syal buat Mama. Tapi, Cinta lupa membeli dasi untuk Papa."
Suara itu masih terdengar merdu.
Sang Mama memegang pipinya "Putri Mama selalu ingat sama Mama."
"Mama, Cinta mau ke kamar dulu."
"Iya sayang. Mama juga masih capek. Baru pulang dari rumah Oma."
Cinta yang berlari ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, perasaan yang tidak dimengerti.
"Aku pasti salah dengar. Benar, aku pasti salah mendengar." Cinta yang terduduk di atas tempat tidur. Perlahan berubah sendu, ia langsung memeluk gulingnya.
"Kalau itu benar. Aku ini siapa?" Cinta yang sudah seperti anak kecil dan menangis tanpa terdengar suara tangisnya.
"Mama, Papa." Dalam isak tangisnya, ia terlelap.
Itulah, yang terjadi satu bulan yang lalu.
Setelah selesai persidangan, Cinta pergi dari rumah dan menjauh dari semua keluarga besarnya. Cinta, dinyatakan bukan anak kandung dari Presdir Damar dan Madam Abyaz.
Gadis itu, juga menggugat nama Cinta, sayangnya Cinta tidak menyetujuinya. Sang Mama tetap membela Cinta, bahkan sang Mama telah jatuh sakit dan belum kembali ke rumah itu lagi.
Hari ini, Arjuna yang telah menemukan Cinta.
"Cinta, aku tahu. Kamu pasti datang kesini."
Gadis itu menoleh ke arahnya berdiri.