ABYAZ

ABYAZ
Bab. 48. Masa lalu Dan Masa Kini



Mengingat, sekitar 24 tahun yang silam. Seorang Ibu, telah membuat kesalahan untuk yang kesekian kalinya.


"Nyonya." Gisella yang masih berselimut tebal dan seseorang telah membuatnya terbangun dari mimpi indahnya.


Menoleh ke sisi kirinya, ada sosok nan rupawan yang sangat dikenalnya dekat. Sang Nyonya tanpa nama itu, sudah membangunkannya.


"Aku tunggu di luar."


"Baik Nyonya."


Gisella dengan mata yang tampak berkaca-kaca, gadis belia yang sudah berbuat dosa. Apa yang telah terjadi semalam, dia sangat sulit untuk mengingatnya.


"Mas Binar. Aku harus pergi." Ucap Gisella dengan tatapan terakhir kalinya.


Sebuah cinta terlarang dan malam itu sudah berbuat lebih dari kekasih manja.


Di sebuah ruangan khusus, ini hotel milik Nyonya Jati. Kala itu, beliau memang sengaja untuk kembali. Perusahaan Binar kala itu, memang sedang ada kerjasama dengan hotel ini untuk launching produk terbarunya. Sesi pemotretan dan pembuatan iklan serta perayaan launching kosmetik itu juga menghadirkan sederet artis dan model ambassadornya.


"Pergilah sejauh mungkin." Ucap Nyonya Jati kala itu, dan beliau hendak menutupi masalah ini dari awak media.


"Nyonya saya."


"Sebentar lagi, media akan meliput kalian berdua. Aku akan berusaha menutup masalah kalian."


"Tapi saya tidak tahu apa yang sudah terjadi."


"Pergilah Gisella. Sejauh mungkin."


Kala itu, Binar masih berstatus suami dan proses perceraian belum resmi menyatakan kalau dirinya duda. Nyonya Jati tidak ingin, membuat aib untuk putranya dan membuat Gisella pergi jauh.


"Aku akan mengurus semuanya. Kamu cukup diam. Pergilah dan anggap saja ini hanya pesta biasa."


"Nyonya." Gisella yang tak berdaya dan sangat rapuh. Saat ini, dirinya yang tidak tahu akan arah dan tujuan hidupnya.


Meski Binar selalu memahami dirinya, tapi status Binar yang masih terikat suami istri dengan Imel. Pasti akan menyudutkan dirinya. Gadis belia penggoda suami orang.


"Gisella, akan ada sopir yang akan mengantar kamu. Media bisa datang dari mana saja. Sekali ini, aku akan membantumu."


Gisella yang telah keluar dari hotel dan menuju ke parkiran. Perasaannya jadi semakin tidak tenang. Saat ia berjalan dan melihat mobil Imel datang, Gisella menjadi ketakutan. Rasa berdebar dan ia merasa takut yang luar biasa. Dia yang bingung, lantas membuka pintu mobil sedan mewah dan dia masuk ke dalam mobil itu.


"Gisella, kamu sedang apa?"


"Tuan Arman." Tampak bingung dan itu terjadi begitu saja.


Tuan Arman baginya juga sosok yang mengayomi. Seperti seorang ayah, yang sudah lama dia rindukan.


"Gisella, kamu mau kemana?"


"Tuan Arman, saya mau ada urusan ke tempat pemotretan. Tadi saya mampir kesini. Karena, semalam ada barang saya yang tertinggal di aula pesta."


"Saya juga mau jalan. Saya akan mengantar kamu."


"Terima kasih Tuan."


Gisella yang tampak canggung, tapi senyuman Presdir Arman kala itu, cukup membuatnya tenang. Tidak ada salahnya pergi menghindari Imel dan juga media.


"Mas Binar. Maafkan aku." Batin Gisella dan mobil mewah itu telah melaju pergi.


Imel yang datang, seolah melabrak daur muda suaminya. Sayangnya, Imel tidak mendapati Gisella di kamar itu. Hanya ada Binar yang tampak terbaring sendiri.


Imel mencari-cari bukti, sayangnya sudah tak ada lagi jejak Gisella.


Awak media yang Imel undang, untuk menyaksikan kejadian itu. Imel lalu mengambil lisptik dan ia memberikan bukti itu kepada media.


Bekas lipstik itu, memang Gisella yang memakainya. Saat semalam, Gisella memperagakan pemakaian produk terbaru dari GG.


Media dengan cepat membuat berita, bahwa pemilik perusahaan yang masih berstatus suami itu, sudah bermalam dengan model ambassadornya sendiri.


Gisella yang saat itu bersama Presdir Arman dan Madam Yuzra telah mempergoki mereka berdua.


"Ayah bawa kekasih?"


"Iya, dia akan jadi madumu." Jawab Presdir Arman kala itu. Tadinya hanya bercanda, malah beneran menikahi Gisella dihadapan istrinya.


"Aku tidak keberatan, selama kamu bahagia."


"Kamu serius?"


"Aku serius." Madam Yuzra juga punya brondong manis, jadi hal itu menganggap hal biasa. Tidak tahunya suaminya benar-benar menikahi Gisella. Sampai ada tuan putri kecil yang hampir seusia putri Madam Yuzra. Hanya selisih satu tahun, Jovita seumuran Arjuna.


Nyonya Jati masih mengingat hal itu, tadinya beliau hendak mengamankan Gisella. Bila sudah tepat waktunya akan menikahkan dengan Binar. Tidak tahunya, Presdir Arman menikahinya lebih dulu.


Setelah kehamilan Gisella. Nyonya Jati kembali dan meminta sebuah bukti.


"Aku akan menunggu."


"Nyonya. Ini bukan anak Mas Binar."


"Gisella. Jangan mempermainkan aku."


"Nyonya. Saya saat itu memang sudah bersalah. Tapi, saya mohon. Jangan mengganggu kehidupan saya."


"Kalau itu bukan darah daging Binar. Aku akan menyerah. Aku akan menutup semuanya. Tapi, kalau itu anak Binar. Aku akan mengambilnya darimu."


"Silakan Nyonya datang lagi nanti. Saya yakin, saya tidak mengandung anak Mas Binar."


"Putri yang cantik." Ucapnya dan sempat menggendong bayi mungil itu.


Gisella yang tampak meremas sisi selimut di ranjang pasien. Dia sangat berharap, kalau Nyonya Jati tidak akan mengusik kehidupannya.


"Aku akan membuktikan dengan caraku."


"Nyonya, jangan bawa putriku."


"Gisella. Hari ini, aku tidak akan membawa bayi kecil ini. Tapi, nanti aku akan kembali lagi."


Selang beberapa hari dan hasil test DNA sudah diterimanya. Nyonya Jati, tampak menemui Gisella.


"Bayi ini?"


"Nyonya, ini putriku."


"Kamu menyembunyikan bayi Binar?"


"Tidak Nyonya. Ini bayi saya. Saya sudah berkata kepada Nyonya. Jangan lagi mengganggu hidup saya."


Gisella yang menatapnya, Nyonya Jati melihat sorot mata yang rapuh dan beliau tidak menyukai hal itu.


"Bagus kalau begitu. Aku juga tidak ingin memiliki cucu yang lemah seperti kamu."


Gisella yang berkecambuk dalam dada, tapi dia memilih diam. Dia mengerti akan perkataan itu dan menahan perasaannya.


"Aku tidak akan mengganggu kamu lagi."


Pertemuan terakhir itu, dan setelah itu Nyonya Jati jarang kembali ke kota ini. Hanya sesekali, bila Shin-ping sudah memintanya untuk kembali.


Sekarang, akhirnya kembali dalam suasana yang berbeda.


"Gisella, seandainya kamu masih ada. Aku akan mengganggu kamu dan terus mengganggu kamu. Kamu sudah menipu aku selama bertahun-tahun." Duduk di samping makam Gisella.


Entah, perasaan apa yang dirasakan Nyonya Jati saat ini. Perasaan tidak menyesal. Saat meninggalkan putra semata wayangnya. Perasaan lega, mengetahui kalau anak Gisella itu memang cucu kandungnya.


"Gisella, aku hanya datang sekali ini saja. Aku memang berniat mengusik hidupmu. Kali ini, aku akan membantu kamu menemukan, orang yang telah meracuni kamu. Aku juga akan meracuni orang itu, sampai dia menyusulmu kesana."


"Kamu harusnya menunggu aku datang. Kamu selalu tidak sabaran. Aku suruh mengikuti sopirku. Kamu malah pergi dengan pria lain."


Saat itu juga, Beby Ayazma datang ke makan Ibu kandungnya. Kedua orang itu akhirnya bertemu di makam Gisella.


"Beby."


"Nyonya."


Beby meletakan buket mawar putih, dan ia melihat ke arah batu nisan.


Beby hanya terdiam, entah do'a apa yang ia panjatkan untuk mengenal Ibu kandungnya. Dia hanya menatap nisan warna hitam yang bertuliskan nama Arelia Gisella.


Hanya beberapa menit, Beby berdiri disitu dan setelahnya ia pergi tanpa menyapa kembali Nyonya Jati.


"Beby." Panggilan dari Nyonya Jati.


"Iya, Nyonya."


"Panggil aku Nenek."


"Nenek?"


Keduanya saling menatap dan Nyonya Jati sudah memegang kedua lengan tangan Beby.


"Aku tahu. Aku sudah bersalah. Kamu cucuku. Meskipun, kamu tidak mau menganggap aku nenekmu."


Beby dengan tersenyum, ada rasa yang tidak biasa. Susah diungkapkan dan ini berada dihadapan makam Ibu kandung Beby.


"Nanti, saya akan berkunjung ke rumah Nyonya. Saya permisi dulu."


Melihat senyuman Beby, Nyonya Jati bisa mengerti dan melepaskan lengan tangan Beby. Membiarkan Beby pergi dari hadapannya.


Setelah siang tadi, suasana yang telah membuatnya kaget. Tapi, Beby tetap bersyukur, bahwa Arjuna memang baik-baik saja, tidak seperti yang diberitakan oleh surat kabar dan media.


Beby dengan perasaan tenang dan ia pergi meninggalkan area pemakaman umum itu. Beby yang seorang diri, dan kembali ke mobil Mama Abyaz.


Kedua orang tua itu, tetap menemani putri mereka. Beby yang tersenyum dan Mama Mami melihat rona bahagia Beby.


"Kamu kenapa?"


"Aku bertemu Nyonya 100 M."


"Kamu bertemu Nyonya Jati?"


"Iya. Barusan. Di makam Ibu."


Mama Abyaz bertanya "Apa Nenek kamu orangnya seperti Oma?"


"Nenek aku? Aku belum menyutujuinya."


"Beby. Ibunya Papi Binar. Berarti Nenek kamu." Mama Abyaz yang menggurui.


Beby menoleh ke sebelah kanan, "Mami Stella sendiri gimana? Itu, ada Ibu mertua. Kenapa masih disini? Nggak nyamperin kesana?"