ABYAZ

ABYAZ
Mati Lampu



Malam berteman bintang dan sang rembulan tampak berselimut awan.


Gaby, memandangi langit malam ini. Ada satu bintang yang berkilau terang, dan berada jauh dari bintang-bintang yang lain.


Suara motor terdengar nyaring, dan Gaby menoleh ke arah itu. Ternyata sosok yang dikenalnya telah datang.


Al yang memarkirkan motor gagahnya di pinggir taman. Gaby, duduk di ayunan sambil menatap pemandangan langit malam.


"Disini banyak nyamuk." Tegur Alvaro, lalu duduk di ayunan sebelahnya.


"Dari pada di rumah sendirian, mendingan disini, ada nyamuk yang menemani." Balasnya, yang apa adanya.


"Kenapa tidak telephone?"


Gaby mengambil ponsel dari kantong jaketnya, lalu memperlihatkan ponselnya.


Membuka kontak, bertanya "Yang mana nomornya Pak Al? Udah dicariin."


"Sini HPnya."


Gaby memberikan ponselnya dan ia melirik layar pintarnya "Hah?? Calon Imam. Idih."


"Emang kenapa?" Tanya Al dan ia memanggil nomor ponselnya sendiri, lalu menyimpan nomor Gaby dengan nama kontak Calon Istri.


"Pak Al terlalu lebay, lagian kita cuma pura-pura."


"Panggil Aku Mas!"


"Ogah!"


"Tadi di sekolah, kamu panggil aku Mas Alvaro."


"Ya biar mereka percaya aja. Tadi ngomongnya juga spontan." Kilahnya dengan centil.


"Selama kita di luar sekolah, Panggil Aku Mas!"


"Emoh!"


"Emoh? Kamu bisa bahasa jawa?"


"Emang, orang Bapakku dari Jogja."


"Bagus dong. Kamu, harus panggil aku mas! Mas Al."


"Gitu amat! Bapak itu gurunya Gaby, ya nggak sopan."


"Kalau nggak begitu, nanti Mama sama Papaku juga nggak percaya."


"Kok bawa-bawa Papa sama Mamanya. Emangnya, ada apa? Kita ini pura-pura, buat apa lebay begitu."


Alvaro berkata "Nurut aja. Murid harus patuh sama gurunya."


"Iya, kalau gurunya bener. Kalau begini, namanya mencari kesempatan dalam kesempitan."


"Oke, ya udah sana panggil wali kamu."


Gaby cemberut, lalu berkata "Okey, tapi selesai ujian. Kita sudahi rekayasa ini."


"Nanti, kita pikirkan lagi." Alvaro masih mengotak-atik ponselnya Gaby.


Gaby bertanya "Bapak ngapain masih disini?"


"Nemenin kamu." Jawabnya.


Gaby meraih ponsel miliknya, dan berkata "Sebaiknya Pak Al pulang. Gaby mau juga mau pulang."


"Ya sudah. Sana masuk rumah."


Ketika berjalan ke rumah dan hendak membuka pintu pagar rumahnya.


Padam!


Komplek perumahan itu, jadi gelap gulita. Untung saja, Gaby masih memegang ponsel di tangan kirinya.


"Mati lampu." Gaby merasa tidak suka.


Gaby yang takut gelap, Alvaro berjalan mendekat dan dia sudah menyalakan senter ponselnya untuk menerangi Gaby.


"Bapak, jangan pulang. Gaby takut." Gaby memegang sisi jaket yang dikenakan Al saat ini.


"Kamu takut gelap?"


"He'em." Bibirnya cemberut terlihat unyu.


Alvaro membuka pintu pagar rumah itu, lantas ia berkata "Sana, kamu masuk rumah. Kunci pintu rumahmu."


"Tapi Pak. Bapak mau pulang?"


"Aku duduk di teras. Kamu sana masuk saja. Terus, kunci pintu rumahmu."


"Pak Al. Gaby takut."


Alvaro berkata, "Mati lampunya sampai tengah malam nanti. Udah ada info dari satpam komplek."


"Kenapa Gaby nggak dapat info itu?"


"Makanya, kamu ikut masuk ke grup RT. Kamu RT. 008, ya kamu masuk aja grup chatnya. Tanya sama Pak RT. Makanya, kamu warga baru wajib laporan."


"Udah, tapi..." Gaby lupa kalau yang melapor ke RT saat menjadi warga baru adalah Darren, bukan dirinya. Dia juga tidak ikut menemui RT setempat.


"Iya Pak. Besok Gaby ke rumah Pak RT lagi. Gaby lupa soal itu."


Alvaro membatin "Takut gelap, tapi berani tinggal sendirian."


Alvaro yang sudah berdiri di carport rumah itu. Sebelah kanan ada tangga naik, sedikit menyerong ke arah pintu rumah. Terdapat ruang teras dengan tiang penyangga.


Lantai marmer berwarna abu dan telihat pintu abu tua dengan kunci otomatis digital. Gaby terlihat menempelkan jari dengan sensor otomatis. Kunci pintu terbuka, Gaby membuka pintunya dan masih menatap Alvaro.


Alvaro berkata "Iya, aku tungguin disini."


"Tapi." Gaby yang masih berdiri di antara pintu rumahnya. Dengan gayanya yang centil, ia berkata lagi "Tapi, Pak Al disitu saja."


Al berkata, "Iya."


Jam menunjukan pukul 9 malam. Gaby yang dari tadi keasyikan menyendiri di taman depan rumahnya. Dia belum menunaikan ibadah wajibnya.


Rumah dua lantai gaya minimalis modern, dengan interior mewah membuat rumah ini terkesan mahal.


Awalnya, rumah ini dibeli Darren untuk dirinya, nanti setelah menikah, dia akan membawa istrinya kemari. Rencana itu batal, setelah dirinya menikahi Darra.


Rumah yang tadinya tampak biasa, setelah di renovasi, interior dan eksteriornya terlihat semakin mewah.


Eits, Darren tidak mengatakan kepada siapapun. Saat Darren memberikan beberapa pilihan rumah dan sekolah kepada Gaby. Darren sendiri berfikir, Gaby tidak akan memilih rumah ini, ternyata dugaannya salah.


Darren kemudian menjual rumahnya kepada Gaby atas bantuan perantara. Darren mengatakan kalau pemilik rumah itu, sudah pindah ke luar negeri. Gaby yang polos, dia percaya begitu saja atas perkataan Darren.


Alvaro menyoroti sekitar carport dan taman minimalis. Ada kolam buatan, namun yang ada hanya air. Tidak ada ikannya.


"Apa Gaby tidak suka memelihara ikan?" Batin Al, saat melihat ke kolam yang tidak ada ikannya.


Pintu rumah itu tertutup rapat, Al terlihat mengamati slot pintu itu. Sudah modern dan tidak seperti rumahnya, yang masih apa adanya.


Duduk di lantai dan menginjakan kedua kaki di atas rumput sintetis.


"Gaby tinggal sendirian, apa dia juga bisa beresin rumah ini sendiri?"


Alvaro masih berfikir banyak akan sosok Gaby. Dia bukannya penasaran. Namun, Gaby gadis cantik nan centil, punya jari lentik dengan kuku bersih terawat.


"Siapa yang beberes rumah ini?"


Alvaro masih berfikir, kalau makan bisa beli. Kalau baju bisa laundry. Terus, soal rumah ini. Tidak mungkin Gaby cuci piring dan ngepel lantai sendiri.


"Pasti dia ada pembantu harian. Mana mungkin Gaby bisa bersih-bersih rumah."


Meski suasana rumah itu gelap gulita dan hanya senter Hp yang menerangi sudut halaman depan itu. Al bisa tahu kalau rumah ini memang terawat dan terlihat bersih. Aroma wangi lantai dan bunga-bunga hias di halaman mungil itu juga tertata rapi.


Sudah 10 menit berlalu, dan Gaby keluar dari dalam rumahnya. Sambil membawa Hp untuk menerangi langkahnya. Dia juga membawakan minuman dan cemilan untuk gurunya itu.


"Pak Al, Pak masih disini?"


Al yang berdiri dan Gaby menabrak punggung itu.


"Aku masih disini."


"Bapak ini, bikin Gaby kaget deh." Ucap spontan Gaby. Dia memukul-mukul punggung itu.


Al membalikan badannya, dan ia menatapnya, dengan senter di dagunya.


"Aaauuuu..."


"Dasar! Nggak lucu."


"Kenapa? Garing ya?"


"Hemms, lebih baik Bapak kalem, jadi lebih cool."


"Cool?"


"Iya, biar kayak Oppa di drakor." lanjutnya, "Minuman soda buat Bapak."


"Thank you."


Al tersenyum tipis dan mereka duduk di atas rumput sintetis.


Langit malam tampak berbintang, mereka berdua melihat ke langit itu.


"Bulan yang sendirian, masih bisa di kelilingi bintang. Beda sama Gaby."


Al menoleh ke kanan, wajah Gaby yang terlihat manis dan natural. Terpancar aura kalem dan tidak seperti Gaby saat berada di sekolah, yang sering cari perhatian.


Gaby menopangkan dagu pada kedua tangannya. Dia yang duduk dan kedua tangan bertumpu di atas lutut. Gaby merasakan hal berbeda, saat ini ada teman yang duduk di sampingnya.


"Pak Al punya teman?"


"Punya."


"Gaby nggak punya teman."


Al menekuk satu kakinya dan tangannya sibuk bermain rumput sintetis.


Al menoleh ke arah Gaby, ia berkata "Aku punya banyak teman. Tapi, aku suka menyendiri."


"Kenapa? Bukannya lebih asyik kalau saat berkumpul dan bermain sama teman? Nongkrong di kafe, nonton bareng, belanja baju bareng, terus jalan-jalan bareng."


"Aku hanya ingin menikmati hidupku."


"Menikmati hidup?"


"Meski sendiri itu sepi. Tapi aku lebih suka menyendiri. Aku bisa menikmati hidupku sendiri, tanpa ada yang datang mengganggu dan pergi meninggalkan aku."


Hening!


"Aku lebih suka bersama keluargaku, dari pada bermain dengan temanku."


"Keluarga?" Gaby menatap Al dengan teduh.


"Kamu pasti punya keluarga."


"Iya, aku punya keluarga. Tapi aku tidak tahu. Apa mereka menganggap aku keluarganya atau tidak."


Al menatap Gaby, ia bertanya "Dimana keluarga kamu?"