ABYAZ

ABYAZ
Bab. 14. Berani Di Depan Mama



"Arjuna."


Beby yang sudah pulang ke rumah itu, dan langsung memeluk Arjuna yang sedang memasak di dapur.


"Ada apa? Kayaknya kamu senang banget, adakah yang istimewa?" Arjuna masih menatap pada olahan, yang ada di dalam teflon.


"Aku gajian. Aku mau traktir kamu." Dia yang tampak memeluk gemas dan suara itu terdengar sangat ceria.


"Mau traktir aku?"


"Iya, ayo kita makan di luar."


Arjuna yang tidak ingin membuat hati Beby kecewa, ia langsung mematikan kompornya, dan membalikan badan. Mengelus rambut Beby dengan gemas.


"Oke, aku siap-siap dulu."


Sebelum Arjuna beranjak pergi, Beby sudah mencium aroma masakan.


"Bentar."


Arjuna tadi masih menghalangi Beby. Arkhirnya, Beby membuat Arjuna bergeser ke samping.


Beby menatap Arjuna, ia berkacak pinggang. "Udah masak. Malah mau makan di luar."


Arjuna tersenyum, lalu mencubit kedua pipi Beby, ia berkata "Kamu bilang mau traktir aku."


"Kayaknya, kalau kita makan di luar juga nggak bisa. Soalnya, di luar para cewek pada heboh mau ikutan audisi dating. Kalau nanti mereka lihat kamu. Pasti aku bisa dikeroyok. Aah.. Aku nggak mau."


Arjuna mengelus rambutnya dengan gemas, "Ya sudah, aku siapin makan malam kita. Kamu mendingan mandi dulu."


"Siap Chef."


Beby yang seolah hormat, dan Arjuna semakin gemas dibuatnya. Dan rumah ini, serasa dunia milik mereka berdua.


"Hemms, yang baru balik kerja. Langsung aja nyosor-nyosor. Sana mandi, bau."


"Ye, siapa yang nyosor. Orang cuma peluk doang."


"Ya sama aja neng geulis. Udah sana mandi. Bau acem."


"Siap Mr. bawel." Beby yang gemas sama Jimmy.


Jimmy memicingkan matanya dan Arjuna merasa tidak ada hal lainnya. Akhirnya dia kembali pada masakannya.


"Arjuna, kamu harus belajar jadi pria perhatian. Oke. Itu nanti masakan gosong."


"Iya, kamu ini ribet."


Jimmy yang bersandar kitchen set dan ia mengamati Arjuna yang memasak.


"Nanti, kalau udah mulai dating show. Kamu harus menjiwai. Alami. Jangan cuma bisanya ngerayu. Kayak begini, masakin ceweknya, ikat tali sepatunya, bawain tas belanjaannya."


"Iya kalau pakai sepatu tali. Kalau pake highheel gimana?"


"Ya ada adegan gendong."


"Kalau berat gimana?"


"Arjuna, tim audisi matanya juga jeli. Mereka bisa lihat, mana yang sepadan sama kamu."


"Iya iya. Mama Jimmy."


"Mama, Mama." Kembali suara sejatinya.


"Udah sana, aku mau fokus sama makan malam aku. Jangan gangguin kita berdua."


Arjuna yang telah menghiasi menu masakannya, di piring yang cantik.


"Kamu ngusir aku??"


Arjuna dengan matanya, menandakan kalau sang manager harus lekas pergi.


Jimmy memeluk lengan tangannya "Aku mohon, jangan usir aku." Aktingnya yang lebay. Tapi, Arjuna telah menatapnya dan ia harus segera pergi meninggalkan rumah ini.


"Kamu mau aku makan di luar? Terus di kejar penggemar?"


Jimmy menggeleng, lantas ia pergi, lalu menoleh ke Arjuna "Kesel, dia jadi suka melebih-lebihkan kekasihnya. Awas aja. Nanti aku beri kalian perhitungan"


Jimmy yang segera pergi dan ia akan memberi waktu untuk mereka berduaan.


Sang Arjuna telah siap menantikan, sang tuan putri. Arjuna melihat Beby keluar dari kamar dengan penampilan yang selalu sempurna di mata Arjuna.


"Maaf, aku mandinya lama."


"Nggak apa-apa."


Beby yang manis, ia telah merangkul lengan Arjuna. "Wow."


"Kenapa?"


"Emh, berasa seperti kencan makan malam."


"Silakan Nona Beby." Ucap Arjuna, yang saat itu telah mempersiapan kursi untuk gadis cantik itu.


Beby yang tidak basa-basi, dia langsung duduk di kursi itu, dengan sangat manis.


Arjuna, yang duduk dihadapannya. Ia berkata "Mari kita makan."


"Oke. Tapi aku masih sayang banget kalau memakannya."


"Kenapa?"


"Kamu udah seperti chef. Aku aja malah nggak bisa buat seperti ini."


"Ayo makan. Ini nggak asin lagi."


"Emh, tadi nasi gorengnya enak. Aku juga suka."


Mereka berdua menikmati makan malam ini. Hanya berduaan di rumah. Tidak ada yang merecoki mereka berdua.


Setelah makan malam itu, mereka tampak menonton film bersama.


Di ruang TV, duduk bersandar di dada Arjuna. Beby, berkata "Teman kerjaku, ada yang suka sama kamu.".


Arjuna berkata "Bagus kalau begitu. Berarti mereka cocok sama kamu."


"Cocok sama aku?" Beby menjauhkan dirinya dan menatapnya bete.


"Iya, kamu suka sama aku. Dia suka sama aku. Berarti, kalau teman yang serasi. Pasti, dia juga mirip-mirip sama kamu."


"Beda."


"Beda?"


"Aku nggak suka kamu di peran. Aku sukanya yang begini ini."


Arjuna tertawa, "Maksud kamu yang begini ini?"


"Iya, yang begini. Tengil, ngeselin, gesrek, tapi mulai perhatian." Beby malah gemas sendiri, lalu mencubit lengan tangannya. "Mulai besok, jangan perhatian sama aku. Aku kadang geli, kamu elus-elus rambut aku."


"Geli, tapi dinikmati. Sampai tidur pulas begitu."


"Ya, aku capek. Pasti cepet tidurnya."


"Mulai besok, aku juga udah mulai sibuk. Aku nggak bisa merhatiin kamu lagi."


"Bagus kalau begitu."


"Tapi, kalau kamu kangen gimana?"


"Nggak."


"Yakin, kamu nggak bakalan kangen sama aku?"


Beby, menatap serius, ia berkata "Kalau kamu jadi perhatian begitu. Aku jadi kangen Mama."


"Kamu ingin pulang ke rumah?"


"Nggak."


"Ya udah, disini aja sama aku."


Dia masih lanjut berkata "Aku juga bisa bangun subuh, aku bisa sholat tanpa disuruh, terus..." Arjuna yang gemas menutup mulutnya dengan ciuman ala Arjuna.


Benar, semua serba Mama. Beby bukan apa-apa, kalau tidak ada kedua orang tuanya. Serba asisten, sering menunda sholat, apalagi ketika jam subuh dan maghrib.


"Sayang, bangun. Udah jam 5. Ayo bangun. Sholat subuh."


"Sayang, kamu udah sholat maghrib? Ini udah jam berapa sayang? Maghrib waktunya pendek cinta."


"Sayang, matiin musik kamu. Suaranya terlalu kencang. Nggak sopan. Di luar ada tamunya Papa."


"Sayang, Cinta kamu sudah siap? Papa nungguin di meja makan."


"Cinta, kamu lagi apa sayang? Mama udah siapin kue di meja."


"Sayang, kamu demam."


"Cinta, Mama sayang banget sama kamu."


Ucapan, perhatian, pelukan, ciuman dan kasih sayang serta cinta sang Mama. Selalu melekat pada perasaan gadis itu. Begitu rindu, dan sangat merindukan sang Mama. Apalagi, saat kuliah di luar negeri, dia juga ditemani sang Mama.


Beby yang kembali meneteskan air mata. Ciuman itu menghentikan perkataan Beby.


Arjuna meraihnya dalam dekapan. Lalu berkata "Gimana aku nggak perhatian. Kamu masih sering nangis begini."


Beby meraih tisue yang ada di meja, lantas mengusap sendiri air matanya. Lalu menatap Arjuna.


"Kenapa cium aku?"


"Owh, itu. Biar kamu nggak bawel."


"Aku bawel?"


Beby yang masih menatapnya, tangan itu masih memegang tisue.


"Aku nggak suka, kalau kamu begitu lagi."


"Emh, sorry."


Beby yang bersandar kembali di dadanya. "Aku, mau tidur."


"Sana ke kamar."


"Nggak mau, disini aja."


Bilangnya nggak mau diperhatiin, nggak mau di belai-belai, tapi nempel aja kayak perangko.


"Ya udah, tidur disini."


Tidak lama, ada yang datang ke rumah. Beby yang membuka pintu rumah itu.


"Mama."


Sang Mama yang tersenyum, langsung memeluknya "Sayang, Mama kangen banget sama kamu."


Arjuna mendengar suara itu, lantas berjalan mendekat. "Budhe Abyaz."


"Arjuna."


"Budhe, mari silakan masuk."


"Iya."


Beby yang tampak diam, tapi sang Mama memegang tangannya dan berjalan ke ruang tamu bersama.


"Arjuna, maaf sudah mengganggu waktu istirahat kamu."


"Nggak apa-apa Budhe."


Beby yang terdiam, sang Mama yang duduk di sebelahnya. Mengelus rambut itu dengan rasa sayangnya.


"Kalian tinggal berdua?"


"Tidak Budhe Abyaz. Kita tinggal bertiga. Ada manager Arjuna."


"Beby, aku bawain ini buat kamu."


"Aaaa..."


Melihat itu, Beby berdiri di atas sofa. Sang Mama menatap putrinya dan Arjuna melirik mata ke Jimmy.


"Arjuna, ambil kucing itu."


"Jimmy."


"Opps, sorry. Aku pikir kamu suka kucing." Padahal Jimmy memang sengaja.


Beby melompat ke sofa Arjuna, dan memeluk lengan tangannya "Arjuna, Jimmy sengaja buat aku celaka."


"Beby, itu nggak apa-apa. Pasti Jimmy gemas aja. Dia suka kucing. Dia nggak tahu kalau kamu takut sama kucing."


"Aaa.. Jauhin."


Jimmy melihat ke Mama Abyaz, lalu tersenyum sambil menggendong gemas si bulu putih.


Abyaz berkata "Saya, Mamanya Cinta."


"Cinta??"


"Maksud saya, Beby. Saya terbiasa memanggilnya Cinta."


"Saya, Jimmy. Pemilik rumah ini, sekaligus manager Arjuna."


Melihat putrinya yang menempel Arjuna. Sang Mama bertanya "Kalian pacaran?"


"Budhe Abyaz, Arjuna...." Belum selesai berkata.


Beby menjawab "Iya Mama. Kita berdua pacaran."


"Mama tidak keberatan."


"Budhe. Arjuna bisa jelasin sama Budhe."


Beby yang sengaja, di depan sang Mama. Malah duduk dipangkuan Arjuna dan melingkarkan kedua tangannya di leher Arjuna. Jimmy merasa gadis itu sudah tidak waras. Biasanya anak gadis kalau ditanya sang Mama, akan mengalihkan obrolannya. Ini malah terang-terangan.


"Arjuna, titip putri Budhe. Kamu harus menjaganya."


"Budhe, Arjuna memang menjaga putri budhe tapi."


"Tapi ini Mama. Arjuna mau ninggalin aku. Dia malah sibuk dating sama fans."


"Arjuna, kamu masih sibuk shuting?"


"Iya Budhe."


"Bagus. Anak muda harus kerja keras."


"Sayang, kamu tega ninggalin aku sebulan."


"Sebulan? Shutingnya sebulan?"


"Iya Mama. Makanya aku jadi kesel."


"Arjuna, begini saja. Nanti, Budhe yang akan urus semuanya. Kamu harus temani putrinya Budhe. Gimana?"


Jimmy menatap Arjuna seolah berkata "Arjuna, dendanya milyaran."


"Budhe, ini mungkin kontrak terakhir."


"Terakhir? Sayang, kamu nanti nggak kerja? Terus, uang harian aku gimana sayangku?"


"Beby, jangan begini lagi." Bisiknya dan Beby, membalas bisikannya "Aku bisa melanjutkan ciuman tadi."


"Kamu berani?"


"Siapa takut."


Mama Abyaz mengerti, melihat putrinya yang sedang kesal. Tapi, beliau sangat senang. Melihat putrinya tampak manja seperti dulu. Ketika bersama di rumah.