ABYAZ

ABYAZ
Cincin Nikah



"Pak Alvaroku." Batin Cantika yang sangat senang, melihat motor yang melaju di sampingnya adalah motor sang guru tampan.


Cantika bersama dua sahabatnya, mereka bertiga pulang lebih awal. Karena, kelas terakhir jam olah raga, sedangkan gurunya sudah pulang lebih awal.


"Akhirnya kita bertemu Mr.Kulkas." Elsa dengan senangnya.


Mereka sedang membicarakan Pak Al dan mereka juga penasaran, kenapa sang guru tampannya, hari ini tidak mengajar dijam olah raganya.


"Ini yang dinamakan jodoh, meski di sekolah tidak bertemu, tapi di jalan malah ketemu." Ucap Vika dengan senang.


"Eit, Pak Alvaroku. Cuma milikku." Sahut Cantika dengan percaya diri.


Cantika yang mengendarai mobilnya, lalu melihat incerannya ada di dekatnya. Ia tancap gas untuk mengikutinya.


Sekitar 20 menit, motor gagah Alvaro telah terparkir di area ruko. Pertokoan yang sangat ramai dan terkenal. Banyak toko perhiasan dari emas biasa sampai berlian juga ada. Beragam pilihan dan jenisnya. Barisan toko ini, masing-masing punya nama. Ada satu toko yang sangat terkenal dan paling diminati oleh para pelanggan setia. Sebut saja toko, Jewellery Queen.


"Toko emas?" Elsa yang menohok.


Cantika bingung, "Mungkin saja, Pak Al mau membelikan ibunya perhiasan."


Vika menyahut "Apa jangan-jangan Pak Al mau menikah??"


Mendangar hal itu, Cantika sebal "Mana mungkin, lagian kalau buat merried pasti belinya sama calon istrinya dong."


"Apa mungkin Pak Al waktu itu serius?" Elsa yang mengingat akan di ruang kepala sekolah.


"Serius apaan?" Cantika semakin kesal.


"Si Gaby."


Cantika kembali mengingat, waktu di supermarket juga Pak Al sangat dekat dengan Gaby.


Cantika geram, lalu berkata "Kalaupun memang iya. Aku tidak akan tinggal diam. Kalau aku tidak bisa mendapatkan Pak Al. Gaby juga tidak boleh mendekati Pak Al. Aku tidak akan membiarkan Gaby memiliki Pak Al."


"Cantik, kamu mau ngapain?" Vika yang selalu memanggil Cantika dengan nama Cantik.


"Yang jelas, aku harus membuat mereka terpisah. Aku tidak bisa melihat mereka berdua bahagia, diatas luka hatiku."


"Elsa, kamu cari tahu. Apa yang Pak Alvaroku beli? Siapa tahu, memang untuk ibunya."


"Oke, siap." Ucap Elsa, lantas dia pergi ke seberang jalan dan menuju ke toko perhiasan pilihan Pak Al.


Tidak butuh waktu lama, Pak Al memilih sebuah cincin untuk istrinya dan ia pergi meninggalkan toko itu. Kesempatan Elsa untuk bertanya kepada pelayan toko emas itu.


Pelayan membuka pintu dengan sambutan manis "Selamat datang di Jewellery Queen."


Elsa dengan gaya kemayu dan percaya diri. Senyuman manis manja dia tampilkan.


Toko emas yang mewah di kota ini. Tampak ruang toko yang tertutup. Tidak seperti yang lainnya. Setelah memasuki toko ini, ruangan berAC dan suasana toko terlihat ramai pengunjung. Lalu ada etalase perhiasan yang memajang emas-emas cantik. Dari kalung, cincin, gelang dan juga ada logam mulia.


"Permisi Mbak."


"Iya Kak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Begini Mbak, saya disuruh Kakak saya untuk tanya soal cincin tunangan. Apa saya boleh melihat-lihat cincinnya." Elsa yang begitu percaya diri, senyuman manis gemas dia tebarkan.


"Mari silakan Kak. Ada di sebelah sana."


Elsa dengan gaya kemayu. Berlajan ke tempat khusus cincin couple. Selama 5 menit Elsa bertanya ini dan itu, seorang pelayan cantik membawa sebuah kotak cincin yang menarik mata Elsa.


"Mbak, kalau cincin yang dibawa Mbak yang tadi lewat itu cincin apa mbak?"


"Owh, kalau yang itu cincin berlian untuk pernikahan."


"Berlian?"


"Iya Kakak. Ada beberapa contohnya. Tapi itu tadi hanya kotaknya saja, cincinnya baru mau dibuat."


"Emh, apa itu pesanan Mas-mas tadi yang pakai jaket kulit Mbak?"


"Tidak Kakak. Yang barusan tadi. Dia pesan cincin pernikahan, tapi bukan yang couple seperti ini. Cincin khusus perempuan."


"Saya mau lihat dulu, boleh tidak Mbak? Siapa tahu, nanti cocok buat pernikahan Kakak saya."


"Mari Kak, samplenya ada disebelah sana." Pelayan yang ramah. Tampak memakai pakaian rapi dengan atasan kemeja batik warna marun dan bawahan rok sepan hitam.


Elsa melihat-lihat barisan cincin yang mewah dan cantik. Harga yang tertera juga sangat mahal, apalagi dikantong pelajar seperti Elsa.


"82 juta??" Elsa yang terbelalak, saat pelayan toko memperlihatkan cincin yang seperti dibeli oleh guru tampannya barusan. "Cincinnya bagus banget ya Mbak."


"Iya Kakak. Cincin ini memang special."


"Mana mungkin, Pak Al memberikan cincin semahal ini untuk Gaby?"


"Kalau memang benar, pasti Gaby gadis yang matre. Apa jangan-jangan, cuma mau morotin Pak Al?"


"Apa Kakak berminat? Cincinnya juga bisa diukir nama, seperti cincin nikah pelanggan yang tadi."


"Memangnya, cincinnya bisa di ukir nama Mbak?"


"Bisa Kakak."


"Terus, Mas yang tadi ukir tulisan apa?"


"Tertera nama My Love."


"Owh, jadi benar. Pak Alvaro beli cincin untuk kekasihnya."


Elsa berkata "Mbak nanti saya akan ajak Kakak saya kemari. Biar bisa langsung pilih sendiri."


"Iya Kakak."


"Nanti saya kemari lagi. Terima kasih Mbak."


Sebuah cincin berlian di dalam kotak kecil warna hitam. Sangat indah dan mewah. Meski terlihat kecil dan simple, tapi Al sangat puas dengan pilihannya.


"Gaby," Al yang telah mengendarai motor tersenyum manis. Ia membayangkan, ia yang menyematkan cincin itu, dan istrinya sangat menyukai cincin pilihannya.


Elsa kembali ke depan dan mencari mobilnya Cantika. Namun sayang, Cantika memilih untuk mengejar guru tampannya.


"Kalian tega ya" Ucap Elsa, dalam sebuah panggilan telephone.


"Terus, apa kata pihak toko?"


"Emh, pelayan bilang Pak Al beli cincin berlian. Harganya juga mahal banget. Terus diukir nama My Love."


"Cincin berlian?"


"Iya. Masak aku bohong."


"Ya sudah, nanti kamu nyusul kita aja kalau sudah sampai tujuan."


"Emangnya kalian kemana?"


Vika menyahut "Kita lagi ngikutin Pak Al."


"Ya sudah, nanti share lok."


"Oke baby." Balas Vika dengan tawa.


Mereka berdua menertawakan Elsa. Lagian, Elsa juga masih menuruti saja perintah Cantika dan Vika. Apapun yang diperintahkan, Elsa tidak bisa menolak.


"Loh, ini Taman Bougenvile. Ngapain Pak Al kemari?"


"Apa jangan-jangan, dia lagi janjian sama ceweknya."


"Vika, udah dong. Jangan buat aku patah hati."


"Cantik, minggirin dulu mobilnya." Ucap Vika, karena ada mobil belakang yang klakson.


Cantika mencari posisi yang nyaman untuk menguntit Pak Al. Vika langsung mengirimkan titik lokasinya kepada Elsa, agar segera menyusul ke tempat mereka berada.


Tak


Tik


Tuk


Alvaro yang masih nangkring di atas motor. Lalu, Genk Kupu-kupu juga masih setia mengikuti guru tampannya, sudah lebih dari 15 menit.


"Nggak ada apa-apa."


"Emh, nah tuh datang!"


"Mana? Yang mana?"


"Elsa" Vika dengan jailnya.


Cantika menimpuk Vika dengan map yang ada di sampingnya "Sialan, aku kirain ceweknya Mas Alvaroku."


"Ciie, udah bilang ceweknya. Kamu merestui hubungan mereka?" Vika memang nggak bisa melihat Cantika santai sebentar saja.


"Najis!"


Elsa yang langsung naik ke mobil Cantika "Guys, kalian tega."


"Sorry." Mereka berdua kompak.


Sudah lama menunggu, dan tidak ada hal yang mencurigakan. Misinya untuk memergoki guru tampannya dengan cewek lain, sepertinya akan gagal.


Alvaro kembali melajukan motor kebanggaannya. Sepertinya, Darren tidak jadi datang.


"Itu Pak Alvaro kenapa sih?!" Vika yang gemas sendiri.


"Sepertinya lagi cari sesuatu." Balas Elsa dengan santai.


Alvaro memarkiran motornya dan ia berjalan dengan santai. Tampak seperti menghubungi seseorang. Entah, siapa yang ia telephone. Elsa mengikutinya dari belakang, itupun atas perintah Cantika dan Vika.


Perasaan berdebar saat menunduk dan mengendap-endap. Alvaro yang duduk di kursi taman. Tampak tersenyum tipis.


"OMG, Mr. Kulkasku. Sudah menikah??"


"Ini kabar buruk."


"Aku harus kasih tahu Cantika."


Namun, Elsa masih saja menguping dan menyelesaikan tugasnya itu. Perintah Cantika tidak bisa ditolaknya, apalagi ini menyangkut sebuah perasaan cinta.


"Sepertinya, aku harus cari kulkas baru." Perasaan Elsa yang runtuh. Perlahan tersenyum, ia berkata "Tapi, Mr. Kulkas semakin menawan kalau lagi senyum begitu."


Elsa yang tampak memotret moment berharga itu, "Ini sulit dipercaya. Mr. Kulkasku, oh... senyumannya bikin aku nyut-nyutan. Aku juga mau jadi madunya."


Elsa yang sudah oleng sendiri, saat melihat senyuman menawan itu.


Sekitar 10 menit dan Elsa kembali ke mobil. Mengatakan kepada Cantika kalau Pak Al sudah menikah.


"Nggak mungkin!!"


Vika menyela "Elsa, mana mungkin Pak Al sudah menikah. Cincinnya saja baru beli."


"Yang aku denger begitu. Salah sendiri kamu nggak mau nguping pembicaraan Pak Al.


"Gimanapun caranya, kalian berdua harus bisa ambil cincin nikah itu."


Cantika yang menyukai guru tampannya, semakin terobsesi karena sosok Gaby.