ABYAZ

ABYAZ
Damar Bukan Bonekanya Mama



Suasana siang yang tidak nyaman, tapi ada yang datang dan tidak diharapkan. Seandainya yang datang Abyaz. Pasti tidak akan bosan lagi.


"Gimana keadaan kamu?"


Damar yang masih enggan menatapnya dan hanya berkata "Baik."


"Kamu tidak ingin melihat Mama?"


Damar perlahan menatap Melinda dan berkata "Hems,...." Itu saja yang dia ucapkan untuk Mamanya.


"Apakah ini yang Eka ajarkan kepadamu?"


"Tidak." Jawabnya dengan tidak senang.


"Eun Ho. Mama tahu, saat ini kamu tidak bersalah. Akan tetapi, orang-orang tidak ingin melihat kamu kembali ke Ji-sung."


Damar hanya diam, dia sebenarnya juga tidak mau kembali. Tapi, Stella yang sudah membawanya kembali.


"Aku tahu, ini semua rencana Stella. Tapi, tidak bisakah kamu memberontak dan kembali ke Sukoharjo."


Damar masih enggan untuk berkata apapun.


Melinda yang tadi hanya berdiri dan menatap putranya. Sekarang, duduk disebelahnya.


"Pergilah, dan jangan kembali kesini lagi. Seperti dulu kamu meninggalkan Kakekmu." Ucap Melinda yang memegang tangan Damar.


"Aku sudah terlanjur masuk ke dalam. Aku tidak akan keluar. Sebelum aku bisa mencapainya." Tatapan Damar yang begitu tajam. Dia sudah kembali ke sikapnya yang dulu.


"Ternyata kamu sangat keras kepala. Kamu sama saja seperti Stella." Balasnya dengan keras.


Damar tersenyum tipis, tapi itu sangat menakutkan. Lalu berkata "Aku disini karena Mama."


Melinda tampak terdiam. Rasanya tidak nyaman dan tiba-tiba merasa sesak.


"Aku tahu, siapa yang membuat semua ini. Aku juga tidak ingin Mama masuk ke dalam penjara."


Kalau Damar sudah mengelak. Pasti Melinda yang akan tertangkap.


Melinda merasa sangat sesak, dan tidak berani menatap putranya.


"Mama, sampai kapan?"


"Sampai kapan Mama akan menghancurkan Kakek?"


"Aku tahu, Kak Stella tidak akan begini. Semua ini hanya karena Mama."


Damar dengan rasa tidak senang, tampak mata yang berkaca-kaca.


Dari dulu, yang dia tahu. Melinda adalah Mamanya. Bahkan ada surat nikahnya dengan Eka. Yang dia tahu, Melinda yang merawatnya, dan setelah itu sang Mama meninggalkannya di rumah Kakeknya dan tanpa menoleh ke arahnya.


"Apa aku masih putra Mama?"


Air mata Damar luruh begitu saja. Rasanya sangat sesak. Walaupun dia sudah tahu fakta tentang dirinya, tapi dia sangat mencintai Mamanya. Dia tidak ingin melihat Mamanya yang sangat kejam. Bahkan tega berbuat semua ini.


"Kamu??" Melinda yang semakin sesak, tanpa sadar dia juga meneteskan air matanya.


"Aku tahu, bukan Kakek atau Kak Stella. Ini semua karena Mama."


Damar yang tidak bisa menatap Melinda, hanya merasakan sakit dalam hatinya. Hal ini sangat menyakitkan dirinya.


"Kak Stella hanya menuruti perintah Mama. Bukan Kakek. Aku sudah tahu, hal ini pasti terjadi."


Damar yang sangat tahu kalau Melinda juga sangat menginginkan putranya. Melinda juga bisa berbuat apa saja.


Melinda menyuruh Stella untuk mencari Damar di Sukoharjo.


Melinda tahu, kalau Damar hanya bersenang-senang dan tidak ada melakukan apapun. Bahkan sampai Ayahnya tiada.


Akhirnya, Stella datang dan mendirikan JS corporation atas nama Damar Setya Ardana.


Saat penandatangan itu, Melinda juga membuat surat untuk Ji-sung. Disitulah, Damar juga menandatangi akta kepemilikan Ji-sung. Karena Melinda yang sudah kehilangan putranya, jadi harapan dia, tetap pada putranya yang ada di atas kertas. Seusai janji Ayahnya dulu dan dia sudah mendapatkannya.


Kesalahannya, Damar tidak membaca semua dokumennya. Itu juga karena Stella yang memaksanya agar segera tanda tangan.


"Buruan Dam. Itu kuasa hukum udah nungguin." Itu ucapan Stella waktu di JS corporation.


Damar yang sibuk bermain ponselnya, hanya menatap lembaran pertama, tidak tahunya. Yang lembaran berikutnya ada pemindahan nama pemilik Ji-sung Grup.


"Mama yang meminta haknya putra Mama dari Kakek, aku tahu itu."


Melinda hanya diam dan merasakan sakit dalam hatinya.


"Mama sudah menerimanya. Iya, aku putra Mama."


"Benar! Aku memang putra Mama. Putra yang mendapatkan semua kekuasaan Kakek."


Melinda menagih haknya, dan janji yang dulu pernah diucapkan Lee Sung Hoon. Saat ini, semua kekuasaan Lee Sung Hoon, sudah ada di tangan Damar.


Usia Damar yang sudah 29 tahun. Dia seorang pria dan sudah menikah. Tapi dalam hatinya, dia seperti anak kecil, yang dulu ditinggalkan Melinda di rumah Lee Sung Hoon.


Melinda yang tidak sanggup mendengar kata-kata Damar, akhirnya dia pergi dari ruangan itu.


Damar yang masih menangis, rasanya sangat tidak menahan dirinya.


"Apa aku memang putramu??"


Damar yang perlahan menunduk, air matanya masih menetes mengenai sepatunya.


Melinda ternyata masih dibalik pintu itu, dan perlahan menata perasaannya. Dia sadar, bukan wanita yang lemah. Dia sadar, seorang wanita yang berkelas. Dia sadar, akan tujuan dirinya.


"Air mata ini, hanya merusak penampilanku."


Perlahan dia merapikan make-up wajahnya dan di situ tidak ada siapapun.


Menampilkan senyuman yang manis, perlahan dia berjalan dengan anggun.


Damar yang tidak mengerti semua ini. Tapi dia sadar, kalau memang dia sudah berkorban untuk Mamanya. Dia tidak dianggap, tapi dia masih mencintai Mamanya.


Perlahan Damar, meredam perasaannya dan melihat cicin yang melingkari jari manisnya.


"Aku harus sholat dzuhur." Suara adzan dzuhur telah menyadarkan Damar.


Mengambil tisue yang ada di atas meja dan mulai menarik nafasnya, lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Direktur Damar, apa anda ingin ke mushola?" Seorang petugas laki-laki datang. Dia tahu kalau Damar pasti harus menunaikan kewajiban lima waktunya.


"Saya boleh keluar?" Tanya Damar.


"Iya, mari ikut saya. Saya juga mau ke mushola di lantai atas." Jawabnya.


Damar lalu mengikuti petugas itu, dan berjalan dengan menawan. Damar juga menebar senyuman, tapi tidak setengil Papa mertuanya.


Dulu Papa mertuanya sangat disayang orang tuanya, apalagi Bu'e. Tapi sang menantu yang bikin oleng ini, tidak mendapatkan cinta dari Mamanya.


Sang Kakek Lee Sung Hoon, sudah memberikan janjinya. Dulu dia yang membuat rekayasa, dan dia yang mendapat balasannya.


Bahkan membuat surat nikah Eka dan Melinda, setelah Melinda menyetujuinya.


Damar yang dilahirkan Hanna. Dialah ibu yang sesungguhnya. Tapi, Damar belum berani melihat ke makam Hanna, yang dia harapkan adalah Melinda.


Mungkin sosok Melinda sudah melekat dalam perasaan Damar. Anak tampan yang masih kecil, dan sangat ingin kasih sayang Mamanya. Sungguh mengiris hatinya.


"Direktur Damar, mari silakan."


Mushola di sebuah ruangan dan cukup luas. Tempat wudhu ada di sampingnya.


Damar mulai duduk dan melepas sepatunya.


Melinda yang ada di dalam mobil, tampak menatap wajah putranya yang telah tiada.


"Dia sudah melakukan demi kita."


Melinda memang tidak waras, bahkan putranya yang sudah tiada. Selalu dia jadikan alat untuk dirinya sendiri.


"Damar, dan dia_"


"Aku tak mau memikirkannya."


Perlahan mobil itu meninggalkan area parkir dan tidak sengaja berpasasan dengan mobil Stella.


"Stella, ternyata masih mempedulikan dia."


"Untuk apa Mama kesini?"


"Stella, terima kasih." Ucapnya dengan senang dan mobil itu mulai melaju cepat.


"Emmz, tidak akan seperti yang Mama harapkan. Aku tidak akan membiarkan Damar memberikan miliknya untuk Mama."


Stella juga sama egoisnya dengan Melinda, buah jatuh pasti masih disekitarnya. Hanya saja, dendamnya lebih berbahaya.


"Mama, Damar bukan boneka. Aku akan membantunya. Agar semua orang tahu. Dia adalah Damar. Bukan bonekanya Mama."


Perlahan mobilnya sudah terparkir. Stella mulai keluar dari mobil, dengan gayanya yang memang menawan.


Semua aset Lee Sung Hoon juga akan menjadi atas nama Damar. Tapi, itu karena Melinda yang menagih janjinya. Dia selalu mengatakan, putranya sudah hilang karena Sung Hoon dan Eun Ho adalah putranya di atas kertas. Jadi Eun Ho yang berhak memiliki semuanya.


"Eun Ho, bukan anak Mama." Stella dengan kesal, saat masih menatap ke arah jalan raya.


"Adikku, kamu harus makan" Ucapnya dengan senang.


Dia membawakan makanan untuk Damar dan mulai masuk ke kantor penyidik.