ABYAZ

ABYAZ
Makan Malam Bersama Staff



Sore hari di kantor Z, Alvaro yang masih sibuk bekerja. Meski perusahaan ini telah resmi di tangan Alvaro. Sayangnya, sebuah bukti telah ditemukan oleh salah satu staff. Kalau, Alvaro seperti boneka untuk menjalankan bisnis ini.


"Beneran, Pak Al dari kampus itu?"


"Iya, dia dulunya satu kampus sama temanku."


"S2nya? Yakin di kampus itu juga?"


"Bukan, beda kampus."


"Apa dia anak konglomerat yang nyamar?"


"Nggak kayaknya. Temenku bilang, dia dari kalangan biasa."


"Tapi, wajah dia kayak blasteran gitu?"


"Ya, sekarang wajah kayak dia udah banyak. Pada oplas juga bisa."


"Eh, udah. Jangan pada nyinyir. Nanti kalau ada yang ngaduin kita sama dia."


"Aku lelah. Mana sekarang sering lembur gara-gara dia."


"Bener. Aku juga capek."


Namun, itulah gosip yang sedang hits di kantor Z ini. Ada yang menganggap Al sosok aji mumpung, apalagi dilihat dari ijazah magister Alvaro, tertera bukan dari luar negeri. Melainkan, lulusan dari kampus biasa, yang ada di luar kota.


Waktu kuliah S2 dulu, Alvaro memang mengambil menejemen bisnis. Namun, para staff yang lebih handal. Mereka tampak menyangsikan kelebihan Alvaro, yang bisa mendapatkan proyek besar begitu saja. Dalam jangka waktu yang terhitung singkat.


Satu tahun bagi seorang Damar sangatlah panjang. Beberapa bulan Damar mengajari Alvaro dan akhirnya tidak sia-sia Damar menempatkan Alvaro di kantor Z.


Seperti Damar contohnya, awalnya juga hanya S1, setelah merambah ke bisnis ambil S2 ke luar negeri, setelah menikah baru menempati JS.


Begitu pula dengan Viral, setelah waktu kecelakaan bersama Eyang Damar waktu itu, dan sempat dianggap telah lumpuh. Dia tetap menyelesaikan kuliah S2-nya, atas bantuan para pengawalnya. Lalu Binar, meskipun dia kuliah di luar negeri, tapi S2-nya malah terbengkalai, karena masalah hati. Lalu, ia kembali lagi setelah menikahi Imel kala itu.


"Eh, tapi aku dengar juga. Istrinya dari kalangan A."


"Yang waktu itu datang??"


"Iya."


"Oh, pantes saja. Nggak mungkin dia bisa dapat proyek besar. Kalau tidak ada bekingannya."


"Eh, beneran nggak? Yang akusisi perusahaan kita. Atas nama dia?"


"Aku nggak tahu soal itu. Yang tahu, ya cuma para pemilik saham."


"Tapi, aku dengar-dengar Pak Al sahamnya yang tertinggi. Makanya, sekarang dia yang jadi pimpinan kita."


"Bisa jadi begitu."


Al tiba-tiba melewati mereka yang telah bergosip. Tapi, Al tidak mempedulikan para staff yang sedang bergosip itu.


Al saat ini, hanya memikirkan istrinya. Dirinya masih tidak rela, bila istrinya dekat dengan laki-laki lain. Perkataan Damar waktu itu, masih saja terus terngiang-ngiang dalam batinnya.


"Mas Damar. Harusnya, kamu nggak perlu ngomong begitu. Aku jadi makin jauh sama istriku."


"Huuh!"


Ada salah satu staff yang melihatnya, "Bapak mau buat kopi?"


"Iya."


"Silakan Pak Al."


"Kenapa dia nggak nyuruh OB saja. Ngapain juga bikin kopi sendiri?" Lalu staff pergi dan membawa secangkir teh hijau. Mencium aroma tehnya dengan penuh perasaan. Untuk merileksasi pikirannya selama lembur bekerja.


Setelah pulang kuliah, Gaby lansung ke rumah Darra untuk menjemput Arjuna. Kemudian, ia langsung menghampiri suaminya yang sedang lembur kerja.


"Selamat sore Pak."


"Selamat sore Bu Bos."


"Bapak ada di dalam?"


"Iya Bu Bos. Pak Bos ada di ruang kerjanya."


"Baik, saya akan kesana."


"Silakan."


Gaby yang sudah berganti pakaian lagi, ia memakai pakaian yang tampak lebih keibuan. Sambil mendorong stroller dan berjalan menuju ke lift. Setelah masuk lift menekan nomor 3.


Tidak lama,


"Ayah,..." Suaranya yang begitu gemas.


"Arjuna." Alvaro yang telah mendekat dan rasanya begitu senang, setelah bertemu jagoan tampannya.


Gaby mendekat dan ia berkata "Kita mau nemenin Ayah disini."


"Sayang, ini sudah jam 5. Kenapa kamu nggak langsung pulang saja? Kasian Arjuna, pasti jagoan Ayah udah capek."


"Emh. Memangnya kita nggak boleh disini?"


"Ya boleh sayang. Tapi, gimana Arjuna? Kalau dia capek. Disini cuma ada sofa."


"Tadi pagi Arjuna ke taman, terus di ajak pulang ke rumah Mami Darra. Makanya, habis mandi sore kita langsung ke sini."


Al yang sudah menggendong bayi tampannya, lalu berkata "Ya sudah, kalau kamu mau disini. Tapi, aku pulangnya malam."


"Iya."


Alvaro kemudian kembali bekerja dan Gaby menggedong bayi tampannya yang sudah tampak mengantuk.


Gaby sambil berdiri lalu menganyun dalam gendongannya. Gaby hanya menatap sang suami tampannya.


Hendak ingin berkata, kalau dirinya sudah kembali menjadi Nona Mahatma. Tetapi, dirinya takut mengganggu sang suami yang telah sibuk bekerja.


Gaby lantas keluar dari ruangan, sambil menggendong bayi tampannya. Ia yang berjalan ke arah pantry kantor itu.


Degh!


Gaby telah mendengar, sebuah obrolan mengenai suaminya. Yang begini begitu.


"Mereka lagi ngomongin suamiku. Ini nggak bisa dibiarin."


Gaby lalu membalikan badan, dan ia langsung berjalan ke ruangan staff.


"Hallo semuanya."


"Hallo Bu Bos."


Gaby tampak tersenyum manis dan bayi tampannya sudah mau bobo ganteng.


"Eh, bos kecil juga datang kesini."


"Iya. Ini mau bobok."


Semuanya melambaikan tangan, ada 8 perempuan dan 7 laki-laki. Mereka itu, adalah para kepala bagian dari tim kerja mereka. Lalu ada staff yang lain yang berada di lantai bawah. Gedung kantor 5 lantai, dan Gaby saat ini berada di lantai 3.


Ada sekitar 48 pekerja lembur di malam hari ini. Belum lagi, yang bergerak di lapangan. Ada ratusan pekerja yang bergerak cepat sesuai target.


"Wah, Bu bos emang lebih pengertian."


"Kalian tenang saja. Setelah sholat maghrib nanti, saya siapkan semuanya."


"Bu Bos, apa Pak Bos tidak keberatan?"


"Kalian tidak perlu khawatir soal itu. Nanti saya yang urus Pak Bos kalian."


Gaby yang kembali ke ruang kerja suaminya, ia mengambil ponsel. Mengirim pesan kepada seseorang.


Suaminya bertanya "Sayang, kamu lagi ngapain?"


"Pesan makanan."


"Owh iya. Aku mau makan malam sama kamu."


"Emh, oke. Aku masih disini. Nanti kita makan malam bareng para staff."


"Hah? Para staff?"


"Iya Mas. Emangnya kenapa?"


"Ya nggak apa-apa."


"Ayolah Mas. Menjalin hubungan baik dengan para karyawan itu penting. Oke."


"Kamu belajar dari siapa?"


"Kak Viral."


"Kak Viral?"


"Iya. Setiap ada lembur. Kak Viral selalu memesan menu hotel untuk para staffnya."


Gubrrak!


"Sayang? Kamu bilang apa? Menu hotel?"


"Iya Mas. Ini aku lagi pesan di Deluxe, cuma hotel itu yang dekat kantor kamu."


Suaminya tepuk jidat dan ia hanya bisa pasrah saat ini. Percuma juga memberi nasehat dikala istrinya ingin berniat baik. Nanti saja kalau di rumah, bisa dibicarakan saat berdua di kamar.


"Kantor Z yang begini. Malah disamain kantor Mahatma. Gaby, Gaby."


Penghasilan perusahaan ini, baru sekian persen, dibandingkan kantor utama Mahatma yang jelas-jelas jauh berbeda.


Kalau Viral lebih mengutamakan para staffnya, itu hal biasa. Kantin makan siangnya saja disediakan oleh ahli gizi, apalagi kalau cuma makanan hotel. Itu hal kecil bagi Presdir. Tapi, tidak untuk perusahaan Z yang hampir gulung tikar. Kalau bukan karena Damar dan Binar yang sedang bersaing saat itu, mana bisa Alvaro duduk di tempat ini.


"Gaby, Gaby. Coba kamu belajarnya sama Mas Damar. Yang ada kamu akan kayak aku sayang. Di tanem, di siram, di pupuk, sampai harus menghasilkan buah." Batin Al yang terus menggerutu.


Tapi, Alvaro juga sangat gemas. Merasa ada yang lucu. Entah, racun apa yang di sebar Viral untuk Gaby. Istri belia ini, bisa sampai percaya semua nasehat Presdir Viral.


Gaby dengan raut wajah yang berseri dan ia menimang buah hatinya dengan nyanyian lagu cinta.


"Kamu lagi jatuh cinta?"


"Iya, Mas Bojoku."


"Owh, sama senior kamu?"


"Mas Al, udah dong. Jangan gituin aku."


"Terus, sama siapa?"


"Ya sama suamiku, masa sama yang lain. Aku jatuh cintanya sama Mas Alvaro Putra Prasetya."


Alvaro jadi tersenyum gemas, lalu ia kembali fokus pada pekerjaannya.


Setelah tiba waktunya makan malam bersama staff. Ruangan lantai 4 sudah disulap bak menggelar acara resepsi.


Suaminya hanya bisa tersenyum saja, sambil menggandeng tangan istrinya.


"Kita makan dulu ya Pak Bos."


"Iya, silakan."


"Silakan, mari ambil sendiri ya. Tidak perlu sungkan. Mari silakan dinikmati makanannya"


"Bu Bos baik bener dah."


"Bu Bos mari makan bu."


"Bu Bos luar bias, ini kita berasa ke kondangan."


Setelah mengambil makan, para staff terlihat duduk di gelaran karpet.


Pak security " Bu Bos, pintu depan sudah saya kunci. Saya juga mau ikut makan."


"Monggo Pak. Mari silakan ambil makanan. Nggak perlu sungkan. Ambil semaunya Pak."


Mereka merasa heran, tidak biasanya Pak Bos bersikap ramah bagaikan tuan rumah yang sedang menggelar acara.


"Sayang."


"Iya Mas." Gaby mengerti dan ia segera mengambilkan makanan untuk sang suami.


Al yang mengikuti istrinya, tapi ini membuat perasaannya menjadi lebih tenang.


"Mas, mau makan dimana?"


"Di sini saja."


"Aku suapin."


"Nggak enak dilihatin staff aku."


"Biarin aja. Em, biasanya di rumah begitu. Anggap aja, kita lagi di rumah."


"Iya."


Setelah dari nikahan Ayu, mereka berdua sering suap-suapan.


Jagoan tampan terbangun, jadinya Ayah sambil memangku jagoannya dan disuapi sang Bunda.



Setelah makan malam.


"Selesai makan malam ini, kalian semua silakan pulang. Pekerjaan kalian bisa dilanjutkan besok."


"Yes!"


"Terima kasih Pak Bos."


"Terima kasih Bu Bos. Berkat Bu Bos, perut kita terasa kenyang, hati makin senang."


Gaby tersenyum dan perasaan Alvaro tenang.