ABYAZ

ABYAZ
Ini Bukan Cerita Billionaire



"Selamat datang Tuan Damar."


"Selamat datang Nyonya Abyaz."


Abyaz dan Damar tampak saling menoleh. Mereka saling menatap dengan kebingungan.


Abyaz dan Damar yang mendapat salam sambutan dari para pelayan wanita dan pria.


Mereka ada 12 orang dan mengenakan pakaian formal. Tampak rapi dengan kemeja putih, celana hitam untuk pria dan rok hitam dipakai wanita. Dilapisi rompi hitam serta dasi kupu-kupu di tengah kerah kemejanya.


"Ini rumah kalian berdua."


Stella dengan senyuman manis, tapi sangat tajam. Mengingat dia tidak bisa bersikap lembut.


Damar dengan mengembuskan nafas dan Abyaz mamandangi sekitar ruangan itu. Sangat terkesan modern, dan begitu mewah.



"Kalian bisa sholat dulu." Stella menatap kedua orang yang masih bingung itu.


Stella mendekati para pelayan yang masih berbaris rapi.


"Kalian antar Tuan dan Nyonya kalian."


"Baik Nona Stella."


"Mari Tuan." Pelayan pria.


"Mari Nyonya." Pelayan wanita.


"Perfect!" Batin Stella dengan segala ambisi yang ada dalam dirinya.



Damar yang bingung, mereka tidak akan satu kamar. Rasanya sangat aneh dan Damar menoleh ke Abyaz yang sudah lebih dulu pergi.


"Kita tidak satu kamar." Batin Damar yang tidak senang.


"Yes, Kak Stella. Aku padamu. Tahu aja apa yang aku mau." Batin Abyaz yang merasa senang.


Abyaz cukup takut akan kondisi Damar yang belum pulih, tadi saja tangan Damar sudah menjelajahi wajahnya. Sampai Abyaz merasa risih. Mungkin, obat kucing nakal itu memang masih reaksi.


"Nyonya, silakan. Ini kamar Nyonya." Suara pelayan itu begitu formal, dan sepertinya sangat terdidik.


Mereka berjalan dan Abyaz tampak memandangi interior kamar itu.



Berjalan ke kamar mandi, pelayan berkata "Ini ruang mandi Nyonya."


Abyaz hanya tersenyum tipis dan masih berlanjut lagi ke sebuah ruang ganti dan tampak elegan.


"Nyonya, baru ini perlengkapan yang disiapkan oleh Nona Stella."


"Iya..."


"Kata Nona Stella, nanti Nyonya bisa berbelanja sesuai keinginan Nyonya."


"Iya,.." Abyaz masih belum mengerti keadaan ini.



Dua pelayan wanita yang bertugas untuk mengatur ruang kamar, dan dia yang akan merapikan tempat tidur serta bersih-bersih kamar itu.


Dua pelayan wanita bertugas untuk mengatur segala keperluan pribadi Abyaz dari pakaian, alat mandi, make-up dan segala aksesoris yang diperlukannya.


"Nyonya, saya akan menyiapkan tempat sholatnya."


"Mari nyonya mandi dulu, saya sudah menyiapkan air hangat."


Abyaz bingung, hanya garuk-garuk alisnya, tapi tampak mengikuti saja perkataan pelayannya.


Satu pelayan yang memakai kaos tangan, sedang menyiapkan pakaian untuk malam ini. Mengambilnya saja harus memakai kaos tangan. Tidak sembarangan asal mengambil.


Abyaz menutup pintu kamar mandinya dan menatap ke arah cermin "Papa, Mama, Abyaz akan berusaha. Apapun keadaan yang akan terjadi nanti, Abyaz akan selalu menemani Damar."


Abyaz dengan gelisah, dia belum tahu apa rencana Stella. Tapi dia cukup menuruti apa perkataan Stella.


Stella yang ada di kamarnya, tampak senang. Senyuman manis, tapi penuh dengan misteri. Tidak ada yang tahu, apa yang sudah dia rencanakan untuk Damar.


"Kakek, Mama, dan benalu itu. Aku tidak akan menyerah." Batin Stella dengan meremas botol minuman kalengnya, setelah meneguk minuman soda dia juga akan beredam.


Stella akan menikmati air hangatnya, aroma lavender cukup menenangkan pikirannya.


"Anak bodoh itu, pasti hanya diam saja."



Di kamar dengan nuansa abu-abu. Damar masih memikirkan rencana Stella.


Bahkan saat di Sukoharjo, Stella yang mendirikan JS Corporation.


Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan barang import dari Korea dan China.


Berupa barang-barang harian seperti baju, sepatu, tas, alat rumah tangga dan aksesoris, juga ada kosmetik.


Damar hanya bekerja sesuka hati, mengingat dia hanya lulusan STM.


Damar sangat tidak peduli dengan yang namanya pendidikan tinggi, dia sudah cukup terkekang semasa kecilnya. Saat masa remajanya dia hanya bermain, dan bersenang-senang.


"Aku tidak ingin berakhir disini." Batin Damar yang masih duduk di atas sofa.


"Tuan, silakan mandi." Ucap seorang pelayan yang mendekati Damar.


"Saya akan siapkan pakaian Tuan."


"Baik Tuan."


Dua pelayan pria itu akhirnya keluar dari kamar Damar.


Damar yang berjalan ke ruang ganti dan rasanya sudah bosan.


Mengingat waktu kecil semuanya serba di atur, bahkan memakai celana dalam saja, sudah ada yang menyiapkan.



"Kak Stella pasti sudah tertawa puas."


Damar akhirnya mengambil bajunya sendiri, dan merasa geram dengan keadaan saat ini.


"Abyaz, kamu lagi apa?" Damar yang sudah disiapkan air dalam bath-up, tapi dia memilih mandi dibawah gemercik air.


Damar memutar keran shower dan lebih mengencangkan lagi. Rintikan air yang tadinya pelan, berubah semakin deras.


"Abyaz,...." Lirihnya, seakan desiran jantungnya berdetak lebih kencang.


Telapak tangannya sudah menempel pada dinding kamar mandi itu, sudah tampak menunduk dan tubuhnya yang terguyur air dari shower tampak macho.


Kharisma kelakian muncul, apalagi saat mendongakkan kepalanya. Tampak leher yang menggoda wanita, tapi sayangnya tidak ada yang melihatnya.


*Haluan tingkat tinggi


Wanita mana yang melihat tubuh Damar yang glow-up tidak klepek-klepek. Apalagi saat dia mengibaskan rambut basahnya dibawah shower, itu membuat para wanita merinding.


Sayangnya Abyaz tidak melihatnya, kalau dia melihat itu, pasti sudah berteriak histeris. Bukan karena Abyaz menyukainya, tapi dia jadi ketakutan saat Damar yang begitu garang. Ketika hasrat kelakiannya muncul jadi semakin bringas.



"Aku harus jadi imam yang baik." Gumam Damar dan mulai memakai sarung, baju koko dan peci.


"Apa Abyaz akan menyukai aku yang begini?"


"Ternyata mak lampir tahu selera aku."


"Aku semakin tampan."


Damar ternyata juga sangat narsis bila jatuh cinta. Entah, rasa apa yang sudah menghampirinya. Yang jelas, dia sangat bahagia, saat Abyaz menjadi sosok pahlawan dalam hidupnya.


Damar yang sudah terlambat sholat, dan tadi juga tidak sholat ashar. Tapi dia tetap menunaikan kewajiban 5 waktunya.


Di kediaman Lee Sung Hoon.


Cecilia yang menatap sosok sang Kakek. Lee Sung Hoon yang duduk masih menatap Cecilia dan tidak berkata apapun, padahal sudah setengah jam mereka berdua ada di ruangan kerja itu.


"Kamu sangat bodoh!" Ucap Kakek dan Cecilia menunduk diam.


"Aku sudah mengatur agar kamu bisa menjadi gadis yang berkelas, bukan dengan cara murahan seperti itu."


"Apa kamu pikir, dengan cara begitu. Eun Ho akan memilih kamu??!"


"Aku sudah berjanji dengan mendiang Kakekmu. Tapi, kamu sendiri yang membuat kamu jadi murahan."


Cecilia hanya diam, dia menyadari kesalahan yang telah dia perbuat.


"Aku tidak akan menyerah." Batin Cecil dengan sangat gemuruh.


"Kamu pergi saja dulu, sampai keadaan membaik. Aku akan mengurusnya. Pihak hotel memilih diam, dan bukti video itu sudah lenyap. Stella bergerak cepat."


"Kakek aku harus gimana?"


"Sementara aku akan mengirim kamu ke luar negeri."


"Baik Kakek." Cecilia lalu pergi dan merasa kesal dengan Stella yang tidak mau memihak dirinya.


"Anak-anak Melinda sudah bermain api denganku. Mereka pasti sudah tahu apa yang telah terjadi di Perusahaan."


Yang di Solo duduk di teras depan rumah, tampak wajah yang gusar.


"Mas, kamu kenapa?"


"Aku tiba-tiba kepikiran Abyaz."


"Tadi pagi mereka bertemu Owen, kita juga video call. Malah Giel sama istrinya juga ada disana."


"Entah, dari selepas sholat ashar, aku masih kepikiran dia, terus aku telfon Hpnya nggak aktif."


Britney tersenyum dan menunjukan ponselnya, "Lihat, baru saja anak kamu chat. Dia bilang, suaminya ada urusan kerja. Dia tidak jadi pulang malam ini."


"Nanti aku akan telfon dia."


"Mas, kita percaya saja sama Damar. Lagian Abyaz sudah sehat, dia tidak seperti waktu itu."


"Bukan itu yang aku cemaskan. Aku teringat waktu Abyaz selalu berbuat ulah. Kalau ribut sama Viral, anak kita tidak mau mengalah."


"Apa kita nyusul saja kesana? Sekalian jenguk Viral."


"Iya, Abyaz sudah bisa menahan dirinya. Dia sudah bisa menerima kenyataan. Kita juga harus bisa melupakan semuanya."


Ternyata sang Papa merasakan apa yang menimpa putrinya. Dia lebih peka akan keadaan Abyaz.


Britney tadi sore juga memecahkan cangkir saat berada di toko. Tapi, dia tidak ingin berfikir negatif tentang keluarganya.


Di dalam mobil, Cecilia bertemu seseorang yang tampan.


"Kamu berhutang satu nyawa."


"Apa maksud kamu?"