
Gaby berkata "Emh, keluargaku ada di Jakarta."
Disaat Gaby menjawab, bersamaan dengan suara ponsel Al yang telah berbunyi. Suara panggilan telephone terdengar nyaring. Al yang langsung menerima panggilan telephone itu, karena itu panggilan dari sang Mama.
"Siapa yang telephone Pak Al? Apakah pacarnya?" Batin Gaby yang penasaran.
"Masa iya, guru keren seperti Pak Al masih jomblo. Pasti dia cuma ngarang aja, biar bisa dekatin cewek lain." Bibir bawel itu tampak menggemaskan.
Al yang saat ini berada di depan pintu pagar rumah Gaby, dan tampak berdiri menatap ke arah rumah. Sorot mata itu hanya menatap ke arah Gaby, namun dia masih berbicara dengan sang Mama melalui panggilan telephone.
Sang Papa melihat hal lain "Mama, bukannya itu Al."
Sang Mama hanya sibuk berbicara dengan putra tampannya.
"Pak Romli tolong berhenti sebentar." Pinta Pras kepada sopirnya Abyaz, yang mengantarnya pulang ke rumah.
Mobil sedan hitam yang ditumpangi Pras berserta sang istri, sudah tampak berhenti di ujung taman dan tidak jauh dari rumah Gaby.
Panggilan sudah berakhir dan sang Mama menatap ke Papa, bertanya "Papa, ada apa? Ini kenapa kita berhenti?"
Meski lampu sekitar telah padam, tapi lampu mobil yang menerangi jalan itu begitu terang, sampai sang Papa tadi melihat putranya berdiri di depan rumah orang.
"Mama, tadi Papa lihat Al. Apa sekarang Al di rumah?"
"Iya Papa. Al lagi di luar. Katanya sebentar lagi pulang."
"Papa barusan lihat Al di rumah itu." Namun, saat ini Al sudah tidak terlihat.
"Mungkin Papa salah lihat. Listrik padam, pasti yang Papa lihat orang lain."
"Ya bisa saja Ma. Tapi tadi memang seperti Al. Di rumah sana itu tadi, depan ayunan."
"Mana mungkin Al main ke tetangga. Al aja nggak kenal tetangga sebelah, apa lagi yang beda RT Papa."
Sewaktu mobil itu masuk ke gerbang utama perumahan. Melihat sekitar komplek mati lampu. Sang Mama menghubungi Al, untuk memastikan kalau Al ada di rumah atau tidak. Karena, mereka juga lupa membawa kunci cadangan rumahnya.
"Gaby, aku harus pulang. Nanti aku kesini lagi."
"Gaby ikut."
"Kamu mau ketemu orang tuaku?"
"Emh, maksud Bapak?"
"Ya, sekalian kenalan sama mereka."
"Nggak."
"Kalau begitu, kamu masuk ke dalam. Terus, kunci pintunya. Nanti aku kesini lagi. Oke."
Alvaro berlari dan segera mengambil motornya. Namun, mobil itu juga belum pergi meninggalkan area taman.
Suasana hening, semilir angin malam, terasa seperti ada yang menatapnya. Gaby mengingat film horor, yang pernah dia tonton.
waaaaa...
"Mendingan aku ikut Pak Al."
Gaby berlari cepat mengejar Pak Al. Bahkan, ia mendorong kencang pintu pagar rumahnya, sampai terdengar tetangga sebelah.
"Pak Al, tungguin!!" Teriak Gaby yang nyaring dan Al masih berada di tempat parkiran motor.
"Tuh, ada yang panggil Al."
Sang Mama berkata "Mungkin Al yang lain Papa. Emangnya yang namanya Al cuma anak kita."
Akhirnya, mobil itu berjalan dan motor Al telah melewatinya. Laju motor gagah itu lebih cepat dan sang Papa sangat kenal motor gagah itu.
Ngeeeng!!
Sang Papa masih saja melihat motor putra tampannya itu.
"Siapa yang sama Al?" Batin sang Papa.
Malam gelap berduaan, menaiki motor gagahnya. Gaby juga tidak bisa pikir panjang. Apabila nanti bertemu kedua orang tua guru tampannya itu.
Gaby tiba di depan rumah Alvaro. Sudah tampak pagar besi hitam minimalis, tinggi pagarnya sekitar satu meter, terkunci rapat dengan gembok.
Rumah minimalis modern dan tidak jauh beda dari rumah yang ditinggali Gaby saat ini. Hanya saja, tidak semewah tempat tinggal Gaby. Rumah Al masuk ke area cluster, sedangkan rumah Gaby berada di barisan jalan utama komplek.
"Ayo masuk. Ini rumahku." Ucap Al kepada Gaby. Mereka masih memakai senter ponsel, untuk menerangi rumah.
Berjalan dari carport yang berukuran minimalis itu, menuju ke teras rumah.
Meski rumah itu terlihat sepi dan gelap, Gaby bisa merasakan kalau rumah Al sangat nyaman. Dari luar, terlihat tata letak parkir sepeda dan motor di carport, menoleh ke kanan terdapat teras, ada dua kursi kayu dan meja.
Gaby mengikuti Al yang membuka pintu rumahnya. Tidak lama mobil yang mengantar kedua orang tuanya telah tiba. Gaby menoleh ke arah mobil itu.
Al menoleh ke arah mobil "Itu Mama dan Papaku sudah pulang."
Gaby mendekat ke sebelah kiri Al, dan bertanya "Pak Al. Apa kedua orang tua Bapak, sama seperti Bapak?"
"Hemm, iya. Kan Mama Papaku. Aku anaknya. Ya sama."
Gaby bingung, kedua telapak tangan berubah dingin. Jantungnya berdebar dan merasa gelisah.
Pikiran gadis polos ini begitu rumit. Gaby melihat ada sosok perempuan berselendang, yang sudah berjalan ke carport. Masih menoleh ke mobil. Tidak lama sosok laki-laki menjijing koper kecil.
"Pak Al. Gaby pulang aja ya." Bisiknya, dan masih menatap ke arah orang tua itu.
Al membalas "Hem, apa yang kamu katakan barusan?!"
Pras yang menyoroti langkah istrinya, lalu ke arah teras dan senter ponsel Gaby masih saja menyala terang.
"Gadis itu?" Batin sang Papa, saat melihat Gaby berada di teras rumahnya. Meski riasan dan pakaian itu tampak merubah karakter wajah Gaby. Tapi, Papa yang satu ini, sangat teliti saat mengingat hal sensitif.
"Al..." Sang Mama mendekat lebih dulu dan tampak senyuman manis, saat ia melihat putra tampannya bersama seorang gadis.
"Kenapa tadi sore nggak bilang, kalau mau pulang?"
"Mama mau pulang besok. Tapi, besok pagi Papa kamu ada undangan pengajian di rumah Pak RT."
Britney beralih ke Gaby, "Kamu siapa?"
"Mama, dia." Al menyahut dan Papa Pras menarik Al untuk membawakan kopernya.
Gaby yang mencium tangan Britney, ia berkata "Saya Gaby."
Perasaan Gaby semakin tak menentu, saat mengingat perkataan Al tentang dirinya yang calon istri.
"Apa aku harus pura-pura?" Batin Gaby.
"Ini orang tuanya Pak Al, bukan kepala sekolah. Gimana caraku berakting?"
"Gaby, ayo masuk ke dalam."
"Gaby, disini saja." Balasnya.
"Tapi disini gelap, udah ayo masuk dulu. Ada lampu emergency. Enakan di dalam ngobrolnya."
Sang Papa sudah menyalakan lampu emergency dan ruang tamu menjadi lebih terang.
"Tapi, ini sudah malam. Gaby pulang saja." Ucapnya dan Britney malah memegang tangan Gaby, mengajaknya masuk ke ruang tamu.
"Kamu duduk sini. Kita bisa ngobrol."
"Tante? Aku jadi nggak enak sama mereka? Pak Al ada dimana?" Batin Gaby, yang merasa tidak sopan bila memanggil orang tua gurunya dengan panggilan Tante.
Papa Pras yang sudah selesai berganti baju, kemudian kembali ke ruang tamu. Melihat senyuman istrinya, ia tak ingin berfikiran buruk tentang gadis hotel itu. Tapi, saat mengingat Lingga dan gadis hotel, kembali mengacaukan pikirannya.
"Papa, ini Gaby." Ucap Britney yang sangat antusias. Akhirnya, sang putra tampannya, membawa gadis ke rumah.
Gaby mencium tangan Papa Pras. Papa Pras bertanya "Kamu masih sekolah?"
Gaby menjawab "Iya Pak. Saya masih SMA."
Britney mengedipkan matanya, gerakan bibirnya seolah berkata, jangan membuat anak ini takut.
"Kamu sekolah dimana nak?" Tanya Britney dengan senang dan wajah sang Mama ini, begitu bahagia.
"Saya sekolah di SMA Pesona." Gaby yang merasa gelisah.
"Kamu muridnya Al?"
"Iya Buk."
Al kembali dari kamarnya, dan ia berkata "Papa, Mama, jangan bikin Gaby takut. Dia di rumah udah ketakutan, disini malah dikasih pertanyaan aneh-aneh."
"Mama cuma kenalan." Balasnya ke Al dan beralih ke sebelah kanan "Iya kan nak Gaby, kalau Tante cuma kenalan. Apa Tante buat kamu takut?"
"Gaby tidak apa-apa." Padahal dalam hatinya, "Pak Al, Gaby harus gimana ini? Cepat anterin Gaby pulang."
Britney duduk di sebelah kirinya Gaby. Sofa berwarna coklat muda dan ke empat orang itu duduk di ruang tamu.
"Gaby, tidur sana di kamar aku. Besok kamu sekolah. Ini sudah malam." Ucap Al.
Sudah lewat jam 10 malam, seketika ruang tamu menjadi hening.
"Apa??! Tidur di kamar Pak Al?!" Batin Gaby.
"Sepertinya Al serius dengan gadis ini?"
Senyuman sumringah sang Mama.
"Pak Al, Gaby pulang saja."
"Mama, Papa, biarin Gaby nginep disini. Dia tinggal sendirian."
"Ya sudah, nak Gaby nanti tidur sini saja ya." Britney yang bahagia sampai heboh.
Pras tidak henti mengamati Gaby.
"Apa dia, gadis pilihan Al?" Batin Papa Pras semakin rumit. Saat ini, melihat wajah istrinya sangat bahagia. Disisi lain, ia masih memikirkan hubungan Gaby dengan Lingga Mahatma.
"Al, apa kamu sudah siap menikahinya?" Tanya sang Papa pada Alvaro.
Gaby syok "Hah! Menikah?"