
Gaby yang berada di depan pintu pagar, tampak tersenyum manis. Ia berdiri sambil memegang payung.
Perasaannya berubah gemas kesal, saat bertemu tamu yang mendatangi rumahnya.
"Eh, Kakak tertua." Gaby tampak menyengir dan masih berdiri di depan pintu pagar.
Viral yang datang dengan wajah garang, tampak menarik sebelah alis matanya. Sudah lebih dari 15 menit, Viral menekan bel pintu pagar itu. Gaby tidak kunjung membuka pintu pagarnya.
"Kakak, kenapa tidak telephone kalau mau datang?? Gaby keasyikan nonton film. Nggak dengar suara bel ini."
"Bel, kenapa kamu nggak rusak aja sih!" Batin Gaby.
Gaby yang pandai bicara, namun Viral sudah curiga. Gaby menghalangi pintu pagar rumahnya, tapi motor yang ada di carport terbuka, sangat jelas terlihat oleh Viral.
"Kak Viral. Kita sebaiknya ke restoran yuk. Gaby dari tadi belum makan nasi. Gaby pulang sekolah kehujanan, terus ketiduran."
Viral menatapnya "Bukannya, barusan kamu bilang nonton film."
"Opss, ini bibir salah muluk gara-gara kecupan Mas Al."
Gaby yang keceplosan manis, tapi dia tetaplah Gaby "Masku guanteng, kita ke luar saja. Gaby nggak ada makanan di rumah."
"Kamu punya pacar?"
"Nanti Gaby jelasin."
Gaby merangkul lengan kiri Viral, dengan manja dan menariknya cepat ke dalam mobil.
"Biar Gaby saja yang nyetir." Ucap Gaby dan Viral masih menatap ke arah rumah itu, dengan perasaan curiga, tapi Viral memilih diam.
Mobil sport warna merah dan Al tampak melihatnya, dari kaca jendela kamar di lantai dua.
"Mobil itu. Sepertinya aku pernah melihatnya."
Gaby yang telah mengemudikan mobil itu dan Alvaro mengingat kalau Gaby pernah berkata, Gaby tidak bisa menyetir mobil.
"Gaby. Apa yang kamu sembunyikan dari aku?"
Al yang tampak memikirkan tentang kerabat Gaby. Namun, sebelum Gaby pergi membuka pintu pagar itu. Gaby sudah berpesan kepada Al. Agar tetap di rumah itu, dan Gaby akan segera kembali.
"Sudahlah, Gaby istriku. Untuk apa aku curiga." Gumam Al, lantas menjatuhkan badannya ke atas tempat tidur. Ruang kamar minimalis di lantai dua, dengan nuansa putih kalem.
Kembali ke mobil sport yang melaju dengan santai. Gaby mengendarai mobil, menuju pusat kota, mencari restoran mewah.
"Kak Viral pasti sudah tahu ceritanya, jadi nggak perlu lagi tanya sama aku."
"Aku tidak tahu."
"Terus? Ngapain Kakak jauh-jauh datang kesini?"
"Cuma mampir aja, sekalian jenguk kamu."
"Dapat alamatku dari siapa?"
"Asisten Binar."
"Owh, Kak Andre."
Gaby yang kembali fokus pada jalanan dan Viral menatap ke arah pinggir jalan.
Viral calon duda keren. Bapak satu anak ini semakin hot dan mempesona. Meski sudah jadi bapak, tapi tidak pudar ketampanannya.
Viral yang menikahi Guru Liu, namun pernikahannya kandas karena problem pekerjaan. Guru Liu yang selalu fokus akan pekerjaannya, dan Viral sendiri yang hanya bersantai tanpa tujuan pasti.
Perusahaan yang di kelola sang Mama, harusnya bisa jatuh ke tangannya, tapi akan turun ke tangan Binar. Meski Mamanya masih menyandang nama Presdir, suatu saat kursinya bisa saja diduduki oleh Binar.
"Kakak ada masalah?" Tanya Gaby.
"Gaby, apa aku ini harus seperti Binar?"
Gaby berkata "Bukan harus seperti Kak Binar. Harusnya Kakak juga sadar. Budhe Limar nantinya tua. Kakak sampai digugat cerai. Terus, kalau Kakak mau jadi Papa yang keren. Kak Viral ya harus bisa kerja. Jangan mau dikalahin sama Kak Binar."
"Bukannya, kamu dukung Binar?"
"Entah. Gaby sendiri juga ada problem."
"Kamu kenapa?"
"Gaby sudah menikah!"
Duuarr!!
Kilatan petir diiringi suara dahsyat menggelegar.
Viral menatap Gaby dengan serius. Viral yang selalu menganggap Gaby kecil-kecil cabai rawit. Sepertinya, cabai rawitnya beneran menikah, tidak omong kosong.
Viral yang menatapnya "Kamu menikah? Itu tadi motor dia?"
"Iya, Gaby sudah menikah."
"Baguslah, ada yang menjaga kamu. Aku tidak perlu cemas lagi."
Gaby menepuk bahunya berkata "Ya sudah, terus ngapain jenguk Gaby segala??"
"Salah sendiri, sudah lama nggak kasih kabar. Kakak ke luar negeri juga nggak bilang sama Gaby."
"Ya, kamu tahu sendiri masalah Kakak sama Mamanya Noah."
"Rujuk aja, rujuk. Makanya jadi Papa yang bener. Jangan bisanya cari masalah."
"Siapa juga yang cari masalah. Kamu tahu apa soal aku."
"Gaby tahunya Kakak ya begitu. Makanya sekarang balik ke kantor. Kerja yang rajin. Fokus sama kerjaan. Terus ambil posisi Budhe Limar. Aku akan dukung Kakak."
Viral berkata "Ayo balik ke rumahmu. Aku tahu kamu sudah makan. Aku mau kenalan sama suami kamu."
"Oke."
Gaby sebenarnya tidak berniat untuk membohongi kedua belah pihak. Dia juga ingin berkata jujur kepada suaminya, namun kalau hal itu tiba-tiba dan langsung cerita begitu saja. Takutnya, akan ada yang kecewa.
Viral melihat sosok Gaby yang semakin bijak dalam bertutur kata dan Gaby telah banyak berubah. Bahkan, gaya penampilannya juga berbeda.
"Kamu kenapa pindah rumah?"
"Kak Viral tidak perlu bertanya."
"Apa Om Lingga, marahin kamu?"
"Tidak."
"Terus, apa masalahnya?"
"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Kak Viral juga tidak usah bilang sama Budhe soal Gaby yang pindah rumah dan sudah menikah."
"Owh, aku ngerti. Kamu pindah rumah pasti karena pernikahan kamu."
"Bukan begitu."
"Gaby, kamu hamidun??!"
"KAK VIRAL!!" Teriak Gaby dengan kesal.
Gaby meninju lengan tangan Viral.
"Gaby sayang, aku nggak bermaksud begitu."
Usia Viral sudah semakin tua. Bapak satu ini sifat usilnya memang tidak hilang. Dari penampilan dan gayanya juga tidak berubah. Semakin menarik dan fashionable.
"Kamu punya suami. Kakak malah ditinggal istri."
Gaby menggeleng saja, melihat tingkah kekanakan dari Kakak tertuanya ini. Meski sepupu tampan ini mempunyai sifat yang aneh, tapi dia peduli dan sayang kepada semua saudaranya.
"Aku kemarin baru pulang, terus ingin bertemu Noah. Tapi Liu mengusirku."
Rengekan Viral membuat Gaby bingung. Antara ingin memberi semangat, tapi sebenarnya ingin memarahi Viral.
"Sudahlah, nanti juga lama-lama terbiasa tanpa Noah."
"Gaby, kamu tuh belum tahu gimana rasanya dipisahin dari anak sendiri."
"Hemms, Kakak sendiri juga salah. Istri mana yang mau lihat suaminya sesuka hatinya sendiri"
"Kak Viral sabar. Semua ada waktunya."
"Tapi kalau Noah jatuh ke asuhan Liu, bagaimana aku?"
Gaby terkadang bisa melihat ketulusan Viral, namun dia tidak bisa menasehati Viral. Limar sendiri juga menyerah, dari kecil terlalu memanjakan Viral. Bahkan, disaat melangkah ke pelaminan dan hidup berumah tangga. Kesalahan Limar, selalu memberikan apapun yang Viral minta. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya, tidak lepas dari kerja keras Limar.
"Kak Viral, Gaby menyerah. Coba Kak Viral pecahin masalah Kakak sendiri. Kuncinya itu, ya Kakak sendiri. Orang lain tidak akan bisa membantu Kakak."
Dua orang yang berada di mobil ini, yang satu sudah usai 30an masih seperti kekanakan dan satunya usia belia tapi akibat masalahnya, ia malah berubah jadi sosok yang bisa berfikir lebih dewasa.
Viral Wayah Yuda, putra tunggal Presdir Limar Mahatma. Mahatma Corporation yang terkenal dari segala pejuru negeri. Terkenal kuat dalam bidang industrinya. Bukan hanya satu atau dua perusahaan yang dinaungi Mahatma Corporation, melainkan banyak perusahaan. Namun, pewarisnya hanya bisa lenggang kakung. Tidak mau belajar dari ibunya, atau saudaranya yang lain. Cuma sibuk dengan hal-hal yang tidak bisa menghasilkan materi, malahan hanya menghamburkannya saja.
"Gaby, apa kamu nanti juga ke Mahatma?"
Gaby berkata "Entahlah, aku tidak tahu."
"Kalau Daddy kamu masih hidup, mungkin saja kamu akan meneruskan Mahatma. Aku lebih suka, kamu yang duduk di kursinya Mama, bukan Binar."
"Gaby tidak mau tahu soal itu. Tapi, kalau memang itu harus turun ke anak dan cucu kandung Kakek Yuda. Gaby akan dukung Kak Viral."
"Gaby, kalau aku ke Mahatma, dan menempati posisiku. Apa kamu mau membantu aku?"
Gaby tersenyum, dan ia berkata dengan lantang "Selama itu yang terbaik untuk keluarga Mahatma. Gaby akan dukung Kak Viral. Gaby akan bantu pekerjaan Kak Viral. Gaby janji."
Viral tersenyum saat mendengar ucapan Gaby, dia membatin dalam hati "Gaby sudah dewasa." Suasana mengharu saat mobil masih melaju santai.
Sudah sampai bab 107, mau lanjut eh baper. Efek minggu lalu pulkam, semalam baru nyampe rumah. Selama liburan nggak nulis, jadi bingung sama jalan ceritanya. 😂
Yuks, kasih semangat ke othor gesrek ini ya, biar bisa lanjut lagi nulisnya. 🤗
Terima kasih 😚