
Jam 10 pagi di hotel mewah, terdengar suara jeritan seorang gadis dari kamar 107. Membuat tamu di sekitar kamar itu, melapor kepada pelayan hotel.
Gaby yang menjerit berulang-ulang dan kedua orang pria itu akhirnya menyerah.
"Bos gimana ini?" Seorang pengawalnya Darra.
"Kita bilang saja kalau dia sudah melarikan diri." Jawabnya santai dan mereka secepatnya pergi meninggalkan kamar itu.
Gaby berlari dengan cepat melewati koridor kamar hotel, dan saat berdiri tepat di depan lift. Gaby yang sudah tampak ngos-ngosan, tidak peduli akan penampilan dirinya yang begitu berantakan. Dari ujung rambut, bahkan sampai ia tidak memakai sepatu. Hanya kaos kaki putih yang masih melekat pada kedua kakinya.
Ting!
Gaby yang menunduk dengan wajah lesu dan perasaannya sangat tidak nyaman. Masuk ke dalam lift dan sudah ada dua orang yang menatapnya.
"Gaby!" Panggilan seorang wanita yang tampak memakai blazer putih. Begitu cantik dan terpancar kharismanya.
Gaby yang mengenali suara itu, ia menatap padanya dan berkata "Kak Abyaz."
Abyaz mendekat dan memegang kedua lengan tangannya. Menatap lekat wajah Gaby yang sudah tampak kacau. Bukan lagi seperti Gaby yang ceria nan manis, saat ia temui kemarin itu.
"Gaby, kamu kenapa?" Abyaz yang telah mendekapnya dan Damar yang ada di sebelahnya masih bingung. Ia hanya diam saat menatap ke arah Gaby, yang ada dalam dekapan Abyaz.
Gaby yang menangis dan masih dalam pelukan Abyaz. Damar menekan tombol yang ada di lift itu, ia bersama sang istri hendak menemui klien penting dari luar negeri. Namun, sepertinya dia harus membawa kedua perempuan ini di tempat yang aman.
Abyaz yang mengelus rambutnya dan ia berkata "Kamu yang tenang, ada Kakak disini."
Setelah pintu lift terbuka, Damar berkata "Sayang, ajak dia ke kamar."
"Iya." Balas Abyaz, kepada suaminya, dan ia mengajak Gaby keluar dari lift itu.
Abyaz berjalan dan masih merangkul bahu Gaby. Abyaz yang mengerti akan situasi ini, dan dihadapannya ada aspri serta para pengawalnya.
"Vivi, tolong hubungi adikku." Ucapnya dan Vivi mengerti.
Abyaz yang membawa Gaby dan sudah tampak didampingi dua pengawal pribadinya. Berjalan memasuki sebuah ruangan khusus dan Gaby masih tampak menangis.
"Kalian, tolong berjaga di luar." Ucap Abyaz kepada pengawalnya.
"Baik Madam." Balasnya dan mereka berdua siap menjaga pintu ruangan itu.
Tempat ini sudah dipesan khusus oleh Damar, selama menginap di hotel ini. Tamunya dari luar negeri, ingin sekali menginap di hotel ini. Damar dengan senang hati menyiapkan keamanan dan tempat khusus untuk mereka. Damar dan sang istri, tadinya hendak menyambut kedatangan klien penting itu. Namun, ada hal yang lebih utama, yaitu masalah keluarga. Damar dan Abyaz selalu mementingkan urusan keluarga dibanding hal lainnya.
Damar yang akhirnya menyambut tamunya seorang diri di depan lobby hotel itu.
Hotel berbintang nan mewah, berada di area puncak. Sangat jauh dari hiruk pikuk pusat kota. Hotel klasik ini, begitu menawan dengan pemandangan luar yang sangat menyegarkan mata. Pemandangan alam yang disertai kebun teh, terpampang nyata dihadapannya. Begitu tampak segar dengan udara yang sejuk.
Abyaz yang mendudukan Gaby di sofa. Melihat kaki Gaby yang hanya terbalut kaos kaki. Baju seragam sekolah yang tampak kucel, rambut yang tergerai begitu berantakan.
"Gaby, ada aku disini. Kamu yang tenang ya." Abyaz yang masih memeluknya dan mengelus rambutnya.
Vivi mendekat dan berkata "Madam, adik anda tidak mengangkat panggilan saya."
"Ya sudah. Tidak apa-apa." Ucap Abyaz dan Vivi kembali keluar dari ruangan itu.
Alvaro yang telah tiba di Golden Mansion, ia tidak mengangkat panggilan Vivi barusan. Dia hanya tertuju pada Gaby dan Darra.
Mobil itu telah berada di area Golden Mansion, Alvaro yang tidak basa-basi langsung menuju ke kediaman Darra.
Deretan bangunan modern nan canggih, dan Alvaro sudah cukup mengenal tempat ini.
Suara bel pintu yang telah diabaikan dan suasananya begitu sepi. Hanya beberapa pengawal ia temui di depan gerbang.
Ayu yang berada di mobilnya melihat dari kejauhan, "Bukannya, itu Mas Al."
Ia berusaha untuk memarkirkan mobil di samping mobil yang Al kendarai tadi.
"Darra, kalau sampai Gaby terluka. Aku tidak akan memaafkanmu." Al dengan wajah garangnya.
Ayu yang berjalan mendekat dengan senyuman manis, dan ia memanggil "Mas Al." Suara nan lembut dan terbiasa santai, saat berhadapan dengan Kakak sepupu tampan ini.
Ayu menggeleng dan ia malah berkata "Mas Al, memangnya ada urusan apa sampai mencari Darra?"
Al menatapnya tajam, lalu berkata "Adikmu sudah menculik istriku."
"Apa?? Darra menculik istrinya Mas Al?" Ayu yang tidak mengerti akan situasi ini. Ayu yang hendak berangkat ke kantor Mahatma, malah melihat Al yang berdiri di depan tempat tinggal Darra.
"Ayu, apa Mommy kamu ada di rumah?" Tanya Al, dengan gelisah.
"Aku tidak tahu, semalam Darra pergi. Terus Mommy, pagi-pagi tadi sepertinya juga ada urusan keluar."
"Breengsek!!" Al yang biasanya tidak mengumpat dengan suara keras, kali ini sudah tampak berbeda. Ayu bisa melihat wajah Al yang sangat marah.
Ayu bersuara kalem. "Mas Al, tolong ceritakan dengan detail, aku masih tidak mengerti."
Alvaro dengan tatapan tajam dan sangat serius, kedua tangannya memegang bahu Ayu "Darra sudah menculik Gaby!"
"Istrinya Mas Al, Gaby?" Ayu yang masih mencoba berfikir.
"Iya, Gaby istriku." Jawabnya.
Ayu merasa ada yang salah paham.
"Ayu, aku mohon sama kamu. Tolong cari tahu dimana keberadaan Darra sekarang."
Ayu berkata, "Iya, aku akan coba hubungi Darra."
Ayu dengan tenang dan situasi ini serba salah. "Istrinya Mas Al diculik Darra, dan istrinya itu Gaby."
Waktu malam itu, Viral tidak bercerita panjang lebar. Karena, Limar tidak mau mendengar apapun cerita itu. Ia hanya ingin menikmati makan malam keluarga tanpa ada masalah sedikitpun, jadinya Ayu dan Darra belum tahu, sosok suami Gaby. Yang tidak lain, adalah sepupu tampannya.
Ayu yang sudah mencoba menghubungi ponsel Darra, namun panggilannya itu tidak tersambung. Ayu berjalan mendekat dan Al juga tampak membaca pesan.
Ayu berjalan mendekat, Al malah berlari ke mobil setelah mendapatkan kabar tentang Gaby.
"Mas Al mau kemana?"
"Mau nyusul Gaby." Teriaknya, saat ia membuka pintu mobil.
Al dengan cepat menyalakan mesin mobil dan Ayu berjalan mendekat, dengan suara lembutnya berkata "Mas Al, hati-hati."
Ayu masih memegang ponsel di tangan kanannya dan melihat mobil itu telah melaju kencang meninggalkan area Golden Mansion.
"Jadi, suaminya Gaby itu? Mas Al!" Ayu yang masih terus saja berfikir. Namun, perasaannya menjadi tidak nyaman.
"Mas Al terlihat marah, pasti Darra tidak bisa dimaafkan." Gumamnya dan masih menatap mobil itu, sampai hilang dari pandangannya.
"Sabaiknya, aku berangkat ke kantor." Ayu ingin segera mengatakan hal ini kepada Binar. Baginya, Binar sosok Kakak yang baik dan perhatian.
Al yang dari tadi sudah geram dan ingin secepatnya menemukan Gaby. Setelah membaca sebuah pesan dari Abyaz, Al langsung meluncur ke hotel dimana Gaby berada.
Saat ini dalam pikirannya hanyalah sang istri tercinta. Tidak peduli kerabat atau saudara. Yang jelas, bila Darra terbukti sudah menyakiti istrinya. Al tidak akan segan membawa ini kejalur hukum.
"Minumlah." Ucap Abyaz, saat memberikan segelas air putih.
Gaby sudah tampak tenang, tapi ia hanya terdiam, belum berani untuk menceritakan kejadian tadi.
Gaby perlahan minum dengan perasaan lebih nyaman.
Abyaz yang menyisir rambutnya dan berkata "Sekarang, kamu bersama Kakak. Kamu tidak perlu takut."
Gaby merasakan sebuah kehangatan dan kasih sayang dari saudara perempuan.
"Aku sudah menghubungi Al, pasti dia akan segera datang."
"Kak Abyaz." Gaby kembali menangis, akan kasih sayang Abyaz.
Di rumah, Papa Pras juga hanya duduk di sofa dan berdiam tanpa kata. Berkali-kali istrinya menegur, hanya sibuk bertasbih dan sepertinya tidak ingin diganggu.