
Dua tahun kemudian, Beby yang telah menjadi bos perusahaan miliknya sendiri. Bersama Starla, dia mulai membuka usahanya sendiri di bidang fashion. Meskipun, tidak sebesar perusahaan keluarganya, Beby dan Starla sangat bangga pada apa yang mereka dirikan secara bersama-sama.
Sebuah pabrik untuk produksi produk. Sedangkan, yang berada di kantor ini hanya ada beberapa staff penting, serta Bu Bos cantik dan wakilnya.
"Pelan-pelan. Aku takut kamu brojol di kantor."
"Beby, ini baru 8 bulan."
"Bisa saja 8 bulan melahirkan."
"Hem, aku ingat. Kamu merasa senang dan sudah menang ketika menikmati malam pertamamu. Tapi, malahan aku yang hamil duluan."
Beby yang berkacak pinggang dan ia tidak terima akan perkataan sahabat mesranya ini.
"Ya jelas kamu membuahkan hasilnya. Kamu enak, setiap hari bisa di elus-elus suamimu. Aku dua tahun, cuma bisa memeluk guling."
Starla yang duduk di sofa dan menatap dengan senyuman "Kenapa kamu nggak nyusulin Arjuna kesana?"
"Aku nggak bisa. Kalau waktunya pulang, juga akan pulang sendiri." Ucapnya dan tampak biasa saja.
"Pasti, dia juga kangen banget sama kamu."
"Entah, aku malas juga kalau dia telephone. Biarkan saja, aku bisa bersenang-senang semauku tanpa meminta ijinnya."
"Ya, ya, ya. Aku sudah diminta cuti. Tapi, aku sangat bosan bila di rumah."
"Starla, aku juga ngeri kalau kamu sampai brojol disini."
"Kamu bisa membantu aku."
"Emh, aku nggak bisa. Aku aja kalau di suntik nangis. Apalagi bantuin Bumil lahiran. Aku nggak berani. Aku takut banget."
Ruang kerja minimalis dengan nuansa pastel. Beby dan Starla masih tampak berbincang.
Setelah kepergian Arjuna, Beby semakin menyibukan dirinya untuk bekerja. Tidak lagi dirinya bermanja dan membiasakan untuk serba bisa.
Menjalani hari-hari seperti biasa. Kerja di kantor, pulang ke rumah pribadi dan tampak rutinitasnya yang itu-itu saja. Sesekali, dia menemui teman-temannya yang di Butik Gloria. Sesekali, pulang ke rumah orang tua, dari rumah satu ke rumah yang lain.
Semisal, minggu pertama di rumah Mama Abyaz. Minggu kedua ke rumah Papi Binar di Pondok Indah. Lalu minggu ke tiga di rumah Bunda Gaby dan yang minggu ke empatnya. Dia habiskan waktu untuk berkunjung ke rumah Nenek kandung.
Semenjak masalah sang Arjuna. Beby semakin menjalin hubungan erat, dengan Nenek kandungnya.
"Terus, kalau suami kamu nggak pulang?"
"Ya sudah. Aku jadi single." Jawabnya begitu santai.
"Kalian sama egoisnya."
"Arjuna yang ninggalin aku."
"Tapi dia lanjutin kuliahnya."
"Ya sama aja. Dia nggak ngajak aku. Aku nggak mau nyusulin dia."
"Bener juga."
Starla lalu mengelus perut besarnya. Untungnya, tidak bayi kembar. Bisa-bisa dirinya juga akan kewalahan. Apalagi, Bintang sang suami tercinta. Sudah mulai sibuk di JS membantu Papa mertuanya. Meskipun, ada beberapa pelayan di apartemen yang siap membantunya. Tetapi, Starla tetap inginnya, sang suami bisa siaga untuk dirinya.
Sang Bulan purnama jarang sekali di apartemen. Bisa dihitung jari kalau bertemu dia, padahal tetangga bersebelahan tempat tinggalnya. Sayangnya, Bulan memilih bertamasya dengan suami brondongnya. Hobby yang sama dan tidak memikirkan hal lainnya. Couple ulzzang itu, sangat menikmati masa-masa indahnya pernikahan.
"Beby."
"Hallo Jimmy."
"Hallo Bumil."
"Ada apa?" Beby yang menatapnya dengan santai.
Jimmy yang sudah tampil beda dan ia juga sudah menikah. Dia bekerja di Mahatma, atas rekomendasi Pakde Viral. Tetap saja, nantinya kalau Arjuna kembali, Jimmy yang siap menemani dan mengatur jadwalnya.
"Ini surat dari Arjuna."
"Apa Bos kamu tidak bisa mengirim pesan singkat saja?"
"Beby, aku juga heran."
Beby merobek kasar amplop warna biru muda dan ia secepatnya membaca tulisan suaminya.
"Menyebalkan." Beby mengatakan hal itu, tapi bibir tipis nan manis itu, sudah tampak senyuman bahagia.
"Bilangnya aja nggak suka. Tetap mau baca." Goda Jimmy, yang tadinya hanya berdiri, dia menjauh mencari kursi.
"Jimmy, kenapa menjauh? Duduk sini sebelah aku." Ucap Starla.
"Aku cemas kalau dekat Bumil. Aku bilang sama istriku. KB saja. Jangan hamil dulu. Aku belum siap jadi Bapak."
"Lah, kenapa?"
"Ya istri kamu dong yang merawatnya."
"Bumil Starla. Tetap saja, saya dapat perannya. Kalau di rumah, bayi menangis, masa saya tega gitu aja. Duhh, pusing nantinya."
Starla yang tertawa dan memang sama seperti suaminya. Bintang juga bersiap untuk seperti itu, sayangnya pekerjaan di JS membuatnya pusing.
"Emh, nakal. Bilang aja nggak bisa pulang. Gitu aja, berbelit-belit." Ucap Beby dan ia melipat kembali kertas bertuliskan tangan sang Arjuna.
Jimmy bertanya "Kamu tidak kangen?"
"Ya kangen. Tapi, biar aja dia lama-lama disana. Aku bisa bersenang-senang."
"Aku juga kangen sama Bos. Aku sudah lama menunggu di ruang kerjanya. Sampai sekarang belum kembali juga."
"Satu tahun lagi, Jimmy."
"Lama bener."
Setelah hari itu, Arjuna bak ditelan bumi. Tidak ada jumpa pers, ataupun pamit kepada para penggemarnya. Bahkan setelah itu, Arjuna hanya mematuhi perkataan sang Bunda.
Semua keluarganya, juga tidak lagi ada yang berani membela Arjuna. Apalagi, Beby sang istri, tidak lagi berkomentar.
Sang Bunda, tidak bisa merestui Arjuna yang menjadi seorang aktor. Dari awal Bunda juga sudah tidak suka. Bunda sudah menyiapkan dirinya sedari kecil, untuk memimpin Mahatma. Malahan memilih jalan hidupnya sendiri, dan akhirnya jadi seperti itu. Hati Ibu mana yang bisa menerima. Sang putra yang dilahirkannya, sampai dilelang oleh para Nyonya.
Masalah lelang itu, berakhir di meja hijau. Pertarungan sengit, oleh pihak Nyonya 100 M dengan para Nyonya. Serta keluarga Mahatma dan keluarga Jisung, membuat laporan mereka sendiri-sendiri.
Papa Damar sang mertua, menuntut Nyonya penyelenggara acara serta media yang memberitakan hal itu. Keluarga Mahatma, menuntut semua Nyonya yang ada di tempat acara itu. Sama halnya Nyonya 100 M, pihaknya tidak terima orang-orang memojokkan sang Nenek ini, semua orang yang terkait acara itu telah dilaporkannya. Akhirnya, cek itu menjadi sebuah bukti, lalu setelah semuanya selesai. Uang itu, akhirnya diberikan untuk yayasan anak terlantar, secara resmi dan merata.
Yuk, flasback kepergian Arjuna kala itu.
Seandainya saja, dari awal dirinya itu mendengar perkataan Bunda. Dari bayi Bunda sangat menjaganya, sang Bunda juga tidak percaya dengan orang luar. Bahkan, secara bergantian para saudara membantu Bunda Gaby untuk merawat Arjuna.
Kedua tangan itu yang merawatnya dari lahir, menggendongnya, menggantikan popoknya, memandikannya, menjaga dan melindungnya dengan kasih sayang.
Seorang Ibu yang saat itu masih belia, mampu merawatnya dengan sepenuh hati, bahkan merelakan masa mudanya begitu saja.
"Bunda memang bukan ibu yang baik. Bunda tidak pandai mengajari kamu, untuk menjadi anak yang pintar. Bunda juga tidak pandai mengajari kamu untuk menjadi anak yang hebat dalam segala hal. Bunda juga tidak pandai mengajari kamu untuk menjadi anak yang sholeh."
"Bunda." Saat itu, sepanjang perjalanan menuju ke rumah. Arjuna tetap dalam tangisnya.
"Bunda yang saat itu masih muda. Bunda tidak banyak pengalaman untuk mendidik kamu. Setelah kian tumbuh dan kamu sangat aktif. Bunda percaya dengan Mami dan Pakdemu. Untuk selalu mengawal kamu. Mereka para pengawal yang selalu menjaga kamu. Tapi, dari tangan Bunda, kamu bisa berdiri, dan berjalan. Kamu yang bisa berlari kesana kemari. Bunda yang mendengar ucapan pertamamu, dan memanggilku unda, unda." Sang Bunda kembali meneteskan air matanya.
"Bunda." Arjuna yang memeluk sang Bunda.
"Sakit sekali, Arjuna. Hati Bunda sakit, melihat kamu diperlakukan begitu." Tangisnya menjadi tersedu-sedu.
Setelah itu, Arjuna berada di rumah dan dia hanya bisa merenungkan masalah yang tercipta karena dirinya.
"Ayah."
Sang Ayah duduk di sebelahnya dan memegang bahunya. Tatapan sang Ayah yang penuh luka. Kali ini, bukan lagi tatapan pembelaan untuk putranya.
"Kamu sudah membuat keputusan?"
"Sudah." Arjuna memutuskan untuk pergi jauh.
"Lalu, bagaimana dengan istrimu?"
"Beby pasti akan mendukungku."
Mendengar hal itu, sang Ayah hanya bisa terdiam. Walau bagaimanapun, Arjuna sudah mengemban tanggung jawab pada Beby Ayazma.
Arjuna yang kembali menangis, dan sang Ayah memeluknya.
"Kamu sudah dewasa. Tapi, kamu seperti anak-anak."
"Ayah, malam itu aku juga ketakutan."
Sang Ayah yang tidak kuat menahan rasa sesak dalam dadanya "Ayah akan menjaga kamu. Maafkan Ayah yang selama ini terlalu sibuk bekerja dan kurang memperhatikan kamu."
"Aku juga bersalah. Aku hidup semauku dan tidak mau mendengarkan ucapan Bunda."
Sang Bunda juga masih menyesal, dan tidak henti menyalahkan dirinya sendiri dalam mendidik putranya ini.
Jimmy yang sudah tiba di Butik Gloria. Menangis sesenggukan dan memanggil Beby.
"Beby, Beby."
Beby yang kala itu, bersiap untuk pulang dan masih bersama teman-teman kerja.
"Jimmy, ada apa?"
"Arjuna. Arjuna akan segera pergi."
"Pergi?"