
Seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada Ibunya.
"Aku memang bersalah, tapi putriku bukan anak haram."
Dia yang bersedekap dan mengetahui hal itu, tapi rasanya juga sudah percuma. Hanya bisa mendengarkan keluhan dari putra semata wayangnya.
"Putriku bukan anak haram seperti yang diberitakan. Aku menikahi Gisella di hadapan Bapak kandungnya." Ucapnya sekali lagi dan sudah tertunduk di lantai. Bahkan, Binar seolah membeli Gisella, karena Ibu tirinya meminta mahar yang sangat mahal dan mereka terus terang menjual Gisella dan keluarga itu juga akan menutup mulut. Sayangnya, Imel telah mengetahui pernikahan itu dari saudara tiri Gisella yang selalu memeras Binar kala itu. Imel sangat panas dan berkobar rasanya, bukan lagi karena Abyaz, tapi karena Gisella.
"Aku sangat menyesal. Aku tidak bisa menjaga Gisella. Aku sendiri yang telah menyerahkannya kepada Arman."
Tangisnya yang luar biasa, semua akan terbongkar dengan sendirinya.
"Aku tahu."
"Ibu. Aku sudah bersalah, aku mohon kembalikan putriku."
"Kenapa kamu mengatakannya kepadaku? Tidak, kepada putri kandungmu?!"
"Aku memang berniat menikahi Gisella, secara resmi bukan hanya menikah siri."
"Sebelum resmi bercerai. Apa kamu sudah mualaf?"
"Iya." Rasanya begitu sesak dan sang Ibu juga merasakan hal yang sama.
Hanya ada suara tangisnya dan sang Ibu masih tampak membelakangi dirinya.
"Aku jadi mengerti. Ternyata, kamu sendiri yang telah menukar mereka. Kamu sudah menyakitinya. Bayi itu cucuku, kamu sudah menyakiti cucuku."
Suara itu terdengar pelan, tetapi Stella bisa mendengarkan dari balik pintu. Rasanya sangat berdebar kencang. Suami yang selalu ini dia bantu, telah membohongi dirinya, bahkan selama 20 tahun.
"Bagaimana dengan Ibu?! Bagaimana Ibu bisa meninggalkan aku begitu saja?"
Semua rekayasa Binar buat sendiri, Gisella juga patuh padanya.
"Jangan tanyakan soal aku. Aku sudah menceritakan kisah wanita gelap kepadamu." Sang Ibu membalikan badannya, dan menatap wajah putranya dengan rasa sakit mendalam. "Karena hal itu, kamu menjodohkan putrimu sendiri?"
"Benar. Aku selalu berusaha untuk mengajak putri kandungku ke rumahku."
"Sudah puas, kamu membalaskan dendammu kepada rivalmu?"
"Aku tidak begitu."
"Jangan berbohong!"
"Benar. Aku sudah tidak dendam dengan mereka."
Sang Ibu yang telah kalah, tidak ada lagi ambisi, yang ada hanyalah dendam.
"Kamu benar. Aku yang salah, aku sudah bersalah. Aku yang membiarkan kamu hidup bersama Lingga Mahatma. Aku pikir, Lingga akan bisa mengasahmu seperti dia. Tapi kamu pendendam. Hati kamu penuh rasa dendam."
Ternyata, Ibu kandungnya sendiri yang merusak kehidupan Binar Jati Lingga. Binar yang hanya patuh dan menurut, tapi hatinya berubah menjadi dendam setelah semua hal yang diharapkannya sirna di depan mata. Pada akhinya, anak kandungnya sendiri yang menjadi korban.
Selama puluhan tahun ini, sang Daddy ternyata juga sudah mengetahui, kalau Binar adalah putra Jati Setya Atmaja, sang sahabat kecilnya, yang dinikahi oleh Bos Mafia dari seberang benua.
Perempuan muda nan lincah, yang pergi meninggalkan negara ini atas bantuan seseorang, lalu bertemu dengan Bos Mafia dan menjadi suaminya.
Saat tragedi pertama, dia yang sedang pergi bersama bayinya, ternyata di rumahnya ada tragedi pertumpahan darah.
Semua keluarga suaminya dan para saudara iparnya, telah dibantai oleh musuh suaminya karena dendam yang membara. Suaminya juga hanya bisa menyelamatkan Shin, yang saat itu baru lahir ke dunia ini.
Hingga akhirnya, perempuan itu kembali ke kota kelahirannya dan menitipkan pada suster yayasan, karena kedua orang tuanya tidak mau menerimanya. Jati Setya Atmaja mendapat kabar, kalau terjadi lagi baku tembak yang luar biasa dan mendapat kabar kalau akan ada orang yang mendatanginya dan menghabisi putranya. Dia yang tidak bisa berfikir panjang, dan hanya itu yang bisa dia lakukan di usia mudanya.
Setelah itu, hidup terpisah lama dengan suaminya. Ntah, dimana ia bersembunyi dan saat tragedi itu usai. Putra tampannya yang bernama Binar Jati Lingga, sudah menjadi remaja yang tampan dan saat bertemu, sempat tidak mengenali wajah putranya.
Perlahan, semua diketahui oleh Jati dan juga Lingga. Mereka bertemu di Jerman. Mereka saling membantu dalam dunia bisnis, mungkin sampai saat ini. Mereka juga menjalin kerjasama dan tidak diketahui oleh orang-orang di luar sana.
Karena itu pula, Binar sang putra angkat hanya mematuhi perintah Daddy Lingga. Bahkan soal wanita, sepertinya sudah di atur oleh Ibunya.
"Aku tidak akan memberikan cucuku kepadamu. Apalagi, kalau dia tahu, kamu sendiri yang menukar putrimu kandungmu."
"Ibu, aku mohon. Aku sudah menyesal."
"Pergilah. Aku anggap, ini kesialan malamku."
"Ibu, dia putriku. Aku ingin."
"Kamu ingin? Kamu ingin apa?! Kamu ingin membahagiakan Abyaz?!"
Diam, tak lagi ada suara dan tangisnya juga tak lagi terdengar.
"Kamu sudah menghancurkan hati para wanita. Abyaz, Gisella dan sekarang putri kandungmu. Lalu, bagaimana dengan istrimu yang sekarang??"
"Ibu."
"Pergilah, aku lelah."
Setelah itu, sang istri sah yang masih terikat perkawinan. Membuka pintu besar yang dari tadi sudah menghalangi mereka.
"Papi." Ucap Stella dengan tatapan sendu dan sang Ibu juga sudah menatapnya.
"Sayang."
Rasanya sudah tidak karuan, hancur sehancurnya perasaan mereka berdua.
"Sayang, aku bisa jelasin sama kamu."
"Sayang, aku mohon dengarkan aku."
Stella dengan wajah tegar dan tidak ada air mata. Meski rasanya begitu sakit dan hancur berkeping-keping.
Sang Ibu berkata "Kalian pergi saja. Aku lelah."
Stella berkata "Papi, selamat tinggal."
Sang istri pergi dengan berlari, dan sang suami masih tertunduk rasanya sudah tidak bertulang.
"Pergilah!"
Sang Ibu juga rasanya tidak punya hati, percuma sudah mengatur hidup putranya dan malah merusak perasaan banyak wanita. Hati mana lagi yang sudah tersakiti, karena masalah cinta pertama yang masih melekat dihati.
Mami Stella, yang memasuki mobil dan Papi Binar telah mengejarnya. Meski rasanya sudah percuma, tidak ada hal yang lebih berharga dari sebuah pengakuan.
"Stella, aku mohon."
"Lepaskan aku!!"
Stella yang berlaku keji dengan kuat mendorong suaminya dan Stella yang menutup pintu mobilnya, secepatnya menyalakan mesin mobil. Binar yang tidak lagi bisa berfikir melihat mobil pengawal yang hendak mengantarkan dirinya, sudah di kuasai olehnya.
Terus mengejar mobil istrinya dan sang istri yang tidak bisa mengeluarkan air mata, tampak terus mengebut dengan cepatnya. Tidak lagi peduli dengan hal lainnya, dan rasanya sudah hampa tiada rasa.
"Untuk apa masih terus mengikuti aku?"
Menambah kecepatan mobilnya dan tidak ada lagi rasa sayang seperti hari-harinya saat bersama. 20 tahun itu, sepertinya hanya bagaikan penawar dikala racun telah merasuki keseluruh tubuhnya.
"Binar, selamat tinggal." Ucap Stella dan ia semakin menambah kecepatan laju mobilnya, sampai tidak terkendali.
Memutar balik mobil itu dengan rasa yang tidak takut akan kematian. Dia menambrak mobil itu.
Daaassh!!
Kecelakaan terjadi, istrinya sendiri yang telah membuat kecelakaan itu. Suami sah di mata hukum dan agama, sudah tiada dan meninggalkan dunia ini, di tangan istri sahnya.
Setelah kabar duka itu, Stella tidak lagi menampakan dirinya, dan mengurung dirinya dalam sel penjara. Tapi, dirinya tidak menyesal dan berharap, putra yang dia besarkan. Tidak memiliki hati pendendam seperti suaminya.
"Binar." Ucapnya dan tidak ada air mata.
Keesokan hari, setelah pemakaman Binar Jati Lingga. Tidak ada yang berniat menemui Stella.
Stella sendiri, yang melaporkan dirinya pada pihak kepolisian, dia berkata karena hal pertengkaran dan terjadilah kecelakaan itu. Tapi, Stella tidak menceritakan detailnya.
Saat kematian sang Papi. Putri kandung itu juga tidak menampakan diri, bahkan Arjuna juga sama sekali tidak ada kabar apapun. Seolah telah menutup dan putus hubungan dengan keluarga besarnya.
Hari ke 7, setelah kecelakaan yang sudah merenggut nyawa suaminya.
Stella telah dijenguk oleh putra angkatnya, dengan rasa cinta yang ada untuk putra yang telah dibesarkannya.
"Pulanglah, pasti Arman juga ingin bertemu kamu."
"Mami."
"Aku bukan Ibu kandungmu. Tapi, aku selalu berusaha untuk memberikan segenap kasih sayang untuk kamu, Mirza." Ucapnya dan ada air mata yang perlahan menetes di pipi.
"Aku mengerti. Aku tidak akan meninggalkan Mami. Aku tetap putra Mami."
"Arman, dia Ayah kandungmu. Kamu tahu hal itu, kamu harus menemuinya."
"Aku sudah sering menemuinya, akhir-akhir ini, Cinta mengajak aku kesana."
"Bagus, kalau begitu."
Presdir Arman, adalah Ayah kandung Mirza Cakra Binar. Arman sendiri yang menyerahkan putranya kepada Binar. Mirza dari istri pertamanya yang sudah tiada. Saat menikahi Yuzra, Arman tidak berani mengajak Mirza tinggal bersamanya.
Pada akhirnya, Zolla kecil itu kembali berada di sekitarnya dan sudah menjadi menantunya.
"Mami, terima kasih untuk semuanya."
"Aku berharap, kamu selalu bahagia."
Di bagian akhir cerita, intinya sang Ibu tidak ingin anaknya menjadi Mualaf. Lingga, berbagai cara menjauhkan Binar dari Abyaz.
Sedangkan, Papa Pras tetap kekeh, mereka adalah saudara. Meski Binar serius. Dia harus mualaf. Ya, begitulah para orang tua itu mengaturnya putra putrinya. Yang pada akhirnya, cinta pertama itu melekat di hati, sampai maut membawanya pergi, meninggalkan dunia ini.
RIP Binar
Di ambil dari kisah nyata seseorang, yang mencintai cinta pertamanya dan ia menjadi pendendam karena kisah cinta pertamanya. Harusnya, othor nulisnya masa mudanya.
Damar Putra Mahatma saat sebelum meninggal dunia, dia sebenarnya juga sudah tahu, tentang cinta Binar kepada Abyaz.
Seandainya saja, Binar mempunyai pendirian dan kemantapan akan hatinya untuk Abyaz, seperti Ibu kandungnya yang tega meninggalkan dirinya. Pastinya akan bisa hidup bahagia, tanpa harus melalui masa suramnya.
Lalu, apa Stella baginya? Pemuas hasrat laki-laki, atau memang ada hal lainnya? Atau memang sudah berdamai dengan perasaan masa lalunya. Tapi, buktinya Binar tetap tega dan menyakiti banyak hati wanita.
Cinta itu menyakitkan bagi mereka yang merasakan, bagi Binar Cinta itu adalah pengorbanan.
Tiada yang tahu, isi hati seseorang, apalagi hati seorang Binar. Dia juga sangat menderita dalam batinnya yang terdalam.
Sekian dari othor, maaf bila ada salah ketik dan penulisan. 🙏🤧