ABYAZ

ABYAZ
Bab. 24. Mama Abyaz Merasa Bersalah



Semburat wajah yang tampak kucel dengan keringat mengalir lembut membasahi leher dan sebagian wajah cantiknya.


"Putriku, naik bus sampai berkeringat begitu?"


Tatapan itu, sangat sendu. Tangan kanannya sudah meremas sisi dressnya.


Gadis itu, tampak menunduk, lalu berkata "Nyonya, apa ada yang salah dengan pengiriman saya?"


"Iya. Salah."


"Mohon maaf atas kelalaian saya. Saya akan bertanggung jawab atas gaun itu."


"Iya. Kamu harus bertanggung jawab."


"Baik Nyonya."


Sesungguhnya, sang Mama sudah sangat rapuh saat melihat putrinya.


Kemudian, Beby menerima gaun itu yang ada di kasir. Sedikit robek di bagian dada. Beby mengerti, dia lalu mengambil sebuah gaun yang hampir mirip, namun dengan warna yang berbeda.


"Nyonya ini gaunnya."


"Apakah sama?"


"Model desainnya hampir sama. Hanya berbeda warna."


"Saya tidak suka."


Beby yang mengerti akan situasi ini, ada rasa sesak dalam dadanya. Teman kerja juga bisa melihat raut wajah Beby saat ini. Mata yang sudah berkaca-kaca dan tampak bersalah.


Temannya membantin "Kasian Beby. Kalau harus mengganti gaun mahal itu."


"Kenapa dia bisa begitu lalai, padahal tadi di cek nggak apa-apa. Perasaan tadi juga naik taxi. Apa dia coba dulu gaunnya?"


Madam Abyaz berkata "Gaun itu, meski sama bentuknya. Tapi, saya tidak suka warnanya."


"Saya mengerti."


"Kalau kamu mengerti. Apa kamu masih bisa memperbaikinya?"


"Tidak. Saya bukan desainer. Saya hanya pelayan."


Semakin rapuh hatinya, anak yang ia besarkan. Dari bayi dan sampai usia ini.


"Nyonya, saya bisa meminta bos saya untuk membuat lagi. Saya yang akan bertanggung jawab."


"Baik. Saya akan menunggu."


"Iya Nyonya. Saya berjanji, akan segera menggantinya."


"Saya akan tunggu di rumah saya."


"Baik Nyonya."


"Ini kartu nama saya."


Setelah menerima kartu itu, dan Madam Abyaz langsung pergi begitu saja. Beby juga meletakan kembali gaun itu di tempatnya. Dadanya begitu sesak. Dihadapan sang Mama, dia hanya seorang pelayan. Padahal dulu, ia sangat bercita-cita ingin membuat desain ruangan yang indah dan ingin memiliki bisnis sendiri.


"Putriku."


Sang Mama yang telah menangis dan terus berjalan ke mobilnya, asistennya sudah membuka pintu mobilnya.


"Cintanya Mama." Mama Abyaz yang menangis tersedu-sedu, putri yang dia rawat sepenuh hati, dari bayi dan sampai dewasa. Kenapa malah melihat dengan kedua matanya sendiri. Bahwa putrinya harus menjadi seorang pelayan.


"Sayang, maafin Mama. Mama bukan ibu yang baik."


Mama juga tidak tahu harus bersikap bagaimana. Meskipun kemarin waktu ulang tahun putrinya, mereka sudah tampak bahagia. Tetapi, melihat ini membuat hatinya hancur berkeping-keping.


"Maafin Mama."


Sang asisten yang tidak mengerti, lalu mobil itu juga sudah mulai melaju.


Rasanya begitu sesak, dan semakin lemas.


"Madam."


"Madam Abyaz."


"Madam Abyaz."


Madam Abyaz telah pingsan dan sang asisten yang duduk di sebelahnya langsung membaringkannya dan ia telah menghubungi dokter.


"Kita ke rumah sakit terdekat."


"Iya."


Karena, tempat ini masih jauh dari JS dan rumah. Sang asisten membawa ke sebuah rumah sakit terdekat.


Beby yang sudah kembali bekerja. Ia mengambil gaun itu. Lalu sang teman mendekat. "Kamu mau menggantinya?"


"Iya."


"Gaun ini harganya mahal."


"Iya."


"Terus, kamu gimana?"


"Tidak apa-apa. Aku memang salah. Aku harus bertanggung jawab."


"Iya, kamu yang sabar ya."


"Iya. Aku harus sabar."


"Semua orang punya cobaan. Kamu nggak boleh lemah. Harus tetap semangat."


"Kamu benar. Harus tetap semangat."


"Kalau uang kamu nggak cukup. Kamu bilang ya. Aku ada sedikit tabungan."


"Iya. Terima kasih. Sepertinya, uangku juga cukup." Di tasnya aja banyak duit.


Beby merasa bersalah, karena sudah berbohong. Pada saat berkumpul dengan kedua orang tua dan kakak kembarnya. Beby berkata kalau dia tidak kerja. Kerjanya hanya melihat model yang berganti-ganti busana. Terus, dia jadi bisa belajar soal tata busana dan semakin ingin menjadi konsultan busana.


"Konsultan busana? Apa itu?"


"Beby suka shopping, terus sekarang sudah mengenal mode dan gaya. Jadi, suka aja jadi pembaca mode dan membantu mereka-mereka yang kurang mengerti mode. Ya gitulah Mama. Pokoknya aku lagi senang begitu. Jadi pengamat gaya. Ini misal Kak Bulan, atasan pakainnya harus begini, terus yang bawahannya begini. Tas dan sepatu juga di cocokin. Nah, pokoknya gitu-gitu."


"Bagus juga ide kamu. Iya. Mama akan dukung kamu. Kamu harus bahagia dan ceria terus. Mama sayang banget sama kamu. Sekarang, Mama nggak akan lagi blokir kartu uang kamu."


"Nggak mau, aku udah terbiasa pegang uang. Nggak mau pakai card."


"Sayang, tapi bahaya kalau kamu bawa uang banyak."


"Mama tenang aja. Malahan orang nggak akan tahu. Lagian, aku memang terbiasa begini."


"Ya udah, kalau nggak mau dibuatin kartu atm lagi. Nanti Mama bikinnya kartu keluarga aja. Kamu jadi paling bawah."


"Kalau itu udah di urus sama Papa." Sahut sang Papa.


"Benar, Mama lupa."


"Aku udah punya mobil dari Kak Bintang."


"Kamu belum punya rumah." Tegur sang Bulan purnama yang memang bawel adanya.


Bintang berkata "Beby udah gede Mama. Biarkan dia memilih sendiri. Aku juga di aparteman. Bebas aja."


"Kamu anak laki-laki."


"Tapi Bintang anak Mama."


Kedua orang tua itu yang masih memangku kelapa anak kembarnya dan anak paling kecil di kartu keluarga berada di tengah-tengah mereka.


Itulah, waktu di hari ulang tahun anak tertukar. Mereka membahas masa depan Beby Ayazma, yang seolah anak baru lahir. Hanya ada akte dengan nama baru dan kartu identitas diri. Tidak ada ijazah yang mengangkat nama itu, karena ia tidak mau nama Zolla melekat pada kehidupannya. Bagi dirinya, nama Zolla adalah sebuah kehancuran.


Saat ini, Beby yang masih bekerja dan ia sudah merenungkan semuanya.


"Aku nggak salah. Aku cari duit halal. Aku akan coba bicara sama Mama."


Setelah 15 menit kemudian. Mendapat kabar kalau Mama sudah berada di rumah sakit.


"Beby kamu kenapa?" Sang teman yang memperhatikan dirinya.


"Aku harus ke rumah sakit. Mamaku sakit."


"Ya udah sana pergi."


"Iya."


Sang teman satunya, tidak terima saat melihat Beby yang sering ijin dan suka seenaknya sendiri.


"Kamu ngapain kasih ijin?"


"Ibunya sakit."


"Kalau dia pura-pura gimana? Biar nggak jadi nanggung gaunnya."


"Udah, biarin. Lagian, dia teman bos kita."


"Teman Bos?"


"Iya, dia dulu teman SDnya Bos."


"Owh, pantes aja dia dibedain sama kita."


Baru saja Beby pergi, tetapi Bunda Gaby datang dengan senyuman manisnya.


"Selamat sore, selamat datang di butik Gloria."


Mendengar suara itu bukan keponakan tersayang, Bunda Gaby langsung bertanya kepada pelayan.


"Mbak, saya mau tanya. Mbak-mbak yang waktu itu membantu saya mencari gaun, ada dimana ya?"


"Maksud Nyonya, Beby?"


"Iya, yang biasanya berdiri di sana, dekat pintu."


"Beby baru saja pergi."


"Baru jam segini udah pulang?"


Bunda Gaby lalu berkata "Mbak, saya mau nyari gaun yang model ini. Bisa tolong carikan?"


"Bisa Nyonya."


Bunda Gaby lalu mendapatkan gaun itu, tapi sang Bunda mendengar pelayan lain sedang membicarakan tentang keponakan tersayang.


"Mbak, kalau boleh saya tanya."


"Iya Nyonya."


"Memangnya, Beby pergi kemana?"


"Ke rumah sakit Nyonya. Dia tadi buru-buru kesana, soalnya Ibunya sakit."


"Owh, begitu."


"Ibunya??"


"Ibu kandungnya sudah meninggal."


"Ibu? Kak Abyaz sakit?"


"Apa ini gara-gara hubungan Arjuna dan Beby. Arjuna juga, udah dibilangin orang tua malah ngeyel sendiri."


"Mbak, saya mau yang ini."


"Baik Nyonya."


Mama Abyaz yang terbaring di IGD dan rumah sakit itu tidak jauh dari tempat ia bekerja.


Beby yang berlari menuju rumah sakit itu. Bagaimanapun, Mama Abyaz ibu yang merawatnya dan Mama Abyaz juga yang memberikan ASI untuknya sampai dua tahun. Meski dirinya kini terbukti bukan anak kandunganya, tapi cinta dan perasaan itu tetap ada di hatinya.


"Mama."


Setelah tiba di IGD dan melihat sang Mama yang sudah sadarkan diri.


Beby yang tampak mendekat atas persetujuan suster.


"Mama, maafin Beby."


Beby memegang tangan sang Mama.


"Mama."


"Cintanya Mama."


"Mama, jangan sakit."


"Mama nggak apa-apa. Mama cuma pusing."


"Aku minta maaf sama Mama. Aku sudah berbohong sama Mama."


"Bukan kamu yang salah. Mama yang salah."


"Mama jangan bilang begitu. Aku nggak mau jadi anak durhaka."


Mama Abyaz tersenyum, lalu berkata "Kamu ini ngomong apa. Mama salah, karena Mama nggak tahu kalau kamu sudah bekerja keras. Kamu sampai naik bus, jadi keringetan, pasti kamu capek."


"Iya, capek. Tapi aku senang."


"Emh, tadi Mama pikir pengantar gaun, pacarnya Papa."


"Aaa Mama."


"Iya, bener. Mama nggak kaget kamu jadi pelayan butik. Mama tadi beneran cemburu."


"Aaaa.. Mama bohong."


Sang Mama beranjak untuk duduk, dan Beby membantunya, lalu Mama minta Beby untuk memeluknya.


"Ayo pulang."



Cuma mau lihat, novelnya masih ada apa tidak. Soalnya, sudah 2 kali ditolak editor. Karena melanggar aturan. 🤭🤣


Mohon maafkan othor.