ABYAZ

ABYAZ
Murid Pindahan



Hari pertama masuk sekolah, di lingkungan yang baru. Perasaan manis bercampur aduk. Seketika Gadis belia itupun bingung, saat melihat semua murid di kelas itu hanya terdiam dan terpana. Lalu, ia kembali keluar pintu dan melihat papan nama kelasnya.


"Bener, ini kelas. XII BI.7." Selorohnya dalam hati, sambil bibir manis itu mendumel sendiri.


Semua kembali menatapnya dan ia tersenyum centil, lalu berkata "Hai semuanya, gue Gaby. Gue murid pindahan."


Hanya cowok berkacamata itu saja yang mendengarkannya, yang lain mulai sibuk merumpi sendiri.


"Jadi dia, murid pindahan itu."


"Cantik juga."


"Apakah dia artis?"


"Ah.. Nama mungkin."


"Eh, dia mirip Idol Kpop."


"Iya, bu Siska kemarin bilangnya dari SMA Bintang Utama."


"Kayaknya emang dia deh."


"Lagian udah kelas XII ini, ngapain juga dia pindah kesini."


"Mungkin aja ortunya pindah rumah."


"Bisa saja begitu."


Dan masih banyak lagi ulasan lain, yang dibicarakan para murid kelas XII BI.7.


"Hallo semuanya. Perkenalkan, gue Gaby, pindahan dari SMA Bintang Utama."


Seorang siswa berambut pendek dan tampak tomboy berdiri, lalu berkata "Bisa nggak ngomongnya aku, kamu, saya nggak usah pakai gue gue."


"Emh oke.." Dia tersenyum, dan tampak manis. Masih tetap berdiri santai. Ruangan kelas bahasa yang beruansa putih, dengan dekorasi dinding bergambar buku-buku. Adapula tulisan indah, yang menghiasi dinding ruangan tersebut.


Sesaat ia memejamkan matanya dan berdo'a dalam hatinya. Dia sosok yang manis, dan gayanya begitu feminine. Tingkah laku nan manja dan sedikit centil. Karena ada suatu insiden, mengharuskan dia pindah rumah dan sekolah.


"Hallo semuanya. Perkenalkan, nama aku Gaby Aurora Putri. Pindahan dari SMA Bintang Utama. Kalian bisa panggil aku Gaby. Aku tinggal di jalan Arjuna V. Usia aku sekarang 18 tahun, hobby aku nonton drama sama dance, makanan favorite aku bakso, minuman favoriteku es lemon tea, terus...."


"Cukup!" Seru, seorang siswi.


Ia tetap tersenyum, lalu berkata "Apa ada yang mau kalian tanyain sama aku?"


Cowok berkacamata berkata "Aku ketua kelas, namaku Ghani. Kamu duduk sana di kursi belakang. Nanti aku ambilin buku paket buat kamu. Terus, kerjakan tugas dari Bu Siska."


"Oke." Ia masih saja tersenyum manis dan terlihat centil, saat mengkode sang ketua kelas dengan jari lentiknya.


Berjalan dengan manis dan semua masih menatapnya. Lalu mereka kembali fokus pada tugas yang diberikan Ibu guru kepada mereka. Ketua kelas pergi dari ruang kelasnya, dan mengambilkan buku paket untuk tugas pagi ini.


Bel sekolah berbunyi, setelah 2 jam mata pelajaran Bahasa Inggris selesai. Gaby akan mengikuti jadwal pelajaran selanjutnya.


Gaby berjalan sendiri di lorong pelangi, yang menghubungkan antara gedung kelas ke gedung olah raga. Lorong yang berdinding pelangi, terdapat beberapa bingkai foto yang terpampang di lorong itu. Foto-foto murid yang mengikuti ajang kompetisi olahraga, banyak pula yang mendapat mendali kemenangan. Lalu, ada pula foto guru tampan yang tidak pernah memasang senyuman.


"Gaby,...." Panggilan dari sang ketua kelas.


"Iya Ghani." Gaby yang tampak berdiri.


Tadi, sewaktu berjalan sembari menatap ke beberapa foto. Sekilas, Gaby melihat ke sosok guru tampan itu. Sepertinya pernah bertemu. Tapi, ya sudahlah. Gaby sekarang menatap ke wajah Ghani.


"Ini kaos olah raga kamu. Ruang ganti di pintu sebelah kanan ya. Kalau yang kiri khusus ruang ganti cowok."


Gaby sambil menatap ke arah ujung, sudah terlihat pintu itu. Dia hanya mengangguk dengan tatapan manis. Kaos olahraga khas kelas XII BI. 7. berwarna lilac dengan garis pinggir warna ungu tua. Tercantum logo bintang-bintang yang bertuliskan nama kelas mereka, serta bawahan celana warna ungu gelap.


"Nanti, guru kita namanya Pak Alvaro. Pak Al sangat tegas. Kamu harus mengikuti setiap jadwal olah raga. Kalau sekalinya bolos, akan ada hukuman."


"Emh, tapi aku nggak bisa sepak bola."


"Ya sudah, nanti kamu masuk ke tim Yulia. Aku akan bilang sama dia."


"Apa, Pak Alvaro itu galak?"


Ghani hanya menggeleng, lalu ada teman yang mengajak Ghani pergi untuk berganti kaos.


"Pak Alvaro."


Gaby yang membalikan badan untuk menuju ruang ganti perempuan, tetiba dia menyenggol seseorang yang lewat di lorong pelangi itu.


"Sorry,," Ucapnya.


Deegh, tatapan itu terlihat tajam.


"Kamu!!" Tegurnya, seolah badai menerjang.


Gaby tampak menyengir dan mulai salah tingkah. "Hai, iya. Kita bertemu lagi."


Kedua pancaran mata saling menatap, ada rasa tidak suka. Namun ada getaran aneh yang dirasakan.


"Ngapain kamu disini?" Tegasnya. Suara itu begitu pelan, karena mereka berada di lingkungan sekolah.


"Aku??"


Dia masih menatap tajam, Gaby seolah tak berkutik.


"Aku, Aku se-ko-lah." Rasanya berdebar.


Dia-pun pergi.


"Kenapa aku harus bertemu dia lagi?" Batin Gaby.


Gaby merasa gelisah, namun dia masih menatap punggung itu.