ABYAZ

ABYAZ
Sudah Bertemu



Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan sang waktu terus berjalan. Sampai saatnya tiba nanti, akan ada hari yang dinantikan oleh seorang perjaka yang bernama Alvaro Putra Prasetya.


Sudah 3 bulan berlalu, namun Alvaro tetap saja belum menemukan tambatan hatinya. Masih seperti biasa, mengajar di sekolah. Suasana mengajarnya tetap sama. Bahkan, semakin hari kian tegas dan samakin rumit aturan yang dibuat oleh guru olah raga satu ini.


"Pak Al, ini bola basketnya banyak banget."


"Terus?" Al yang tampak memberikan hukuman.


"Kenapa bukan yang cowok-cowok aja sih Pak. Kayaknya aku terus yang di suruh-suruh." Cetusnya.


Sang guru olah raga hanya berdiri dan berkacak pinggang. Dalam hatinya merasa senang ketika menyulitkan Gaby.


"Makanya nurut, jangan sering bolos olah raga."


"Bapak tahu PMS nggak sih Pak?!"


"Semua perempuan juga begitu, tapi yang lainnya juga menurut."


Gaby yang memunguti bola basket yang berserakan di lapangan gedung olah raga. Tampak geram dengan gurunya yang satu ini, mau mengalah tapi lelah. Kalau Gaby bersilat lidah akan jadi panjang kali lebar. Nggak akan ada ujungnya dan semakin berat hukumannya.


"Ini sudah semua. Terus apalagi?"


Pak Al bingung juga mau menyuruh apa, "Dorong keranjangnya sampai ke gudang."


"Hems, ini masih dipakai nanti anak IA.5 Pak. Ngapain susah-susah dorong kesana."


"Ya kan masih nanti, ini masih jam istirahat."


"Pak, saya juga mau istirahat."


"Ya sudah, nanti nilai kamu dikurangi 2."


Alvaro berjalan pergi dengan menawan, Gaby semakin geram. Dia berlari dan mengejar Pak Al. Seketika berhenti dihadapan Pak Al. Kedua wajah bertemu, Gaby yang tidak tinggal diam.


"Silakan kurangi nilai saya." Mata yang melotot, tapi sangat menggemaskan. Al sampai tidak berkedip.


Gaby lantas pergi meninggalkannya dan Alvaro masih terdiam, ntah apa yang dia rasakan. Namun, Al tersenyum manis.


Teropong mengamati Pak Al, orang itu juga bisa melihat senyuman Pak Al. Meski hanya sekilas saja, namun itu sangat terlihat jelas.


"Apa aku bermimpi?" Gumamnya dan menampar wajahnya sendiri.


Gaby yang masih memakai kaos olah raga, terlihat ikat rambut yang sedikit berantakan. Ntah bau keringat atau tidak, Gaby tidak peduli soal penampilannya. Yang penting dia ingin segera mengisi perutnya, karena dari pagi belum sarapan.


Gaby sudah memesan makanan dan minuman, tidak biasanya dia makan nasi.


"Emh, akhirnya aku bisa makan." Dia menatap makanan yang sudah siap diatas meja dan ia tak lupa untuk berdo'a.


Gaby belum sampai menyantap makanan itu, genk kupu-kupu sudah duduk di hadapannya. Yang tadinya, telah di duduki beberapa siswa, mereka disuruh pergi.


"Enak juga makanan ini." Elsa yang telah mengambil piring itu.


Gaby menatap makanannya, "Huff!" Desahnya dan meraih minumannya. Namun Vika menjatuhkan gelas itu.


"Uups, sorry." Ucap Vika.


Semua juga bisa melihat, keonaran genk kupu-kupu. Namun, Gaby sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah kejadian waktu itu, Gaby diberi SP oleh kepala sekolah.


"Laper??" Cantika yang mengejek Gaby.


Gaby hanya menatap ke arah piringnya.


"Denger-denger dulunya tinggal di Mansion, kenapa sekarang ada disini?" Cantika yang sudah mencari tahu soal Gaby. Ada beberapa murid Bintang Utama, yang memberikan informasi ke Cantika melalui media sosial.


"Emh, apa karena sekarang sudah kismin?"


Gaby tidak ingin menghiraukannya, dia memilih diam.


"Aku tahu, karena itu. Kamu akhirnya menggoda Pak Alvaroku."


Gaby masih diam. Ejekan dari Cantika tidak akan membuat dia tertekan.


Elsa dan Vika mengeluarkan sebuah tablet. Lalu dia memberikannya kepada Gaby.


"Ini kamu??"


Gaby merasa tidak senang.


"Emh, anak baru gede udah mabuk. Hemms, gimana kalau pihak sekolah tahu ini?"


Gaby masih terdiam tanpa kata.


"Ini, beneran kamu kan?!" Cantika yang menujuk ke foto gadis belia yang menari di club bersama beberapa temannya.


"Pantes saja." Cantika tidak tinggal diam. "Pantes, menggoda guru tampan kita. Murahan."


Gaby berdiri dan bangkit dari kursinya. "Murahan??"


"Akhirnya mengaku juga."


Setelah itu, Cantika mengajak dua sahabatnya berjalan pergi.


Gaby yang masih berdiri dan menatap ke arah murid lainnya.


"Kenapa aku berbeda? Tidak bisa seperti mereka?"


Gaby, tidak akan pernah melupakan malam itu. Malam dimana ulang tahun yang meriah. Meski, beberapa teman telah mengajaknya ke hal yang tidak baik. Namun, dia memang tulus dan sayang teman-temannya. Saat ini, yang ada hanya kesendirian.


"Mommy, Daddy." Gaby berlari dari kantin itu menuju toilet perempuan.


Kenapa perasaannya mulai runtuh, saat ini tak ada lagi sandaran untuk dirinya. Pelukan dan kasih sayang itu seolah sirna. Yang ada hanya kenangan, saat masih bersamanya.


Gaby terisak di dalam toilet perempuan, masih di area kantin sekolah. Sudah terdengar suara bel tanda masuk sekolah. Jam pelajaran berikutnya sudah akan dilaksanakan. Namun, Gaby masih dengan suasana hatinya.


"Gaby kangen." Gumamnya dan masih menangis. Ia tampak menyandarkan kepalanya ke dinding toilet itu.


Guru pelajaran seni dan budaya sudah datang ke ruang kelasnya. Hanya Gaby yang belum memasuki ruangan kelas itu.


Ghani sang ketua kelas, menyerukan agar semua siswa berdiri dan memberi salam kepada gurunya.


"Siapa yang belum di kelas?" Bu Diana selalu memastikan muridnya, karena beliau tahu seusai olah raga biasanya ada yang terlambat masuk ke ruang kelas.


Seorang murid menjawab, "Gaby belum datang Bu."


Ghani menoleh ke belakang. Dia harus memastikan para temannya yang absen dan salah satu tugasnya adalah menertibkan murid kelas XII BI.7.


"Ghani, apa Gaby tadi sudah ijin sama kamu?" Tanya Bu Diana, saat hendak mengabsen murid kelas ini.


"Iya Bu Diana. Tadi Gaby masih diberikan tugas tambahan sama Pak Al dan setelah itu Gaby ke kantin."


"Baiklah. Sekarang kalian buka buku seni paket 4 dihalaman 24."


Bu Diana, mulai menjelaskan tentang membandingkan kolaborasi seni. Tidak lama, Gaby datang masih memakai kaos olah raga dan terlihat wajah segar karena air yang menguyur wajahnya.


"Maaf Bu Diana, saya terlambat."


"Cepatlah duduk."


"Baik Bu Diana."


Gaby dengan cepat mengikuti ajaran Bu Diana. Meski perasaannya tidak nyaman dan perutnya keroncongan. Gaby tetap mengikuti pelajaran seni dan budaya.


Setelah dua jam mata pelajaran. Gaby ijin kepada Ghani. Untuk absen di jam pelajaran berikutnya.


Bergegas mengambil bajunya di loker gedung olah raga. Pak Al juga melihat kalau Gaby tampak terburu-buru. Bahkan, terlihat menggendong tas.


Pak Al juga sudah selesai mengajar dan ia berjalan menuju ruangannya.


"Mau kemana? Bolos?"


Gaby terdiam.


Kruuk... Kruuk.. (Suara perutnya yang tidak bisa dikontrol.)


"Laper?" Tanya Pak Al.


Gaby menjawab "Pak, saya sudah ijin. Saya ada urusan."


Gaby bergegas pergi setelah mengambil bajunya. Pak Al masih melihat ke arah Gaby berjalan.


Selang beberapa menit setelah berjalan, sudah tampak jauh dari pintu gerbang sekolah. Gaby harus menaiki angkot merah. Sekitar 5 menit, dia turun di sebuah taman, sudah ada yang menunggunya.


Gaby langsung masuk ke sebuah mobil "Laper!"


Mobil sedan warna hitam mulai melaju, dan membawa Gaby pergi.


"Gimana sekolahnya?" Sambil mengelus rambut Gaby.


"Capek."


"Terus? Mau pindah lagi?"


"Iya, home schooling aja."


"Aku mau berteman, pengen jadi murid biasa." Menirukan gaya bicara Gaby.


Gaby yang hanya diam.


"Gaby."


Memejamkan kedua matanya dan bersandar.


"Katanya laper, malah tidur."