
"Owh, jadi kamu yang namanya Cantika." Ucap Britney.
Britney yang tersenyum, memandangi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dari penampilan Cantika dan riasan wajah Cantika, Britney bisa menilai sosok Cantika ini.
Cantika yang berdebar-debar. Ternyata masih ada secercah harapan untuknya menjadi menantu.
Emh, menantu idaman. Itulah yang ada dalam benak Cantika.
"Al, kamu susul Gaby ya." Ucap Britney.
Al berkata "Iya Ma."
Al pergi begitu saja dan Cantika masih menatap Al yang pergi.
"Nak Cantika sama siapa?" Tanya Britney.
"Cantika sama Mama. Itu di sebelah sana Tante." Jawab Cantika.
Ia menunjuk ke arah sang Mama yang sedang mendorong troli. Lalu ada adik yang duduk di kranjang troli dan tampak seorang suster di dekatnya.
"Itu adik kamu?" Tanya Britney dengan ramah.
"Iya Tante." Jawab Cantika.
"Adik kamu lucu ya." Ucap Britney.
"Iya Tante." Cantika yang masih senang.
"Ya sudah, saya mau pergi dulu. Kamu juga temani adik kamu ya."
"Iya Tante." Cantika yang tersenyum dan dirinya begitu senang.
Cantika dari kejauhan melihat Al. Al yang sudah berada di belakang Gaby.
"Yang ini aja cokelatnya." Ucap Al saat memegang cokelat bulat-bulat dengan isian kacang almond.
"Emh..." Gaby yang cemberut.
"Kenapa manyun gitu?" Al dengan manis memegang kedua pipi gemoy Gaby.
Cantika begitu kesal saat melihatnya dan berjalan ke arah mereka. Meski, hatinya telah retak, namun dia tidak gencar untuk mengejar cinta pertamanya.
"Pak Alvaroku." Batin Cantika.
"Mas Al gitu. Gaby, tuh ngerasa kesal."
"Kesal?"
"Iya. Habisnya Mas Al marah sama Gaby gara-gara drama tadi. Padahal, Mas Al sendiri begitu. Malah foto berduaan dan nggak ngerasa salah sedikitpun. Ini namanya nggak adil. Wek."
Al mendekatkan wajahnya dan mencubit hidung Gaby dengan gemas. "Iya, aku salah. Aku tidak tahu kalau kamu bisa cemburu."
"Hemms? Siapa yang cemburu." Gaby berjalan di sekitar rak cokelat. Sambil melihat-lihat cokelat mana yang dia inginkan.
"Aku tahu, kamu pasti cemburu." Al yang merangkul bahu Gaby.
Papa Pras lewat "Al, tahan. Belum halal."
Al tidak melepaskan dirinya, dan tangan itu masih di bahu Gaby.
"Bapak, Mas Al ini nyebelin." Gaby yang berusaha melepaskan tangan Al dari bahunya.
Cantika cemburu berat dan ia tampak menangis, berlari dari tempat itu. Bahkan, saat Mamanya memanggil, dia tidak menghiraukan Mamanya.
"Itu anak, kenapa lagi? Tadi maksa mau nganterin belanja, sekarang malah pergi gitu aja. Mbak jagain Boy." Ucap Seorang Mama, lantas menelfon anak sulungnya.
Cantika, tadi mendapat info dari Elsa, kalau Elsa melihat guru tampannya sedang berada di supermarket.
Kebetulan, sang Mama bersama baby sister hendak berbelanja ke supermarket itu.
Cantika yang berdandan manis, dan perasaannya begitu senang. Dia pula yang menyetir mobilnya dan bilang akan mengantarkan sang Mama berbelanja.
Emh, namun sekarang hanya air mata yang dia dapatkan. Bukan lagi perasaan manis, yang ada hanya kesal dan emosi.
"Al...." Suara sang Mama.
"Ibuk, ini Mas Al nakalin Gaby." Tampak mengadu seperti anak kecil.
"Mama tenang. Al Cuma gitu aja. Bukan nakalin." Ucap Al dengan santai.
"Sudah, ayo kita ke kasir. Keburu adzan maghrib."
Al kembali mendorong troli itu, Gaby memilih dekat dengan Britney. Seperti anak kecil yang takut dinakalin, Gaby juga memegang erat lengan kiri calon mertuanya.
Sang Papa mendekati Al, berkata "Kamu sepertinya, sudah siap halalin Gaby."
"Papa, jangan bahas lagi."
"Kalau sudah mantab, ya ayuk. Besok Papa siap daftarin ke KUA."
Al yang berjalan santai dan diam saja, Gaby menoleh ke belakang. Sekilas bermain mata dengan Al.
"Sepertinya, janur kuning siap melengkung di depan rumah." Sang Papa yang tidak henti bergeming.
"Hemm, dulu Mama yang selalu nyuruh Al nikah. Sekarang malah Papa yang nggak sabaran."
Papa berbisik "Al, pihak ketiga adalah ujian. Tadi, buktinya."
"Apa maksud Papa?"
"Ya maksud Papa, tadi itu ada gadis lain. Ingat Al, perempuan jatuh hati sulit dikendalikan, apapun bisa dia lakukan. Ya, termasuk seperti tadi."
"Iya Pa. Al paham."
"Aku lagi yang harus membayar ini." Desisnya dan memang dirinya yang sering di suruh belanja.
Gaby dan Britney menunggu di depan kasir. Al menggeleng dengan senyuman tipis. Gaby membulatkan bibirnya dengan gemas.
Britney tampak melihat ke arah kasir lain. Ada Mamanya Cantika, yang berdiri menunggu antrian kasir.
Al telah keluar dari kasir, dan menjitak pelan hidungnya Gaby.
"Ibuk, Mas Al nakal lagi."
"Al, tangan kamu nggak bisa diem ya."
"Week, dasar usil." Gerakan bibir tanpa suara.
Kasir berkata "Totalnya 980 ribu Pak."
Al mengeluarkan dompet dari saku, mengambil kartu atmnya, dan dia berikan kepada kasir.
Dengan cepat kasir melakukan transaksi, Al menerima kartunya kembali dan Gaby mengambil troli belanjaannya.
Gaby yang hendak mendorong troli. Al dari belakang kembali merangkulnya.
"Besok kita nikah ya."
Gaby melepaskan tangan Al dan berlari ke arah Britney.
"Ibuk, Mas Al nakalin Gaby lagi."
Papa Pras bertanya "Memangnya kenapa lagi?"
"Mas Al bilang, besok mau nikahin Gaby." Dengan polosnya berkata dan memegang erat lengan kanan Britney.
Britney tersenyum saja dan Papa Pras berkata "Kamu tidak usah takut, nanti biar Bapak yang urus."
"Bapak, tapi Mas Al suka nakalin Gaby."
"Nakalnya gemes, nggak apa-apa." Britney yang menyahut perkatan Gaby.
Gaby tersenyum, entah kenapa dirinya semakin betah dan akrab dengan Papa Pras ini. Apalagi dengan Mama Britney, rasanya mendapat kasih sayang seorang ibu.
Setelah di parkiran, Al yang menata semua belanjaan itu dan kembali ke pintu sisi kanan untuk mengembalikan troli supermarket.
"Bukannya itu Cantika."
Sekilas melihat sosok Cantika yang ada di mobil sebelahnya. Gaby yang hendak membuka pintu samping kiri. Dia masih menatap ke mobil sebelahnya.
"Apa dia beneran cinta sama Pak Al?" Batin Gaby yang memakai perasaan sesama wanita. Ada rasa kasian dan ingin menghiburnya.
"Gaby, kamu kenapa?" Tanya Al yang hendak masuk ke mobil.
Gaby menjawab "Nggak ada apa-apa Mas."
"Ayo masuk."
Al yang memperhatikannya, Gaby hanya diam dan sampai lupa memakai sabuk pengaman.
Al mendekat, Gaby menoleh. Wajah mereka begitu dekat dan saling pandang.
"Mas Al. Apa yang harus aku lakukan?"
Al memasang seatbelt Gaby, dan ia mengelus rambut Gaby. "Jangan banyak melamun."
Papa dan Mamanya, juga bisa melihat perhatian putranya itu. Ternyata sangat peka dan perhatian. Mereka begitu senang saat melihatnya. Apalagi sang Mama, yang saat ini memegang dan mencium tangan suaminya.
Mama Britney berkata "Papa, terima kasih."
Papa Pras mendengar hal itu, seolah itu adalah pujian untuknya. Bahwa dia memberikan contoh yang baik kepada putra tampannya.
Meski belum ke jenjang halal, Mama Britney sudah sangat bahagia. Dia hanya ingin membuktikan, kalau putranya memang laki-laki sejati.
Gaby masih terdiam, dan melihat ke sebelah kanan "Mas Al memang tampan, tapi aku belum siap menikah."
Gaby menoleh ke belakang, melihat kedua orang tua yang baik kepadanya. "Ibuk dan Bapak, sudah ingin Mas Al menikah. Tapi kita hanya berpura-pura."
"Mas Al." Panggilnya.
"Iya."
"Kalau Gaby bohong. Apa Mas Al mau maafin Gaby?"
"Hems." Yang sibuk mengemudikan mobilnya dan hanya fokus pada jalan.
"Ini soal, keluarga Gaby." Ucapnya.
Kedua orang tua Al mendengar hal itu. Namun, mereka hanya diam dan tanpa bertanya ini itu pada Gaby.
"Memangnya ada apa?" Tanya Al, sekilas melihat raut wajah Gaby yang sendu.
"Ya memang Gaby saat ini tinggal sendirian, tapi wali Gaby ada di Jakarta." Gaby dengan suara lembut dan Al kembali fokus pada jalan.
"Hem?"
"Mas Al. Gaby punya kerabat." Gaby dengan perasaan yang gelisah dan ingin mengatakan tentang kerabatnya.
🤗🤗🤗
Hallo semuanya 🤗
Mohon maaf bila ada salah penulisan dan tanda baca yang kurang tepat. Mohon maklum, othor nulisnya sedikit-sedikit, soalnya ini hanya haluan othor dikala senggang.