
"Mas,..."
Abyaz yang langsung memeluk sang suami. Damar yang tampak tidur tengkurap.
"Mas aku kangen. Aku salah. Aku minta maaf."
Sayangnya, sang suami benar-benar sudah tidur pulas. Damar bahkan, tidak mendengar apa yang istrinya katakan.
Di sebuah hotel berbintang, dan tidak jauh dari kantor JS. Tempat yang biasa ia datangi, saat ingin tidur dengan sang istri.
Abyaz lalu berbaring di sampingnya dan ia menyentuh bagian wajah sang suami.
Hidung itu, mata itu dengan bulu mata yang lentik. Lalu pipi itu, ketika senyum pasti ada lesung pipinya tampak manis.
Bibir manis suaminya, Abyaz yang telah meraba. Perlahan, sang suami sudah merasakan sentuhan tangan istrinya.
"Mm.. Aku ingin sendiri."
"Mas.."
"Kenapa kamu kesini?"
Perlahan kedua matanya terbuka dan sang istri sudah tampak cemberut di hadapannya.
"Aku ingin sendiri Abyaz."
"Sendiri?"
"Iya, sendiri."
"Kamu nggak butuh aku?"
"Nggak untuk saat ini."
"Serius kamu Mas?"
Damar memeluk bantal, dan ia berkata "Lagian, setiap malam aku cuma bisa meluk bantal. Ya udah, aku tidur disini. Aku mau sendiri."
Suara itu begitu sentimen dan Abyaz jadi berasa patah hati. Abyaz kembali meneteskan air matanya dan sang suami, malah membalikan badannya.
Abyaz memeluknya dari belakang "Iya, aku yang salah. Aku minta maaf."
"Mas Damar. Aku minta maaf."
"Mas Damar. Jangan giniin aku dong."
"Mas Damar. Aku cinta sama kamu."
"Aku sekarang lagi hamil, aku jadi sering cemburuan. Mas Damar juga harus ngertiin aku."
Damar yang tengah malas berdebat lagi, ia lalu berkata "Kalau aku yang terluka dan patah hati. Apa kamu bisa mengerti aku. Aku jelas-jelas melihat buktinya, bukan hanya sekedar tuduhan."
Abyaz berkata "Aku sudah minta maaf Mas. Mas Damar sendiri yang nyuruh aku buat ketemuan sama Binar. Tapi Mas Damar malah nyalahin aku."
Damar terduduk di atas tempat tidur dan masih memeluk bantalnya.
"Aku nyuruh kamu buat nyelesain masa lalu kamu. Bukan untuk pelukan itu."
Abyaz yang menatapnya dan ia juga duduk di hadapan suaminya. Dengan air mata yang mengalir deras.
"Mas Damar marah? Kesal sama aku? Ya udah, silakan marah. Kalau perlu tampar aku Mas? Tampar aja aku."
Abyaz yang meletakan telapak tangan suaminya, di pipinya. Damar dengan perasaan terluka, kecewa dan berdebar. Rasanya juga tidak bisa memarahi sang istri, apalagi sampai memukulnya.
Damar dengan kesal melempar bantal itu, ia langsung memeluk istrinya. Rasa amarah itu, telah kalah dengan air mata istrinya. Damar juga tidak sanggup lagi untuk berkata kasar. Ucapan tadi, bagi Damar sudah cukup. Tidak ada cacian dan hinaan, tapi Abyaz memang tidak bisa mengerti perasaannya. Begitu juga dengan Abyaz, ia memikirkan kalau suaminya sudah lama menghindar, bahkan ungkapan cinta darinya, sudah dianggap angin lalu oleh suaminya.
"Maafkan aku. Aku kilaf." Tanpa ia sadari, air mata itu juga luruh begitu saja. Damar yang masih memeluk istrinya, ia juga merasa terluka bila istrinya menangis dihadapannya.
"Mas, aku cinta sama kamu. Mana mungkin aku berbuat itu. Aku sudah bilang sama kamu. Aku nggak ada perasaan apapun untuk Binar. Aku hanya menggapnya sebagai saudara, tidak lebih dari itu."
Isak tangis Abyaz saat ini terdengar tersengal-sengal, keduanya dalam hati yang terluka. Rasa dalam dadanya begitu sesak dan ia sudah berulang kali menjelaskannya. Namun, sang suami tetap saja mengungkit soal Binar, Binar dan Binar.
"Sayang, aku juga terluka. Aku hanya ingin, kamu mengerti aku."
Abyaz terdiam dalam dekapan, perlahan suara tangisnya sudah mereda. Abyaz masih dalam dekapan sang suami.
"Mas, aku ingin bersamamu."
"Iya."
"Malam ini, kita tidur disini?"
"Iya."
"Mas Damar, jangan tinggalin aku lagi."
"Kenapa?"
"Mas, aku takut. Aku cemas. Aku gelisah."
"Iya."
"Aku tadi bingung harus gimana. Aku salah. Aku yang bersalah. Aku sudah nuduh kamu yang bukan-bukan."
"Kamu sudah mengerti?"
"Iya, aku sudah tanya sama Mas Emran. Aku jadi malu sama dia."
"Kenapa malu?"
"Ya malu aja Mas. Nggak enak. Bahas rumah tangga kita sama yang lain."
Damar menatap istrinya dan mengusap air mata sang istri. Begitu pula dengan Abyaz, ia juga menghapus air mata sang suami dengan kedua tangannya.
"Jangan nangis. Suamiku nggak boleh nangis."
"Kenapa nggak boleh nangis?"
Keduanya sudah tampak menempelkan hidung dan dahi mereka. Sentuhan itu, begitu lembut. Keduanya, menempelkan bibir mereka, bersentuhan dengan cinta. Semakin bersentuhan, dan menciumnya tanpa rasa sesak di dada. Berdebar dan rasa yang ada milik berdua, sebagai pengobat luka hatinya.
Kedua tangannya, memegang wajah sang suami. Dengan tatapan yang serius, Abyaz berkata, "Mas Damar Setya Ardana, aku cinta kamu."
"Aku cinta kamu."
"Aku sangat mencintai kamu."
Tampak mata yang telah berkaca-kaca. Abyaz meraih wajah itu, ia memulai dengan mencium bibir suaminya. Penuh perasaan dengan segenap rasa yang ada untuk suaminya tercinta.
Tangan Damar, perlahan meraih pinggang istrinya. Ciuman itu semakin merasuk ke dalam gairah yang berbeda.
Sentuhan dan rangsangan yang Abyaz lakukan sudah membuatnya terpacu untuk melakukan hal lebih lagi, tapi ia merasa tidak menginginkan ini.
"Sayang, aku lelah."
"Mas."
Abyaz hanya bisa melihat sang suami yang pergi ke kamar mandi. Setibanya di kamar mandi, Damar langsung saja mengguyur wajahnya. Dirinya, juga telah menyesal. Membuat istrinya sampai menumpahkan air mata di hadapannya.
Damar yang menatap cermin, ia berkata "Damar, ayo bangkit. Jangan seperti anak kecil."
Damar kembali mengguyur wajahnya dan sang istri sudah ada di belakang.
"Mas, aku sebaiknya pulang saja."
"Hem,"
"Aku mau pulang. Mas Damar, memang sepertinya butuh waktu buat sendiri."
Abyaz lantas pergi keluar dari kamar mandi. Damar kembali menatap ke arah cermin.
"Damar, jangan kejar Abyaz. Kamu butuh waktu sendiri. Oke. Jangan kejar dia."
"Haissh!"
Damar lantas berlari keluar dan melihat ruang kamar itu. "Abyaz benar-benar pergi."
Ia membuka pintunya, dan melihat sang istri yang berjalan melewati koridor kamar hotel itu.
Dengan cepat berlari, Damar mengejarnya.
Abyaz yang tampak berdiri menunggu lift. Ia sambil melihat ke arah ponsel. Ia juga sangat berharap, suaminya akan telephone.
"Aah." Terkaget.
Damar yang menggendong sang istri dalam dekapannyanya. Abyaz dalam hatinya tersenyum, telapak tangan itu juga telah memegang dada suaminya.
"Tadi, aku belum mengijinkan kamu pulang. Kamu main pergi aja."
"Emh, aku pikir. Kamu masih butuh waktu untuk sendiri."
"Mana bisa begitu. Aku capek. Seharian kamu bikin aku pusing. Aku juga butuh tukang pijat."
"Yee, emangnya aku tukang pijat kamu?"
Setelah di depan pintu.
Abyaz melotot lagi, "Nah, kita jadi kekunci di luar."
"Kamu tadi main pergi, ya aku lari aja ngejar kamu."
"Terus kita gimana? Masa aku mijitnya disini?"
"Panggil Vivi, suruh mintain kuncinya."
"Mm, aku nggak mau. Aku cuma tukang pijat. Mana bisa aku telephone Vivi."
"Sayang."
Abyaz yang tersenyum dan meledek sang suami, ia bawa kunci lain. Kalau tidak begitu, mana bisa tadi dirinya masuk ke kamar itu begitu saja.
"Huh."
Damar yang sudah menurunkan Abyaz dan ia jadi berkacak pinggang.
"Waah."
Abyaz yang sudah membuka pintu kamar, ia menatap suaminya. Tampak meledek.
"Mas. Kamu mau berdiri disitu aja? Atau aku yang menarik kamu masuk."
Abyaz menarik suaminya masuk ke dalam kamar. Menutup pintunya dengan rapat.
Setelah di belakang pintu, Damar membuat Abyaz terkunci. Damar dengan tatapan garang dan kedua telapak tangannya bersandar pintu. Abyaz sudah tidak bisa berkutik.
"Aku, aku cuma."
"Cuma?"
"Emhh."
Damar gerak cepat, menyosor manja dan Abyaz semakin terbuai, dibuatnya melayang.
Damar sekalinya dipancing, dia tidak akan tinggal diam. Bahkan, ia bisa membuat Abyaz semakin tergelincang dengan manjanya.
Aauuuu
Skip aja, dilarang mengintip ya. Ini area puber ke- dua. Tapi, sebenarnya belum puber ke-2. Melainkan, benih-benih cinta itu semakin menyebar dan berkembang biak. Nah, jadinya begini. Ada rasa yang tidak bisa di mengerti. Sakit, terluka, rasa cemburu, kecewa, jatuh cinta dan bahagia.
"Sayang."
"Iya Mas."
"Aku cinta kamu."
"Aaa Mas."
"Sayang."