
Setelah pagi subuh yang menggemaskan, sekarang sudah jam 9 pagi. Abyaz yang merias wajah tampak menatap cermin.
Meja rias yang masih terlihat baru, Abyaz yang memoles wajahnya dengan kesan natural.
"Untuk apa aku dandan. Aku cuma menemani dia. Lagian, aku bukan pekerjanya, untuk apa aku berhias."
Abyaz menghapus lipstiknya dengan tisue. Membuang ke tempat sampah dengan rasa sebal.
Damar yang baru keluar dari kamar mandi tampak tersenyum, dia masih dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Kenapa menatap aku?"
"Aku ingin memastikan, kalau teman hidupku tidak marah lagi."
"Sana, pakai baju."
"Kamu tidak mau lihat aku?"
"Nggak,... Sudahlah, sana ke ruang ganti."
Damar mengayak rambut Abyaz dan langsung bergegas ke ruang ganti.
"Udah rapi juga malah diacak-acak."
Abyaz kembali menyisir rambutnya dan tersenyum "Dasar pria nakal. Awas aja nanti, kalau bikin aku kesal lagi. Kamu tidak akan selamat dari penyiksaanku."
Abyaz memakai lotion, matanya menatap sinis pada cermin itu, seolah ingin berbuat ulah.
"Eun Ho???!"
"Jiiaah... Oppa??"
"Haaissh...Oppa apaan."
"Yang ada juga bikin pagiku kesal."
"Sungguh mata pagiku sudah ternoda gara-gara dia. Awas aja nanti kalau begitu lagi."
Lee Eun Ho adalah nama kecil Damar, sebelumnya memang namanya itu. Dan akhirnya ikut sang Ayah, lalu namanya berganti Damar Setya Ardana.
Arnada sendiri juga nama belakang Ayahnya. Abyaz juga tahu indentitas masa kecil Damar dan semua keluarga tahu, saat Erma menjelaskan tentang Damar Setya Ardana.
"Abyaz... Memang kebiasaan aku begitu."
Saat tadi mandi, Damar tidak mengunci pintu kamar mandi. Abyaz yang hendak ke kamar mandi. Dia tidak tahu kalau sang suami ada di kamar mandi, dan akhirnya mata Abyaz sudah tidak perawan lagi.
Damar tadi juga kaget, dan Abyaz sangat syok saat melihat Damar telanjang. Benar-benar sangat geram.
Dari tadi sepedaan Abyaz juga sudah kesal, dan ternyata Damar banyak penggemarnya.
Mereka gadis-gadis SMA yang hendak ke taman dekat rumahnya, tapi mereka juga melihat Damar yang memegang sepeda saat Abyaz menaiki sepedanya.
Ketika melihat gadis-gadis itu datang. Sepedanya di lepas begitu saja. Abyaz sudah sangat lama tidak naik sepeda, apalagi berat badannya sekarang bertambah. Dia jadi kaku saat bersepeda.
"OPPA SARANGHAE!"
"Hiish, mata itu cewek-cewek pada lihat apaan sih."
"Saranghae Oppa Eun Ho."
"Sekalian aja sana main film, pasti dapat duit banyak."
Abyaz yang tidak suka drama korea dan sangat tidak suka pria manis seperti Oppa Korea, tapi dia malah mempunyai suami keturunan Korea.
Abyaz berdiri dari kursi dan mengambil parfume. Menyeprotkan ke tangan dan menggosoknya.
"Ems, wanginya enak juga." Saat dia mencium aroma di pergelangan tangannya.
Berlanjut menyemprotkan ke leher dan dia merasa fresh.
Mata Abyaz melotot ke kiri. Ternyata Damar sudah berdiri di depan ruang ganti dengan ekspresi tersenyum nyengir.
"Sejak kapan kamu disitu?"
"Sejak tadi."
"Huuft.." Abyaz pergi merapikan tasnya dan Damar mendekatinya.
"Kamu anti sama aku? Atau sama para gadis tadi?"
Abyaz hanya diam, bibirnya sudah berubah manyun-manyun. Makanya Abyaz nggak suka pria manis. Punya Papa yang penuh pesona itu aja Abyaz dulu cemburuan.
Kecilnya Abyaz, ketika Papanya sedang ngobrol dengan tetangga atau siapa saja yang masih muda dan cantik. Abyaz sangat tidak suka.
Makanya dulu suka sama sang kekasih hati, karena dia pria kalem dan tidak suka tebar pesona. Ini baru nikah sehari aja, para gadis bagaikan kupu-kupu terbang mengelilinginya.
"Sudah marah-marahnya?"
"Siapa juga yang marah."
Damar memegang tangan Abyaz dan bertanya "Masih sakit tangannya??"
Damar yang memastikan Abyaz tidak terluka saat jatuh dari sepeda.
"Nggak." Jawab Abyaz dan sudah selesai merapikan tasnya.
Damar yang memakai pakaian casual, celana jeans, kaos tipis dan ditutup kemeja lengan pendek.
"Ayo kita berangkat." Kedua tangan Damar masih berada di saku celana.
Abyaz memberikan tangan kirinya ke wajah Damar dan berkata "Teman, aku akan menemani kamu."
Damar langsung meraih tangan itu dan mereka pergi.
Keluar dari kamar dan tampak bergandengan mesra.
Abyaz yang memakai dress tanpa lengan warna coklat muda, lalu di lapisi jaket jeans warna coklat lebih gelap.
Dress yang panjangnya diatas lutut dan sangat pas pada lekuk tubuhnya. Jadi terlihat begitu sexy, apalagi sekarang badannya begitu berisi. Kalau dulu, malah cenderung kurus, karena sering diet.
Mereka berdua sudah ada di dalam mobil BMW hitam. Hanya ada satu mobil itu di dalam garasi rumah. Memang garasinya juga hanya muat satu mobil. Kalau rumah sang Tante yang sebelah. Ternyata dua rumah dijadikan satu. Tadinya juga satu rumah, tapi beberapa tahun lalu, rumah sebelahnya di jual, akhirnya di beli Yogi dan di renovasi. Jadi tidak terlihat seperti dua rumah.
"Kamu bisa nyetir?"
Abyaz menggeleng saja dan tersenyum unyu-unyu.
Dalam keluarganya yang tidak bisa nyetir mobil dan mengendarai motor cuma Abyaz.
Dari kecil Abyaz memang sosok penakut. Makanya tadi naik sepeda saja bisa jatuh. Dulu memang bisa, itupun Pras sampai jenuh waktu mengajari dia. Setiap dilepas sepedanya itu, Abyaz menjerit dan meneriaki sang Papa.
"Aku pikir kamu bisa nyetir mobil."
"Aku nggak bisa apa-apa."
"Terus hobby kamu??"
"Entah,... Cuma suka dekorasi. Itu juga baru setahun ini."
"Dulu sukanya apa? Shopping? Nonton?"
Abyaz menggeleng, hanya dia yang tidak punya kesukaan yang menonjol. Alishba suka berenang, Alvaro suka main game dan basket. Main gitar itu juga hanya asal-asalan, tidak begitu pandai.
Padahal dulu, waktu ngidam hamil Abyaz itu, Papanya suka aneh-aneh. Mungkin dari itu, Abyaz malah jadi yang paling minus diantara para saudaranya. Nilai sekolah juga rata-rata. Dulunya cengeng dan semakin besar, jadi usil dan tengil. Olahraga juga tidak suka dan kegiatan wanita juga tidak suka.
"Entah, aku tidak minat apapun."
"Ke salon? Perawatan?"
"Aku tidak suka."
Damar yang tadinya fokus menyetir mobil, lalu mengelus rambut Abyaz.
"Ya sudah, aku cuma mau tahu aja. Biasanya perempuan suka belanja, perawatan dan jalan-jalan."
"Aku belanja sukanya online. Aku jarang keluar, kecuali beli sepatu atau lagi sama Mama, baru aku belanja. Aku malesan, belanja di rumah, tinggal bayar, barang datang."
Damar tersenyum, ternyata dari sikap garang Abyaz, malah dia anak rumahan yang jarang keluar rumah. Damar yang tadinya berfikir kalau Abyaz punya teman genk, atau suka menghamburkan uang untuk berbelanja.
"Ems, aku jadi tahu kamu."
"Kenapa?"
"Ya, aku jadi tidak perlu biaya banyak."
"Aku tetap belanja tapi di rumah."
"Iya, nanti aku buatin kartu khusus buat kamu belanja."
Abyaz tersenyum dan berakata "Ems, 5 juta cukup buat aku."
Damar tersenyum manis, ada rasa lucu dan menggemaskan.
"Hanya segitu??"
"Ya, biasanya Papa sama Mama, kasih ke ATM aku, segitu setiap bulannya."
Damar semakin gemas dan memegang tangan Abyaz. Lalu dia berkata "Ya udah, nanti aku kasih 5 kalinya. Terserah mau kamu pakai belanja atau nggak."
"5 kali?? Seriusan??"
"Nggak perlu segitu, aku jadi nggak enak."
"Kamu teman hidup aku, itung-itung itu gaji kamu. Soalnya, kamu juga harus temani aku kerja."
"Siaal... Bener kan dia ada maunya."
"Damar, tapi aku masih pengen kerja. Aku juga pengen punya tabungan sendiri."
"Ems, tapi aku nggak suka kamu bertemu cowok lain."
Abyaz cemberut dan berkata "Kan jarang klien cowok. Lagian, setiap aku ketemu orang, aku juga bilang udah nikah."
"Tapi waktu ketemu aku, kamu malah nangis."
"Itu kan, gara-gara kamu duluan yang cerita."
Damar tersenyum dan berkata "Ya udah, terserah kamu. Tapi, aku akan temani kamu."
"Terus, kerjaan kamu?"
"Aku kerja suka-suka aku."
"Hemms? Kok bisa?"
"Ya, kecuali ada hal penting. Jadi aku harus stay di tempat kerja."
Abyaz tidak mengerti tentang perkerjaan sang suami.
Sekitar 30 menit perjalanan, di pinggiran kota, terlihat pagar tinggi dan gerbang yang terbuka. Abyaz cukup melihat ke arah bangunan.
Ada 3 mobil box dan dua mobil apv serta mobil porsche putih yang terparkir di tempat parkiran mobil, lalu ada beberapa motor yang terparkir rapi.
Tampak luas dan halamannya juga luas, ada satu pohon mangga.
"Ini tempat kerja kamu?"
"Iya, nanti kamu bisa lihat sendiri."
Abyaz melepas seatbeltnya dan Damar tersenyum melihat raut wajah sang istri.
Tampak kantor dengan logo JS, terdapat sebuah bangunan modern tiga lantai yang berada disisi kiri, lalu ada seperti gudang besar dan terletak di sebelah kanan.
Damar yang mengajak masuk Abyaz dengan menggandeng tangannya.
Abyaz tersenyum manis saat bertemu orang yang tampak seperti security dan ada 5 orang dengan pakaian sama.
Mereka masuk ke kantor itu, ada seorang wanita seperti resepsionis, dia tampak menyapa mereka berdua.
Damar mengajaknya ke lantai atas, di lantai bawah juga ada beberapa ruang, terlihat dari pintu-pintu ruangan itu.
"Kamu capek naik tangga?"
"Nggak. Aku sudah terbiasa."
Damar tersenyum dan tiba di lantai dua, bertemu beberapa karyawan, tampak para pekerja yang sedang rapat di ruang terbuka, tapi terlihat santai.
"Ini hari minggu, kenapa mereka bekerja?"
"Apa olshop bisa tutup dihari minggu?"
"Emm, olshop?"
Damar mengajaknya untuk naik lagi ke lantai tiga, dan menatap Abyaz yang masih bingung.
Melihat ruangan tampak dengan sekat kaca, terlihat beberapa karyawan yang fokus pada layar komputer, lalu ada dua ruang tertutup yang bertuliskan CEO dan satunya Bos muda.
"Bos muda?"
"Hems, kenapa?" Tanya Damar yang menatap wajah Abyaz.
Pintu ruangan itu terkunci dengan kartu.
Setelah Damar membuka pintu itu, mereka berdua masuk ke ruangan.
Ruang kerja modern, hanya ada satu set meja kerja dan sofa. Mejanya juga tidak ada apapun, lalu ada sebuah lemari kayu bersusun, berisi map dokumen yang tertata rapi. Ada pintu ke arah balkon yang menghadap arah gudang.
"Abyaz..."
"Iya..."
Damar yang sudah selesai membuka tirai dan pintu ke arah balkon, lalu memegang wajah Abyaz dengan gemas.
"Ini pekerjaan aku."
"Iya,..."
"Iya??"
"Iya, aku sudah mengerti."
"Baguslah, kalau sudah mengerti."
Tidak lama ada seseorang yang membuka pintu.
"Uupps, sorry."
"Kak Stella_"
Sosok yang begitu cantik, Abyaz yang menatapnya dan wanita cantik itu tampak memandangi Abyaz.