
Abyaz yang masih di kafe tampak menoleh ke sekitarnya.
"Aku terlihat seperti gadis yang baru saja dicampakan."
"Damar Setya Ardana, kamu sudah keterlaluan."
"Lihat saja, kalau kita sampai bertemu lagi."
Abyaz lalu berdiri dan mengalungkan tasnya. Berjalan dengan rasa malu dan perasaannya juga sangat kesal.
Sudah jam 11 siang, dan mencari sang Papa yang ada di toko buku.
Abyaz yang berjalan dan menerima pesan.
[Senyum dong 😊.]
[Abyaz Ingat! Nanti malam aku ke rumahmu. Kamu jangan pergi kemana-mana.]
"Hiissh, aku harus jaga toko. Siapa dia, larang-larang aku. Mau datang, ya udah datang aja."
"Huuft!"
"Dia masih disini??" Abyaz melihat ke sekitarnya.
"Kenapa bisa tahu aku cemberut." Abyaz merasa bingung, dia tidak bisa melihat Damar.
Damar juga masih ada dibelakangnya dan menatapnya dari kejauhan. Lalu dia segera pergi, sebelum Abyaz melihat dirinya.
"Abyaz lucu juga." Gumamnya dan berjalan ke arah parkiran mobil.
Britney yang mendorong troli belanjaan juga menuju ke arah parkiran. Damar yang berjalan melewati Britney, dengan gaya yang manis dan masih tersenyum. Lalu Damar menoleh ke arah Britney dan menghampirinya.
"Tante mau ke parkiran?"
Britney tersenyum dan berkata "Iya saya mau ke tempat parkir."
"Saya bantu Tante." Ucapnya yang tidak basa basi.
Britney hanya mengangguk. Lalu Damar berjalan mendorong troli itu dan Britney melihat ke arahnya "Pemuda yang cukup baik."
Pras juga sudah selesai dari toko buku dan keluar dari toko itu. Tadi istrinya sudah menelfon dan dia segera pergi menuju ke parkiran.
"Papa."
"Pertemuan kamu sudah selesai?"
Abyaz memegang lengan kiri sang Papa dan berkata "Sudah Pa. Tadi cuma bahas biasa aja."
"Ya udah, kita pulang. Mama sudah ke parkiran."
Papa dan anak itu tampak harmonis, tapi kadang orang salah mengira, jarang anak gadis yang menempel dengan sang Papa. Jadi, orang yang tidak tahu, mereka langsung ke arah negatif, dan mengira pria nakal dan sang madu.
"Papa, nanti malam Abyaz ada janji sama teman."
"Emh, teman?"
"Iya teman baru kenal."
"Cowok?"
Abyaz menghentikan langkahnya dan bertanya "Kenapa Pa?"
"Nggak, Papa cuma ingin tahu aja."
"Iya cowok. Ya ini tadi, soal dekorasi."
"Ya udah, nanti biar Mbak Yuli lembur."
Abyaz berjalan lagi dan menyandarkan kepalanya ke bahu sang Papa.
Britney yang sudah di area parkir mall itu. Tepatnya ada dilantai 4 dan Britney merasa senang ada yang membantunya.
Setelah sampai di parkiran mobil Britney.
"Tante, saya permisi." Ucapnya dan segera pergi.
"Pemuda yang manis." Ucap Britney, lalu berkata "Aku juga ingin Abyaz kembali seperti dulu dan segera mengenal pria."
Britney membuka bagasinya dan tidak lama sang suami dan putrinya tiba.
"Mama Abyaz aja." Ucap Abyaz dan membantu sang Mama merapikan kantong-kantong belajaan sang Mama.
Pras langsung ke tempat kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.
"Mas, tadi aku bertemu pemuda yang manis." Ucap Britney yang sudah duduk di kursi sebelah kemudi, dan sedang memakai seatbelt.
"Pemuda manis?"
"Iya, tadi dia yang bantuin aku dorong troli."
"Emhs, baru kali ini kamu memuji pemuda lain." Ucap Pras dengan tengilnya.
Britney menepuk bahu suaminya dan berkata "Seandainya saja bisa kenalan sama Abyaz."
Pras hanya tersenyum, karena Abyaz tidak lama masuk ke dalam mobil.
"Papa, ayo jalan."
"Iya sayang."
Abyaz membuka buku yang di beli Pras tadi, lalu berkata "Papa beli banyak buku."
"Iya... Kadang Papa juga jenuh kalau nggak ada kerjaan."
Mobil itu sudah melaju dan akan keluar dari parkiran mall itu.
"Mama tadi bilang apa? Aku dengar Mama nyebut nama Abyaz..."
Britney tampak bingung, karena dia tidak ingin memaksakan anaknya agar segera mengenal pria lain.
"Mama cuma bilang, nanti malam kita pergi. Kita makan malam di hotel."
"Wah, ide bagus." Ucap Pras.
"Aku bagaimana?" Tanya Abyaz yang mengingat akan janji Damar tadi.
"Memangnya kenapa? Biasanya kamu yang paling bersemangat."
"Abyaz ada janji. Teman Abyaz mau datang ke rumah."
Pras tersenyum dan berkata "Sayang, nanti putri kamu ada kencan sama cowok."
Britney seolah terkaget mendengar hal itu.
"Cowok?"
"Papa gitu deh!"
"Siapa juga yang kencan. Dia cuma bilang mau main ke rumah, gitu doang. Itu juga kalau dia datang, Abyaz juga nggak peduli sama dia."
Britney menoleh ke arah putrinya dan berkata "Sayang, jangan bilang gitu. Kamu harus sopan sama tamu."
Abyaz hanya menunduk dan Britney menoleh ke arah sang suami dengan tersenyum.
"Kalau nanti malam ada tamu, berarti kita nggak jadi pergi Mas. Kita cari waktu lain."
"Iya, kita harus kenalan juga sama tamunya Abyaz."
"Papa sama Mama gitu."
"Memang Papa harus kenalan sama tamunya anak Papa."
Britney tersenyum dan berkata "Kamu tahu, kapan itu ada gadis belia ke rumah, nyariin Al. Mama kaget, lalu ngobrol sama Papa kamu. Soalnya Mama baru bikin brownies."
"Owh, si Nadia."
"Kamu kenal?"
"Tahu Ma, kadang dia DM, tanya-tanya soal Al. Aku bilang aja nggak tahu."
"Gadis sekarang memang pada berani, tapi Papa suka, dia tidak basa basi."
"Menurut Mama juga biasa saja. Kalau mau berteman ya tidak masalah, lagian Al juga tidak aneh-aneh. Malah Al yang banyak diam."
"Itu namanya agresif. Abyaz tidak suka."
"Lagian Al masih kecil. Baru umur 21, nanti kalau udah 25 baru boleh lamar gadis."
"Hemm, padahal dulu Papa menikah umur 24." Ucap Abyaz dan masih membaca buku.
"Papa kan beda."
Britney mencubit perut suaminya dan berkata "Papa... Sudah dong."
Britney menggeleng, takutnya nanti akan terbawa suasana. Mengingat perasaan sang putrinya, yang terkadang masih memikirkan sosok sang kekasih hati.
Dari mall tadi ke rumah, lumayan jauh. Tapi janjian dengan klien yang bernama Kak Erma di mall itu. Ternyata bukan kak Erma, melainkan Damar Setya Ardana.
Setelah tiba di rumah, Abyaz langsung ke kamarnya dan membuka tulisannya.
"Mas Damar, aku bertemu teman. Namanya juga Damar." Ucapnya tersenyum dan mengusap tulisannya.
Setelah sembuh dari rasa sakit batinnya, Pras memberikan buku pribadi Abyaz. Tapi tidak dengan ponselnya.
Entah, sepertinya ponselnya tidak bisa dinyalakan lagi. Pras sudah membawa ke tempat service, dan tetap tidak bisa menyala. Jadi, Pras mengatakan ponsel Abyaz rusak.
"Mas... Apa Mas sudah yakin?! Abyaz ada hubungan sama cowok yang nanti mau ke rumah?"
"Nggak tahu. Cuma aku berfikir. Jarang saja, Abyaz mau mengobrol dengan pria. Biasanya klien ada pria, tapi nggak ada yang datang ke rumah."
"Iya juga sih Mas. Biasanya Abyaz malah bilang sama kliennya, kalau dia sudah berkeluarga."
Malampun sudah tiba, setelah sholat isya'.
Pras dan Britney masih mengaji di ruang mushola.
Setelah selesai sholat isya' berjamaah, Abyaz kembali ke kamarnya. Rasanya enggan untuk keluar kamar.
Alvaro yang duduk di teras depan rumah.
Mobil BMW hitam telah berhenti di depan rumah.
Karena depan jalan umum yang cukup ramai, setelah dua orang turun dari mobil itu. Lalu mobilnya pergi, mencari tempat untuk parkir.
"Ini rumahnya?" Tanya Tante Erma.
"Iya, kata Mbak Yuli ini."
"Rumah putih pagar hitam. Itu, depan Apotek Sumber Sehat." Damar yang tahu patokan jalannya, dengan ciri-ciri yang disebutkan.
Damar lalu mencari tombol bel yang ada di sisi kiri pintu pagar itu.
"Sepi..." Ucap Tante Erma.
Tidak lama Alvaro membuka pintu pagar rumahnya. Rumah nuansa putih dan pagar tinggi batu alam nuansa warna hitam, pintu pagarnya besi itu juga bercat hitam.
"Iya..."
"Saya Damar. Ada janji sama Abyaz."
"Damar??" Batin Alvaro yang tidak enak. Mengingat akan masa lalu kakaknya.
"Silakan masuk, Kak Abyaz ada di kamar."
Alvaro cukup biasa saja. Tapi rasanya sangat aneh buatnya. Kenapa ada nama Damar lagi. Alvaro hanya tidak ingin sang kakak akan terluka lagi nantinya.
"Mari silakan duduk. Saya panggil kak Abyaz."
Damar dan Erma duduk di ruang tamu.
Alvaro yang hendak ke lantai dua, tapi bertemu Britney di ruang tengah.
"Siapa yang datang?"
"Damar." Jawab Alvaro dan Britney kaget.
"Damar??!"
"Iya, teman Kakak. Cowok, sama Ibu-ibu."
Britney yang tadinya sudah berdebar, dia langsung meningat akan tamu anak gadisnya akan datang.
"Ya sudah kamu panggil Papa di ruang mushola. Suruh temui tamunya Kakak. Biar Mama yang panggil kakak kamu."
Alvaro yang tadinya sudah menaiki satu anak tangga, akhirnya ke ruang mushola.
Tidak lama Britney sudah masuk ke kamar Abyaz.
"Sayang, tamu kamu sudah datang. Kenapa kamu malah tiduran?"
"Siapa Ma?"
"Kata Al tadi namanya Damar."
"Emh, iya namanya Damar Setya Ardana. Aku sampai bingung mau panggil apa."
Britney tersenyum mendengar nama itu, Abyaz lalu meletakan ponselnya dan bangkit dari tempat tidurnya.
"Ini baru chat itu tamu." Ucap Abyaz.
"Kamu pakai piyama?"
"Memangnya kenapa Ma??"
Britney bergegas mengambilkan dress dan berkata "Dia tidak sendirian, kata Al sama ibu-ibu. Mungkin ibunya."
"Owh, itu Kak Erma. Dia yang kemarin bahas desain sama aku."
"Kamu kenal mereka?"
"Kak Erma, tantenya Damar."
Britney sudah memilihkan dress untuk Abyaz dan berkata "Buruan ganti baju, nggak sopan kamu begitu. Jangan buat tamu kamu nunggu lama."
"Iya Ma. Abyaz tahu."
Pras tadi juga sempat kaget saat tahu namanya Damar. Pras yang berjalan ke ruang tamu dan Britney ke bawah, lalu ke dapur menyiapkan minum.
"Assalamu'alaikum Om." Ucap Damar dan hendak berjabat tangan.
"Waalaikumsalam..." Balas Pras yang menjabat tangan Damar.
"Saya Damar Om. Damar Setya Ardana."
Pras hanya tersenyum dan manatap wajah Damar dengan santai.
"Saya Pras." Ucap Pras kepada Damar, dan saling tersenyum.
"Saya Erma, Tantenya Damar." Pras juga cukup berkenalan.
"Mari silakan duduk." Ucap Pras dan mereka juga santai.
Damar tersenyum manis dan Alvaro di dapur membantu sang Mama.
Britney yang ke ruang tamu dan Alvaro yang membawa nampan. Tatapan Britney hanya tertuju pada Damar.
Britney tersenyum dan meletakan 4 cangkir yang berada pada tatakan.
Alvaro masih kembali ke dapur, lalu Britney berkenalan dengan Damar dan Erma.
"Tapi sepertinya kita pernah bertemu." Ucap Britney.
"Iya Tante."
"Owh, iya. Tante ingat. Tadi siang di parkiran mobil."
Pras tersenyum "Ternyata dia pemuda manis itu. Memang manis."
"Mari silakan di minum, tadi Abyaz hanya bilang kalau temannya akan datang ke rumah."
"Tidak perlu repot Bu Britney, kita hanya sebentar saja."
"Ma, Abyaz belum turun juga."
"Iya Papa, nanti juga akan kesini."
Kedua orang tuanya saling berbisik, tapi sang tuan putri masih sibuk memakai dressnya.
"Sudah nggak muat. Jadi, tidak salah aku memakai ini."
Abyaz memakai kaos putih lengan pendek dan rok panjang berbahan sifon.
Abyaz yang tampil dengan apa adanya dan Damar yang melihatnya tersenyum manis.
"Abyaz..." Batin Britney yang gemas saat melihat penampilan Abyaz.
"Kak Erma..."
"Iya, kamarin memang Kakak yang chat kamu. Tapi disuruh anak nakal."
"Emang nakal Kak, tadi aku nangis dia kabur."
"Kok bisa?"
Pras dan Britney melihat ada hal yang aneh. Ada tanda-tanda aroma manis.
Alvaro setelah meletakan brownies potong di atas meja itu, lalu dia duduk di samping Mamanya.
"Iya, dia curhat aku dengerin. Giliran aku curhat. Dia pergi. Mungkin dia malu gara-gara aku nangis." Ucap Abyaz yang tengil dan Damar semakin melebarkan senyumnya.
"Dia memang begitu." Ucap Erma.
Abyaz yang duduk di sebelah Erma, agar tidak bisa melihat Damar. Kalau duduk dekat sang Papa. Yang ada, akan duduk berhadapan langsung dengan Damar.
"Tante, pindah duduknya. Aku mau ngomong sama Abyaz."
Erma mengerti dan tersenyum. Abyaz malah salah strategi. Britney dan Pras sudah mulai mengerti gelagat Damar.
"Aku mau melamar kamu." Bisiknya dan Abyaz sangat terkaget.
Mata beloknya melotot dan menatap Damar dengan tajam "Apa yang kamu bilang? Jangan main-main."
"Aku serius."
Abyaz merasa kesal dan dia mulai berdiri, tapi dengan cepat Damar memegang tangan kirinya.
"Om Pras tolong restui saya. Untuk menikahi Abyaz Ali Wardana."
Pras, Britney dan Alvaro yang mendengar hal itu terkaget.
"Damar!!" Abyaz berusaha melepaskan tangannya dan Damar malah memegang erat.
"Apa kamu menolak aku??"
Abyaz yang kesal lalu berkata "Papa, Mama, Tante Erma... Sebentar, Abyaz mau bicara sama Damar."
"Ayo.. " Abyaz sudah terlanjur di genggam erat. Akhirnya Damar mengikuti saja kemauannya.
"Pak Pras, Bu Britney, maaf kalau keponakan saya kurang sopan."
"Tidak apa-apa Bu Erma. Hanya saja kita merasa kaget. Soalnya kita berdua juga baru mengenal nak Damar." Balas Britney.
Tapi Pras melihat Damar sosok yang tidak basa basi.
Abyaz mengajak Damar ke balkon atas, dan Damar masih tersenyum manis.
"Aku serius."
"Kamu bikin aku syok."
Damar meletakan tangan Abyaz di dadanya. "Aku juga syok."
"Kamu menyebalkan."
"Bukannya kita sama-sama akan menguntungkan?!"
"Pernikahan bukan permainan."
Abyaz menarik tangannya dan bersedekap.
Damar mendekatkan wajahnya dan berkata "Walaupun tidak ada cinta diantara kita berdua. Tapi aku berjanji, akan menjaga kamu seumur hidupku."
Abyaz tidak tahu harus berkata apa "Tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin berbohong dihadapan orang tua."
"Apalagi Papa yang akan menikahkan aku."
"Menikah, bukan karena terpaksa."
"Abyaz, aku tidak akan memaksa kamu. Tapi ini kesempatan untuk kamu. Bahkan aku tidak peduli, kalau hati kamu masih tersimpan cinta lamamu."
"Apa yang kamu tahu tentang rasa cintaku??"
"Aku bisa melihatnya, dari tangisanmu tadi. Kamu juga mencintai kedua orang tua kamu."
"Abyaz..."
"Aku tidak akan datang, kalau hanya untuk bermain-main."
Abyaz hanya diam.
Damar masih menatapnya dengan tenang, lalu dia berkata "Aku akan ke bawah. Pasti orang tua kamu juga bingung."
Abyaz masih tidak tahu harus mengatakan apa.
Damar akhirnya kembali ke ruang tamu.