ABYAZ

ABYAZ
Bab. 25. Takut Menikah Muda



Setelah kejadian tadi siang itu. Saat ini Beby sudah berada di rumah Jimmy. Tampak duduk di sofa dengan rasa malas telah merasuki pikirannya.


Dia yang sedang memijit-mijit kepalanya sendiri.


"Aaa.. Mama." Pikirannya yang pusing, karena sang Mama memintanya untuk segera pulang ke rumah. Kalau tidak mau pulang akan segera dinikahkan dengan Arjuna.


"Huh... Aku masih ingin senang-senang."


Tanpa disadari sang Arjuna sudah ada di belakangnya dan tangannya mulai menyentuh kepala Beby, memijitnya dengan lembut. Beby sangat tahu, siapa yang telah memijit kepalanya.


"Kamu pulang cepat?"


"Iya, aku pulang cepat. Kenapa? Tumben kamu nggak suka aku pulang cepat."


Jimmy berjalan dan melewati mereka berdua. "Pijit terus, sampai puciing."


"Jimm, aku emang pusing beneran."


"Spa di salon dong. Jangan suruh mijitin sang Arjuna."


"Aku nggak minta dipijit, Arjuna yang mijit aku, Jimmy."


Jimmy lalu duduk, di sofa sebelah kanan. "Arjuna, ingat. Cuma malam ini. Besok, mulai nggak ada waktu pulang."


"Besok kemana?" Tanya Beby.


"Aku udah mulai shuting."


"Ya udah, sana buruan shuting."


"Kok gitu ngomongnya." Arjuna mendekat dan duduk disampingnya.


"Aku pusing banget." Beby yang merebahkan kepalanya ke atas pangkuan Arjuna.


"Beby, kamu kenapa?"


"Aku tadi ketahuan sama Mama."


"Ketahuan?"


"Mama tahu, aku kerja di Butik."


"Kok bisa?"


"Hemm, ini semua ulah Papa."


"Owh.. terus, Budhe Abyaz bilang apa?"


"Mama bilang, aku harus cepat pulang. Kalau nggak mau pulang, mau dinikahkan."


"Nikah?"


"Iya, bilangnya begitu. Makanya aku nggak mau. Aku masih mau senang-senang. Bukan menikah."


Arjuna yang mengelus rambutnya dan sudah menatapnya "Emangnya, mau dinikahin sama siapa?"


"Sama orang."


"Orang? Orang maksudnya?"


"Ya sama orang. Masa sama kucing."


"Emmh, aku tebak orangnya."


"Siapa coba?"


"Yang jelas, dia cowok."


"Iih, kamu mah begitu."


"Bener dong. Masa iya, sama Jimmy."


Jimmy meleparkan tisue kotak, dan Arjuna bisa menghindarinya.


Jimmy tiba-tiba berdiri, lalu berkata "Jangan bawa-bawa namaku. Aku sudah punya calon istri."


"Hah, calon istri?" Beby yang terheran.


"Iya dong, emangnya kalian aja yang cun cun emmuach. Aku juga." Dengan gaya kemayu. Lalu berjalan pergi.


"Emang iya, Jimmy punya pacar?"


"Aku nggak tahu."


"Kalian berduaan terus, masa nggak tahu."


"Aku tahunya cuma kamu." Arjuna yang menyentil hidungnya, eh kegemesan jadinya main kecup bibir juga.


"Kamu udah makan malam?"


"Udah sama Mama."


"Sholatnya?"


"Iya dong."


"Bagus."


Kedua orang ini, masih duduk di sofa. Lalu Beby berkata "Sebelum berangkat shuting, aku ingin jalan berdua."


"Jalan berdua?"


"Iya, kita berdua."


"Beby, ini sudah malam."


"Aaa.. aku mohon. Sebentar aja."


"Nanti Mama Jimmy marah."


"Aaa. Aku ingin jalan berdua."


Jari-jari keduanya saling menyatu, lalu Arjuna melihat cincin pemberian darinya sudah tersemat di jemari manis itu.


"Kamu suka cincinnya?"


"Iya, aku suka."


"Beby, sayangku, sayangku, sayangku."


"Aaa.. Arjuna, cintaku, cintaku, cintaku."


"Cintaku??"


"Emh, iya."


"Bukan sayangku lagi?"


"Ya sayangku, ya cintaku."


"Kamu cinta Arjuna?"


"Nggak."


"Terus? Cintaku? Kok bisa begitu?"


"Aku cinta kamu."


"Kamu cinta aku?"


"Iya. Kamu yang mengerti perasaan aku. Kamu ada disaat Beby si bayi ini baru terlahir. Kamu yang menenangkan ketika dia menangis, kamu yang boboin bayi ini, kamu yang menggendong bayi ini, kamu yang mengerti perasaan Beby."


Sang Arjuna berkata "Iya, itu karena aku cinta si bayi ini. Aku sangat menyayangi bayi ini. Aku juga takut kehilangan bayi ini." Arjuna menyubit gemas pipi Beby.


"Aku akan menunggumu. Selesai dating. Kamu harus segera pulang kesini. Aku akan menunggu di rumah ini."


"Aku janji. Akan segera pulang."


Tangan Beby meraih kepala Arjuna, menatapnya dengan penuh perasaan, dengan lembut, bibir tipisnya telah mencium bibir Arjuna.


Gadis nakal ini, ciumannya semakin liar dan menggoda sang Arjuna. Arjuna yang sudah merasa dirinya tegang dan masih menikmati permainan lidah menari-nari dari gadis nakal ini.


"Arjuna." Tatapan itu, dengan senyuman malu-malu marmut nakal.


Arjuna mulai mingkem dan Beby berkata "Arjuna, kamu tegang??"


Beby merasa ada yang bergerak-gerak menundul kepalanya. Sesuatu yang membuatnya bergidik geli dan ia langsung lekas mengakhiri ciumannya.


Arjuna yang menutup dengan bantal sofa "Beby, kamu udah kelewat batas."


Arjuna yang masih menahan tegangan tinggi itu, dalam hatinya juga gemas "Aku laki-laki normal. Jelas saja, akan jadi begini."


"Aku malu." Beby lantas beranjak pergi ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.


Jantung Beby yang telah berdebar hebat dan Arjuna yang telah meredam puncak gairahnya.


Untung saja, Jimmy sibuk teponan sama Ayanknya. Jadinya, dia tidak melihat kejadian yang hendak mendekati ranjang panas.


"Huh, Arjuna."


"Beby, aku pria normal."


Sama-sama mendesah dan mereka berdua tampak menenangkan diri.


Beby yang berada di kamar, "Arjuna, kenapa bisa begitu?"


"Siapa yang ngajarin Beby begitu? Apa Mirza yang mengajarinya?" Arjuna yang mengingat jelas ciuman ala mereka, waktu dirinya telah menyusul Cinta Damayaz ke Paris.


"Apa jangan-jangan, selalu begitu? Kalau ciuman sama yang lainnya? Stupid. Aku nggak boleh meragukan Arjuna. Aku cinta sama dia. Arjuna cuma cinta sama aku. Beby Ayazma."


"Ahh, aku jadi ingat itu. Ini aneh, kenapa aku merasa nggak suka begini sama Mirza. Aku jadi cemburu gini sama dia. Huf... Tenang, tenang Arjuna. Kekasih Arjuna hanya Beby Ayazma, Cinta hanya masa lalu. Oke. Cinta dan aku saudara, sahabat dan cinta pertama. Cinta pertama nggak harus memiliki. Kalau Beby harus aku miliki, dia cuma milikku. Aku sangat mencintainya." Batin Arjuna yang melantur kemana-mana dan itu tidak biasa. Sang Arjuna, masa iya bisa cemburu. Mungkin, karena dia memang sudah mencintai perempuan yang sesungguhkan, bukan untuk mendalami peran dalam filmnya.


Suasana menjadi hening.


Setelah 1 jam kemudian, Arjuna telah mengetuk kamar Beby.


"Beby, kamu sudah tidur."


Setelah beberapa menit dan ia hendak melangkah pergi.


Ceklik


Suara selot pintu yang telah membuka kuncinya, Arjuna telah siap menanti dengan wajah tampannya.


"Ada apa?"


"Aku besok berangkat pagi-pagi."


"Terus?"


"Aku bakalan kangen banget sama kamu."


"Iya, pastinya aku juga kangen."


Beby tidak membuka penuh pintu kamar itu, ia juga hanya berdiri di sisi pintu.


"Aku mau masuk ke kamar itu."


"Emh, nggak boleh."


"Kenapa?"


"Nanti, aku jadi takut."


"Takut kenapa?"


"Takut kamu menyantap aku."


Bibir itu cemberut manis, Arjuna jadi kembali mengingat ciuman mereka tadi.


"Ya udah, aku akan tidur di sofa."


"Harus tidur di sofa dan ini selimutnya."


"Kamu serius?"


"Aku sangat serius."


"Kamu nggak butuh belaianku?"


"Idih, apaan sih. Belaian? Elus-elus rambut aku?"


"Iya, itu maksud aku."


"Emh, sebenarnya aku merasa nyaman begitu. Tapi, malam ini nggak mau. Aku nggak mau menerima kamu di kamar ini."


"Aa, aku sudah di usir."


"Emang,"


"Beneran, nolak aku?"


"Bener, aku tolak kamu."


"Bentar aja."


"Nggak mau."


Arjuna yang tidak bisa memperdaya Beby. Dia tampak tersenyum.


Beby berkata "Sampai bertemu besok pagi."


"Iya."


Pintu kamar kembali tertutup dan tidak lupa menguncinya dengan rapat.


Beby yang bersandar pintu, juga jadi berdebar kembali, dan semakin tidak bisa berfikir tenang. Apalagi, dari perkataan Arjuna. Membuatnya jadi gegana.


"Duuuh, aku jadi takut menikah muda. Usiaku, kemarin baru saja 24 tahun. Aku nggak mau secepat ini."


"Kak Bulan Bintang aja, usianya 32. Mereka malah masih santai. Terus, aku??"


"Aaaa... Mama Papa. Tolongin aku."


Beby yang memegang dadanya, masih berdesir dan ia sempat membayangkan hal manis.


[Arjuna, menjauhlah sebentar. Aku nggak mau menikah muda.]


[Terus aku, harus gimana?]


[Aku, nggak bisa ngobrol berdua. Aku takut khilaf lagi.]


[Kamu takut aku? Apa takut menikah muda?]


[Dua-duanya.]


[Kalau begitu. Terserah kamu saja.]


[Kamu marah?]


[Aku nggak marah]


[Emm aku malu ngomongnya.]


[Apa? Kenapa malu?]


[Kamu begitu tadi, kenapa bisa begitu? Terus, kalau ciuman sama yang lain, gimana?]


[Aku baru sekali ini. Kamunya terlalu manis.]


[Aku?]


[Iya, kamu belajar darimana??]


[Aku nggak belajar. Cuma merasakan.]


[Merasakan?]


[Iya gitu. Nggak tahu kebawa suasana aja. Aku cinta sama kamu. Aaa. Malu]


[Begitukah?]


[Aaa.. udah, aku malu]


[Kenapa malu?]


[Ya nggak tahu.]


[Oke. Aku akan segera menikahi kamu.]


[Jangan!!!]


Setelah itu, tidak ada kelanjutannya.