
Hal yang paling membosankan, hanya berdiam diri di rumah. Tanpa melihat hal lainnya di luar sana.
Damar ternyata sangat posesif dan sudah melarang istrinya keluar rumah. Kalau mau jalan-jalan harus menunggu dirinya. Sedangkan dia, masih entah berada dimana.
Senin sore itu menelfon istrinya, hanya untuk berpamitan. Damar mangatakan, kalau harus ke luar kota untuk beberapa hari, dan sang istri harus di rumah saja.
"Sampai kapan dia akan mengurung aku?"
"Sangat menjengkelkan."
Abyaz yang merasa kesal menendang gulingnya. Tadi dia tengkurep di tempat tidur. Perasaannya tidak senang, bukan karena bulan madunya sering tertunda, tapi sang suami kali ini memang sudah melarang dia, agar tidak pergi kemana-mana.
"Sayang, kan waktu itu kamu ngurung diri di kamar terus. Aku sekarang harus keluar kota. Kamu di rumah aja ya sayang, sampai aku pulang."
Bibir Abyaz yang monyong cantik dan unyu-unyu tampak menirukan perkataan sang suami waktu kemarin video call.
"Huufft!"
"Aku ini istrimu apa tawananmu?"
"Sungguh menyebalkan!!"
Abyaz benar-benar merasa jenuh. Bahkan hari weekend, setidaknya bisa jalan-jalan, malam mingguan, pacaran, nonton, dan lain sebagainya. Tapi, Abyaz harus menuruti suami nakalnya, bahkan dia juga tidak kunjung pulang ke rumah.
Memang benar, ada urusan tentang perkerjaannya.
Damar harus ke Surabaya, terus ke Batam dan terakhir ke Bandung. Setelah itu, baru dia akan pulang ke rumah.
"Kak Stella sama Guru Liu bisa ikut. Tapi aku nggak diajak. Malah Viral juga bisa nyusul. Damar sudah keterlaluan."
Suara Abyaz yang sangat tidak enak di dengar. Padahal siang ini tampak cerah, tidak hujan. Tetap saja, teman hidupnya melarangnya pergi.
"Mau marah??! Terserah!!!"
"Wanita berkelas?"
"Emh, Nyonya Damar."
"He'em, Nyonya Damar ini mau pergi."
Dua pelayan yang datang dan mereka mengajak Abyaz untuk makan siang.
Sudah jam 1 siang. Setelah sholat dzuhur, Abyaz hanya di kamar dan belum keluar dari kamarnya.
"Nyonya kalau tidak makan, kita yang akan dimarahin Tuan."
"Emh, tapi nanti kita pergi."
"Nyonya, kita tidak berani."
"Harus!!!"
Mereka tampak menggeleng dan tidak tahu harus menjawab apa.
Abyaz yang mulai turun dari tempat tidurnya, dan memakai sandal lantai bulu-bulu warna pink, berjalan ke lantai bawah.
"Pokoknya, aku mau ke Mall."
"Bilang sama Tuan kalian, aku mau ke Mall."
Dari pagi tadi, Abyaz sengaja mematikan ponselnya.
Baru saja Damar menelfon ke telephone rumah, dan menanyakan keadaan Abyaz. Para pelayan hanya menjawab Nyonyanya tidak keluar kamar dan belum makan siang.
"Silakan makan Nyonya."
"Ingat. Bilang sama Tuan kalian. Aku mau jalan-jalan."
"Baik Nyonya. Kita akan menghubungi Tuan Damar."
Abyaz makan dengan bringas, tidak lagi peduli akan ajaran Guru Liu. Dia merasa bodo amat. Yang penting makan dan bisa keluar rumah.
Abyaz terkadang memang begitu, kalau diberi kebebasan malah mengurung diri dalam kamarnya, giliran dilarang jangan pergi, malah ingin ke Mall. Padahal dia tidak suka berbelanja di luar.
"Tuan, bisa lihat sendiri." Ucap pelayan dengan suara pelan dan tampak video yang merekam Abyaz saat makan.
"Ya sudah, turuti saja maunya."
"Baik Tuan."
Damar juga pusing, istrinya dari pagi sudah tidak mau menjawab telfonnya, malah ponselnya dimatikan.
Kemarin di video call, juga tampak cuek. Damar tanya ini itu dan dia hanya diam, malah memalingkan wajah cantiknya.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu." Ucap Damar dan semakin gemas.
Setelah makan siang tadi, Abyaz telah bersiap untuk pergi. Abyaz meminta ke pengawal dan pelayan untuk menemani dia pergi ke salah satu Mall yang ada di Jakarta.
Dua jam kemudian.
Mereka sudah tiba di Mall dan Abyaz mengenakan pakaian casual tampak menarik.
Dengan santai memilih pakaian dalam. Abyaz juga meminta pelayannya untuk ikut berbelanja dan keempat pelayan itu hanya menggeleng. Mereka melihat angka yang tertulis disetiap labelnya, sudah was-was.
"Kenapa kalian diam saja?"
"Tidak Nyonya, kita lebih milih di tempat lain aja."
"Ada di dekat rumah."
Yang mereka maksud toko pakaian dekat rumah Bukit Sentul, di sana juga ada outlet baju yang sangat lengkap.
Abyaz juga jarang membeli pakaian dalam dengan nominal yang wow.
Tapi sang teman hidupnya memberikan ATM khusus, jadi harus dipergunakan dengan sabaik-baiknya.
"Nyonya, itu cocok untuk Nyonya."
Seorang pelayan yang menujuk lingerie untuk Abyaz.
Abyaz cukup memandangi dari jauh dan berkata "Buat apa baju seperti itu."
Lalu Abyaz pergi membawa setelan kacamata kuda merk brand termahal, terlihat motif brokat keemasan disertai bordiran mawar merah dan segitiga mungilnya denga motif renda yang sama, bahannya juga sangat halus.
Abyaz juga memilih gaun malam, tapi tapi tidak sesexy yang ditunjuk pelayan manis itu.
"Nyonya, sepertinya senang di tempat ini. Tapi sudah sore."
"Biarkan saja, dari pada di rumah uring-uringan terus."
Mereka masih ke tempat aksesoris, lalu membeli parfume. Abyaz membelikan para pelayan dan pengawalnya parfume sesuai kesukaan mereka. Tetap saja, Abyaz memaksa mereka untuk memilih sendiri dan dia sibuk memilih parfume untuk teman hidupnya.
"Emh, aku sebal. Tapi aku tetap peduli."
Membeli sepasang parfume dengan aroma yang memikat.
"Kalau di tidak suka, ya sudah. Aku tidak akan lagi, membelikan apapun buat dia."
Abyaz selalu saja menggerutu. Lagian, yang buat belanja juga dari uang suaminya. Istri yang nakal, tapi dia tampak bahagia.
Sudah sore, mereka sudah sholat ashar. Tapi Abyaz belum mau diajak pulang, malahan dia memesan tiket bioskop dan mengambil waktu setelah isya' nanti.
"Nyonya, nanti kalau Tuan tiba-tiba pulang, terus nyariin Nyonya gimana?"
"Iya Nyonya, nanti kita semua yang ditegur sama Tuan."
Mereka ada disebuah kafe dan Abyaz menikmati minuman di kafe itu. Tidak peduli dengan perkataan para pelayan. Bahkan sudah jam 5 sore.
"Aku mau ke toilet dulu."
"Nyonya saya juga mau ke toilet."
Akhirnya dua orang masih menunggu di tempat itu. Ternyata benar dugaan pelayan manis. Damar sudah tiba di rumah.
"Dimana Nyonya kalian?" Tanya Damar dari panggilan telfon.
"Baru ke toilet." Jawabnya dengan dada yang dag dig dug, suara Tuannya sangat tidak enak didengar.
"Posisi kalian dimana?" Tanyanya.
"Tuan, kita di Taman Anggrek."
Damar tampak kesal, dikirannya hanya pergi di daerah sekitaran rumahnya, tidak tahunya malah pergi jauh dari rumah.
"Abyaz..." Keluhnya.
Tidak lama Abyaz kembali duduk di tempat itu dan tiga pelayan itu tampak gelisah. Suara Tuannya sangat dingin dan tampak marah.
"Nyonya, Tuan Damar sudah tiba di rumah."
"Emh, biarkan saja."
"Tapi dari suaranya Tuan, sepertinya Tuan tidak senang."
"Nyonya, lebih baik kita pulang saja."
"Biarkan saja."
"Nyonya, nanti kita semua yang kena marah sama Tuan."
"Kalau dia sampai marahin kalian semua. Aku yang tanggung jawab."
Abyaz juga tampak kesal, dengan gemas menggigit sendotannya. Bahkan tampak memainkan gelembung air dan tidak meminumnya.
"DamDam, aku juga kesal."
Stella dan Guru Liu tampak tersenyum melihat Damar yang kelimpungan.
"Tinggal susul ke sana, apa susahnya." Stella dengan tersenyum manis.
"Aku pikir mereka pergi dekat-dekat sini. Nggak tahunya ke Taman Anggrek."
"Emh, pasti macet. Apalagi malam minggu." Sahut Guru Liu.
"Benar, sungguh menyedihkan." Ledek Stella, lalu bergegas ke kamarnya.
"Bos, selamat bermalam minggu. Saya mau tidur." Ucap Guru Liu dan pergi ke kamarnya.
Guru Mao tampak mendekatinya dan berkata "Tuan Damar, bisa saya siapkan Heli."
"Nggak perlu." Balasnya, lalu berbaring di sofa. Dengan kesalnya memeluk bantal sofa.
Guru Mao juga gemas, terkadang Damar juga seperti anak remaja yang sentimental.