
"Arjuna."
"Kenapa kamu baru pulang?"
"Iya, tadi aku pergi ke makam Ibu."
Beby yang memeluk Arjuna dengan rasa rindu dan Arjuna dengan perasaan tenang melihat Beby sudah pulang.
"Gimana perasaan kamu?"
"Aku, senang. Kamu pulang dengan wajah ceria."
"Emh, aku ceria karena kamu."
"Karena aku?"
"Iya. Karena kamu."
Kedua orang itu saling menatap, Jimmy yang diam tanpa kata hanya melewati mereka begitu saja. Tampak wajah murung dan tidak lagi semangat.
Penampilan Jimmy terlihat sangat berantakan. Rambut dan wajahnya begitu kucel, mata itu juga terlihat sembab dan tak ada lagi terdengar ocehannya yang seperti biasa.
"Arjuna. Jimmy kenapa?"
"Dia masih galau. Biarkan saja dia seperti itu."
Arjuna yang mengajak Beby duduk di sofa. Kali ini, Arjuna ingin berbaring di atas pangkuannya.
"Beby. Kenapa kamu nggak ajak aku ke makam alm. Ibu Gisella?"
"Aku pikir. Kamu sedang ada konferensi pers."
"Untuk apa aku konferensi pers. Kalau semua channel TV tidak ingin aku muncul disana."
"Apa mereka belum menghubungi kamu?"
"Aku memadamkan ponselku."
"Jimmy?"
"Sepertinya juga begitu. Jimmy, seharian berselimut tebal. Aku juga tidak ingin mengganggu dia."
"Apa kalian tidak tahu soal Nyonya 100 M yang menyatakan kalau Arjuna tidak bersalah?"
Arjuna yang bangun dari pangkuannya dan Beby memanggil Jimmy.
"Jimmy. Kemarilah. Ini soal Arjuna."
Jimmy yang berjalan dari mengambil minum di dapur. Sekarang, sudah tampak duduk di sebelah mereka berdua.
"Beby, apa maksud kamu memanggil aku?"
"Apa kalian tidak melihat siaran langsung tadi siang?"
"Siaran langsung?" Arjuna yang bingung dan Jimmy tampak tidak berselera.
"Nyonya 100 M. Sudah muncul di media. Dia menyatakan, kalau 100 M demi cucunya."
"Cucu??"
"Kalian tonton saja sendiri. Aku mau mandi."
"Beby, jangan pergi dulu." Arjuna yang menarik tangannya.
"Arjuna. Aku capek. Aku mau mandi, terus bobok cantik. Aku akan menunggu kamu di kamar. Kamu tonton saja siaran itu. Pernyataan itu, sudah membungkam mereka yang memojokkan kamu."
Jimmy yang sangat malas bergerak. Arjuna mengambil ponsel yang ada di atas meja. Ia tadinya hendak telephone istrinya, dan menanyakan keberadaan istrinya itu. Tetapi, Beby lebih dulu tiba, sebelum Arjuna menghubunginya.
"Aku bilang. Aku tidak bersalah."
"Aku tahu."
"Ya udah. Kamu tonton ini."
"Aku?"
"Aku mau ke kamar. Nyusul istriku."
Arjuna yang meninggalkan ponselnya dan beranjak pergi ke kamarnya.
Jimmy dengan mata yang dilebarkan dan perasaannya masih belum bisa menerima keadaan ini.
"Aku akan melihatnya. Aku akan melihat dengan kedua mataku."
Jimmy yang melihat siaran penjelasan dari Shin-ping, sedangkan Arjuna menyusul istrinya ke kamar.
Arjuna yang masuk tidak melihat Beby. Istrinya benar-benar sedang mandi. Padahal, ini sudah jam 9 malam.
Arjuna yang duduk di atas tempat tidur dan hanya menunggu. Arjuna sudah mulai berdebar, rasanya tidak nyaman kalau melihat istrinya keluar dari kamar mandi.
Sudah menunggu lama, Arjuna tidak sabaran. Dia yang memegang gagang pintu kamar mandi. Beby juga tidak mengunci pintu kamar mandi itu.
"Beby."
Arjuna yang memastikan kalau istrinya baik-baik saja. Namun, tidak ada suara balasan.
Arjuna yang masuk ke kamar mandi "Beby, kamu malah berendam."
"Arjuna." Tatapan tidak suka ketika suaminya masuk ke kamar mandi.
Arjuna semakin mendekat dan sudah menatapnya. "Sudah malam Beby. Jangan berendam."
"Memangnya kenapa?"
"Aku nggak mau kamu sakit."
"Aku sehat."
Arjuna masih menatapnya, "Kalau kamu nggak keluar dari bathtub, aku masuk situ."
"Emh, nggak mau."
"Ya udah, buruan mandinya. Aku tunggu di tempat tidur."
"Tunggu di tempat tidur?"
"Iya."
Meski rasanya aneh, ada perasaan manis yang menerjang. Beby seketika tersenyum penuh misteri. Arjuna yang melihat jadi semakin berdebar-debar.
"Kenapa senyum begitu?"
"Aaa... Sini masuk bath up."
"Kamu menyuruhku?"
"Iya."
Arjuna jadi salah tingkah dan ia berkata "Jangan menggoda aku."
"Aku tidak menggoda."
Tatapan dan suara Beby, membuat dada Arjuna semakin berdesir. Pikiran Arjuna yang sudah tidak karuan. Sampai tidak berani menatap istrinya.
"Beby, buruan mandinya."
Arjuna lantas keluar dari kamar mandi dan menutup rapat pintu kamar mandi itu.
"Dia sengaja, nggak kunci pintunya?" Arjuna yang menggerutu. Perasaan semakin aneh. Baru kali ini, dirinya merasakan getaran hebat.
Bibirnya saja yang pintar merayu dan menggombal kata romantis. Tangannya terkadang suka memegang tangan dan mengecup mesra pada lawan mainnya. Tetapi, dia tidak bisa melakukan hal itu di depan istrinya. Boro-boro grepa-*****, baru mau berkata romantis, pikirannya sudah buyar setiap istrinya menatap manis.
Arjuna merasa malu dan salah tingkah dihadapan istrinya. Susah sekali untuk mengungkapan perasaan cinta. Belum sampai berkata I Love You. Kamu yang satu-satunya dalam hatiku, kamu yang selalu ada dalam benakku dan kamu yang sangat aku cintai.
Dirinya sudah kalah sebelum berkata ini dan itu. Bibir manisnya itu hanya bisa main nyosor dan membuat istrinya jadi tidak suka.
Apalagi saat dirinya melamar Beby, yang ada di otaknya, hanya kata-kata cinta dari dialog saat film Arjuna mencari Cinta.
"Sebelum aku menikah, aku tidak begini. Sekarang aku suaminya. Dia yang harus patuh sama aku. Kenapa aku jadi kalah begini?"
"Beby. Sayang buruan mandinya. Sudah malam sayang."
Beby yang berbalut kimono handuk dan rambutnya masih basah. Berjalan keluar kamar mandi sambil melilitkan handuk pada rambut basahnya.
"Arjuna, kamu sudah seperti Mama."
"Aku cemas kalau kamu sampai sakit."
"Iya." Beby melangkah ke lemari yang ada di kamar ini. Arjuna masih yang duduk di atas tempat tidur masih terus melihat ke arah Beby.
"Kamu mau ganti baju disini?"
"Kamu mau aku begitu?" Beby dengan tatapan yang menggoda.
"Ya aku pikir begitu. Kamu masih pakai handuk begitu."
"Aku tadi belum ambil baju ganti."
Beby berjalan kembali ke kamar mandi, Arjuna yang bingung, antara ingin ikut masuk ke kamar mandi, tapi kata hati telah menyuruhnya untuk diam saja.
Arjuna yang dulunya jahil, suka sekali menggodanya. Sekarang, setelah jadi suaminya. Merasa tidak bisa lagi berbuat itu, yang ada malah canggung dengan perasaan malu-malu meong.
"Aku jadi ngerasain jadi Ayah. Pantas saja, Ayah selalu diam bila Bunda sudah bawel." Gumam Arjuna.
Arjuna yang tampak duduk saja, tapi mata itu terus saja menatap ke arah pintu kamar mandi.
"Aku sudah jadi suaminya. Kenapa aku malah takut mendekatinya." Batin dia dan senyam-senyum sendiri.
Beby yang sudah mengenakan piyama katun warna dusty pink bermotif bunga. Mengambil hairdyer dan duduk di depan meja rias, menatap ke arah cermin.
Beby yang mengeringkan rambutnya, dan melihat dari cermin. Arjuna yang senyam-senyum sendiri, membuat Beby penasaran.
"Sesenang itukah perasaan dia?"
"Arjuna."
Arjuna yang masih membayangkan hal manis dan tidak menghiraukan suara istrinya.
"Arjuna."
"Arjuna."
"Hems, ada apa?"
"Kamu kenapa, senyam-senyum nggak jelas?"
"Aku hanya berfikir. Kalau kita harus honeymoon."
"Owh itu. Aku sudah memikirkannya."
"Gimana? Kamu ingin kemana? Mumpung aku nggak ada kerjaan."
"Siapa bilang, kamu nggak ada kerjaan."
Baru saja, Beby mengatakan hal itu. Jimmy sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar mereka.
"Arjuna."
"Arjuna."
Beby tersenyum, lantas berkata "Nah, itu. Pekerjaan kamu sudah memanggil."
"Huh." Desahnya dan beranjak dari tempat tidur.
"Arjuna, semangat." Senyuman Beby dan Arjuna membalas senyuman itu. Sambil tangannya membuka pintu kamar.
"Iya Jimmy. Ada apa?"
"Besok pagi-pagi, kita harus kembali shuting."
"Kita??"
"Kamu. Kamu sudah bisa shuting lagi."
"Owh iya."
"Hah, gitu doang?"
"Terus aku harus gimana? Senyum, ini begini? Jingkrak-jingkrak kesenangan, begitu?"
"Aku pikir kamu akan senang."
"Aku senang. Tapi aku akan lebih senang kalau kamu tidak mengganggu malamku."
"Oke. Aku tidak akan mengganggu kamu. Tapi, kamu harus segera tidur. Besok pagi-pagi, kita harus segera berangkat."
"Iya Jimmy. Besok habis subuh kita berangkat."
Jimmy dengan tatapan berkaca-kaca, memegang tangan Arjuna. Ia berkata "Aku akan selalu mendukung kamu. Aku akan berjuang lagi, agar kamu selalu bersinar terang. Aku janji, aku akan hati-hati dan tidak akan lalai lagi."
"Sudah, jangan menangis lagi."
"Arjuna, aku sangat tulus mendukung kamu. Aku yang salah. Aku minta maaf."
"Iya, aku tahu kamu. Aku tahu, kamu nggak akan mungkin menjual aku."
"Aku akan berlutut." Dengan tangisnya dan Beby menorobos tangan Arjuna.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
Jimmy yang berlutut dihadapan Arjuna dan meminta maaf atas kesalahannya. Harusnya, dirinya bisa menjaga Arjuna.
"Arjuna. Aku janji, aku akan menjaga kamu."
Beby jadi tersenyum manis. Arjuna yang langsung mengangkat Jimmy untuk berdiri.
"Aku tidak akan memaafkan kamu, kalau kamu masih terus menangis."
"Baik. Aku tidak akan menangis lagi."
Beby berkata "Jimmy, sana tidur. Mata kamu sudah seperti bola pingpong."
"Iya. Aku akan ke kamarku."
"Jimmy. Titip suamiku, kalau dia nakal kamu harus segera hubungi aku." Beby dengan senyumannya dan Jimmy hanya mengangguk.
Arjuna merangkul Beby, ia berbisik "Aku tidak akan nakal."
Beby menatapnya lekat, lalu berkata "Aku tahu. Tapi, malam ini aku mau kamu nakal."
"Kamu sudah siap?"
Senyuman Beby manis menggoda dan Arjuna mengerti kodenya. Jimmy juga sudah pergi ke kamar tidurnya. Arjuna dengan tatapan nakalnya, mengangkat istrinya dan membawanya pada gairah cinta.