ABYAZ

ABYAZ
Rasa Persaudaraan Yang Tidak Terlihat



Setelah selesai sholat dzuhur. Damar hendak kembali ke ruangannya. Para petugas ada yang istirahat siang, ada juga yang masih bertugas.


Damar melihat Stella yang datang dan hanya senyuman tipis yang tersirat di wajah tampannya.


"Kenapa kesini?"


Stella yang menunggu di luar ruangan tadi. Dengan senyuman, dan tangannya mengangkat kantong makanan untuk Adiknya.


"Aku mengantarkan makan siang untukmu."


"Disini juga dapat makan."


"Tapi istrimu baru saja telfon, dan dia tidak berhenti merengrek. Abyaz ingin melihat kamu makan. Kalau kamu tidak makan, dia juga tidak mau makan siang."


Damar tersenyum dan Stella mengajak dia duduk di luar ruangan.


Ada sebuah meja dan kursi untuk tamu. Stella mengajak dia duduk di luar, agar dia bisa memotret Damar saat makan siang.


"Ayo makan. Aku akan kirim fotomu. Biar Abyaz puas melihat wajahmu."


"Abyaz ternyata memperhatikan aku." Senyumannya sangat manis, walaupun dalam hatinya masih seperti diiris, dia cukup bahagia mendengar ucapan Stella.


"Dia juga ingin kemari, tapi aku sudah melarangnya."


Damar yang sedang makan dan tampak tersenyum.


Stella juga mengerti, dari sorot mata Damar sangat terlihat jelas. Pasti ada sesuatu dengan Mamanya. Tapi dia lebih memilih diam, dan tidak bertanya soal Mamanya.


Stella mengelus rambut Damar, cara mengelusnya, seperti dia mengelus anjing kesayangannya.


"Aku bukan Puppie."


"Emh, Puppie udah nggak ada."


"Kak, apa aku mau jadikan Puppie?"


"Makanlah."


Damar kembali makan, tidak biasanya Stella bersikap lembut padanya.


"Nanti Guru Mao datang, dia yang akan mengantarkan baju dan perlengkapan harianmu."


"Sampai kapan aku akan disini?"


"Sampai kamu mendapatkan posisimu yang seharusnya."


Damar membuka botol air mineral dan meminumnya dengan perlahan.


"Kak Stella, tapi aku juga kangen sama Abyaz. Kita pengantin baru, bahkan kita belum sempat berbulan madu."


Stella dengan senyuman manisnya dan seolah ingin sekali menertawakannya, tapi cukup menahannya dan menatap sang Adik dengan penasaran.


"Apa kamu benar-benar jatuh cinta?"


"Entahlah, tidak usah ditanya."


Damar memalingkan wajahnya dan kembali makan, menu dari restoran Jepang, cukup digemari Damar.


"Ya sudah, kamu makan dulu."


"Emh,..."


Stella tersenyum, dalam hatinya dia juga tidak tega mengurung Adiknya disini. Tapi, dia sudah terlanjur membawa Adiknya kembali. Tidak ada jalan lain untuk Adiknya, selain berada pada posisi Presdir.


Ini salah satu triknya, untuk menghalau para petinggi perusahaan. Stella sudah mendapatkan bukti. Pihak penyidik, juga sangat tahu, akan tetapi ini hanya untuk mengelabuhi orang-orang yang ingin menyingkirkan Damar, sebelum dia meraih posisinya. Tapi Stella juga salah langkah.


"Damar, kamu terbiasa tidur di sofa. Ini, pasti cukup membuat kamu tidur."


Stella dan Damar sudah ada di ruangan itu. Damar lalu menatap ke luar dan kota Jakarta sangat terlihat jelas.


"Berapa lama aku harus tinggal disini?"


Stella pura-pura menghitung dengan jari, lalu berkata "Hanya 5 hari."


"3 hari."


"Aku tidak bisa memastikannya. Tunggu pemeriksaan selanjutnya."


Bahkan jabatan dia dalam struktur Ji-sung baru 1 tahun yang lalu, hanya sekedar tulisan. Tapi sudah membuat resah pada petinggi dan pemilik saham Ji-sung Grup.


Nama Damar tertera sebagai Direktur utama dan tersangkut kasus dana gelap yang terjadi beberapa tahun lalu. Sangat aneh, tapi Stella tidak masalah. Damar bisa menangani masalah ini.


Surat legal kepemilikan tambang, tapi para petinggi resah, dan ada yang mengatakan itu ilegal. Sangat disayangkan. Stella harus membuatnya begini.


"Aku hanya ingin kamu memperbaharui semua tentang Ji-sung. Seperti kita di JS. Kamu selalu bisa mengatasi masalah yang ada." Ucapnya dan menepuk bahu Damar.


Setelah itu, Damar dipanggil seorang petugas dan dibawa ke ruang interogasi yang ada di lantai atas.


Stella hanya bisa diam dan memilih duduk di ruang tunggu. Tidak lama Guru Mao datang.


"Nona Stella."


"Kamu bawa perlengkapan Damar?"


"Iya Nona."


Guru Mao lalu duduk di sebelah Stella dan tampak berbisik. Stella dengan wajah yang terkaget saat mendengarnya.


"Guru Mao, aku harus pergi. Tolong temani Damar."


"Baik Nona Stella."


Stella pergi dengan buru-buru. Ekspresi wajahnya sangat senang. Stella berbuat semua ini untuk Damar, dia memang menuruti perintah Mamanya. Tapi dia seperti pisau yang sangat tajam dan mulai membaginya menjadi beberapa bagian.


"Damar, kita mendapatkan jalannya. Aku akan segera membawa kamu pulang. Kamu juga bisa berbulan madu."


Stella dengan cepat melajukan mobilnya.


Di tempat lain, Viral yang baru saja keluar dari kantor polisi dan bergegas untuk ke rumah sakit.


"Kamu tidak ingin ikut denganku?"


"Nanti saja aku kesana. Aku harus menemui Adikku."


"Emh, sang penyelamat."


"Iya, gara-gara dia aku jadi berhutang nyawa."


"Kalian memang unik."


Viral yang sudah keluar dari mobil Guru Liu, masih menatap Guru Liu dari kaca mobil yang terbuka.


"Kamu harus memberi perhatian."


"Dia tidak membutuhkan itu."


"Semoga kalian akur."


"Iya, bisa jadi."


Guru Liu dengan tersenyum dan mulai pergi meninggalkan Viral.


Mereka hanya di pinggir jalan dan Viral mulai menatap rumah sakit. Rumah sakit Kasih Maria dan bangunannya sudah berubah. Bahkan semakin canggih dan modern.


"Binar."


Viral melangkahkan kakinya dengan perasaan senang. Ternyata sang penyelamat itu tidak seperti yang dia pikirkan.


Setelah masuk ke ruang rawat inap dan hanya Vava yang menemani Binar.


"Viral." Ucap Vava dengan tidak senang.


"Tante, maafin Viral."


Vava hanya diam tanpa kata. Binar yang mendengar ada suara Viral. Dia jadi terbangun dari tidurnya.


"Viral." Lirihnya dengan senyuman.


Viral menggeleng dan berkata "Aku tidak akan berterima kasih."


Vava mulai keluar dari kamar itu, dan tidak ingin menjadi orang yang menghalangi Viral untuk dekat dengan Binar.


"Aku juga tidak butuh."


"Lain kali, tidak perlu jadi pahlawanku."


"Aku bukan pahlawanmu. Aku hanya takut, nantinya aku tidak punya musuh lagi."


"Iya, kamu tidak boleh mati. Aku yang harus membunuhmu."


Binar tersenyum dan Viral perlahan mendekat. Viral dengan segala perasaannya dan Binar tampak tersenyum melihat Viral yang baik-baik saja.


"Terima kasih sudah menjadi saudaraku."


"Hemm, aku hanya Adik yang tidak diinginkan."


Viral tersenyum dan Binar yang masih berbaring juga hanya tersenyum.


"Segeralah pergi dari sini."


"Hemms."


"Aku sangat tidak suka aroma rumah sakit."


"Tidak suka, tapi 3 tahun."


"Kamu mengejekku??!"


"Tidak, aku tahu yang sebenarnya. Tapi aku diam."


"Iya, pasti kamu juga mengintai aku."


"Heh, kalau aku tidak mengintaimu. Aku tidak akan terbaring disini."


"Iya, baguslah. Aku senang melihatmu di rawat suster cantik."


"Kamu sangat menjengkelkan."


"Aku tidak mau kamu terluka lagi." Ucap Binar yang mengingat akan dia yang kehilangan Eyang.


"Iya, kita sudah kehilangan. Aku juga tidak mau kehilangan Adikku."


"Kamu mengakui aku?"


"Aku sudah kalah. Kamu yang menang."


Viral memegang tangannya dan Binar merasakan persaudaraan mereka berdua.


"Kamu harus istirahat."


"Iya." Binar yang tampak berkaca-kaca.


Viral yang menahan dirinya "Aku pergi dulu, besok aku akan datang lagi."


Damar yang ada di ruang interogasi sudah menjani pemerikasaan.


"Direktur Damar. Tapi ini bukan rekayasa."


"Saya tahu."


"Anda tahu siapa yang mengirim ini?"


"Tidak tahu."


"Direktur Damar, anda bisa dikenakan pasal penggelapan dana."


"Tidak masalah."


Ada sebuah copyan rekening koran. Yang menyatakan kalau dana proyek dengan nominal mencapai 3 T itu. Sudah atas nama Damar Setya Arnada.


"Direktur Damar, tolong kerjasamanya."


"Saya mengatakannya dengan jujur."


"Lalu uang itu?"


"Masih ada."


"Dimana?"


"Ada pada seseorang."


"Siapa dia?"


Damar yang sebenarnya enggan, dan sudah mengorbankan dirinya. Tetap saja dia harus memberitahu penyidik.