ABYAZ

ABYAZ
Bab. 20. Kembali Bersama Papa



"Aku pulang duluan."


"Iya. Aku nanti akan segera pulang kesana."


"Bayiku. Jaga diri kamu baik-baik."


"Iya."


Arjuna dengan penuh perasaan memeluk Beby. Sangat malas untuk berpisah. Tapi dengan begini, gadis itu akan terbiasa bebas. Tak lagi merasa bahwa dirinya dikurung Arjuna.


"Udah, sana berangkat. Nanti tertinggal pesawat."


Arjuna mengecup bibir tipis itu dengan manis, lalu ia pergi dan Beby juga hanya melambaikan tangannya.


"Aku sendirian lagi."


Beby kembali ke atas ranjangnya. Arjuna telah pergi, karena masih ada urusan pekerjaan lainnya.


Beby menatap foto dirinya dan Arjuna di layar ponselnya. Meraba dengan gemas.


Beby berkata "Kenapa kamu bisa begitu tampan?"


Setelah itu, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Beby beranjak dari kasur empuknya. Dia berfikir ada barang Arjuna yang tertinggal.


"Arjuna, apa lagi?"


Tatapan terkaget itu, langsung tertuju pada sosok yang memakai jas abu-abu tua.


"Arjuna??"


"Papa."


"Kamu tidur sama Arjuna?"


"Papa, ini bukan seperti yang Papa bayangin."


"Jadi benar kata Mama kamu. Pantas saja, Mama kamu dari kemarin sudah menyuruh Papa untuk menikahkan kalian berdua."


"Papa, Arjuna memang tadi malam." Dia tak lanjut berkata. Percuma dirinya menjelaskan, lagian dia bukan putrinya.


"Maaf, saya masih sering lu-"


Belum lanjut berkata, sang Papa sudah memeluknya. Gadis itu sudah tampak mematung. Rasanya, masih sama. Tapi, kenapa ingin sekali menjauh dan pergi menghindarinya.


Dia yang terdiam, tapi luruh sudah air matanya. Tak kuat rasanya bila bertemu sang Papa.


Bagaimanapun, sang Papa ini yang selalu menuruti semua permintaannya. Sang Papa yang selalu sabar dan pendengar yang baik baginya. Setiap keluhan dan apapun itu, selalu bercerita kepada Papanya.


"Sampai kapan, kamu akan terus menghindari Papa?"


Dia yang terdiam tanpa kata. Hanya batin yang berbicara. Dalam hati kecil itu, ia mengatakan bahwa dia, sangat merindukan sang Papa.


"Papa kangen sama kamu. Tapi, kamu selalu menghindari Papa."


"Aku juga kangen sama Papa." Air mata itu berubah tangisan. Suara tangisnya semakin tersedu-sedu dan masih berdiri dia antara pintu kamar itu.


Setelah beberapa saat, mereka telah duduk di sebuah restoran.


"Ada hal, yang ingin Papa sampaikan sama kamu."


"Iya, aku akan mendengarkan."


"Nama baru kamu, Beby Ayazma?"


"Iya."


"Nama yang cantik."


"Terima kasih."


"Papa juga kebetulan ada pekerjaan disini. Tadi pagi, Papa tiba di hotel tempat kamu menginap. Papa melihat, Arjuna yang keluar dari kamar kamu."


"Iya, setiap malam Arjuna menemani aku."


"Papa hanya tidak suka dengan gaya pacaran kalian berdua."


"Papa, langsung ke intinya aja. Papa nggak usah peduli sama aku."


"Kamu ini."


"Emang aku begini."


"Anak nakalnya Papa. Dibilangin juga."


"Bukannya Papa juga yang ngajarin."


"Beby Ayazma!" Tergurnya


"Iya Papa." Begitu manis dan tatapan itu terlihat sangat menghormati Papanya.


"Bagus."


Gadis itu terdiam dia merasa ada yang aneh. Tetapi, lebih nyaman begitu. Mau bagaimanapun, sifat dan sikap tetap sama. Dia tetap dirinya, dan tak ada yang berubah.


"Papa sedang menyelidiki tentang kamu dengan Ayah kandung kamu." Kedua tatapan itu.


"Emangnya dulu, Papa nggak merasa aneh??"


"Papa nggak tahu. Setelah Papa adzan di hadapan bayi cantik itu. Lalu para suster membawa ke kamar bayi. Papa juga fokus sama Mama. Jadinya, Papa belum sampai mengenali wajah bayi itu. Ya, kalian berdua. Sama cantiknya."


Dia merengek "Emh, aku cemburu. Aku nggak suka disamain sama anak kandung Papa."


"Kamu cemburu?"


"Iya. Cemburu! Seluas lautan, setinggi langit, dan sebesar dunia. Sampai aku nggak kuat nahan."


"Besar banget ya?"


"Iya, Papa punya aku. Bukan dia."


"Oke, Papa punya kamu."


"Nih, jadi nangis lagi gara-gara Papa."


"Uuh, anak Papa ini. Masih sering nangis kayak bayi dulu. Papa sampai begadang demi kamu."


"Terus aja diungkit."


"Ya memang begitu keadaannya."


"Iya, Papa berarti sayang sama aku."


"Benar. Sayang banget. Papa juga sangat kehilangan, waktu kamu pergi begitu saja. Papa nangis terus."


"Emmh, masa? Tapi sekarang nggak nangis?"


"Mau Papa nangis disini?! Nanti orang-orang pada ngeliatin kita."


Setelahnya, mereka berdua jadi tertawa bersama. Seperti dulu, saling menggoda dan menceritakan tentang mereka berdua.


"Papa. Memangnya, siapa ayah kandung aku?"


"Baru test DNA. Tapi kamu jangan nangis lagi. Kita tadi udah ketawa bareng."


"Iya, iya. Aku cuma penasaran."


"Ya udah, nanti surprise aja. Kalau udah ada hasilnya."


"Aaa.. Papa. Nanti aku nggak bisa tidur."


"Gimana ya. Cerita, nggak. Cerita, nggak."


"Cerita dong. Masa nggak. Udah nungguin ini. Buruan, Papa cerita."


Dia yang begitu menggemaskan, dan sang Papa kembali tersenyum.


"Mami Stella."


"Iya."


Menarik nafas panjang, dan membuang perlahan "Mami Stella udah test DNA kamu sama Papi Binar."


"Apa?? Papi Binar?" Bukannya sendu, tapi dia terheran dan melotot.


"Kamu nggak nangis, atau merasa dicampakan, begitu?" Sang Papa yang masih menatapnya.


Dia hanya diam, bibir tipisnya bergerak lembut, ia hendak bertanya lagi. Tapi, ada hal memusingkan baginya. Ia mengambil cake yang ada di hadapannya, dan tampak menikmati cake itu.


"Sayang, kamu nggak kaget? Nggak sedih?"


"Beneran?! Papi Binar??"


Sang Papa mengangguk dan Beby jadi tersenyum.


"Yes,.. Untungnya bukan Om Arman. Ya Allah. Terima Kasih. Aku bukan darah dagingnya Om Arman."


Sang Papa menggeleng.


"Sayang, kenapa kamu sesenang ini?"


"Papa. Awalnya, aku mikir. Wah! Kalau aku anaknya Om Arman. Bisa-bisa aku tinggal sama Jovita. Duh, bisa jadi neraka buat aku. Aku mana bisa akur sama Jovita."


"Jovita?"


"Masa Papa lupa. Papa pernah dipanggil ke sekolah. Nah, itu Jovita yang ribut sama aku. Gara-gara."


"Owh, Papa ingat. Gara-gara sang Arjuna."


Beby menggigit tipis bibirnya, lalu kembali fokus pada cake cokelatnya.


"Emm, Papa jadi penasaran. Kamu sama Arjuna, beneran pacaran?"


"Iya. Tapi sekarang udah putus."


"Putus?? Wah, Arjuna brrengseek juga ya. Mainin putrinya Papa."


"Papa!!" Teriaknya yang tidak terima dan tampak cemberut gemas.


"Kenapa, Papa salah? Buktinya kamu tidur sama dia. Terus kamu dicampakan begitu saja. Malah bilang putus. Kurang aja juga ini, anaknya Alvaro."


Beby mendekat dan meninju bahu sang Papa "Papa apaan sih. Arjuna baik sama aku. Tapi, aku bilang putus."


"Owh, kirain Papa. Arjuna putusin kamu."


"Ya nggak gitu. Aku cuma ingin sendiri aja. Terus, bersenang-senang."


"Bagus, anaknya Papa harus begitu. Bersenang-senang."


"Iya, semua anaknya Papa senang menghabiskan duitnya Papa."


"Ya bagus dong. Kerja keras Papa membuahkan hasil."


"Iya, hasilnya Kak Bintang yang suka ngedrift. Kak Bulan yang hobby traveling dan aku."


"Yang jago shopping."


"Nah.. Itu Papa tahu."


"Nggak apa-apa. Demi kalian semua. Papa nggak masalah."


"Aku udah lama nggak shopping. Papa harus temani aku belanja."


"Ayo, Papa hari ini juga masih santai."


Beby mengambil tasnya dan sang Papa lalu membawakan tas jinjingnya. Tangan gadis itu sudah melingkari lengan tangan sang Papa dengan gemasnya.


"Ini tas kamu berat banget. Arjuna kasih duit berapa?"


"Aku nggak hitung."


Sang Papa menggeleng, sang tuan putri yang tak mengerti keuangan, tampaknya sudah kembali.


"Papa. Kalau beneran, Papi Binar. Aku maunya, kalau nikah nanti. Papa yang jadi wali aku. Bukan Papi Binar."


"Ya nanti, kita lihat dulu hasilnya."


"Yes, akhirnya aku punya tiga pria yang aku cinta."


"Tiga??"


"Papa, Papi dan Arjuna."


"Hemm, segitunya sama Arjuna."


"Aaa.. Biarin. Namanya juga asmara."


Sang Papa sudah kembali melihat rona ceria, dari wajah cantik putrinya.


Kebahagiaan Papa yang sangat berharga. Ketika, senyuman itu kembali dihadapannya.


"Papa, Mama suruh kesini."


"Mama di kamar."


"Beneran??"


"Nanti pulang dari shopping. Aku mau sama Mama."



Setelah 3 jam pergi shopping bersama sang Papa. Gadis itu kembali ke hotel dan langsung menuju kamar sang Mama.


"Cinta."


"Iya. Ngapain kesini?"


"Aku cari Mama."


"Mama kamu?"


"Iya. Mamaku."