ABYAZ

ABYAZ
Bab. 55. Tanam Benih Berhasil



Setelah dari Pulau Sebinar, ada sesuatu yang tidak mengenakan perasaannya. Beby menghitung dan berusaha untuk mengingat waktu tamu bulannya.


"Aku seharusnya sudah datang bulan." Batinnya dan menatap kalender yang ada di atas meja kerjanya.


Starla masih ambil cuti dan Beby sendiri yang menangani semua pekerjaannya bersama para staff handal yang setia membantu pekerjaannya.


"Tapi, aneh juga. Kalau aku hamil. Pasti mual dan pusing seperti Starla waktu hamil muda." Beby yang bertanya-tanya dalam hatinya. Meski dirinya sudah dewasa, pola pikirnya itu terkadang masih kekanakan.


Saat dirinya ingin liburan dengan leluasa, sang suami malah datang menyusulnya. Tanam benih itu sudah terjadi di setiap harinya. Apalagi, di tempat itu benar-benar sangat sepi.


Arjuna merasa seperti raja yang berkuasa. Pulau pribadi dan tak berpenghuni, meski mereka hanya berduaan.


Tetapi, di ujung jauh ada pengawal serta koki handal yang siaga di sebuah kapal. Mereka akan segera datang, bila Arjuna memanggilnya.


"Dia memang sengaja." Desis Beby yang tidak terima.


Suaminya yang kala itu datang tapi dia tidak senang. Berbagai cara, Arjuna meraih hatinya, akhirnya setiap hari jadi ketagihan dan enggan untuk berpisah lagi.


"Awas saja kalau aku sampai hamil. Aku tidak akan memberi ampun." Tangan yang ada di atas meja sudah tampak meremas selembar kertas.


"Hallo aunty." Starla yang membawa bayi tampannya.


"Hallo Bastian." Balasnya yang kaku, dan dia memang tidak menyukai anak-anak.


Beby yang hanya duduk dan menatap bayi tampan itu. Starla yang duduk di hadapannya, dan si bayi mungil bobok tampan di stroller.


"Kamu kenapa?"


"Aku lagi bad mood."


"Owh, datang bulan."


"Entahlah." Beby yang memang begitu adanya.


"Beby, aku akan kembali kerja. Kamu bisa ambil waktu libur kamu." Ucap Starla dengan santai.


"Bastian gimana?" Beby langsung menatap ke arah bayi tampan itu.


"Itu, di ruang kerjaku. Aku ajak baby sister." Jawabnya dan memang begitu adanya.


"Bener juga, ada baby sister. Kenapa aku nggak kepikiran soal itu?" Gumamnya dan pikirannya seketika melayang jauh entah kemana.


Starla yang melihat raut wajah tidak senang dari Beby, lalu ia berkata "Kamu tenang saja. Bastian tampanku anteng, nggak rewelan."


Starla masih menunggu balasan dari sang Bos cantik itu. Dirinya merasa kalau sahabatnya ini akan keberatan nantinya. Bila membawa bayi ke kantor.


Beby yang masih tampak diam dan Starla mengetuk meja kerjanya.


"Beby."


"Eh iya. Ada apa?"


"Nggak apa-apa. Aku mau kerja."


"Oke. Aku nggak keberatan kamu bawa bayi sama baby sister. Lagian, aku juga nantinya bakal jadi Ibu. Aku bisa ngerti keadaan kamu."


"Aku ke ruang kerjaku dulu."


"Silakan."


"Dada Aunty."


"Dada Bastian sayang. Aunty juga mau kerja. Baik-baik ya sama sister."


"Iya Aunty."


Melihat Starla yang berubah keibuan, dirinya jadi memikirkan lagi soal tamu bulannya. Kembali mengambil kalender dan menandai dengan pulpen warna.


Setelah jam siang, Beby yang keluar kantor dan tampak sendirian. Dia yang mulai terbiasa dengan kesendirian dan tidak membutuhkan sopir, asisten dan hanya sibuk bekerja. Kecuali, urusan kantor banyak staff yang membantu meringankan pekerjaannya.


"Bagaimana dokter? Apa saya hamil?"


"Dari tanda ini. Anda telah dinyatakan positif hamil. Kalau untuk mengetahui lebih detailnya. Saya akan melakukan usg." Tutur kata dokter cantik itu sangat dimengerti oleh Beby.


Beby saat ini hanya bisa mematuhi perkataan sang dokter cantik dan tampak usia 40an.


Berbaring di atas ranjang, dan dia sendiri sangat ketakutan bila sudah berhubungan dengan pemeriksaan. Sama jarum suntik saja takutnya setengah mati. Mungkin, itu hanya dalam pemikirannya bahwa jarum menusuk itu membuatnya ketakutan.


Menatap layar yang ada di hadapannya, sang dokter cantik menjelaskan tentang kandungannya. Dirinya, hanya bisa diam dan tak bertanya ini dan itu.


"Bayiku?"


Beby yang dari awal belum siap untuk hamil, sepertinya Arjuna memang sudah sengaja menanamkan benihnya, supaya diminta pulang oleh sang Bunda. Hanya itu, yang bisa Arjuna lalukan agar bisa kembali ke kota tempat tinggalnya.


"Arjuna, aku sudah mengandung anakmu." Batin Beby.


Beby sedang menatap ke foto usg yang dari tadi di pegangnya. Saat ini, dirinya telah mengantri untuk mengambil vitamin.


Dokter tadi juga mengatakan, kalau kandungannya sangat baik dan sehat. Tidak ada masalah apapun.


Beby juga tidak merasakan hal aneh, hanya saja dia sudah mulai menonton film-film sang Arjuna.


"Apa karena bayi ini. Aku jadi sangat merindukannya." Gumamnya dan ia segera mengambil vitamin kehamilan.


Setelah dari rumah sakit Ibu Hamil, dia kembali ke kantor. Perasaannya semakin tidak karuan, entah apa saja yang sedang dia pikirkan.


Starla yang kembali ke ruang kerjanya, untuk memberikan ide fashion untuk bulan depan.


"Bos."


"Iya."


"Ini, sudah aku buat konsepnya."


"Besok, kamu saja yang memimpin rapatnya."


Starla yang tadinya hanya berdiri, dan ia melihat sang sahabat tampak bermuka masam.


"Kamu ada masalah?"


"Tidak ada."


"Tidak. Aku hanya sedang malas."


"Emh, mungkin saja kamu kangen sama Arjuna."


"Sepertinya, memang begitu."


Starla memegang tangannya, lalu berkata "Susul dia. Aku yang akan bekerja."


"Tidak. Aku tidak akan menyusul dia."


"Kenapa?"


"Kalau aku susul dia kesana. Dia malah tidak akan pulang."


Starla bertanya "Lalu, apa tanggapan Ibu mertuamu?"


"Aku tidak berani sama Bunda. Aku setiap kesana. Bunda masih ada rasa kecewa sama Arjuna."


"Akan sampai kapan kalian seperti ini?"


"Aku tidak tahu."


"Aku mengerti, setelah jadi Ibu aku mulai mengerti kenapa Abahku juga sangat mengatur kehidupanku. Apalagi, Ibu mertuamu yang sangat terluka hatinya."


"Makanya itu, aku juga takut. Aku nggak berani mengatakan ini itu soal Arjuna dihadapan Bunda."


"Apa yang Arjuna lakukan disana?"


"Hanya sibuk kuliah dan mempelajari seluk beluk Mahatma."


"Iya, sama seperti Bintang. Sampai saat ini, dirinya juga masih harus banyak belajar. Demi menyelamatkan hidup orang banyak. Bintang harus bekerja keras seperti Papa Damar."


"Starla, waktu kamu hamil. Apa kamu ingin selalu dekat dengan Kak Bintang?"


"Tidak. Aku selama hamil, malah tidak suka melayani dia. Aku sangat menjaga jarak. Entah, aku sendiri juga bingung. Untung saja Bintang sibuk bekerja."


"Emh, aku hanya penasaran saja. Aku melihat kamu sudah keibuan. Tidak seperti kamu yang dulu."


"Kamu benar, aku dulunya tidak suka dengan anak-anak. Setelah melihat bayiku tampanku, aku jadi merasakan hal berbeda. Duniaku seolah sudah tergantikan. Meski aku tidak bisa merawatnya sendiri, tapi aku jadi gelisah tanpa melihatnya di sekitarku."


"Pantas saja kamu mengajaknya ke kantor."


"Iya. Aku harap kamu juga merasakan seperti aku."


"Nggak mau."


"Kamu nggak mau jadi Ibu?"


"Bukan begitu. Aku nggak mau jadi kamu yang tidak mau melayani suamimu." Beby yang berubah tawa.


"Kamu ini. Ya sudah, aku akan kembali kerja. Kalau kamu ada masalah, cepat memberitahu aku."


"Oke."


Flashback on


Saat Starla melahirkan dan kedua mertuanya telah menemaninya.


Bayi tampan lahir dengan sehat dan Starla melahirkan di usia kehamilan 35 minggu. Bayi dengan berat 2 kg 8 ons. Sangat mungil dengan hidung yang bangir. Bibir imutnya yang bergerak dan tidak banyak suara tangisnya. Begitu anteng dan tangannya bergerak-gerak seolah ingin meminta pelukan.


Tidak lama, setelah inisiasi dini. Bayi itu dibawa ke suster. Karena Mama Abyaz takut kejadian dulu terulang lagi, beliau nekat mengikuti cucu pertamanya ini.


Meskipun, suster utama melarangnya. Mama Abyaz yang telah menyandang panggilan Eyang ini, tetap saja mengejar kemana suster itu membawa cucunya.


Setelah bayi mungil itu terbalut kain bedong dan sang Eyang membawanya kembali ke ruangan sang Ibu.


"Cucunya Eyang. Sayang." Ucapnya dan Starla hanya terdiam tanpa lagi berkata Beby pergi.


Sang suami, tadi tidak mengihiraukan perkataan istrinya. Starla hanya takut kalau sahabatnya melarikan diri seperti dulu. Apalagi, mengingat akan Arjuna yang tak kunjung kembali. Pikiran itu tetap saja ada dalam benak Starla.


Mama Abyaz yang menatap ke sekitar ruangan. Dari tadi tidak melihat putrinya, padahal sahabat putrinya ini sedang melahirkan.


"Mama dari tadi nggak lihat Beby."


Papa yang sibuk dengan ponselnya, lalu berkata "Beby liburan."


"Liburan?"


Starla berkata "Mama, Beby pergi. Dia juga nggak pamit sama aku."


Starla yang berubah melo dan Bintang masih berada disisinya. "Sayang, kamu malah mikirin sahabatmu."


"Aku cepat melahirkan karena dia. Aku tadi syok. Setelah dengar kabar kalau Beby ke Pulau Sebinar."


"Pulau Sebinar??" Mama Abyaz yang baru mendengar nama pulau itu.


"Iya."


Mama Abyaz menatap sang suami, lalu bertanya "Papa tahu, dimana itu?"


"Mana Papa tahu. Papa selalu ada di kantor. Mana pernah Papa jalan-jalan apalagi Pulau Sebinar."


Starla menatap suaminya, lalu berkata "Bintang, cepat cari tahu soal itu. Aku cemas. Kalau Beby sampai kenapa-napa."


"Sayang, kamu tidak perlu cemas. Aku akan hubungi Arjuna. Biar dia yang mencari istrinya."


"Kamu yakin?"


"Iya. Aku akan bilang sama dia. Beby hilang di Pulau Sebinar."


"Kamu malah bilang begitu. Kamu nggak sayang sama adikmu."


"Aku sayang adikku. Tapi, dia sudah bersuami."


"Benar juga. Arjuna harus bisa menemukan istrinya."


Flashback Off.


"Cinta, ada apa?"