ABYAZ

ABYAZ
Momong Bayi



"Arjuna sayang."


"Ayah mau kerja. Kamu bobok di sofa ya sayang."


Suara sang Ayah yang terdengar pelan.


Memang seperti itu, setiap ada ayahnya. Arjuna tidak mau di tidurkan begitu saja. Selalu rewel dan suara tangisnya begitu merdu.


Mungkin, bayi tampan ini sudah tahu. Janji Ayahnya waktu itu. Ayahnya yang telah mengatakan, kalau ia yang akan merawatnya.


Pelan-pelan, meletakan bayi gemasnya di atas sofa dan ada bantal yang telah mendampingi.


"Akhirnya." Setelah 2 jam menggendong.


Hembusan nafas sudah terlepas dan perlahan merasa sangat lega. Sambil mengusap keringatnya di sekitar leher dan wajahnya.


Greet!!


Suara dorongan pintu.


Oweek


Oweek


Oweek


"Kak Abyaz."


"Arjuna sayang. Budhe ganggu ya nak. Sayang, chup..chup.. sayang." Abyaz lekas mengambil bayi embul itu dan langsung mendekapnya.


"Sayang."


Masih saja menangis dengan suara gemasnya.


Antara tidak tega dan harus tega, saat menatap bayi tampannya. "Kak, tolong jagain Arjuna."


"Iya. Sana, kamu lanjut kerja lagi."


Abyaz lantas membawanya keluar dan ia merasa senang saat mengajak bayi embul ini.


Arjuna Madaharsa nama putra pertama Alvaro dan Gaby. Artinya anak tampan dengan penuh cinta.


Alvaro masih dalam pembelajaran. Dirinya belum memasuki gedung JS. Bahkan di kantor ini, menegemennya sangat berantakan.


Permulaan yang bagus, Alvaro dipercaya Damar untuk memegang perusahaan ini. Untuk meraih kursi tertinggi, sangat membutuhkan perjuangan dan tidak mudah baginya untuk menjalankan perusahaan ini.


Sebut saja kantor Z, perusahan yang hampir runtuh dan tahun lalu, diakusisi JS. Bahkan, perusahaan ini juga sempat jadi rebutan dengan Mahatma. Ehem, Damar dan Binar, sempat beradu mata.


Tatapan Damar itu, selalu bikin mood orang naik turun. Binar sendiri bingung, kenapa orang tenang seperti Damar selalu menang melawan dirinya. Itulah, yang membuat Binar, semakin ingin naik dan naik lagi posisinya. Sampai teratas ke pucak Mahatma. Sayangnya, Viral yang saat ini menduduki posisi itu.


Kembali ke cerita Arjuna, si bayi embul yang bikin emes semua orang.


"Vivi, tolong ambilkan popok."


Vivi mencari-cari di dalam tas bayi embul ini dan akhirnya mendapatkan diapers celana.


"Ini Madam."


"Sayang, kamu ganti popok dulu ya. Ayah kamu harus kerja dulu. Cari duit yang banyak buat kamu."


Suara Abyaz begitu gemas dan ia merasa senang.


Abyaz tersenyum, mengingat saat Gaby telephone dirinya. Biasanya ada Mama mertua dan Papa mertua yang menjaga bayinya. Tapi, dari minggu lalu. Kedua mertuanya sedang di luar kota. Mbah Pras lagi ada acara di Semarang. Jadinya, Bunda belia ini sangat kerepotan mengurus bayinya sendirian.


"Gaby, gaby, sudah dibilangin. Harus ada suster yang merawatnya. Tetap saja kekeh. Aku mau ngerawat sendiri. Nah, jadinya begini." Itu tadi, setelah Abyaz menerima panggilan dari adik iparnya.


Abyaz dengan segera, meluncur ke kantor Alvaro dan mengambil bayi embul ini.


"Sayang, hari ini kamu sama Budhe Abyaz dulu ya."


Abyaz yang sedang menggendong bayi tampan ini. Tampak tersenyum manis. Lalu mengajaknya pergi, dengan mobil mewahnya.


"Sayang, kamu nggak boleh rewel ya. Kita nanti bertemu sama teman-teman Budhe. Oke."


Emh, lagi-lagi ada acara arisan sosialita. Abyaz lantas mengajaknya ke tempat yang sudah di siapkan oleh temannya.


Satu jam berlalu dan Abyaz hanya setor muka saja. Soalnya, bayi tampan ini malah jadi ajang rebutan para ibu-ibu. Mereka ingin menggendongnya, bahkan ada pula yang ingin menjodohkan bayi embul ini.


"Ya jelas guanteng dong. Siapa dulu Budhenya." Itulah ucapannya, saat Abyaz pamer keponakan.


Oweek


Oweek


Saat di mobil, si bayi tampan ini ingin menyusu. Secepat mungkin, Vivi membuatkannya susu formula. Sayangnya, masih rewel saja.


"Oke, kita nyusul Bunda ya. Tenang ya sayang. Sabar ya."


"Tang ning nang ning nang, sayang. Chup..chup.. bentar ya. Nanti, ketemu Bunda."


Abyaz yang membuatnya tertidur dengan dot bayi, akhirnya mau juga menyusu dengan dot itu.


Abyaz merasa gerah, saat bayi ini rewel dengan gerakan aktif. Baru berusia 3 bulan, tapi gerakannya begitu kuat.


Jari-jarinya, juga sempat meraih rambut sang Budhe. Lalu, Vivi mengambil binder clips, menggulung rambut Abyaz dan menjepitnya dengan alat itu. Soalnya, Abyaz tadi nggak kepikiran kalau hari ini harus momong bayi. Dia siap di jalan, karena mau arisan.


"Vivi, kita ke kantor saja. Biarkan Gaby menyelesaikan ospeknya."


"Baik Madam."


"Sayang, kita kejutkan Pakde saja yuk."


Meski berpakaian rapi dengan blazer, tapi Abyaz dari tadi menggendongnya. Abyaz tidak segan dan stoller ia tinggal di kantor Alvaro.


Mata yang indah dan sangat tampan. Begitu menggemaskan. Pipi merona dan hidung yang mancung. Tapi, Gaby bilang hidungnya tetap mirip dengan dirinya. Meski sembilan bulan lebih dua hari Gaby menggandung, namun wajah bayi tampan ini sangat mirip Ayahnya. Gaby merasa, tidak ada yang mirip dengannya.


"Pakde Damar..." Begitu gemas suara Abyaz.


"Wwah, ada tamu kecil." Pakde Damar dengan senyuman manisnya.


Pakde satu ini begitu tenang, dan ia langsung menghampiri bayi embul ini.


"Iya Pakde. Aku ditinggal Bunda ke kampus. Ayah juga lagi sibuk."


"Oo, iya. Ayah kamu lagi ada proyek besar ya. Jadinya, harus lembur terus."


"Mas Damar." Abyaz yang melotot.


"Iya, aku lupa kalau Gaby udah masuk kuliahnya."


Damar akhirnya menggendong bayi embul ini dengan senang hati. Abyaz lalu beralih ke kursi kerja suaminya.


"Presdir Damar. Apa yang anda kerjakan hari ini?"


"Aku lagi nggak ada kerjaan."


"Bagus."


"Emh, bagus?"


"Iya Mas. Kamu bisa bantu jagain Arjuna."


"Oh, ini aku lagi gendong. Dia bobok anteng begini. Apa repotnya?"


"Ya tetap aja Mas, kalau nangis, susah diemnya." Abyaz yang merasa memang begitu adanya. Sudah tampak kewalahan saat tadi di mobil, ternyata nangisnya merdu dan sangat lama.


"Arjuna, Budhe kamu sudah menyerah. Sekarang kamu sama Pakde ya. Kamu ingin apa sayang? Emh, mobil? Helikopter? Lapangan bola? Atau Lapangan golf?"


"Sebut aja semuanya Mas." Abyaz yang merasa kesal dengan suaminya.


"Sayang, itu Budhe kamu. Kayaknya kepingin bayi lagi."


"Hemm, aku Mas?"


"Tuh, Budhe kamu gitu. Kalau ada yang diminta nggak mau ngomong langsung, sukanya gitu. Moodnya langsung bete."


"Emh, tadi itu."


"Tadi apa?"


Damar masih berdiri, sambil mengayun pelan si bayi tampan.


"Aku mau diajak Valerie, liburan ke Swiss."


"Nah, bener kan. Budhe kamu gitu sayang."


"Mas?!"


"Nggak bisa. Aku nggak ada jadwal libur."


"Mas, aku nggak enak sama Valerie."


"Sayang." Damar yang tampak menggeleng.


"Ya udah." Tampak cemberut.


Sang suami lantas mendekat, dan berkata "Nanti, aku cari waktu dulu. Tapi, aku maunya kita berempat. Aku nggak suka kalau kamu perginya sendirian."


"Iya, aku tahu."


"Emh, kalau kamu mau berduaan. Berarti."


Belum sampai lanjut berkata "Iya, iya. Berempat aja. Aku nggak mau nambah anak lagi."


Suaminya begitu senang, "Emangnya tadi aku mau ngomong gitu?"


"Terus mau ngomong apa?"


"Sayang, program lagi gimana?"


"Nggak mau."


"Emh, kembar juga harus punya adik."


"Mas Damar. Kembar udah punya Arjuna."


"Papa, tolongin Damar Pa." Damar yang seakan mengadu kepada Papa mertua.


Kedua menantu lelakinya, semua sama. Nggak ada yang ditakuti istrinya. Nah, sekarang anak laki-lakinya juga sama. Jadi, suami-suami takut bini. Papa Pras sampai nggak habis pikir. Kenapa, dua anak perempuannya, nggak ada yang bisa sabar seperti Britney. Meskipun begitu, suami dari mereka, juga tetap setia dan mencintainya sepenuh hati.


Meskipun Britney dulu diberi kebebasan dan sering juga debat dengan suaminya. Tapi, bila dinasehati masih menurut. Ini kedua anak perempuannya, sama saja. Suka membantah, tapi mereka pandai bermanja dengan sang suami. Apalagi Abyaz, manja sekali bila meminta sesuatu kepada suaminya.


Bermain kuku dan tidak mau menatap suaminya, "Mas, gimana? Kapan waktu luangnya?"


"Ini baru dilihat."


Jari kanannya mencari jadwal di layar pintarnya. Tangan kiri, menggendong bayi tampan ini.


"Emh, bulan depan tapi cuma seminggu."


"Iya Mas. Aku mau."


Dengan spontan karena senang, ia mencium bibir suaminya. Emmuah.


Tak sampai disitu saja, ciuman lembut Abyaz membuat Damar semakin ingin lebih, dengan sedikit bergerak dan tangan kanannya ingin meraih pinggul sang istri. Karena, gerakan Damar itu.


Owweekk!!


Saling terlepas dan Damar merasa ada yang lucu "Maaf sayang."


Oweek!!


"Mas, gilirian kamu yang tanggung jawab. Aku mau keluar dulu. Mau hubungi Valerie." Seraya tangannya memberikan kiss kiss emmuach.


Damar dengan senyumannya yang begitu mempesona dan ia masih menatap istrinya sembari tangannya menimang-nimang jagoan tampan ini.


"Uu sayang. Pakde nakal ya."


"Arjuna, anak pintar. Besok temenin Pakde main golf ya."