
...Satu minggu setelah hari pernikahan....
Sabtu pagi yang cerah, tapi suasana hati Abyaz tidak begitu cerah. Saat Abyaz melihat sang suami hanya diam tanpa kata. Dari rumah mereka, dan sampai tiba di rumah mewah bak istana, dan itu adalah kediaman Kakek Lee Sung Hoon.
"Damar." Suara Abyaz yang terdengar lembut saat memanggilnya, dan Damar mulai tersenyum saat menoleh ke wajah cantik istrinya.
"Ini rumah Kakekku." Ucap Damar.
Abyaz hanya tersenyum saja. Rasanya sangat begitu aneh bagi seorang Abyaz.
Awalnya mereka tidak ingin datang. Damar juga tidak ingin istrinya nanti akan terluka hatinya.
Tapi, Stella sudah mengancam Damar, bila tidak datang sendiri. Stella akan menyuruh pengawal untuk menjemput Damar dengan paksa. Pasti akan membuat kekacoan lagi, bila Damar tidak menuruti kata-kata Stella Anastasya.
"Mak lampir, aku sudah datang." Batin Damar dan mulai keluar dari mobil.
Tiba di Bandara Internasional, mereka tadi di jemput beberapa pengawal. Abyaz cukup terkaget, dia juga teringat akan masalalunya. Saat menjemput sang kekasih, sebelum hari kepergiannya.
"Abyaz, kamu baik-baik saja?" Damar melihat kegelisahan teman hidupnya.
Walaupun diantara mereka berdua masih seperti orang asing. Tapi mereka cukup memberikan perhatian satu sama lain.
"Aku baik-baik saja. Asalkan, kamu terus menjaga aku."
Damar memegang tangan Abyaz, dan mereka tampak dikelilingi para pengawal profesional.
Stella yang keluar dari rumah itu, hanya tersenyum manis dengan kedua tangan yang berkacak pinggang.
"Masuklah!"
"Apa kalian akan tetap berdiri disitu saja?!"
Abyaz tampak menghembuskan nafasnya, dan merasakan hawa dingin mulai menyelimuti tubuhnya.
Damar yang merasakan tangan Abyaz yang gugup.
"Jangan cemaskan aku." Ucap Abyaz.
"Ayo kita masuk."
Stella tersenyum dan rasanya gemas, padahal Stella sudah memberitahu Abyaz, agar dia selalu memasang wajahnya. Tapi, Abyaz terlihat sangat layu dan tidak bersemangat.
"Dam...." Baru Abyaz ingin berkata, tapi sudah dikejutkan oleh gadis yang berlari ke arah Damar.
"Eun Ho Oppa."
Gadis berusia 25 tahun itu sudah memeluk Damar, perlahan Abyaz melepaskan tangan sang suami.
Tapi Damar meraih kembali tangan Abyaz. Stella yang menyaksikan itu, hanya bisa menggeleng.
"Bukannya aku sudah mengatakannya. Kenapa Abyaz malah melepaskan tangan suaminya?!!"
"Oppa, aku kangen. Akhirnya Oppa kembali ke rumah." Ucap gadis berkulit putih itu dengan menebar senyuman manis, tapi dia tidak memperhatikan Abyaz yang dari tadi sudah berdiri di sebelah Damar.
Damar yang tersenyum ringan, lalu berkata "Aku hanya sebentar."
Abyaz yang memalingkan wajahnya dan seolah tidak tahu apa-apa. Perlahan gadis itu melihat ke arah Abyaz.
"Kamu siapa?"
Tatapan dengan tanya dan sangat pahit rasanya.
Perlahan melihat ke arah tangan Damar yang menggenggam erat tangan Abyaz, dan gadis itu menatap wajah Damar dengan penuh tanda tanya.
"Oppa. Dia? Siapa dia??" Gadis itu yang sudah mulai bergemuruh.
Abyaz masih tidak ingin melihat ke arah gadis itu. Damar yang tidak peduli dengan pertanyaannya, dan mereka kembali berjalan lagi.
"Oppa...." Gadis itu lalu mengejarnya, dan berjalan mengiringi Damar disisi kanan.
Abyaz yang di sebelah kiri, ingin sekali melepaskan tangannya, tapi Damar malah semakin menggenggam erat.
"Oppa, jelasin sama Cecil"
Cecilia Song, gadis kelahiran Bejing dan tumbuh besar di kediaman Lee Sung Hoon, dia adalah cucu sahabat sang kakek, dan dari kecil dia sudah tinggal disana. Dialah gadis yang dari kecil sudah dijodohkan dengan Lee Eun Ho.
"Cecil, dia istrinya Oppa, kamu harus sopan sama istrinya Oppa." Ucap Damar.
Damar selalu hanya menganggap Cecilia seperti adiknya. Damar juga tidak pernah menyetujui perjodohan itu.
"Oppa,..." Tatapan Cecil sudah mulai aneh dan rasanya sangat geram melihat Abyaz.
Abyaz bahkan tidak menunjukan wajah cantiknya.
"Oppa pasti bohong!"
"Apa Oppa pernah bohong sama kamu?" Senyuman manis Damar tampak begitu pahit bagi Cecilia. Dia juga bisa melihat sorot mata Damar yang tidak berbohong.
"Oppa." Tampak air bening dalam kelopak mata itu dan perlahan jatuh. Tapi Damar sama sekali tidak peduli.
"Sayang, ayo kita ke kamar." Ucap Damar kepada Abyaz.
Mereka berdua kembali berjalan dan Cecil yang geram berlari ke arah mereka berdua. Dengan sekuat tenaga, tangan Cecil memisahkan tangan Damar yang menggenggam erat tangan Abyaz.
Banyak pelayan perempuan yang ada di ruangan itu. Mereka juga bisa melihat bagaimana perasaan Cecil yang terluka, dan aura panas sudah mulai membakar pikirannya.
Cecil menatap Abyaz dan berteriak "Kamu! Pergi dari sini!!"
Perlahan Abyaz mengangkat wajahnya, dan tangan kanannya bergerak membelah rambut panjangnya.
Abyaz memandangi wajah Cecil, dan berkata "Untuk apa aku pergi, suamiku sendiri yang mengajak aku kesini."
Damar tersenyum manis saat melihat ekspresi istrinya yang mulai meluarkan racun yang sangat mematikan.
Stella yang besedekap mulai tersenyum, dan adegan ini sangat membuat Stella senang.
"Kamu!!"
"Upps!! Maksud aku, gadis yang tidak diinginkan Eun Ho Oppa."
Cecil dengan geram dan hendak menampar Abyaz, tapi dengan cepat Abyaz menangkap tangan Cecil.
"Ini seperti adegan sinetron yang kemarin aku tonton sama Nazla."
Kedua orang yang saling menatap, tapi Abyaz terlihat tengil dan sangat gemas.
"Abyaz, jangan buat Cecil takut."
Damar memisahkan tangan Abyaz dan kembali menggenggamnya, lalu dia mengajak Abyaz pergi ke kamarnya.
Cecil yang dengan rasa berkecambuk dalam dadanya, dia mengepalkan kedua tangannya.
Stella yang berjalan melewati Cecilia dan dia berkata "Aku sudah pernah bilang sama kamu. Eun Ho sudah berubah, dia bukan milik kamu lagi."
Stella dengan rasa senang dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Cecilia semakin ingin menghancurkan istrinya Damar.
"Oppa." Dengan rasa bergemuruh dan berjalan ke arah kamar Damar.
Damar dengan manis melepaskan jaket Abyaz dan bertanya "Tangan kamu sakit?"
"Hems, kamu keterlaluan."
"Mana aku lihat."
Cecil yang berjalan ke arah kamar itu, lalu mematung, melihat kemesraan mereka berdua.
Emosinya semakin membara dan ingin rasanya segera meluapkan perasaan panasnya ini.
"Oppa, aku tidak akan tinggal diam."
Cecilia melihat aura cinta Damar, saat Damar meniup tangan halusnya Abyaz.
"Sudahlah, aku baik-baik saja."
"Lihatlah ke arah pintu." Ucap Damar.
Sepertinya Damar, memang sengaja tidak menutup pintu kamarnya.
Sabtu pagi yang hareudang, dan membuat Cecilia begitu meradang.
"Ems, dia gadismu yang garang??"
Damar semakin menjadi dan menarik pinggang Abyaz, lalu berkata "Istriku lebih garang."
"Apa maumu??"
"Imbalan."
"Aku lelah."
"Lakukan demi aku."
"Mulai sekarang aku harus menonton film."
Damar lebih menariknya lebih dekat. Abyaz mulai menyentuh dada Damar, perlahan mencium leher Damar.
Cecilia yang melihat itu sangat geram.
"Sayang, aku lupa menutup pintu."
"Iya, aku harus mandi dulu." Ucap Damar dengan manis.
Damar seolah tidak menatap pintu kamar itu, dan bergegas ke kamar mandi.
Abyaz yang berjalan tampak senyuman manis dengan pesona yang menawan. Dia juga menunjukan, bahwa ada rasa bahagia saat bersama sang suami.
"Nona Cecil, anda kemari?!"
Cecilia hanya diam, tampak sangat emosi.
Abyaz yang sudah mulai mendorong pintu, hanya terlihat wajah Abyaz "Nona, apa anda ingin menyaksikan ranjang panasku?"
Damar yang terdengar memanggilnya, dan Abyaz membalas "Iya Sayang, tunggu sebentar."
Cecilia yang mendengar itu semakin geram, dan Abyaz berkata "Nona Cecil, maaf. Suamiku sudah tidak sabar. Dia sangat manja."
"Sorry, Aku harus mengunci pintunya."
Pintu putih itu tertutup. Terdengar suara pintu terkunci.
Abyaz yang bersandar dibalik pintu itu.
"Huuft" Abyaz menghembuskan nafasnya.
"Dimana-mana selalu ada kupu-kupu terbang. Yang ada disini, bahkan lebih menyeramkan dari hantu penunggu rumah."
Damar yang berbaring di tempat tidur memandangi Abyaz yang menggerutu.
"Sudah bawelnya?"
Abyaz berlari ke tempat tidur dan menggulung selimutnya.
Damar yang terbungkus selimut lalu diduduki Abyaz.
"Keterlaluan."
"Keluargamu sangat mengerikan."
"Hemms, kamu belum bertemu Kakek sama Mama."
"Iya, kita lihat saja nanti." Abyaz yang menindih Damar semakin kesal.