ABYAZ

ABYAZ
Bab. 67. Couple Cute Melarikan Diri



Siang itu bagaikan badai yang telah menerjang dan memporak-porandakan keluarga besar Mahatma serta keluarga Jisung.


Papa Binar kembali terekspos media dalam berita dan nama Mahatma masih melekat pada dirinya.


Banyak orang yang menyayangkan pernikahan Arjuna dan Beby. Apalagi, kalau dilihat dari silsilah keluarga besarnya.


Meskipun, Papi Binar putra angkat dari Lingga Mahatma. Tetapi, tetap saja mereka berdua ini saudara sepupu.


Lalu, bagaimana dengan keluarga Jisung. Media mengatakan, kalau Beby Ayazma adalah putri dari Presdir Damar dan Madam Abyaz.


Para penggemar Arjuna yang tadinya masih ingin menelusuri tentang Beby putri keluarga Jisung. Sayangnya, semua berita lelap dalam sesaat.


Berita panas itu, sudah hilang dari semua media kabar berita.


"Arjuna." Beby berusaha menjauh dari dekapan suaminya.


"Sayang." Arjuna dengan tatapan heran, melihat istrinya yang merapikan diri.


Tampak merapikan rambut dan dress yang ia kenakan saat ini. Arjuna tetap memandangi istrinya dan merasa aneh.


Beby menoleh ke arah suaminya, saat ia membenarkan anting yang telah jatuh ke pangkuan Arjuna.


"Arjuna, kamu memelukku terlalu erat. Aku sampai kegerahan."


Arjuna masih menatap istrinya yang berada di sisi kanannya. Arjuna menatapnya dengan terheran.


Beby memegang lengan sang suami, lalu bertanya "Gimana, akting aku sudah meyakinkan belum?"


Arjuna terdiam dan Jimmy juga melihat hal aneh dalam diri Beby, Jimmy yang berkata "Beby, akting kamu luar biasa."


"Benarkah? Berarti aku juga bisa jadi artis." Selorohnya senang dan tampak tersenyum.


"Kamu mau jadi artis?"


"Iya, artis lawan main Arjuna." Jawabnya yang simple dan Arjuna memalingkan wajahnya.


"Jadi, tadi itu. Kamu cuma akting?"


"Iya. Mana mungkin aku pingsan beneran."


"Sayang, aku udah panik setengah mati." Tatapan Arjuna yang memang begitu adanya dan merasa tidak terima.


"Kamu ini. Aku hamil muda, kamu ajak aku lari begitu saja. Aku malah jadi punya ide, untuk pura-pura pingsan."


Arjuna memegang perut istrinya, lalu berkata "Togeku sayang, Papa minta maaf. Tadi, Papa cemas karena masalah Mama kamu."


Beby yang mendengarnya, jadi tidak terima dengan ucapan Arjuna. "Aku tidak punya masalah apapun."


"Sayang."


"Apa yang mereka katakan benar adanya. Untuk apa aku yang harus tampak berduka."


Jimmy berkata "Arjuna, sepertinya kamu harus belajar akting dari istrimu."


"Jimmy."


"Sorry."


Jimmy lantas tidak mengganggu Arjuna dan Beby. Couple mesra itu, jadi saling menatap manis.


Beby berkata "Aku tahu cerita masa lalu Ibuku dan Papi. Aku hanya bingung saja kenapa berita lama itu kembali menyerbu."


"Sayang, aku akan menjaga kamu."


"Iya, kamu benar. Kamu harus menjaga aku."


Beby memeng erat lengan tangan sang suami dan Arjuna jadi terdiam lagi. Beby yang semakin menyandarkan kepalanya dan enggan untuk menjauh dari Arjuna.


"Kamu tidak sedih?"


"Aku tidak ingin bersedih. Sekarang, ada kamu yang mendampingi aku."


Arjuna memegang tangan istrinya dan menciumi tangan itu. "Sayang, kamu sekarang sudah lebih dewasa."


"Berkat kamu." Beby tersenyum, meski ada rasa sakit dalam hatinya. Sedih juga percuma, tidak akan bisa merubah kenyataannya.


Beby berkata "Aku tetap bersyukur, bisa lahir ke dunia ini. Mempunyai Mama dan Papa. Lalu, ada kamu yang memahami aku. Semua keluargaku, membuat aku bahagia. Aku tidak ingin mempedulikan ucapan mereka. Nantinya, kabar itu juga akan terlupakan, entah satu dua bulan, atau bahkan setahun dua tahun. Tapi, aku tidak ingin menghindari masalah. Aku akan menerima, semua gunjingan mereka terhadapku. Yang aku tahu, aku terlahir karena cinta. Aku tidak akan mempedulikan hal lainnya, bagi mereka aku hanya anak haram. Tapi, aku juga tidak bisa untuk memilih jalan takdirku. Aku punya cinta dari kalian, keluarga besarku, itu rasanya sudah cukup bagiku."


Beby yang sudah menganggap kalau berita itu, harus dia terima dengan hati yang lapang. Tidak perlu lagi memberi penjelasan, atau pembelaan untuk dirinya sendiri. Dia telah menerima, semua ucapan pedas untuk dirinya serta Ibu kandungnya.


"Beby, apapun keadaan kamu. Aku akan selalu ada disisimu." Arjuna dengan wajah tersenyum, meski perasaannya juga sangat tidak nyaman. Apalagi, ini menyangkut nama baik istrinya.


"Arjuna, terima kasih."


Berita panas tadi membuat Imel bahagia dan hatinya merasa puas. Meskipun, bukan dia yang menyebarkan berita itu, tetapi Madam Stella sudah menuju ke tempatnya dan apa yang akan terjadi pada Imel nantinya. Meskipun Madam Stella hendak memintanya untuk membuat pernyataan soal masa lalu itu. Meskipin begitu, sebutan anak haram akan terus melekat pada Beby Ayazma.


"Arjuna, aku hanya ingin. Kita berduaan saja."


"Berduaan?"


"Kemana saja kamu mengajakku. Aku mau pergi bersamamu dan kamu harus menjaga aku."


"Kamu ingin, aku mengajak kamu pergi?"


"Asalkan bersama kamu. Aku pasti bisa melupakan semua masalahku."


Arjuna mengecup kening istrinya dan memeluknya erat. "Baik, aku mengerti."


Semburat manis dari wajah Arjuna, dan dia sangat tahu apa yang dirasakan oleh Beby Ayazma saat ini. Kali ini, suaminya harus bisa menjaganya dan Beby juga tidak ingin ada perpisahan.


Jimmy yang tidak berniat menguping pembicaraan mereka berdua, ia hanya membatin "Semoga Arjuna bisa menjaga Beby. Perempuan selalu saja memutar kata. Meskipun mulut Beby berkata tidak, hatinya pasti sakit sekali."


Jimmy yang sudah menikah, juga paham. Istrinya juga selalu saja membuat pusing kepalanya. Tapi dengan begitu, lambat laun dirinya paham, kalau wanita selalu ingin dimengerti.


Baru saja Jimmy membatin, Arjuna telah memanggilnya. Jimmy bertanya "Arjuna, ada apa kamu memanggilku?"


"Aku butuh bantuanmu."


"Baik. Aku siap membantumu."


"Percuma aku membelikan rumah untuk Beby di sebelah rumahku, kalau putramu mengajak menantuku pergi begitu saja."


"Bunda, biarkan saja mereka pergi berdua. Arjuna memang harus bertanggung jawab atas istrinya. Mereka juga sudah dewasa."


"Ayah, tapi menantu kita lagi hamil muda. Apa Arjuna bisa memahami istrinya?"


Kedua orang tua itu datang lebih dulu sebelum yang lain dan saat ini sudah berkumpul semua di ruang tamu rumah Beby dan Arjuna.


Papa Damar hanya sibuk menenangkan istrinya yang tidak henti menangis dan Pakde Viral seperti biasa, sudah tampak mondar mandir sambil berfikir dan Papi Binar belum terlihat sama sekali.


Bulan bersama suaminya. Lalu, Cinta dan Mirza juga tampak mendatangi rumah Beby.


Jimmy setelah memberikan surat dari Arjuna, hanya bisa mengunci mulutnya.


"Jimmy, apa mereka ke Bandara?" Tanya Pakde Viral.


"Tidak."


"Pakai mobil?"


"Saya tidak tahu."


Melihat ke arah Mama Abyaz yang terus saja menangis, batin Jimmy juga tidak tega. Tapi apa boleh buat, dia juga tidak tahu Arjuna mengajak istrinya kemana.


"Apa di rumah Pondok Indah?" Celetuk Bulan dan tampak duduk di kursi santai yang ada di sekitar ruang tamu, dia juga masih memegang erat tangan Edward.


"Tidak." Jawab Jimmy.


Pakde Viral masih memegang surat dari Arjuna "Bulan, kalau mereka pergi ke rumah sana, tidak akan ada surat seperti ini. Mirza saja juga ada disini."


Mirza berkata "Mungkin mereka berdua pergi ke Pulau Sebinar."


Cinta yang duduk di sebelahnya, jadi berkata "Mas Mirza, Beby lagi hamil muda, mana mungkin mereka akan pergi ke pulau terpencil."


"Benar juga kata kamu."


Pakde Viral dan Papa Damar juga sudah mengerahkan para pengawal, untuk mencari mereka berdua. Bahkan, saat pergi tadi tidak ada satupun dari para pengawal yang melihat mereka. Pak Josh juga bekerja keras.


Apalagi para petinggi perusahaan. Sang Bintang, Noah yang pusing karena diserbu para klien dan para pemilik saham.


Starla juga menangis di sudut ruang kerjanya dan tidak ada yang berani mendekatinya.


Keluarga besar itu, masih memikirkan mereka berdua.


1 jam kemudian.


Langit sudah tampak gelap dan mereka masih saja menunggu kabar berita dari para ajudan mereka.


"Mirza, dimana Papi kamu?" Tanya Pakde Viral yang belum melihat kehadiran Binar.


"Ada di rumah. Tadi, masih mengunci diri di ruang kerjanya." Jawab Mirza.


"Mami kamu?"


"Mami, tidak tahu kemana."


Baru mereka membahasnya, kedua orang tua itu telah tiba di rumah Beby dan sudah terdengar ucapan salam dari mereka berdua.


"Kak Stella, putriku sudah menghilang." Mama Abyaz yang masih menangis dan Stella memeluknya.


Papi Binar berkata "Semua ini, karena kesalahanku."


Pakde Viral mengajaknya untuk duduk bersamanya "Bukan kamu yang salah. Jangan suka menyalahkan diri sendiri."


"Tetap saja, semua masalah berawal dari aku."


"Tapi kalau kamu tidak membuat anak. Mana bisa putrimu hadir di antara kita semua."


"Mas Viral benar. Stella juga berkata seperti itu."


Setelah suasana tenang, semua orang yang ada di tempat itu hanya menatap wajah Jimmy.


"Beby hanya ingin hidup berdua dengan Arjuna."


"Hidup berdua?" Bulan yang tampak tidak senang.


"Hanya itu saja yang aku dengar. Beby tadi sempat pingsan. Ternyata hanya pura-pura pingsan."


"Hah?" Cinta, Bulan dan Starla terheran.


"Iya. Beby pura-pura pingsan. Wajahnya juga tidak bersedih. Malahan dia sangat senang. Dia bilang, apapun keadaannya, kalau tetap bersama Arjuna, semua masalah akan terselesaikan."


Pakde Viral berkata "Kalau begitu, kita harus membiarkan mereka berdua saja."


Mama Abyaz tidak terima "Tapi aku ingin bertemu putriku."


"Kak Abyaz yang tenang. Aku akan berusaha mencari putraku dan akan menasehatinya."


"Bukan Arjuna yang salah. Kamu jangan sering menyalahkan menantuku."


"Kak Abyaz, kalau putraku nggak jadi aktor. Berita ini nggak akan kesebar ke penjuru negeri."


Mendengar hal itu, Mama Abyaz jadi semakin tersedu-sedu, "Bagaimana kehidupan putriku, bila mereka masih merundungnya?"


"Mama yang tenang. Papa akan mencari Beby dan Arjuna."


"Aku akan ke rumah Nyonya Jati." Ucap Pakde Viral dan siap beranjak pergi, lalu Papi Binar berkata "Mas Viral, aku ikut akan denganmu."


"Kamu disini saja."


"Tidak apa-apa. Aku juga harus bisa menemui ibu kandungku."



Mereka berdua saja happy-happy, orang tua pada sibuk mencari.