ABYAZ

ABYAZ
Adik Ipar



Tampak langit sore berwarna jingga, Gaby yang berjalan di trotoar pusat kota. Dengan perasaan nyaman dan bahagia ketika bersama Kakak iparnya.


Jauh dari sebuah bayangan mengerikan, akan sebutan ipar. Meski, Gaby sendiri belum pernah membayangkan, kelak akan mendapat mertua dan ipar seperti apa. Karena, yang ada di dalam benak dan pikirannya. Seandainya, punya orang tua dan keluarga bahagia. Pastinya, Gaby hidup bahagia dan tidak tinggal sendirian.


Meski materinya bisa mencukupi kehidupannya, tapi kasih sayang itu tidak lagi dia dapatkan. Seorang anak yang beranjak dewasa, masih ingin bersenang-senang seperti yang lainnya. Hanya karena menginginkan sebuah keluarga, dirinya menerima lamaran guru olah raganya dan akhirnya menikah di usia belia.


Pernikahan yang baru beberapa hari, membuat sosok gadis belia ini bahagia, berkat keluarga baru yang dia dapatkan. Suami yang baik, mertua yang perhatian, dan ipar yang menyenangkan.


Gaby masih teringat saat Abyaz dengan usil mengerjai Cantika. Abyaz sering kali usil kalau ada yang bertingkah belagu, apalagi mengenai keluarganya.


"Sudah mau maghrib, ayo kita pulang."


"Iya Kak. Mas Al juga sudah menyuruh kita pulang."


Abyaz tersenyum saat mendengar hal itu, rupanya sang adik tampannya telah berubah menjadi sosok yang perhatian.


20 menit kemudian


"Kak Abyaz, terima kasih."


Abyaz berkata "Iya sama-sama. Kamu harus main ke rumahku."


"Siap."


"Sana masuk."


"Iya, Kak Abyaz hati-hati."


Abyaz mengangguk dengan senyuman, dan mobil yang membawanya telah berjalan pergi. Abyaz menuju ke rumah orang tuanya, setelah mengantar Gaby. Setidaknya, Abyaz sudah berkenalan dan mendapatkan adik ipar.


Abyaz tersenyum bergumam "Alvaro, ternyata tidak salah pilih."


Mengingat beberapa wanita yang Abyaz lihat, saat mereka mendekati Alvaro. Bahkan, beberapa diantaranya sosok dewasa dan ****, ada pula yang glamour dan tidak sesuai dengan ekspektasi Abyaz. Apalagi, Abyaz selalu ikut saat sang Mama mengajak Alvaro untuk mengenal beberapa perempuan pilihannya, ada pula seorang guru yang lemah lembut serta sopan santun, tapi Alvaro tetap menolak meski sang Mama sudah ngebet banget kala itu. Alvaro menolak dengan alasan, masih belum saatnya dan tidak nyaman saat bertemu dengannya. Alasannya itu tidak bisa diterima, pada akhirnya Alvaro marah dan mendiamkan Mamanya.


"Bukan karena kasian, tapi karena nyaman." Batin Abyaz senang.


Alvaro menegaskan kepada orang tuanya, kalau dirinya kasian dengan Gaby karena anak yatim piatu, tinggal sendirian, dan Alvaro ingin menjaganya.


Abyaz memang peka akan sosok Gaby yang dikenalnya. Gaby memiliki daya pikat tersendiri. Bahkan, Alvaro tidak merasa risih saat menatap dan bersentuhan dengannya.


"Darra memeluk Al? Yang benar saja? Aku setiap memeluknya saja di dorong. Apa memang Al sudah berubah?" Batin Abyaz yang teringat akan ucapan tiga gadis belia di salon tadi.


Setibanya di rumah orang tuanya dan sang pengawal masih saja membuntuti Abyaz.


[Aku baik-baik saja. Pergilah dulu. Aku akan menghubungi kalian.]


Abyaz yang mengirim pesan kepada Vivi dan langsung masuk ke rumah orang tuanya.


Setibanya disana, bertemu Al yang duduk di teras dan Abyaz tersenyum senang.


"Mana Gaby?" Al yang berdiri dan menatap ke Abyaz.


"Dia pulang."


"Pulang kesana?"


"Iya, aku antar kesana."


"Kak Abyaz kenapa nggak bilang."


"Bukannya Gaby bilang kamu. Kakak antar dia pulang."


"Iya, tapi aku pikir kesini."


"Uwu, adikku sudah menikah." Abyaz yang memeluk Alvaro dan Al mendorongnya.


Abyaz melotot dengan tidak suka. Al berkata "Sorry." Sambil cengengesan.


"Apa ini Al? Kamu menerima pelukan Darra, tapi Kakakmu sendiri tidak mau?"


Al merasa bingung dengan ucapan sang Kakak, dia bertanya "Darra peluk aku?"


"Iya, kemarin di Taman Bougenville."


"Darra spontan, soalnya lagi nangis."


"Kamu tidak risih lagi?"


"Ya aku." Alvaro malah jadi kepikiran istri bandelnya.


"Darra yang tiba-tiba peluk aku. Aku juga bingung, masa iya langsung aku dorong begitu saja."


"Ya harusnya begitu. Apalagi kamu sudah beristri, Darra juga sudah punya suami."


"Kak Abyaz tahu dari mana?"


"Adalah!"


"Siapa?"


"Tadi ada teman-teman Gaby yang cerita di salon."


"Teman? Gaby mana mungkin punya teman."


Alvaro bertanya "Gaby?"


"Gaby, baik-baik saja. Dia tidak peduli."


Alvaro tampak menggeleng dan ia langsung beranjak pergi dari teras rumahnya. Membuka pintu pagar lebar-lebar dan mengeluarkan motor gagahnya secepat mungkin.


"Al, mau kemana?" Sang Mama mendengar suara motor putra tampannya.


"Mama." Abyaz langsung memeluk Mamanya di teras rumah itu. "Al mau ke rumah Gaby."


"Kenapa Gaby tidak kesini?"


"Abyaz jemputnya di rumahnya, ya Abyaz pulangin ke rumahnya lagi." Abyaz dengan tingkah manjanya.


Britney tersenyum dan mengajak Abyaz masuk rumah.


"Mama, Al sekarang sudah menikah. Mama tinggal di rumah Abyaz aja yuk."


"Lihat nanti."


"Mama kenapa? Masih nggak tega sama Al?"


"Bukannya nggak tega, kamu lihat sendiri adik kamu gimana. Apalagi."


"Apalagi apa Mama??" Abyaz sudah berada di sofa ruang tengah.


"Gaby masih sekolah. Biarkan Mama yang mengurus mereka. Mama banyak gerak malah makin segar. Kalau nggak ada kerjaan, Mama malah nggak enak badan."


"Iya, yang penting Mama sehat." Ucap Abyaz dan memijit-mijit bahu Mama tersayang.


Anak dan ibu ini memang selalu asyik, Abyaz cenderung lebih perhatian kepada orang tuanya, apalagi kepada Papanya. Tidak bisa menolak, apapun keinginan sang Papa.


"Gimana menurut kamu?" Tanya sang Mama.


"Gaby anaknya asyik. Dia cenderung cuek dan tidak banyak tingkah. Abyaz, juga suka sama sikapnya yang tidak basa basi."


"Mama juga berfikir begitu, dia tidak jaim."


"Abyaz jadi ngerti kenapa Al pilih Gaby. Ada rasa nyaman. Gaby sepadan sama Al yang kaku begitu."


Mamanya berkata "Iya, Mama pikir juga begitu. Mereka itu, kalau ada masalah. Dua-duanya diem saja, tidak ada obrolan. Lucunya, Al juga masih kayak ABG."


"Mama." Memeluk Mamanya, "Mama, berniat menemui Om Lingga?"


Duduk bersila diatas sofa dan memeluk Mamanya. Begitu manja dan rasanya tidak ingin berpisah.


"Iya. Tapi kata Papa kamu, nanti saja."


"Nanti?"


"Maksudnya Papa kamu, nanti kalau situasinya sudah lebih tenang."


"Gimana, kalau Abyaz saja yang menemui mereka?"


"Kamu?"


"Iya, kalau Mama kasih ijin."


"Tidak perlu, biarkan ini jadi urusan kita sebagai orang tua Alvaro."


"Setelah kenal Gaby, Abyaz jadi ngerti. Emh, sepertinya hubungan mereka renggang. Gaby memang pandai menutupi masalah keluarganya."


"Mama tahu itu. Tapi, Mama hanya tidak enak hati. Harusnya kita melamar Gaby kepada Lingga dan menikahkan Gaby dihadapan keluarganya.


"Abyaz pikir, memang lebih baik begini saja Mama. Lagian, Om Lingga juga tidak bisa menjadi walinya Gaby." Mengingat akan perbedaan keyakinan diantara mereka.


"Iya, Papa kamu juga bilang begitu. Tapi, perasaan Mama jadi tidak enak. Mama khawatir menyinggung martabat mereka sebagai keluarganya Gaby.


Abyaz yang sudah tahu, kalau saat ini Mahatma Corporation, sedang ada masalah di antara para petinggi dan penerusnya. Abyaz sudah mendengar dari Liu, kalau Viral telah kembali dan akan merebut posisi Presdir.


Terdengar kumandang adzan maghrib, sang Papa yang selalu rajin ke Masjid. Sebelum Abyaz datang, sang Papa sudah lebih dulu berangkat ke Masjid.


Abyaz memeluk sang Mama dengan erat, meski Alvaro sudah menikah dan membuat perasaannya lega. Tetapi, masalah baru datang menerjang.


Benar, apa yang dikatakan sang Mama. Keluarga Lingga, keluarga Mahatma, tidak bisa disepelekan begitu saja. Meski, Lingga sendiri masih kerabatnya, tapi untuk hal pernikahan tidak semudah itu. Tanpa kata permisi dan meminta ijin untuk menikahkan Gaby dengan Alvaro.


Pinangan itu terjadi begitu saja, tanpa ada keluarga dan kerabat dekat yang menjadi walinya Gaby.


Di rumah Gaby, setelah sholat maghrib. Gaby yang masih mengenakan mukena katun jepang berwarna tosca. Tampak mencium tangan suaminya, meski bibir itu terlihat cemberut manja.


Al mencium keningnya, berkata "Maafkan aku. Aku sudah bersalah."


"Emmh."


"Jangan marah!"


"Emh."


"Gaby."