ABYAZ

ABYAZ
Abyaz Sudah Menjadi Mama



Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Sungguh kenikmatan tersendiri sebagai Mama muda.


Usianya sudah 25 tahun, Dan inilah dia, Abyaz Ali Wardana. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada.


Mengandung 9 bulan, dan melahirkan bayi kembar sepasang. Bayi perempuan dan laki-laki. Sangat menggemaskan, dan lucu sekali wajah kedua bayi itu.


Tidak cenderung mirip kedua orang tuanya. Sungguh percampuran yang tidak bisa dibuat begitu saja. Kuasa Allah yang memberikan keindahan dengan cinta.


"Sayangnya Mama." Abyaz yang sedang memberi ASI eksklusif untuk buah hati tampannya dan si bayi cantik bobok di sebelahnya.


Dia sangat cekatan saat merawat kedua buah hatinya. Beberapa pelayan juga membantunya. Tapi, bayi kembar itu begitu dekat dengan sang Mama.


Terkadang Abyaz harus memangku keduanya dan dia tidak merasa lelah. Malahan, Abyaz semakin gemas saat mendengar suara tangisnya yang bersamaan.


Mama juga butuh mandi, butuh makan, dan ibadah. Pasti sulit rasanya, karena si kembar ini yang menangis begitu nyaring suaranya. Tapi, Abyaz sangat sabar ketika menghadapi kedua buah hatinya.



Allendra Bintang Wardana


Allena Bulan Ardhana


Bintang yang tampan dan sangat imut. Bulan yang cantik dan begitu mancung hidungnya.


Kembar sepasang yang baru berusia dua bulan dan sangat lucu-lucunya.


Abyaz dan Damar begitu bahagia. Sang Papa manis juga selalu pulang cepat, agar bisa menggendong si kembar.


"Bulannya Papa udah bobok?"


"Emh, Papa mandi dulu." Balas Abyaz, dan dia masih memangku Bintang.


Damar yang baru pulang kerja dan ingin segera menimang buah hatinya.


"Okay, Papa mandi dulu." Balasnya dan segera pergi mandi.


Damar berjalan ke kamarnya, tapi rasanya begitu enggan. Masih menatap ke arah buah hatinya.


Abyaz yang duduk di atas karpet bulu warna abu-abu dan Bulan yang bobok di atas baby bouncer tampak begitu menggemaskan.


Pelayan juga tidak henti mendatangi Abyaz, agar dia juga segera mandi. Tapi sang bayi tampannya, masih aktif dan belum mau melepaskan sang Mama.


Setelah beberapa menit kemudian. Bintang sudah tampak tertidur dan mulai terlepas dari mengasi.


"Sayangnya Mama, sama Mbak Rara dulu ya."


"Emh, Mama mau mandi dulu."


Abyaz meletakan Bintang di baby bouncer dan dua pelayan menjaga si kembar.


Pelayan juga gemas dan terkadang menggoda Abyaz, agar segera hamil lagi.


Mereka bilang, mumpung masih muda dan mereka yang akan menjaganya. Setiap Abyaz digoda, dia hanya membalas dengan bibirnya yang manyun-manyun.


Gimana mau punya anak lagi. Semenjak melahirkan, Abyaz selalu tidur bersama bayi kembarnya di kamar atas dan sang Papa ada di kamar bawah.


Memang sedikit keterlaluan, tapi alasan Abyaz dapat diterima semua orang. Bahkan saat itu, ada Mbah Pras dan yang lainnya.


"Sayang, aku ini baru melahirkan. Aku harus memberikan asi, terus para Mbak, juga akan mondar mandir ke kamar. Kalau kita satu kamar, nanti kamu bisa keganggu tidurnya. Paginya nanti kamu nggak bisa kerja. Anak kamu kalau nangis malam, siapa yang bantu jaga. Mbak-mbak semua kan. Gimana dong!"


Nah, itulah saat setelah dia melahirkan bayi kembarnya.


Memang bawel dan akhirnya semua orang juga mendukung Abyaz. Suami istri macam apa ini. Tapi Damar sangat tahu, ini demi buah hatinya dan dia juga harus bekerja.


Abyaz ke kamarnya dan Damar keluar dari kamar. Sudah segar dan ingin segera menggendong Bulan.


"Bulannya Papa,... Papa kangen." Ucapnya dengan gemas dan setelah itu mencium Bintang yang berayun di baby bouncer.


"Nanti gantian, jagoan Papa sama Mbak dulu. Papa mau ajak Bulan ke taman."


Walaupun bayinya tidur nyenyak, Damar selalu mengajak putrinya untuk berjalan di luar rumah. Sore hari yang cerah dan masih terasa hangat.


Baru jam 4 sore dan Damar begitu asyik menggendong bayi cantiknya.


"Sayangnya Papa." Tidak henti Damar mengecup bayi cantiknya.


Setelah setengah jam, Abyaz sudah selesai mandi dan kembali ke ruangan itu. Melihat bayi tampannya yang tidur.


"Mbak, Bulan diajak kemana?"


"Diajak Tuan, jalan-jalan ke depan."


"Emh, iya. Tolong, ambilin selimutnya bulan Mbak."


Tidak lama si Mbak, mengambilkan selimut warna pink tua dan Abyaz bergegas mencari bayi cantiknya.


"Bulannya Papa nyariin Mama. Emh, iya kita pulang ya sayang."


Bulan juga tidak sabaran saat sudah lapar. Memang kebiasan bayi cantik ini setelah mandi memilih bobok cantik dan terbangun karena lapar.


"Mama... Nah itu, Bulan dicariin Mama."


Damar dengan senyuman manisnya dan Abyaz mendekat.


"Papa juga kebiasaan, udah tahu kalau Bulan belum ngasi udah diajak pergi aja."


"Iya, aku tahu. Makanya ini pulang."


Abyaz mulai menggendong Bulan, dan Damar merangkul istrinya dengan gemas. Semenjak punya anak, istrinya jadi semakin bawel.


"Papa,.. Bulan aus Papa. Bulan mau ngasi duyu." Suara Abyaz begitu gemas.


Bulan yang mencari asal suara itu juga menggemaskan. Bibirnya yang imut dan sudah tampak memainkan lidahnya.


"Bulan sayang, Papa mau sama Kakak Bintang dulu. Kak Bintang pasti bobok nyenyak."


Walaupun mereka kembar, Damar dan Abyaz selalu memanggilkan Bintang dengan sebutan Kakak dan Bulan adalah sang Adik cantik.


Abyaz yang duduk di sofa, ruang tengah dan Damar mengajak bayi tampannya.


Keluarga kecil yang amat sangat manis. Papa dan Mama menimang kedua buah hati mereka.


"Sayang, kamu harus makan yang banyak."


"Iya, tadi habis sholat ashar aku udah makan. Bintang sama Bulan, dimandiin sama Mbak."


"Besok Papa libur. Gimana kalau kita jalan-jalan."


"Iya, udah lama aku nggak keluar rumah."


Tangan kirinya, mengayangga bayi tampannya dan tangan kanan mengelus rambut sang istri, lalu mengecup pipinya.


"Kamu jangan kecapean."


"Ya udah, besok spa ya. Nanti biar Mbak yang jagain. Sekalian jalan-jalan. Kamu juga butuh hiburan di luar."


"Kalau hiburan nggak juga. Mereka berdua, udah hibur aku setiap saat. Aku gemes banget." Ucap Abyaz dan tangannya sambil memegang pipi Bulan yang menggemaskan.


"Iya, aku aja kalau baru sampai kantor. Bawaannya buru-buru pulang."


"Papa, besok Bulan mau boneka yang besar."


"Okay.. Terus yang ini tampannya Papa mau apa ya?"


"Emh, mainan yang bisa bunyi."


"Iya ya. Kita belum beli apa-apa."


"He'em, aneh ya. Semua udah ada yang nyiapin."


Mereka berdua sama sekali belum membelikan perlengkapan untuk bayi kembarnya. Karena keluarga besarnya sudah menyiapkan semuanya, ada yang membelikan ini itu, bahkan waktu acara tujuh bulanan. Kado memenuhi satu ruangan.


"Emh, iya. Besok kita jalan-jalan sekalian beli mainan."


"Iya, satu aja cukup. Itu sebagian kado belum aku buka."


"Aku dulu merasa tidak punya keluarga. Sekarang, aku tahu rasanya punya keluarga besar yang begitu rukun."


Melinda Yoon dan Kakek Sung Hoon juga sudah berubah. Mereka sekarang sudah menerima Abyaz, dan mereka juga sangat senang saat mendapatkan cucu kembar sepasang.


"Emh, jangan bikin baper deh."


"Siapa yang bikin baper. Kamu aja sekarang yang kebawa perasaan."


Damar dengan cekatan mengambilkan tisue, saat bayi tampannya sedang gumoh.


"Emh, kekenyangan ya sayang."


Damar dengan cepat merubah posisi tidur bayinya. Abyaz bersyukur, memiliki suami yang begitu perhatian.


"Tampannya Papa."


"Besok kita jalan-jalan."


"Sebentar lagi lapangan bolanya sudah jadi. Nah, Bintang nanti bisa main bola sama Papa."


"Terus Bulan dibuatin apa Papa?" Abyaz dengan suara gemas.


"Arena bermain di dalam rumah, atau bisa buat ruangan istana boneka."


"Tapi lihat nanti aja. Bisa jadi Bulan juga suka mainan bola." Ucap Abyaz.


"Jangan dong, cantiknya Papa harus jadi princess."


Abyaz gemas mendengar hal itu.


"Okay Papa. Bulan akan jadi princessnya Papa." Balas Abyaz dan Bulan masih dalam dekapannya.


Damar memang membuatkan lapangan sepak bola dan basket dekat rumah mereka. Area perkebunan yang sangat luas dan dibeli Damar, hanya untuk membuat arena Bintang.


Itulah hari-hari mereka berdua dan sebentar lagi, mereka akan turut menghadiri pesta pernikahan Viral dan Guru Liu.


Guru Liu yang seusia Stella, tapi cinta tak memandang usia. Dua minggu lagi akan digelar acara pernikahan mewah. Binar sudah menikah dua bulan yang lalu, dan istrinya dari putri kalangan pejabat. Bukan karena perjodohan, tapi karena pertemuan yang tidak disengaja.


Waktunya jalan-jalan.


Damar yang menggandengan tangan kanan Abyaz. Bayi kembarnya bersama para pelayan dan sudah berjalan di depan mereka berdua.


Tampak beberapa pengawal yang juga mengikuti mereka. Tapi penampilan pelayan dan para pengawal itu, tidak lagi berseragam. Karena Abyaz, tidak mau terlihat dikawal, jadi mereka semua seperti keluarga. Yang membantu dan menjaga keluarga kecilnya.


"Sayang, aku bahagia." Ucap Abyaz dengan tersenyum.


"Aku sangat bahagia. Terima kasih sudah memberiku cinta."


"Emh, udah dong. Jangan bilang gitu terus."


"Sayang,... Aku cinta kamu."


"Iya, aku juga cinta kamu suamiku."


Keduanya bersaling menggenggam tangan dengan mesra.


Ini hanya sebuah kisah cinta dari Abyaz.



Sebuah cerita yang tiada alur. Hanya sebuah kisah dari Abyaz Ali Wardana.


Cinta, sangat luas artinya. Cinta bukan hanya memberi atau menerima. Bukan harus memiliki atau dimiliki seseorang. Tapi, cinta itu sangat berharga. Tidak ada yang tahu akan cinta seseorang.


Jodoh tidak harus mencintai, tapi cinta bisa datang karena dia ada. Dia yang hadir dikala hati terluka, dia yang bisa memberikan kenyamanan, dan dia yang mau menerima kelebihan dan kekurangan kita.


Karena cinta memang tidak tahu akan akhirnya. Tuhan, sudah mengaturnya. Dimana cinta kita akan berlabuh, tetap bersyukur atas apa yang ada saat ini.


Cinta dan cinta.


Teman hidup dan cinta.


Terima kasih telah membaca secuil kisah Abyaz.


Sampai jumpa di kisah selanjutnya. 🙏



Buat pembaca setia.


Mohon maaf.


Sampai disini dulu bab ceritanya ya.


Ternyata, Othor harus istirahat dulu. Semoga tidak jadi masalah ya.


Semoga kedepannya, ada lanjutannya di novel ini. Sekali lagi, mohon maaf, othor harus melangkah jauh dan menutup cerita ini, sampai disini. 🙏


Terima kasih untuk semuanya.


Salam dari Othor dan semua tokoh 🤗😘


Mas Pras 🙏


Britney 🤗


Abyaz 😘


TAMAT