
Sabtu malam minggu, di sebuah hotel mewah. Telah ada acara pesta. Tamu undangan sudah tampak memenuhi meja perjamuan.
Acara pesta penyambutan presdir baru yang menempati posisinya. Sudah satu bulan ini, Viral menduduki kursi agung mendiang sang Kakek. Malam ini, sang Mama telah mengadakan pesta untuk dirinya, setelah melihat kinerja putra tunggalnya.
Posisi Viral membuat Limar bahagia. Ternyata, semua kerja kerasnya selama ini. Bisa menempatkan putra tunggalnya di kursi keagungannya itu.
"Sayang, masih ada hari esok yang lebih berat. Kamu harus bisa bekerja sebaik mungkin."
"Baik Mama."
"Cheers."
"Cheers."
Limar mengangkat gelas untuk memberi pertanda, kalau perjamuan telah dimulai.
Dari sisi pintu utama, seorang putri juga tampak baru datang. Mengenakan dress hitam sesuai dresscode yang tercantum dalam undangannya.
Merangkul lengan sang suami, dengan senyuman ia sematkan. Limar yang telah menatapnya, tampak memberikan kode selamat datang. Viral juga tampak tersenyum.
Meski Limar tampak mengangkat gelas wine, tapi isinya bukan itu. Dia hanya menghormati para tamu undangan.
"Mama, akan menemui Gaby."
"Ternyata, Mama mengundang Gaby dan Alvaro."
Tamu undangan tampak menikmati pesta malam ini. Jamuan yang luar biasa, Limar berikan kepada para tamunya. Tampak hidangan di meja, sangat mewah dengan sajian menu ala barat.
Baru awal, masih ada hidangan penutup yang lebih memanjakan para tamunya. Limar sangat tahu. Apa yang harus diberikan untuk para tamu undangan.
"Gaby, apa kabar?"
Limar yang lebih dulu menyapa sang keponakan.
"Gaby baik."
"Silakan duduk."
Limar dengan tangannya mempersilkan Gaby duduk di kursinya. Tampak meja yang telah disediakan khusus untuk Gaby dan Alvaro. Limar juga hendak duduk satu meja dengan mereka.
"Alvaro, gimana keadaan Papa dan Mama kamu? Semua sehat?"
"Iya Tante. Papa dan Mama sehat." Senyuman Al tampak sopan.
"Mari kita nikmati hidangannya."
"Iya Tante."
Gaby melihat menu ini, ia rada pusing dan mual. Meski tampilannya sangat cantik dan mewah. Sayangnya, Gaby merasa tidak nyaman saat melihatnya.
"Budhe."
"Iya, ada apa?" Limar yang baru saja menata duduknya, agar terasa nyaman. Maklum saja, usianya sudah tidak lagi muda.
"Gaby nggak bisa makan ini. Gaby sangat menghormati undangan Budhe Limar. Tapi." Gaby menatapnya dengan manis dan Al yang duduk di sampingnya, tampak memandangi wajah istrinya.
"Tapi? Kenapa sayang? Kamu tidak suka?" Limar yang sangat merespon baik.
Gaby menatap Limar dengan wajah manisnya, lalu berkata "Gaby tidak berselera makan."
"Emh, apa kamu ingin menu yang lain? Budhe akan bilang sama Chefnya."
"Tidak perlu Budhe. Gaby, beberapa hari ini memang tidak nafsu makan."
"Owh begitu." Lalu beralih ke Alvaro, Limar berkata "Alvaro, silakan nikmati menu pembuka ini."
"Iya Tante." Alvaro dengan begitu adanya dan ia memang terbiasa memanggil Tante.
Gaby yang menoleh ke arah Viral dan tampak tersenyum. Lantas ia beralih ke keluarga Lingga yang tampak duduk di depan. Sedangkan Lingga sendiri, duduk diantara Viral berserta para relasinya.
Vava berserta kedua anak dan menantu, tampak menatap Gaby yang duduk bersama Limar.
"Alvaro. Saya dengar, kamu akan membantu Damar di JS?"
"Iya Tante. Bulan depan saya akan bergabung di JS."
Limar dengan senyuman berkata "Alvaro. Di dunia bisnis, kamu harus punya ambisi. Jangan samakan dengan pekerjaan kamu sebagai pengajar."
"Iya Tante. Al mengerti."
"Damar itu kelihatannya sangat tenang. Tapi, ambisi dia sangat tinggi. Saya kagum akan kinerjanya selama mengembangkan Jisung. Meski, imeg lama itu telah terkubur. Tapi, Damar bisa menjadikan Jisung dengan imeg baru dan kembali berjaya di masa saat ini."
Gaby berkata "Sebenarnya, Gaby sangat keberatan. Tapi, Gaby tidak masalah soal pekerjaan Mas Al."
"Kenapa kamu keberatan? Suami kamu akan jadi Direktur."
"Budhe, ini hanya pikiran Gaby saja."
Alvaro menatap istrinya dengan senyuman dan ia bisa memahami perasaan istrinya.
Limar tersenyum dan memandang Gaby seperti anak remaja. Pantas saja Gaby tidak mau bergabung di Mahatma. Bagi Gaby, dunia bisnis itu menyeramkan. Saham yang tertera atas nama Gaby, ternyata sangat membantu Viral, saat pemilihan Presdir baru Mahatma Corporation.
"Budhe, hanya mau bilang sama kamu. Terima kasih sudah memilih Viral."
"Budhe tidak perlu begitu. Kak Viral memang harus mendapatkan posisi itu."
"Budhe sudah mengaturnya. Agar saham kamu, terus berjalan dan kamu tidak perlu cemas akan bagi hasilnya nanti."
"Soal itu, Gaby nggak masalah." Ucapnya denga ceria.
Limar tampak tersenyum dan perasaan mual Gaby kembali menerjang perutnya.
"Maaf Budhe, Gaby mau ke toilet dulu."
"Sayang."
"Mas Al disini saja. Temani Budhe."
Al hanya melihat istrinya berjalan cepat dan Limar kembali mengajaknya untuk menikmati menu utama yang baru tiba.
Mencium aroma daging, Gaby sepertinya tidak suka. Meskipun, dulunya Gaby sangat suka makan daging panggang.
Gaby berjalan cepat ke arah toilet.
Dash!!
Gaby bertatapan bahu dengan Imel. Pandangan Imel semakin membuat Gaby mual dan sangat tidak suka.
Gaby berlari masuk ke dalam toilet perempuan.
Hoeeek!!
Beberapa kali suara itu terdengar di telinga Imel dan membuatnya tersenyum.
Imel lantas kembali ke meja dan sangat berseri-seri. Meskipun, gosip tentang sang suami telah berhembus kencang. Dirinya tidak mempedulikan hal itu.
"Mommy sepertinya akan punya cucu." Tanpa basa basi dan tampak wajah dengan senyuman manis.
Vava yang terkejut mendengar hal itu, dia bertanya "Memangnya, kamu mau hamil lagi?"
Darra berkata "Kak Imel lagi menunda, masa iya hamil lagi."
Ayu bertanya "Kak Imel, memangnya siapa yang hamil? Pacarnya Kak Binar?"
Ayu yang tidak malu akan ucapannya dan Imel telah menatapnya "Enak saja, pacarnya Binar. Kamu nggak percaya sama Kakak kamu?"
"Aku sih percaya sama Kak Binar. Tapi, aku nggak percaya sama ucapan Kak Imel." Ayu yang sudah pandai melawan.
Imel jadi tidak senang dan ia hanya menikmati hidangan utama.
Vava berkata "Kita disini untuk acara Viral. Kalian, jangan buat kericuhan."
"Mommy, habisnya Kak Imel, kasih kabar setengah-setengah. Kenapa nggak bilang langsung. Siapa yang lagi hamil."
Darra yang mengerti akan ucapan Imel, ia berkata "Wah, Kak Imel memang jeli. Gaby hamil??"
"Yaps, sepertinya Gaby sedang hamil."
Vava berkata "Kalian jangan bikin Mommy pusing."
Darra berkata "Tuh, Mommy udah dibikinin cucu sama anak cantiknya Mommy. Jadi, jangan bahas cucu di depan Darra."
Sang Mommy memilih diam dan hanya menahan dirinya. Perasaan tidak senang membuatnya semakin sesak nafas.
"Darra, kamu jangan ngomong begitu sama Mommy." Ayu yang tidak terima.
"Ya udah, makanya Kak Ayu cepetan nikah dan kasih cucu buat Mommy."
"Suka, suka aku dong. Mau nikah apa nggak. Lagian, Darren juga terpaksa menikahi kamu."
Imel kembali senang saat mendengarnya. Semakin menari-nari dalam batinnya yang bahagia. Si kembar yang sudah berdebat sendiri.
"Stop!!" Ujar Mommy dan lantas berdiri menatap ke dua putri kembarnya.
Sang Mommy lantas meninggalkan meja itu dan berjalan ke arah toilet. Tidak sengaja malah bertemu Gaby.
"Budhe Vava." Panggilnya lebih dulu, saat melihat sosok yang sangat dikenalnya.
"Gaby."
"Budhe Vava apa kabar?"
Senyuman sang Budhe yang tampak menghiasi wajah, lalu berkata "Kabar Budhe baik."
"Gaby senang bisa bertemu Budhe disini."
"Iya, Budhe juga senang."
Vava lantas memegang tangan Gaby, lalu berkata "Kamu harusnya main ke rumah Budhe. Kita jangan sampai putus silaturahmi."
"Iya Budhe. Gaby akhir-akhir ini fokus sama ujian. Sekarang sudah selesai. Kapan-kapan Gaby akan main kesana."
Vava masih memegang tangan Gaby, lantas bertanya "Apa kamu tidak enak badan? Budhe lihat, kamu dari tadi tidak makan."
"Budhe, sebenarnya."
Alvaro yang tampak mendekat, lalu berkata "Tante Vava, Gaby baik-baik saja.
."
"Alvaro. Kamu ngagetin Tante saja."
Alvaro yang datang tiba-tiba dan langsung merangkul bahu Tantenya. Tampak mengagetkan Tantenya.
"Tante dong, yang harusnya main ke rumah. Jengukin Mama."
"Kenapa? Apa Mama kamu sakit? Kak Britney sakit apa?"
"Iya, sakit. Sakit malarindu sama adiknya."
"Kamu ini bisa saja."
"Mama itu juga rindu sama Tante. Habisnya, Tante udah lama banget nggak main ke rumah."
"Iya, iya. Tante akan mengunjungi Mama kamu."
"Nah, gitu dong. Kan Tante yang bilang sendiri, kita ini keluarga. Jangan sampai keluarga Restu Mahendra renggang."
"Kamu ini, sekarang pandai menekan Tante ya."
Dengan nada gemas dan telinga Alvaro jadi dijewer Tantenya. Gaby bisa melihat Vava yang tampak berbeda. Memang lebih akrab dan tidak sama seperti di Golden Mansion.
"Budhe Vava. Suami aku jangan dijewer."
"Waah, sekarang udah ada yang belain kamu." Vava tersenyum.
"Iya dong Tante."
Lingga dari jauh tampak tersenyum, dalam hatinya bahagia, melihat kedekatan mereka.
Keharmonisan akan tercipta, bukan hanya karena harta dan tahta, melainkan dari sikap dan tutur kata.