ABYAZ

ABYAZ
Bab. 43. Beby Bersama Ibu Mertua



"Bunda."


"Ayo masuk."


"Oke Bunda."


Ketiga teman Beby melihat, kalau sang Bunda telah menjemput temannya ini. Mereka juga tampak melambaikan tangan kepada sang Bunda.


Mobil sedan hitam melaju pergi, dan meninggalkan Butik Gloria.


"Bunda kenapa harus jemput aku? Aku bisa pulang sendiri."


"Kamu tidak tahu saja. Bunda juga malas mendengar rengekan Arjuna."


Beby tersenyum dan dia tampak manis duduk di sebelah mertuanya.


Bunda Gaby yang sangat terlihat muda dan menantunya juga tidak kalah imutnya.


"Beby, bagaimana kalau kamu ke rumah Bunda?"


"Boleh juga Bunda. Aku juga tidak ada teman di rumah."


"Bagus. Arjuna juga biar pulang ke rumah Bunda. Dia sudah lama tidak pulang ke rumah."


Selama hampir satu jam perjalanan dan akhirnya tiba di rumah Bunda Gaby.


Masih sama seperti ketika Beby main ke rumah Tantenya ini. Sangat teringat jelas dalam benaknya, ketika dirinya bersama kedua orang tua, menghadiri acara sunatan Arjuna kala itu.


[Arjuna, aku sudah berada di kamar kamu.]


[Kamu sudah di rumah Bunda?]


[Iya. Kamu menyuruh Bunda untuk menjemput aku.]


[Baguslah. Anggap saja kamu main ke rumah Tante kamu.]


[Tetap saja rasanya aneh. Aku sekarang sudah jadi menantunya.]


[Beby. Semangat.]


[Arjuna.]


[Kamu harus akur dengan Ibu mertua]


[Arjuna. Aku harus gimana?]


[Sayang, aku sibuk. Nanti aku telephone.]


[Arjuna, kamu tega sama kamu.]


Sayangnya, Arjuna tidak lagi membalas pesan istrinya. Malah ponselnya sudah di nonaktifkan. Beby yang merasa aneh saat berada di rumah ini. Melihat sekitar ruangan kamar Arjuna, masih sama seperti dulu. Namun, perasaannya aneh dan merasa sangat tidak nyaman.


Tok, tok, tok


"Iya Bunda."


"Sayang. Ini baju-baju yang Bunda siapain buat kamu."


Beby menerima beberapa tas belanjaan dari toko pakaian wanita. Bukan hanya dress, kaos dan rok. Ada pula bra dan cancut imut nan cute dan berwarna pastel.


Perasaan tidak nyaman dan ada rasa canggung saat menerima itu. Meski beberapa waktu lalu, Arjuna juga memberikan hal yang sama. Tetapi, dia malah menganggap hal biasa. Berbeda ketika sang Ibu mertua yang memberi pakaian lengkapnya.


"Bunda terima kasih."


Melihat raut wajah itu, sang Bunda bertanya "Kamu tidak suka?"


"Bukan begitu. Beby hanya belum terbiasa."


Bunda Gaby tersenyum, lalu berkata "Cepatlah mandi, nanti keburu maghrib."


"Iya Bunda."


Sang Bunda mengelus rambutnya, berkata "Anak yang manis."


Lantas Bunda pergi dari kamar itu dan Beby menutup pintu kamar Arjuna.


Perasaan berdebar dan Beby berusaha untuk lebih tenang. Ia yang tampak bersandar pintu dan memegang dada yang berdesir itu. Entah kenapa, rasanya memang aneh. Seorang Tante yang dari dulu ia kenal dekat, sekarang menjadi Ibu mertuanya.


"Beby, kamu bisa. Bunda mertua kamu itu Tante Gaby. Bunda orang yang kamu kenal dekat. Semangat, kamu pasti bisa." Beby yang menyemangati dirinya sendiri.


Mungkin saja, bayangin Beby saat ini masih tentang Ibu mertua yang akan mempersulit menantunya. Apalagi, pagi tadi dirinya melihat hal yang mengerikan dan membuatnya takut.


Beby yang hendak mandi, malah melihat bingkai foto dirinya dengan Arjuna.


Arjuna dengan seragam putih abu-abu yang sudah tampak coretan manis dan merangkul bahu gadis yang memakai seragam yang sama. Kelulusan sang Arjuna, masih teringat jelas dalam benaknya.


Seragam yang tertera nama dada Cinta Damayaz. Senyuman itu dan keduanya terlihat begitu manis.


"Kamu harus kasih tulisan."


"Aku?"


"Disini. Di dadaku."


"Apa ya?"


"Buruan, nggak usah pakai mikir."


"Selamat sudah lulus."


"Ya, jangan dong."


"Terus apa?" Wajah di kala itu dan sangat membuat gemas Arjuna.


"Cintaku."


"Cintaku?"


"Iya, nama kamu saja. Cintaku. Kasih tanda tangan kamu."


"Boleh juga." Cinta yang kala itu menulis kata Cintaku dan ada dua gambar hati.


"Gimana? Bagus?" Tanya Cinta dan ia masih memegang spidol warna.


"Kurang greget."


"Masih kurang?"


Beby lantas mengambil lipstik dari dalam tasnya, memperjelas warna merah dari bibir tipis nan imutnya.


Mengecapkan bibir itu ke dada Arjuna dan perasaan Arjuna semakin gemas dibuatnya.


Meski ini bukan acara kelulusan gadis itu, tapi dia mengikuti serangkaian acara di hari itu, untuk menamani sang Arjuna.


"Gimana?"


"Lumayan juga."


"Akhirnya kamu lulus juga dan aku bisa bebas tanpa tugas."


"Iya, kamu nantinya bebas pacaran."


"Biarin. Week." Gadis yang masih memakai tas ransel putih di punggungnya.


"Ayo kita foto dulu."


"Iya, mau dimana lagi?"


"Oke."


Kedua orang ini dan murid lainnya juga dengan kesibukan mereka sendiri.


Saat ini, di kamar Arjuna. Beby telah membuka lembaran barunya dengan Arjuna. Bukan lagi terikat saudara maupun sahabat. Melainkan, sudah terikat hubungan suami istri.


Malam itu di rumah Jimmy. Penghulu menikahkah mereka berdua, dihadapan Papa Damar dan para saksi.


Malam itu, Papi Binar juga menyerahkan putri kandungnya kepada Papa Damar. Karena, Papa Damar yang lebih berhak atas putrinya cantiknya.


Seorang putri cantik, yang pernah dirawat dan dibesarkan oleh Mama Abyaz dan juga Papa Damar.


Sekarang tuan putri cantik itu, sudah menjadi istri dari keponakannya sendiri, yaitu Arjuna Madaharsa.


"Aneh. Tapi, aku bahagia." Ucapnya saat ia meletakan kembali bingkai foto itu di atas sebuah meja.


"Arjuna, terima kasih. Kamu sudah membawa aku kembali dan merubah statusku menjadi bagian dari keluarga besar Opa dan Oma."


Setelah hanya berdiam diri di dalam kamar itu. Waktunya makan malam. Sang Bunda mertua telah memanggil dan ia akhirnya keluar dari kamar itu.


"Kamu duduk disini."


"Bunda, aku bisa sendiri."


"Tidak apa-apa. Kamu menantunya Bunda."


"Harusnya aku yang melayani Bunda."


"Selama kamu di rumah Bunda. Bunda yang melayani menantu Bunda."


Dua pelayan tampak menyajikan menu restoran pilihan sang Bunda. Pelayan itu juga merasa heran, kenapa keponakan Tuan besarnya dari tadi disebut-sebut menantu.


"Mbak, ini Beby. Istrinya tuan muda kalian."


"Beby?" Padahal mereka sangat mengenal Cinta Damayaz.


"Iya Nyonya."


"Beby sementara akan tinggal disini. Selama Arjuna di luar kota. Kalian harus membantunya selama Beby di rumah ini."


"Baik Nyonya."


"Bunda, aku sudah terbiasa apa-apa sendiri."


"Sudah, tidak apa-apa. Kamu jangan dengarkan Arjuna."


"Arjuna tidak begitu. Dia sangat perhatian."


"Perhatian?"


"Iya, Arjuna juga bisa memasak."


"Benarkah?!"


"Iya, awalnya memasak sering keasinan. Sekarang sudah lumayan rasanya."


Dua pelayan itu, mengamati Beby yang tampak menikmati makan malam ini. Hanya berdua, dan para suami mereka masih sibuk bekerja.


"Beby."


"Nggak apa-apa Bunda. Ini hanya sedikit pedas."


"Bunda lupa, kamu tidak suka pedas."


"Iya Bunda."


"Mbak, tolong ambilkan yang itu." Sang Bunda tinggal tunjuk saja dan dua pelayan bergerak mengambilkan menu makanan untuk Beby.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Melihat Beby yang masih minum dan bibir imut itu memang tampak kepedasan.


"Aduh, aku salah pilih menu. Menu itu kesukaan Arjuna. Semoga Beby tidak berfikir aku Ibu mertua yang jahat."


"Beby, Bunda nggak bisa masak. Bunda selalu memesan makanan dari luar. Kalau kamu punya restoran favorite, kamu katakan sama Bunda. Biar Bunda tidak salah pesan menu."


"Beby, nggak apa-apa Bunda. Apa aja suka. Hanya tidak suka makanan pedas."


"Baik. Bunda akan mengingatnya."


Beby merasa tidak enak hati, saat mertuanya bersikap perhatian padanya. Padahal, dulunya mereka sangat akrab dan dia juga berlaku manja kepada Tantenya yang satu ini.


Beby yang merasa canggung, dan Bunda mertuanya juga bingung harus bersikap bagaimana kepada menantunya.


Apalagi, Beby ini keponakannya sendiri, Bunda Gaby yang selalu menganggap bahwa Binar Jati Lingga adalah Kakaknya. Sekarang, putri dari Kakaknya itu telah menjadi menantunya. Rasanya juga sangat bingung, tidak seperti dikala memanjakan Cinta Damayaz.


"Beby, apa Arjuna masih suka keluar malam?"


Degh!


"Bagaimana Bunda bisa tahu?" Pikirnya dan semakin gelisah saat menatap Ibu mertuanya.


"Tidak Bunda. Arjuna selalu di rumah."


"Beby, kamu jangan membiarkan Arjuna bebas."


"Maksud Bunda?"


"Bunda, masih kepikiran. Kalau Arjuna masih suka bergaul dengan wanita lain."


"Kalau soal itu. Memang sudah pekerjaan Arjuna."


"Pekerjaan Arjuna?" Wajah itu yang amat terkaget.


Beby berkata "Arjuna bekerja di dunia hiburan. Pasti akan bertemu para wanita di luar sana. Aku sama sekali nggak keberatan soal pekerjaan Arjuna."


"Beby."


"Bunda. Apa pekerjaan Arjuna ini sudah salah?"


"Bunda hanya tidak ingin menyusahkan kamu. Kamu pastinya akan sakit hati."


"Awalnya, aku berfikiran begitu. Tapi, setelah melihat keseharian Arjuna di saat shuting. Arjuna tampak biasa saja. Dia memang profesional kerja. Aku percaya kalau Arjuna tidak seperti yang diberitakan oleh media gosip."


"Benarkah seperti itu?"


"Iya Bunda. Arjuna sangat menjaga dirinya. Dia bukan pecinta wanita yang sering keluyuran di hotel."


Bunda Gaby tegang, melihat ke layar ponselnya. Memberikan kepada Beby.


"Kalau berita ini, apa kamu masih bisa membela suami kamu?"


Beby melihat ke layar ponsel itu, dan Bunda Gaby sudah semakin gelisah. Masalah Beby yang dijambret waktu itu, sudah membuatnya malu dihadapan keluarganya besarnya. Menganggap kalau putra semata wayangnya itu, tidak bisa menjaga istrinya. Apalagi dengan munculnya berita ini, terlihat jelas Arjuna, menggendong seorang wanita dari kamar hotel.


"Soal ini. Aku tidak apa-apa Bunda."


"Siapa wanita itu? Apa kamu diberi tahu Arjuna?"


Beby yang tampak diam dan sang Bunda sudah semakin penasaran.


"Kamu mengenalnya?"


Jawabnya, "Iya Bunda."