
"Pak. Eh. Dokter Owen."
"Apa ini pasien baru?"
Setelah membuka selimut itu, ternyata sosok lain yang ada dihadapannya.
Dokter Owen melihat Starla yang tampak berbaring di ranjang pasien.
"Dokter Owen, saya."
"Starla, dimana Beby berada?"
"Beby hanya bosan disini."
"Jawab saya. Dimana Beby?"
"Di jalan sama Arjuna."
Starla loncat dari ranjang dan kabur begitu saja. Saat hendak membuka pintu malah berpapasan dengan Bulan.
"Nona Starla."
"Eh, Kak Bulan."
"Bintang sama kamu?"
"Nggak."
"Semalam?"
"Emmh."
"Emmh? Jawab aja apa susahnya."
"Iya. Tapi tadi pagi pulang. Iya, Bintang sudah di apartemen."
"Baik. Aku siap bilang sama Mama, kalau kalian berdua bermalam di puncak."
Starla memegangi ponsel Bulan, "Jangan!"
"Jangan?" Tatapan Bulan purnama dengan senyuman, tetapi Starla begitu takut padanya.
Owen mendekat "Bulan, tugas kamu selesai. Pasienku melarikan diri."
"Hah?"
Bulan bertanya "Bang Owen serius? Di kamar mandi kali."
"Starla juga membantu. Arjuna sudah membawa kabur pasienku."
"Kurang ajar Arjuna."
Starla yang hendak melangkah pergi, Bulan dengan cepat meraih kerah baju belakangnya.
"Kamu juga mau kabur?"
"Kak Bulan. Aku nggak kabur. Aku cuma mau keluar bentar."
"Kalian ini memang sama saja."
Yang berada di jalan, Arjuna yang santai melajukan mobilnya. Beby tampak duduk bersandar, dan masih terlihat mengenakan piyama pasien.
"Sayang, kamu ingin kemana?"
"Ke kamar kamu."
"Di rumahku?"
"Bukan."
"Kamarku yang di rumah mana sayang?"
Bagi Arjuna, kamarnya sangat banyak. Ada kamar di rumah Jimmy, ada kamar putih rumah Bunda Gaby, ada kamar biru di rumah Mami Darra, ada pula kamar tidurnya di Pondok Indah dan juga di kediaman Pakde Viral.
"Kamar kita."
"Bilang dong, di rumah Jimmy."
Beby menatap ke baju yang masih dipakai saat ini. Ia jadi penasaran, bertanya "Semalam yang gantiin pakaian aku siapa??"
Arjuna jadi batuk-batuk, seperti keselek biji salak.
"Jangan bilang, kamu yang gantiin baju aku?" Beby yang melotot dan menutup bagian dadanya.
"Memang, bukan aku."
"Terus, siapa?"
"Bunda kayaknya sama suster. Soalnya aku datang. Kamu sudah pakai baju itu."
"Beneran??"
"Nanti, kamu tanya sendiri sama Bunda."
"Kalau kamu bohong, aku nggak akan maafin kamu."
"Kok gitu. Padahal, aku udah jagain kamu semaleman."
"Nggak ikhlas?"
"Ikhlas sayangku."
Beby merasa tidak nyaman, lalu berkata
"Aku akan marah. Kalau kamu bohong. Kamu udah bebas lihat aku duluan. Aku nggak lihat kamu."
"Kamu mau lihat aku telanjang?" Arjuna dengan tawanya dan membuatnya juga merasa aneh.
"Aaa.. Pokoknya aku nggak terima."
Arjuna mengelus pipinya, dan berkata "Uuu, kalau ngambek. Makin gemes."
"Nyebelin."
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Mama Jimmy. Arjuna dan Beby malah tidak henti beradu mulut. Beby yang tidak mau mengalah tetap menuduh Arjuna mengambil kesempatan saat dirinya jatuh sakit.
"Iya, aku salah."
Beby lalu terdiam, dan Arjuna berkata "Aku merasa enakan jadi pacar ya. Kamu jadi istri baru sehari, udah ngambekan begini."
Beby yang memalingkan wajahnya dan tampak bersedekap. Arjuna yang gemas dan ia merasa ada hal aneh.
"Beby, Beby, kamu ini ada-ada saja."
"Kesel aku sama kamu."
"Ya mau gimana. Waktu suster datang. Terus suster bilang, Nyonya saya mau mengganti pakaian pasien. Eh Mama malah bilang gini, ada suaminya. Biar suaminya yang gantiin pakaian Beby."
"Ya harusnya, kamu bilang. Mama aku nggak bisa. Jawab gitu kan bisa."
"Sayang. Aku_."
Beby yang menangis dan Arjuna jadi terdiam tanpa bisa lagi berkata.
Menghembuskan nafasnya dan tangan kirinya mengelus rambutnya dengan perasaan sayang.
"Beby, aku minta maaf. Kamu benar. Aku memang salah."
30 menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Mama Jimmy.
Beby yang hanya tampak terdiam dan Arjuna melepaskan sabuk pengaman Beby.
"Kita sudah sampai."
Beby yang masih terdiam dan Arjuna mengerti. Sang suami keluar lebih dulu dan menggendong sang Tuan Putri ke kamar.
Saat memasuki rumah, Jimmy yang tampak bersiap. Melihatnya jadi bingung dan mengikuti langkah kaki Arjuna.
Arjuna membaringkan Beby di tempat tidur dan Jimmy menatap wajah Beby.
"Beby, aku baru mau kesana. Kamu malah sudah pulang." Jimmy yang tadinya sudah siap pergi dan tampak memegang rantang cantik.
"Aku kabur dari sana. Aku mau bobok disini." Beby lalu memeluk guling dan tampak gemas.
Arjuna meninggalkan mereka, dan kembali ke mobil. Jimmy menatapnya, memang ada yang dibungkus perban dan untungnya bukan dibagian wajah. Pikiran Jimmy kemarin sudah melayang setelah membaca pesan itu. Ia memang cemas terhadap Beby. Tapi, yang paling ia cemaskan adalah sang Arjuna.
"Baguslah kalau kamu sudah baikan. Aku tadi masak ini, dan aku pikir Arjuna pasti belum makan."
"Kamu masak apa?" Beby yang bangkit dan meraih rantang cantik itu.
Beby bertanya "Ini buat Arjuna?"
"Ya buat kamu juga. Tapi, kalau di RS mewah pasti kalian berdua dapat menu sehat. Arjuna susah makan begituan."
"Owh, iya. Aku juga suka masakan Mama Jimmy."
"Berhenti memanggilku Mama."
"Oke. Terima kasih untuk makanannya."
"Iya, aku akan ambilkan minum."
"Aku mau mandi dulu."
"Kamu nggak makan?"
"Nanti saja."
"Ya udah."
Arjuna tersenyum melihat Beby yang sudah baik-baik saja. Dia menuju ke lemari dan mengambil pakaiannya.
Jimmy datang dan membawakan minuman untuk Beby.
"Cepatlah keluar."
"Aku??"
Jimmy yang tampak melotot.
"Iya, siapa lagi yang harus keluar dari kamarku."
"Kamu mengusirku?"
"Apa aku tampak mengusirmu?"
"Iya, aku paham. Silakan pengantin baru."
Jimmy lantas keluar dan Arjuna telah mengunci pintu kamar itu.
Beby menatapnya "Kenapa di kunci?"
"Aku mau mandi."
"Ya udah, mandi tinggal mandi."
Arjuna yang melepas jaketnya, Beby masih menatapnya. Kaos ia tarik ke atas. Beby juga masih melihatnya, bahkan sambil makan.
Beby berkata "Aku tidak apa-apa. Silakan lanjutkan. Biar aku nggak penasaran.
Arjuna gemas dan berkata " Makanlah, aku mau mandi."
"Iya, sana mandi."
Beby dalam hatinya sudah campur aduk.
15 menit kemudian, Beby sudah selesai makan ternyata masih duduk bersandar.
Arjuna yang sudah selesai mandi, lalu ia mendekat "Kamu kenapa? Pusing?"
"Aku tidak apa-apa."
"Pasti semuanya nyariin kamu sayang."
"Biarkan saja."
"Arjunaku, sayangku, sayangku, sayangku."
"Iya, ada apa?"
"Bantuin aku mandi."
"Hem?"
"Aku bilang bantuin aku mandi."
"Kamu ingin aku mandiin?"
"Iiiih,. . ."
"Iya, iya. Tapi aku udah mandi."
"Terus apa masalahnya?"
"Bukan apa-apa."
"Gendong ke kamar mandi."
"Iya."
Setelah di kamar mandi, Beby perlahan melepas kancing-kancing piyama itu.
Arjuna hanya mengintip sedikit, matanya terpejam dan segera ingin pergi dari kamar mandi itu.
"Kamu mandi sendiri."
"Iya, tapi kamu ambilin baju gantiku. Sama pembalut."
Arjuna yang ingin berkata tidak, tapi ia tetap berjalan dan patuh atas perintah ini.
"Kali ini, aku harus sabar. Siapa tahu nanti dapat job istri manjaku." Batinnya yang memang begitu adanya.
"Beby, aku letakan disini ya."
"Iya. Tapi kalau aku kepleset gimana?"
Beby memang kurang alasan, ada-ada saja membuat suaminya ini jera.
"Sayang, aku di balik pintu. Tetap stay jagain kamu."
"Bener loh ya."
"Iya sayang."
Arjuna yang bersedekap dibalik pintu, sudah cukup lama sekitar 10 menit berlalu, suara air juga sudah tidak terdengar lagi.
"Beby."
"Beby."
Tidak ada balasan suara, Arjuna yang panik langsung membuka pintu kamar mandi.
"Arjuna!!!"
Seketika ia kembali menutup pintunya dan Beby baru memakai bagian bawah, tadi sedang mengaitkan bra warna putih.
Setelah beberapa saat "Arjuna, aku udah selesai."
Arjuna menghembuskan nafas lega, saat kembali dan menatap Beby.
Beby yang menatapnya berkata "Badanku nyeri."
Arjuna terdiam sesaat, tadi sang istri sendiri yang ngeyel minta pulang.
"Beby, hari ini aku akan menjaga kamu."
Arjuna yang sudah menggendongnya dan membawa ke tempat tidur. Beby yang terdiam dan Arjuna jadi makin bersalah. Harusnya, tidak menuruti permintaan Beby yang ingin pulang.
"Tidurlah."
"Iya."
Beby yang terbaring menyamping. Rasanya sangat tidak nyaman, dan begitu nyeri.
"Arjuna, sakit."
"Aku disini."
Beby menarik tangannya dan memegang lengan itu.
"Aku ingin tidur, kamu jangan tinggalin aku."
"Iya. Aku akan disini."
"Kamu tidak shuting?"
"Sementara aku tunda."
"Baguslah, aku masih ingin bersamamu."
"Kamu cepat sembuh ya."
"Iya."
"Kalau sudah sembuh, kamu harus layani aku."
"Apa?"
Arjuna tersenyum dan memegang tangan. "Aku jadi ngantuk. Akan ingin tidur saja."
Arjuna yang memejamkan mata dan Beby menoleh ke wajah itu. Ada semburat senang dari wajah itu.
"Dia malah tidur."
Beby semakin meraih tangan itu dan memeluk Arjuna.
"Jangan tinggalkan aku. Aku nggak mau sendirian."
Perlahan kedua matanya terpejam.